Melihat gambaran besar hanya bisa dilakukan dari jarak yang cukup jauh, katanya. Dulu waktu saya kecil saya pikir ya dunia akan begitu saja, tetap sama terus hingga nanti. Segala bentuk pemandangan sekitar dan teknologi akan tetap seperti yang saya tahu di masa itu. Ternyata ya tentu tidak~ perubahan yang bertahap dan secara terus menerus ini kadang tidak disadari. Kita bisa melihat perubahan itu saat punya jeda —untuk benar memperhatikan yang terjadi dan merefleksikan kembali dengan yang kita miliki hari ini. Dalam tulisan kali ini, saya mencoba melihat apa yang dulu pernah —ada, dan kini perlahan musnah. And, this is how the story goes...
Di usia saya TK-SD, Bapak buka usaha wartel di rumah. Dua bilik berisi meja, kursi, telepon dan kipas angin kecil. Pada masa itu, telepon kabel masih dimiliki kalangan tertentu, era telepon genggam masih jadi barang mewah dan paling mutakhir.
Di daerah saya yang banyak anggota keluarganya bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri, tentu keberadaan wartel saat itu cukup jadi alternatif komunikasi yang efisien. Selain itu telepon ini juga aktif digunakan para pendengar radio lokal. Mereka biasanya menelepon untuk menyampaikan salam dan request lagu tertentu. OH THE OLD DAYSSSS LIKE THAT :")
Sebagai bocil saya tentu tak beda jauh dengan yang lain dari segi keusilannya, beberapa kali saya menguping pembicaraan konsumen HAHAHAHA berdosa sekali.
Hari ini hampir semua orang, tua-muda, punya akses hanyak dengan sekali klik untuk terhubung kepada orang lain melalui telepon genggamnya. Wartel tentu tak lagi relevan, namun keterbatasan waktu dalam wartel itu yang membuat kita menghargai waktu komunikasinya. Sebab dalam keterbatasan waktu komunikasi itu kita cenderung lebih sadar (present) dengan apa yang kita bicarakan. Cukup jadi pengingat di masa yang serba cepat dan penuh distraksi, untuk tetap sadar dengan makna kini dan disini.
Lanjut, waktu saya SD, ada tetangga baru di belakang rumah saya. Ternyata anak laki-laki keluarga tersebut berusia sebaya, kemudian bersekolah di sekolah yang sama dengan saya. Beberapa kali kami berada dalam satu kelompok tugas. Saya selalu bersemangat mengerjakan tugas kelompok di rumah tetangga saya yang satu itu. Mengapa? Karena keluarganya punya rumah produksi kerupuk yang rasanya enak sekali. Selain itu Mamanya juga sangat royal akan sajian, lauk-pauk, buah, minuman dingin dan jajanan. Bagi anak kecil dari keluarga biasa saja, apalagi yang suka makan —hal itu tentu bikin semangat berapi-api.
Rasa kerupuk yang berbeda dan sulit saya temukan kembali. Sayangnya, sejak Ayahnya meninggal, keluarga teman saya itu kemudian pindah.
Saya tidak menyangka, mengecap rasa makanan tertentu bisa betul-betul bikin rindu. Sesederhana kerupuk yang tidak lagi diproduksi.
Soal makanan ini juga dulu begitu bermakna karena kita cenderung hanya makan makanan yang jangkauannya dekat, bisa kita beli di sekitar kita. Namun, kini dengan adanya e-commerce, kita bisa beli makanan dari manapun tanpa harus menunggu oleh-oleh dari kerabat yang pulang wisata. Di zaman ini, tak ada rindu yang bertahan cukup lama saat masih sama-sama di dunia LOL. Termasuk soal rindu makanan tertentu yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal kita.
Kemudian saat masa SMP, saya berangkat sekolah naik sepeda bersama teman. Teman saya ini rumahnya lebih jauh dari sekolah, kira-kira 2x jarak rumah saya ke sekolah. Ia tentu harus bangun dan bersiap lebih pagi dari saya. Kami berangkat pagi-pagi untuk meminimalisir interaksi dengan teman atau kakak kelas lainnya. Bukan karena tidak ingin berteman, semata ingin menyimpan energi untuk enam jam pelajaran kedepan saja haha! Saat itu aktivitas sekolah adalah hal utama yang paling melelahkan. Beban satu-satunya remaja biasa seperti saya LOL.
Hari-hari ini anak sekolah naik sepeda masih banyak ditemui, namun yang pakai motor dan motor listrik juga lebih banyak lagi. Kendaraan berbahan bakar listrik adalah sesuatu yang jauh dari bayangan saya saat SMP. Yah~ saat jadi maba desain saja, kendaraan listrik masih terlihat asing dan terlalu futuristik bagi saya. Namun, hari ini sudah ada di sekitar kita. Time flies~
Saat SMP itu juga awal perkenalan saya lebih akrab dengan internet. Sepulang sekolah mampir warnet untuk menyalin lirik lagu terbaru, hahaha ya~ I'm one of those kids yang punya buku lagu, walau suaranya sumbang~ Waktu itu masih pakai earphone untuk mendengarkan radio, musik di radio dipenuhi lagu-lagu pop melayu, ungu, radja, kangen band, repvblik dkk hahaha. Radio pocket mini adalah gadget terkini saya di masa itu, karena mp3 player masih lebih mahal.
Sekarang, mendengarkan musik lebih mudah dengan adanya youtube dan platform streaming musik digital. Tidak perlu kita punya banyak lagu yang disimpan, sebab semua sudah tersedia secara online dan bisa kapan saja diputar. Liriknya juga tersedia berdampingan dalam aplikasinya. Ah, sungguh kenikmatan zaman yg mutakhir~
![]() |
| (sumber: alibaba) |
Di sekolah saya juga selalu setia menyimak cerita teman-teman K-POPers tentang SNSD, suju, shinee, f(x). Kenapa hanya menyimak? disini saya ungkapkan bahwa; menurut saya waktu itu sulit menghafal nama-nama idol korea. Akses menonton music videos dan drakor pada saat saya SMP juga masih "underground" alias memanfaatkan link streaming ilegal dan copyan antar flashdisk. Saya cukup malas dengan effort yang demikian hahaha.
Era SMP ini juga awal kemunculan BlackBerry sebelum iPhone menjadi ikon pergaulan tertinggi seperti sekarang. Tapi saya tidak ikut terjun into those trends karena punyanya Nokia WKWKWK.
Dengan kenal internet otomatis saya akrab dengan Friendster dan Facebook.
Dulu trennya adalah nama akun facebook ada partnya karena dia punya friendlist sampe maksimal. Tanda keren pada saat itu adalah saat temannya sudah full empat ribu, seingat saya CMIIW.
Dulu dan kini sepertinya standar keren masih sedikit banyak sama ya, punya banyak pengikut atau crowds. Yah, untuk mereka yang memang tak masalah hidupnya jadi konsumsi banyak orang, mungkin punya pengikut banyak cukup menyenangkan dan jadi lahan rezeki. Tapi untuk saya yang cukup dengan hidup normal biasa saja, tentu punya pengikut besar di media sosial itu bukan tujuan. Secara, semua medsosnya juga selalu digembok selamanya LOL.
Sekarang semua orang berpotensi jadi public figure, dengan satu dua video yang sesuai algoritma dan viral, bisa saja hidup seseorang berubah karenanya. Suatu hal yang luar biasa canggih sekaligus ngeri disaat bersamaan.
Banyak yang berubah, segalanya terasa jadi lebih mudah. Tentu saja perubahan itu tidak datang dengan percuma, akan selalu ada harga yang dibayar untuk itu semua. Salah satunya attention span kita. Menurut artikel ini, rentang perhatian kita telah menurun drastis hanya dalam 15 tahun. Pada tahun 2000, itu adalah 12 detik. Sekarang, 15 tahun kemudian, waktu tersebut menyusut secara signifikan menjadi 8,25 detik, yang mana itu lebih pendek dari attention span goldfish di 9 detik :)
Maka, kegiatan yang butuh memusatkan perhatian secara penuh baiknya selalu kita usahakan, dengan sholat (bagi yang muslim tentu saja), meditasi, olahraga, menggambar dan membaca buku (fisik —bagi saya masih yang terbaik untuk mencegah distraksi).
Semoga kita senantiasa dikaruniai pikiran yang jernih, ruang tenang, dan penglihatan yang jelas di tengah-tengah dunia yang riuh karena deru cepat melajunya zaman.
Salam,
A.

No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.