Gempita pilpres telah usai, presiden dan wapres terpilih juga telah dilantik. Kini saatnya perhatian publik tertuju pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Digelar pada Rabu, 27 November 2024, agenda ini sekaligus menjadi hari libur nasional. Tak hanya gembira karena ada libur tambahan, warga pun antusias saling membagikan poster-poster promosi dan diskon khusus kelingking (atau bila tidak, jari jemari manapun) ungu. Momen ini sontak jadi ajang quality time bagi keluarga-keluarga di kota besar*. Buktinya dapat dilihat dari ramainya jalan dan pusat perbelanjaan. Well, that's might be fun FUN, but there's always another side of the story.
Sejak pilpres 14 Februari lalu, obrolan-obrolan seputar politik sudah bukan barang baru lagi. Terlebih dengan demo menolak revisi UU pilkada pada 22 Agustus yang jadi simbol perlawanan rakyat. Tahun 2024 ini sungguh melelahkan sejak awal. Betapa tidak? Pemilihan umum di Indonesia yang digadang-gadang sebagai pemilu terbesar di dunia ini berjalan diiringi sejumlah kontroversi. Seperti laporan kecurangan, penurunan keterwakilan perempuan, keberpihakan presiden, politik dinasti dan utamanya tentu saja terkait putusan MK soal batas usia capres-cawapres. Itu dari sisi sistem dan aktor-aktor politik. Dari sisi masyarakat, masalahnya tak kalah pelik. Terlihat nyata ketimpangan suara di daerah dan kawasan perkotaan. Bedanya tingkat literasi masyarakat berimbas pada pengambilan keputusan.
Dalam media sosial X, utas-utas berisi informasi tentang latar belakang capres-cawapres ramai diminati, disusul dengan penjabaran visi-misi. Warganet juga menyertakan rekam jejak baik ucapan, maupun tindakan yang tak jarang memicu tawa hingga amarah. Yaaa... setiap manusia punya salah dan kadang kurang mindful, mungkin belum terpikir bila di masa depan nanti satu cuitan akan dikupas tuntas sampai ke akarnya. Sementara itu di sisi lain, pendengung-pendengung bayaran dikerahkan untuk memengaruhi keputusan politik. TikTok, merupakan senjata baru bagi kontestan pemilu tahun ini. Dilansir dari Wired, penonton TikTok secara signifikan memperhatikan video berdurasi 21-34 detik. Tak heran jika penggunanya berlomba memasang backsound terkini, dengan caption pendek yang mengena demi meraup perhatian pemirsa. Caption pendek yang tak jarang disisipi berita bohong.
Indonesia masih berada di jalan panjang dalam misinya mencerdaskan bangsa. Memilih informasi, membaca data dan membedakan fakta dengan berita bohong bukan pekerjaan mudah bagi sebagian besar orang di republik ini. Ketidakpahaman yang menuntun mereka pada pilihan tidak ideal tak semerta-merta berhenti hanya dengan menyalahkannya di media sosial. Dimulai dari diri sendiri, lalu orang-orang terdekat. Kita selalu bisa learn and unlearn something. Mendampingi orang tua dengan gawai itu jadi lebih sukar saat ini. Ketika sumber informasi tidak hanya lewat koran dan TV, seringkali para orang tua menganggap apa yang lewat di FYP adalah berita pasti. Mengamati linimasa akhir-akhir ini nampak muram, kondisi kedepan seolah akan memasuki musim dingin panjang. Sulit dan kacau, tapi jangan berputus asa dari rahmat Allah. Kenali kapasitas diri dalam memproses informasi dan kendalikan reaksi. Banyak membaca dan simak fakta dari ahlinya. Hindari bertengkar dengan teman dan saudara hanya karena politisi, mereka bahkan tidak peduli keberadaan kita barang seujung kuku.
Dengan timpangnya pengetahuan umum tentang bagaimana cara memproses informasi, tidak heran jika guyuran bansos dan serangan fajar* masih jadi salah satu cara efektif mendulang suara dalam pemilihan umum. Di media sosial kita bisa dengan mudah mempertanyakan kenapa banyak orang menggadai integritas dan suaranya. Menukarnya dengan rupiah yang tak seberapa. Jangankan bicara integritas, napas dan hidup mereka saja seolah diisi ulang hari demi hari. Jadi, bagi kaum yang rentan memang uang dan barang yang ditawarkan itu berguna bagi kelangsungan hidupnya (walau tak dalam jangka waktu lama, setidaknya di hari itu saja). Namun demikian, logistik yang dikucurkan bisa jadi alat untuk menarik balas budi. Dengan fakta ini, mereka tak hanya rentan namun juga dilemahkan oleh sistem. Bagi yang memilih untuk merdeka dalam pilihannya, mudah saja menghindari politik uang. Tak berpengaruh signifikan dalam hidupnya. Memiliki kemampuan dan sumber daya yang cukup hingga sampai pada titik dapat memilih sesuatu yang ideal adalah privilese. Bitter truth. Nyatanya, tidak semua warga punya privilese ini (that's why it's called privilege anyway LOL).
Salut untuk para warga yang berada dalam kondisi rentan namun dengan berani tetap mempertahankan integritasnya. Prinsip yang diperoleh dari usaha belajar dan mendengar bertahun-tahun. Tak mesti dari jalur pendidikan formal. Banyak pepatah kuno yang turun menurun diajarkan sebagai pondasi akhlak baik; ojo keminter mundak keblinger, ojo cidra mundak cilaka.
Dari beberapa fakta diatas ternyata kita belum sepenuhnya merdeka. Untuk apa melahap semua ilmu pengetahuan di dunia bila sekadar jadi senjata memperalat saudara sebangsa. Semoga senantiasa jadi pengingat, semoga diberkahi badan dan jiwa yang sehat. Seperti filosofi jawa yang lekat dengan altruisme, Urip iku Urup; semoga hidup kita senantiasa memberi manfaat bagi orang lain.
Salam,
A.
catatan tambahan:
*Momen ini sontak jadi ajang quality time bagi keluarga-keluarga di kota besar; kenapa hanya kota besar? Karena sepengalaman saya, keluarga di pedesaan tidak menganggap libur sehari sebagai momen ideal untuk dirayakan, perlu momen lain yang lebih penting.
*Serangan fajar: Uang, sembako, rokok atau barang apapun yang bisa ditukar dengan komitmen untuk memilih/memenangkan/turut mengkampanyekan satu paslon tertentu.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.