June 20, 2020

melihatku menerima

jika perasaan memiliki skala yang terukur, aku sungguh ingin tahu hari ini sedang berada di angka berapa.

[revisi 1]
jika perasaan memiliki skala yang terukur, aku akan menerima tanpa harus bertanya kenapa.

[revisi 2]
jika perasaan memiliki skala yang terukur, aku pasti tetap kewalahan menerimanya.

kau tahu kenapa?
sebab aku selalu buruk berurusan dengan angka.

selamat malam, 
a.

June 15, 2020

lalu lintas kepalaku sedang kacau

(I)
jalan yang satu penuh rasa bersalah, jalan yang lainnya disesaki rasa marah.
seluruh trotoar dipenuhi tumpukan kertas berisi syair-syair yang tak sempat dikumandangkan.
sebagian terbang mengikuti tiupan angin, sebagian yang lain hanyut bersama arus selokan entah menuju kemana.
seluruh lampu lalu lintas kompak berhenti pada warna merah, sementara semua harapan terus lalu lalang.
tak peduli apabila saling menggores luka satu sama lain.
pembatas jalan sudah sejak lama tak lagi utuh, berkali-kali dihantam kenyataan yang melaju kencang dini hari.
lalu lintas kepalaku sedang kacau dan aku tak sanggup melakukan apapun untuk memperbaikinya.

saat ini aku hanya ingin menikmati sedihku sendiri, tanpa interupsi.

(II)
bila sudah begini, bagaimana caranya menumbuhkan tunas-tunas bernama percaya?
benihnya telah kusimpan sejak lama, di dalam kertas berisi syair-syair itu.
tapi
lalu lintas kepalaku masih kacau dan aku tak mungkin berjalan menyusurinya.

sampai nanti aku berjanji untuk hanya mempercayai diriku sendiri.

(III)
entah bila, aku hendak mengubah konklusi poin I dan II.
lalu lintas kepalaku pernah kacau dan aku tak pernah benar-benar merapikannya.

aku masih dibayangi sisa-sisa kekacauan masa lampau.

(IV)
yang terlewat diketahui dunia,
aku adalah gabungan luka, kecewa, sedih dan amarah dari masa ke masa.
dan kendaraan bahagiaku tidak selalu melaju sempurna.

lalu lintas kepalaku sedang kacau.
sehingga tulisan ini sebaiknya tak perlu dibaca dengan saksama.

salam,
a.

sebuah deskripsi dalam folder jangan lagi

    setelah menyikapi patah hati, kemudian menikmati jatuh hati, kini saya harus kembali ke titik awal, mendeskripsikan patah hati.
pernah tidak, ada di titik ketika menangis rasanya tidak meredakan apapun lagi?
seseorang tidak lagi merasakan sakit di dada saat dihantam kenyataan yang tak sesuai harapannya, tidak pula ada nyeri di kepala saat waktu tidurnya terlambat beberapa jam dari biasanya.
perasaan akibat banyak kejadian buruk datang bertubi-tubi ternyata sesulit ini dideskripsikan.
saya selalu berpikir saya telah cukup kuat setelah melewati satu gerbang kesulitan, tapi ada saja hal baru yang datang diluar dugaan.
saya kira saya well-prepared, ternyata masih selalu kalah dibawah kelemahan diri sendiri; 
terlalu banyak memaklumi, 
tidak tegas pada diri sendiri, 
banyak berkhayal.

    saya adalah satu-satunya yang memahat kecewa, lalu mengajak hati lain ikut serta merasa perlu bertanggung jawab.
saya adalah yang paling bersalah untuk setiap kalimat ringkas yang tertulis jelas, sebab seluruh kata itu menuntun saya pada gerbang sakit hati yang lainnya.
saya adalah penulis skenario yang paling tidak bertanggung jawab, saya memilih peran yang salah, saya menulis cerita yang membuat tokoh lain merasa lelah.
saya adalah satu-satunya yang pantas kalah, dalam sebuah pertandingan yang tidak pernah sekalipun dimulai.

    deskripsi patah hati bagi saya adalah seluruh isi paragraf kedua dalam tulisan ini.
esok dan seterusnya akan saya layangkan maaf menuju langit luas, supaya lepas segala risau, supaya bahagia kembali pada masing-masing jiwa yang pernah mencoba usaha terbaiknya.
teruntuk seluruh cerita yang pernah dengan sengaja saya rangkai, akan saya rapikan hari ini, folder itu saya beri nama: jangan lagi.

    untukku di masa depan, banyak-banyaklah membaca, supaya kau lekas pandai mengartikan sebuah tanda. teruslah menulis hal-hal baik dengan jelas, hingga kau tak harus berkali-kali menghapus dan mengetik ulang. tetaplah berdiri dengan kepala tegak, sebab betapapun mengecewakannya keputusan yang kau buat sendiri, ingatlah bapak tidak pernah tidak bangga melihatmu seberani hari ini.
kau tidak lagi pulang untuk mengadukan segala resah yang disimpan sendiri, maka kuat-kuatlah.
kau tidak lagi menangis untuk mengundang simpati, maka tersenyumlah.
kau sudah melewati sesuatu dengan susah payah, maka belajarlah.
terima kasih, masih terus berjalan dan menopang diri sendiri hingga hari ini. 
tidak perlu sibuk mencari, perhatikanlah langkahmu sendiri. tolong, jangan lagi.

    untukmu, berbahagialah. sisakan sedikit maaf untukku.

salam,
a.

internal memo (6)

Baru semalam berencana menyudahi seri ini.
Nyatanya malah terbit episode baru yang sungguh diluar ekspektasi.
Tiba-tiba ada di level yang mana kamu tahu itu sakit, tapi tidak ada air mata yang keluar.
Luar biasa ya kejutan kehidupan, tuh.
Boleh minta jeda napas bentar ngga?
Setelah sakit-sakit yang kemarin itu, kukira sudah saatnya merawat harapan.
Ternyata terlalu asyik merawat harapan sampai lupa menginjak bumi.
Salah sendiri.
Anggi, sudah saatnya untuk hanya percaya pada diri sendiri.
Sudah saatnya untuk tidak terus mencari.
Sudah saatnya berhenti.

Selamat subuh.
Anggi, dirimu berarti.

June 13, 2020

Menikmati Jatuh Hati

Anyeong yeorobun~
Hehehehehehehehe... agak tumben banget ya judul postnya ga mellow sedih-sedih, capek banget kayanya brandingan blognya kelam terus???
Beberapa bulan terakhir ini saya baru sadar penuh bahwa ternyata perasaan bahagia itu muncul dari mana saja.
Dari semua kemungkinan, bahagia karena jatuh hati terhadap seseorang atau sesuatu itu yang paling menyenangkan untuk dirasakan. Rasanya seperti dipeluk, hangat.
Anyway, sejak awal tahun ini saya rutin mengisi diary di app presently, dimana saya hanya boleh menuliskan hal-hal baik yang saya syukuri.
Jadi hari ini saya ingin menulis daftar kebahagiaan ketika saya sadar telah jatuh hati, siapa tahu di masa depan bisa jadi mantra untuk menguatkan diri sendiri.

1. Jatuh hati pada gerak tubuh.
Ternyata bergerak itu membebaskan! Saya bahagia sekali pernah punya keinginan kuat menurunkan berat badan dan mulai olahraga. Awalnya saya pikir semangat itu takkan bertahan lama, tapi nyatanya hingga 5 bulan berlalu saya masih berusaha mengikuti jadwal olahraga yang saya buat sendiri. Bahkan, untuk pertama kalinya saya beli baju olahraga lengkap dengan matras yoga, ahahaha sungguh kemauan kuat yang sudah lama tidak menghampiri! 
Hari ketika saya menulis ini, saya telah mengurangi berat badan sebanyak 8kg! Ternyata bisa ya.
Sore tadi saya memandang lekat-lekat diri sendiri di cermin, rasanya belum pernah merasa sebahagia ini melihat diri sendiri. Semoga bahagianya terus bertahan lama.

2. Jatuh hati pada wewangian.
Sebelum membaca pentingnya mindfullness, saya tidak terlalu memperhatikan wangi apa yang saya kenakan, parfum, lotion, sabun mandi, semua saya beli berdasarkan diskon paling menguntungkan yang saya lihat. Tapi hari ini, saya menikmati setiap kali wewangian itu menyapa hidung ahahaha!
Wangi manis vanilla dari parfum, wangi segar buah dari sabun mandi dan wangi bunga dari lotion, rasanya menyenangkan sekali dikelilingi wewangian yang membuat hati gembira.

3. Jatuh hati pada tanaman!
Hmm, lumayan terbaca aneh ya, tapi suatu prestasi bagi saya di tahun 2020 ini bisa merawat beberapa pot tanaman, meskipun ada juga yang harus direlakan menjadi pupuk kompos, karena mati.
Setidaknya tanaman itu tak mati sia-sia, tapi saya jadi belajar banyak hal, bahwa karakter setiap tanaman itu unik dan harus lebih jeli mengamati tumbuh-kembangnya setiap hari.
Saya juga sering ngobrol dengan tanaman-tanaman saya, ahaha, meminta maaf dan minta agar mereka mau bertahan hidup bersama saya (???)
Bahagia sekali rasanya jatuh hati lalu melihat mereka bertambah tinggi, daun-daun baru unfurling, juga menerima protes melalui warna daun yang kekuningan ketika ada yang salah dengan cara saya merawat mereka.

4. Jatuh hati pada Arsenal.
Bukan hal baru, saya sudah jatuh hati sejak lama, tapi rasanya setiap hari seperti kasmaran. Excitementnya tetap sama, deg-degannya masih selalu ada, posesifnya ketika dengar rumor transfer pemain juga tidak berubah sejak dulu pertama saya kenal klub ini.
Lalu karena pandemi, liga yang ditunda beberapa waktu itu ternyata menumbuhkan rindu luar biasa. 
Meskipun tidak jarang, saya emosi menonton pertandingan yang sudah ditunggu-tunggu, tapi nyatanya jatuh hati membuat saya selalu kembali mendukung wholeheartedly!

5. Jatuh hati pada Jakarta!
Lebaran 2020 adalah pertama kalinya saya tidak menghabiskan hari raya di rumah. Coronavirus memaksa saya bertahan di Jakarta, sepanjang puasa dan masa wfh saya mengurung diri di kamar. Lantas, bagaimana saya bisa bilang saya jatuh hati pada Jakarta?
Jakarta adalah kota kedua yang ingin saya selami setelah Surabaya, tidak ada alasan istimewa untuk saya memilih Jakarta, saya hanya butuh pekerjaan layak untuk segera menghidupi diri sendiri, dan di Jakarta lah pilihan itu bisa sedikit lebih mudah ditemui.
Setelah sembilan bulan di Jakarta yang saya habiskan dengan tidak banyak kemana-mana, 
saya telah jatuh hati pada trotoarnya yang lebih banyak direbut pengendara motor, 
pada suara mrt di atas kepala saya, 
pada kebiasaan mereka mempertanyakan kata aku-kamu, 
pada klakson yang sama galaknya dengan matahari Surabaya, 
pada nasi yang tak ditanak hingga pulen di warung-warung makannya, 
pada semua yang sungguh tidak saya bayangkan akan terus saya maklumi, 
saya yang susah memaklumi sesuatu yang tak ideal, kali ini harus berlapang dada hidup berdampingan dengan ketidak-idealan yang semakin terlihat nyata setiap hari.
Bila jatuh hati perihal menerima dan membiasakan diri, maka saya yakin telah jatuh hati pada Jakarta.

6. Jatuh hati pada seseorang.
Hehehehehe, jadi malu. Agak geli ya, mengaku pada diri sendiri kalau sedang jatuh hati.
Tapi apa boleh buat, telan saja. Meskipun tidak tahu besok, lusa, tiga bulan atau tahun depan akan jadi seperti apa atau menuntun ke arah mana.
Saya berusaha menikmati prosesnya. Meskipun lebih banyak khayalan manis yang hanya berputar di kepala, tapi setiap hari saya sampaikan semuanya pada Tuhan.
Siapa tahu Tuhan bilang boleh,
siapa tahu ceritanya nanti seperti yang diharapkan,
siapa tahu...
Menyenangkan rasanya punya semangat untuk terus menyayangi diri sendiri lebih baik lagi.
Ya, saya mungkin jatuh hati pada seseorang, tapi setelah belajar dari yang sudah-sudah, saya tidak akan membiarkan diri saya kehilangan jati diri. 
Saya tidak akan berjuang terlalu keras untuk fit-in dalam standar orang lain dengan mengabaikan kebahagiaan diri sendiri, saya mungkin tidak akan berlari mengejarnya, saya akan membebaskan semuanya, semaunya.
Saya hanya ingin menikmati proses jatuh hati, karena ketika saya jatuh hati, lagu sedih tidak terasa perlu ditangisi, jari jemari saya lebih lincah menari diatas keyboard, saya tersenyum lebih banyak, dan yang paling penting saya bisa menerima diri sendiri jauh lebih baik lagi.
Apapun yang terjadi nanti, sesuai ataupun tak sesuai harapan saya, tentang kepada siapa saya jatuh hati, saya telah membebaskannya sejak hari ini.
Sesuatu yang sudah digariskan untuk bersama saya, akan menemui jalannya hingga sampai ke depan mata.
Sebaliknya, sesuatu yang bukan untuk saya, takkan bertahan meski digenggam sekuat tenaga.
Saya mungkin rajin meminta skenario di kepala saya ini jadi nyata, hanya saja saya tidak banyak tahu.
Tuhan lebih tahu, jadi sudah sepantasnya saya ikut apapun jawaban yang dikirimkan di masa depan.

Hari ini, ketika saya sadar telah jatuh hati, saya membaca kembali surat-surat yang pernah saya tulis, entah apakah yang dituju sudah membacanya atau bahkan sama sekali tak merasa ditunjuk, satu yang pasti, thank you for the chance to crossing each other's path! 

Que sera sera whatever will be, will be!

Jika menikmati jatuh hati seindah ini dan saya menyadarinya sedari dulu, mungkin saya takkan terlalu lama diam memaklumi kesalahan berulang yang merampas kepercayaan diri untuk sekedar mengunggah swafoto di media sosial, yang berkali-kali membuat saya meragukan diri sendiri, yang terus memaksa saya terlihat baik-baik saja walau sebenarnya tidak.
Menyesal itu salah satu tanda seseorang sudah belajar, kan?
Semoga tulisan ini selalu jadi pengingat untuk tidak lagi menggadai kebahagiaan diri sendiri hanya untuk merasa dicintai.

Salam,
A.