June 30, 2019

Bagaimana Rasanya Menjadi Anak Bungsu?

Sejak tulisan Bagaimana Rasanya Menjadi Pendukung Arsenal, tiba-tiba pagi ini saya sok ide lagi untuk menjadikan Bagaimana Rasanya menjadi konten tetap di blog ini, ahahaha ((konten)) yah mari kita saksikan saja sampai berapa lama pemilik folder bernama blogger labil ini konsisten dengan what-so-called kontennya.
Dan memang benar ya, kata Bapak bahwa bangun pagi-pagi sebelum alarm berbunyi itu akan membawa banyak ide-ide cemerlang ((seperti masa depan yang diharapkan (???)))

Okay, mari masuk ke topik sesuai judulnya. Maaf ya prolognya nggak banget, ternyata bangun pagi hanya menunjang munculnya ide bagus bukan lantas meningkatkan kemampuan menulis 2x lipat!

Saya lahir hampir 23 tahun yang lalu sebagai anak bungsu di keluarga sekaligus sebagai cucu termuda di dua keluarga.
Usia saya dan kakak terpaut jarak 8 tahun.
Ibuk selalu mengulang-ulang cerita bahwa saya adalah anak perempuan yang telah lama diharapkan Bapak (Maaf ya kakak, meskipun kamu mungkin nggak akan baca ini, tapi aku cuma mau stating aja kalo aku selangkah di depan :p)
Sebagai anak bungsu dan perempuan saya sungguh merasakan segala kenikmatan menjadi anak emas di rumah.
Sejak kecil apapun makanan yang saya inginkan akan menjadi menu yang tersaji di meja makan, karena orang pertama di rumah yang ditanya Ibuk soal menu hari ini adalah saya.
"Anggi mau makan apa?"
Sepertinya karena terlalu sering ditanya seperti itu waktu di rumah, kini saya jadi lebih sulit menentukan mau makan apa di tempat rantau karena sudah kehabisan jawaban dan tidak semua yang saya inginkan bisa tersaji di depan mata (dan tidak gratis pula) :(
Semua privilege anak bungsu itu semakin terasa ketika kakak pindah sekolah ke kota dan tinggal di rumah Pakdhe.
Saya semakin menguasai meja makan.


Saya belajar sepeda pertama kali saat TK, menggunakan sepeda bekas kakak.
Awalnya saya protes kenapa harus memakai sepeda bekas laki-laki, kan sepeda perempuan lebih bagus karena punya keranjang di depan, saya mengoceh gusar di depan Bapak Ibuk.
Esoknya Bapak sudah memasang keranjang didepan stang sepeda kakak. Oops no excuse, anggi!
Saya juga memakai baju bekas kakak waktu kecil, kaos-kaos gambar anime, piyama motif bola, bahkan hingga kini sweatshirt dan oversized tee di lemari saya adalah hasil penjarahan lemari kakak.
Begitulah bungsu, menguasai seluruh isi rumah sekalipun harta karunnya adalah barang bekas pakai.

Waktu kecil saya bukan anak yang menangis sesering teman sebaya saya, tapi hari ini saya menangis lebih sering dari bayi tetapi di rumah, disentuh kakak sedikit saja saya bisa berteriak dan merengek menggunakan privilege anak bungsu yang selalu innocent.
Ya, lingkungan yang diciptakan Bapak Ibuk sungguh membuat saya merasa aman dan dilindungi di rumah, entah bagi kakak ahahaha.
Namun walau begitu, bungsu tetaplah bungsu, tetap adalah anggota keluarga termuda yang dituntut untuk jadi penurut dan patuh.
Hal ini jadi privilege anak sulung yang bisa (dan sangat bisa) menyuruh-nyuruh adiknya kapan pun dan dimana pun.

Dilahirkan sebagai anak bungsu harus siap dihadapkan dengan pencapaian anak sulung yang tentu lebih dulu berada di titik tertentu.
Hal ini semakin saya rasa sulit sekali saat saya mulai paham karakter si sulung dan bungsu di rumah ini sungguh berbeda.
Kakak adalah aktivis kampus, yang punya banyak teman, aktivitas yang padat dan selalu punya topik pembicaraan.
Saya hanyalah tipikal anak rumahan yang lebih senang berhari-hari menggambar dan membaca apa saja di dalam kamar kos dan hanya berteman dengan orang yang itu-itu saja.
Menjadi bungsu yang introvert saat kakak sulungnya adalah ekstrovert yang gemilang dalam pergaulan bukanlah hal mudah.
Sungguh sulit rasanya menyamai keberhasilannya sebagai anak sulung yang mempunyai social skill dengan nilai straight A+
"Jadi seperti kakak" dan "Oh ngga kayak kakaknya ya" adalah kalimat yang sering saya dengar dari orang-orang di luar rumah.
Apapun pencapaian saya akan selalu dibandingkan dengan si pendahulu.

Anak sulung di dunia nyata diibaratkan sebagai sekolah percontohan yang dijadikan teladan.
Begitupun di rumah saya, Kakak adalah influencer Arsenal nomor satu, yang menjadikan saya keracunan Arsenal sampai saat postingan ini diketik.
Tanda tangannya yang ada bentuk bintang-bintangnya itu juga saya jadikan referensi membuat tanda tangan.
Kakak yang waktu kecil selalu anteng dan nggak rewelan membuat saya yang kacau dan suka merengek minta pulang saat bertamu ke rumah orang jadi sedikit lebih tenang dan mau diajak kompromi.

Sejak sekolah dasar saya sudah menunjukkan ketertarikan belajar bahasa inggris.
Karena saat nonton teletubbies saya penasaran kenapa tulisan credit scenenya bukan bahasa yang saya kenal dan saya rasa keren sekali bisa berbicara bahasa yang dimengerti orang-orang seluruh dunia ketika nanti saya dewasa dan berkeliling dunia (wow bayangan anak kecil yang utopis).
Sampai saat ini hanya kemampuan berbahasa inggris saya yang sedikit lebih baik daripada kakak yang selalu jadi poin plus.
Ya itu salahnya sendiri yang selalu malas datang les bahasa, sedangkan saya selalu memastikan diri sudah duduk di kelas 15 menit sebelum les dimulai! (Memang karakter januari yang satu itu, yang sulit tepat waktu & bermasalah dengan konsistensi sungguh-sungguh ujian luar biasa bagi Agustus yang tepat waktu seperti saya, hingga kini)
On the other hand, kakak sangat pandai matematika sejak kecil sedangkan saya, ah tidak perlu dibahas juga rasanya saya sudah berkali-kali mengumumkan pada dunia bahwa nilai matematika saya tidak pernah lulus di ujian pertama alias selalu butuh kesempatan kedua bernama ujian remedial.
Saya akan gemetar dan berulang kali membaca deretan angka itu sebelum mulai menghitung, ini bukan kalimat hiperbolis hanya sebuah kenyataan ngaplok.
Dua ditambah lima saja saya harus menghitung dengan jari dan memastikannya berkali-kali.
Sebab, entah hanya kebetulan atau kejadian yang berulang memang senang datang pada saya, tapi saya sering sekali bisa menjawab pertanyaan atau kuis matematika di sekolah hanya pada saat saya tidak ditunjuk maju ke depan.
Lalu dengan anehnya ketika model soal yang sama diberikan dan saya ditunjuk maju ke depan, saya hampir selalu salah menjawab.
Kakak saya tidak pernah begitu, saya yakin dengan melihat nilai matematikanya yang selalu diatas rata-rata tanpa melalui ujian remedial dan Ibuk yang selalu dipuji guru SD kakak (yang juga guru SD saya) karena prestasinya itu.
Kemampuan yang berbeda menjadi pelecut semangat luar biasa untuk menguasai perhatian di rumah sepenuhnya untuk sama berhasilnya meski bukan di bidang yang sama.

Seperti itulah kurang lebih rasanya menjadi anak bungsu.
Menjadi yang selalu dieman-eman, selalu didengar pertama kali dan tidak mendapat tugas seberat anak sulung. Menyenangkan.
Pada akhirnya harus siap dengan segala konsekuensi bahwa anak sulung yang kuat pundaknya untuk jadi tumpuan dan tegar hatinya saat semua perhatian terbagi dengan hadirnya si bungsu, sungguh bukan sosok yang mudah digeser posisinya sebagai anak teladan di rumah. Intimidating as well!
Bahkan mungkin, seumur hidup saya mencoba pun takkan pernah bisa, karena seperti itulah polanya.
Ya, saya pikir anak sulung pantas menerima posisi anak teladan di rumah karena dia sudah berbesar hati berbagi kasih sayang dan perhatian Bapak Ibuk dengan adiknya, yang dulu hanya ia nikmati sendiri.
Meski saya juga paham Bapak Ibuk tidak pernah membedakan kasih sayangnya baik pada sulung atau bungsu, but i salute him for his gentleness & his passionate soul!


Saya bersyukur menjadi anak bungsu dengan segala kenikmatannya dan meski diberi pilihan untuk lahir kembali, saya tidak akan memilih jadi anak sulung.
Karena saya tidak yakin bisa seberani dan sekuat kakak! Ya kecuali kalau pilihannya sepaket; sulung dan ekstrovert, hmm mungkin bisa dipertimbangkan.
Marilah, anak-anak bungsu sekalian, kita bergandengan tangan dan rapatkan barisan untuk invasi selanjutnya ke seluruh dunia, membuang sifat menang sendiri yang sering muncul tiba-tiba dan sukar dikendalikan ini ke tempat paling terpencil di muka bumi hahahaha.

salam,
anggi

June 29, 2019

berteman dan memulai pembicaraan.

saya adalah orang yang bisa ditemukan di pojok ruangan saat kalian berada di satu ruang yang penuh dengan manusia. seringkali, saya merasa mendengar suara yang amat riuh sampai jadi sesak di dada saat saya diam sendirian di tempat ramai.
saya pernah pergi ke kampus lalu langsung masuk ke kamar mandi karena saat itu saya tidak menemukan seorangpun dari teman angkatan saya (fun fact: hal menggelikan ini terjadi saat saya di semester 9, bukan jaman maba)
saat duduk di semester 6, dokter mendiagnosis saya terkena bronkitis dan menyarankan untuk selalu mengenakan masker saat keluar rumah, saya bahkan selalu mengenakan masker hingga bulan-bulan berikutnya setelah penyakit tersebut sudah tidak lagi mengganggu. ya, nyatanya saya sungguh merasa aman bersembunyi dibalik masker.


berteman itu sulit sekali bagi saya yang tidak pernah punya cukup nyali untuk memulai pembicaraan.
maka sebagai orang yang tidak pandai memulai pembicaraan, saya akan senang sekali jika mendapat pesan atau pertanyaan, sekalipun akhir-akhir ini tidak semua pertanyaan menyenangkan untuk dijawab, saya akan selalu berusaha menjawabnya karena saya juga #Team0Notif, saya tidak akan membiarkan pesan terbaca tanpa dibalas.
saya sangat menghargai keberanian orang-orang yang membawa saya pada gerbang percakapan, maka tak heran kadang saya bisa terlalu antusias dan membahas banyak hal jika orang yang mengajak saya bicara atau berkirim pesan merupakan orang yang saya anggap "aman" (maaf, tapi N dan J dalam INFJ saya memang bekerja seperti itu).
sungguh, ketika saya sudah merasa berbicara atau berteman dengan orang yang "aman" saya akan berubah jadi presenter bola yang tidak berhenti bicara sampai dipotong iklan.
sementara itu ketika saya dihadapkan pada kesempatan membuka percakapan, entah kenapa, rasanya  membalas instagram story milik following friends saja saya merasa perlu berpikir berulang kali, apakah kata-kata yang saya pilih sudah tepat, apakah kami sudah benar-benar sedekat itu hingga wajar bagi saya ikut berkomentar.
saya merasa amat sulit bertanya "apa kabar" bahkan terhadap teman sebelah kamar (dulu).
saya adalah semacam manusia (ya, saya yakin bukan tumbuh-tumbuhan) yang selalu memikirkan 3-4 scenes kedepan, tentang apa yang kiranya akan terjadi akibat perbuatan/kata-kata saya.
sungguh, judul the overthinker dalam blog ini bukan semata untuk keren-kerenan saja, memang demikian lah adanya.
saya tidak pernah ingin berada pada kondisi tersebut, sampai kini pun susah payah saya mengendalikan pemikiran yang bercabang dan kebiasaan menganalisa yang terlalu kebablasan.
rasanya penuh sekali di kepala.
tulisan ini pun, begitu.
buah dari pemikiran yang mbulet dan saya yakin beberapa waktu nanti saya baca lagi tulisan ini, saya akan menertawai diri sendiri.
namun, setelah banyak menyembunyikan postingan lama di blog ini, saya jadi semakin paham bahwa tidak seharusnya itu dilakukan, setidaknya dari tulisan-tulisan saya yang berantakan itu saya bisa melihat proses sekaligus mengingat momen di dalamnya.
mungkin melihat-lihat kembali percakapan di gawai saya saat ini, saya sudah mengalami kemajuan dalam merespon pesan teman-teman.
ya, selain sudah lebih cepat membalas karena tidak ada masalah jaringan juga karena saya merasa perlu obrolan-obrolan baru untuk menjaga kewarasan. hahaha.
terima kasih untuk teman-teman baik yang bertanya kabar, mengajak diskusi atau randomly kirim meme untuk dijelaskan artinya, ahahaha.
saya akan selalu berusaha berani memulai pembicaraan agar jadi sebaik kalian❤

salam,
anggi yang (semoga masih) teman kalian

June 25, 2019

ibuk dan hatinya yang seluas samudera

ibuk adalah manusia pertama yang selalu menerima saya kembali dari setiap kegagalan.
ibuk menerima saya dengan tangan terbuka, peluk hangat dan kalimat penyemangat.
ibuk adalah manusia yang paling percaya saya mampu melakukan hal-hal baik yang saya sendiri meragukannya.
ibuk tidak pernah lelah meyakinkan saya bahkan ketika saya sendiri sibuk mengkhawatirkan skenario yang belum tentu terjadi.
ibuk adalah manusia dengan hati seluas samudera.
ibuk bilang tidak kecewa saat saya gagal, tapi ibuk kecewa jika saya meragukan diri sendiri.
dan kini saya mengerti, di dalam hatinya yang luas itu saya akan selalu aman menyelaminya.
terima kasih ibuk❤

June 21, 2019

Bagaimana Rasanya Menjadi Pendukung Arsenal?

Karena judulnya adalah pertanyaan maka sudah pasti isi tulisan ini adalah jawaban.
Tapi jawaban ini semata hanya dari perspektif saya sebagai pendukung Arsenal garis yak-yakan.
Tidak akan banyak berisi informasi soal Arsenal namun akan lebih banyak memuat opini pribadi, karena informasi soal Arsenal bisa didapatkan dengan mudah dengan bantuan Google.
Saya kenal Arsenal sejak SD tapi mulai dekat dan menjalin hubungan khusus (sek...yowis gapopo lanjut) sejak SMP.
Kakak saya adalah penyuka sepak bola, klub favoritnya antara lain Persebaya, timnas Perancis dan Arsenal.
Sebagai adik yang dulu begitu mengidolakan kakaknya (kok dulu? sekarang gimana...eh) saya ngide aja untuk tau soal Arsenal karena namanya lucu (tolong dipahami bahwa kata lucu bagi perempuan itu memang multitafsir & sering diucapkan untuk menyebut hal-hal yang dia sendiri bingung harus dilabeli apa; lucu disini saya maksudkan sebagai menarik)

Sejak itu, saya suka menonton Arsenal di TV, menemani bapak membaca bagian olahraga di koran yang biasanya selalu saya minta untuk dilewati dan mulai menyempatkan googling hal-hal berkaitan dengan Arsenal.
Menyenangkan dan selalu ada kosakata baru yang dipelajari sebagai penggemar baru.

Sayangnya keputusan saya untuk sok ide mengikuti kakak menjadi pendukung Arsenal, membuat saya benar-benar terperosok ke dalam jurang fangirling.

Saya menonton setiap pertandingan Arsenal yang ditayangkan di TV, ya kadang selip sih namanya juga manusia.
Saya mempelajari pengucapan nama pemain-pemainnya.
Saya menghafal nomor punggungnya.
Saya berubah dari anak kecil yang mengira nama Arsenal berasal dari nama pelatihnya (saat itu Arsene Wenger) menjadi seorang pendukung Arsenal yang membubuhkan VCC (Victoria Concordia Crescit) di dalam tanda tangannya.

Sayangnya keputusan saya untuk sok ide mengikuti kakak menjadi pendukung Arsenal, hanya menuntun saya untuk tahu tentang Arsenal saja, saya belum paham rivalitas dan kerasnya adu pendapat dengan pendukung klub lain.
Kaget.

Setelah identitas saya sebagai pendukung Arsenal diketahui teman-teman di SMA, segera saja saya masuk ke dalam arena tanding pride kelas pendukung layar kaca.
Sejak sering ece-ecean dengan pendukung klub lain, saya baru sadar bahwa menjadi dan gagal menjadi juara liga itu penting.
Karena sebelumnya saya hanya mendukung Arsenal sebatas sayang saja, yang akan saya dukung baik disaat sulit maupun senang, buat saya juara atau tidak, tidak jadi masalah.
Eh ternyata, menjadi pendukung klub yang sudah lama prestasinya begitu-begitu saja kok ya miris sekali, sering menjadi bahan tertawaan dan sasaran empuk pendukung klub sebelah.
Nelongso~

Rupanya waktu itu, saya belum cinta karena tidak menunjukkan harapan dan keinginan untuk Arsenal meraih juara liga.

Sejak saat itu GBHN saya mendukung Arsenal berubah, tidak lagi diam-diam nonton dan berkomentar, tapi juga menulis kritik dan pujian.
Tidak lagi cinta buta membabi buta.
Tidak lagi terus menutup identitas sebagai pendukung Arsenal.
Saya tidak lagi mendukung setiap hal yang terjadi di London Utara tanpa kecuali, saya juga ikut memakai #WengerOut pada waktunya, tapi juga tetap sering merindukan opa Wenger setelahnya.
Saya pernah begitu memuja RvP pada masanya, lalu uring-uringan tidak jelas setiap namanya disebut karena dia pindah ke klub yang amat menggelikan hati (re: memuakkan)
Saya pernah dengan ikhlas melepas Fabregas kembali ke Inggris untuk klub biru dan menerima kedatangan Cech dari klub yang sama, tapi kini ingin misuh sekeras-kerasnya ketika Cech kembali membiru (meski tak jadi pemain) setelah pertandingan kemarin.

Saya yang sering merasa sakit hati dibully pendukung klub lain, jadi lebih kalem menghadapi ece-ecean yang receh, karena memang nyatanya, kadang Arsenal bisa sebegitu buruk performanya.
Saya yang sering membalas bullyan pendukung lain, jadi lebih keras lagi melontarkan kalimat mengejek mereka (eh), ya karena tidak jarang, Arsenal menunjukan permainan yang selaras dengan lirik chantsnya; "we're by far the greatest team, the world has ever seen".
Bangga tapi kadang juga marah.

Tapi semarah-marahnya saya pada Arsenal, saya selalu mampu menemukan alasan untuk kembali mencintainya lagi. (ya...gimana? oke ga tuh)

Yah, begitulah kira-kira rasanya menjadi pendukung Arsenal.
Bisa sangat pongah dan gembira di satu malam, namun bisa berubah jadi penuh amarah dan kecewa di malam lainnya.
Penuh harapan di awal musim, lalu terpuruk dalam laga-laga penting hingga gagal lolos UCL di akhir musim.
Begitu seringnya menempati posisi empat sampai jadi 4rsen4l spesialis ranking 4.

Saya sebenarnya mencintai Arsenal apa adanya, tapi benar kata Tulus; Jangan cintai aku apa adanya, tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan.
Jadi, selain menjadi pendukung Arsenal garis yak-yakan saya juga akan aktif misuhi dan memberi kritik (meskipun nggak ngaruh-ngaruh amat).
Karena saya mau Arsenal terus berbenah dan meraih juara liga, ya setidaknya sebelum saya menikah lah, pleeeeeease
Tidak dalam waktu dekat ini kok, jadi masih ada waktu berlatih dan beli pemain baru lagi, okay?

salam,
Anggi yang masih mendukung Arsenal.

June 20, 2019

Lapar dan Hari Ini

Lapar itu bukan kata yang asing, tinggal dibalik kamar kos sejak SMA membuat saya sering merasa lapar terlebih ketika akhir bulan menjelang.
Anak rumahan yang terbiasa makan banyak dan gratis di rumah, kemudian terkejut dengan harga makanan dan uang jajan di kota.
Saya pikir ketika jadi mahasiswa saya tidak akan lapar sesering waktu SMA.
Ternyata tidak juga.
Saat berstatus mahasiswa baru saya tinggal di asrama.
Waktu akhir bulan di asrama saya pernah 2 hari tidak makan nasi, hanya minum air putih dan makan permen. Bahkan sama sekali tidak ada uang tersisa untuk membeli mi instan!
Pada bulan berikutnya saya kembali merinci pengeluaran dan menyiapkan dana darurat untuk akhir bulan.
Hasilnya, nyaris setiap bulan dana darurat itu terpakai untuk membeli bahan tugas kuliah berupa kertas, cat, kayu dsb.
Tahun berlalu dan kondisi berubah.
Saya lebih sering makan nasi dengan lauk daripada makan mi instan dan permen.
Pada tahun terakhir perkuliahan, saya bahkan mampu membeli makanan melalui jasa delivery order.
Hal mewah yang empat tahun lalu saat tinggal di asrama hanya bisa saya dengar ceritanya dari teman kamar sebelah.

Hari ini saya bersyukur.
Bukan hanya karena telah melewati saat-saat lapar.
Tapi juga karena pernah merasakan lapar, dan tidak punya uang, seratus rupiahpun.
Pengalaman yang tidak menyenangkan dan juga tidak dialami semua orang.

Saya pernah lapar.
Lalu berusaha mencari uang di saku-saku baju, di kantong-kantong tas, dan di sela-sela lemari.
Lalu menangis karena tidak menemukan apapun selain struk indomaret dan tisu.

Saya pernah lapar.
Lalu melihat teman sekamar pulang membawa ayam penyet dan makan dengan lahap.
Lalu saya berusaha meyakinkan diri bahwa pipi gembul saya masih punya cadangan lemak untuk nggak luwe2 banget :)))

Saya pernah lapar.
Dan malu melihat kenyataan bahwa rasa lapar membuat saya lebih dekat dengan Tuhan.

Saya pernah lapar.
Dan menangis meminta Tuhan menolong saya melalui siapapun.
Saya ingat betul, esoknya seorang teman menawarkan traktiran makan soto di kantin kampus.

Hari ini saya kenyang dan senang, tidak menangis karena rasa lapar.
Tapi apakah saya tetap dekat dengan Tuhan?
Apakah tangis saya memohon kepada Tuhan sepasrah dan setulus saat merasa lapar?

Hari ini, saya harus rajin merasa malu.
Agar tidak terus tenggelam menjauh dari Tuhan.
Hanya karena sudah merasa kenyang dan senang.
Sungguh memang benar, lebih sulit mengingat Tuhan dalam kondisi mudah dan amat mudah mengingat Tuhan dalam kondisi sulit.

salam,
a.