October 29, 2016

Semuanya Bekerjasama (2)



 
Kamu tahu,
Aku bahkan tak merencanakan ini sebelumnya
Sama sekali bukan tujuanku
Tak ada pembicaraan mengenai siapa yang lebih dulu
Melangitkan bisik sampai terdengar riuh di kepala tapi lirih di telinga
Semua kebetulan itu seperti menamparku yang sengaja membatu
Didepanmu.
Kamu tahu,
Sudah banyak lembar yang sengaja ku robek
Supaya lupa rasa sakitnya
Sudah banyak kata yang terpaksa ku hapus
Meski terus tak hilang bekasnya
Kamu tahu,
Setiap tanggal berbaris rapi di pojok buku
Dan surat-suratku kini tahu kemana akan menuju
Pena itu mulai menulis kembali
Meski gemetar takut lembarannya dirobek lagi
Hari ini, maaf aku tak tahu yang keberapa
Yang jelas aku masih bahagia
disini
Aku enggan menghitung lagi
Sebab
Terakhir kali aku menghitung akhirnya dihentikan juga
Semoga tulisan itu bukan bagian yang akan ku robek lagi
Dan kamu,  semoga tak menjadi kata yang terdengar begitu asing.
Sampai entah kapan, suatu hari nanti.

xoxo,
Anggi

October 22, 2016

Semuanya Bekerjasama (1)



Bagaimana bisa seseorang tidak sadar akan senyumnya sendiri.
Diam-diam raut mukanya berubah, jadi lebih cerah.
Derap langkahnya terdengar indah.
Suaranya! jadi candu luar biasa.
Setiap malam sebelum tidur,
di kepalanya diputar suara-suara yang ditangkap si telinga
Langit-langit kamar tak mau kalah
ditampilkannya setiap detil senyum yang menggaris di wajahnya

ah sebal!
Bagaimana caraku menjelaskan,
Jika tidak pernah ada kata yang tepat
Seolah-olah semuanya hiperbolis.
bahkan tulisan yang ku ketik saat ini,
entah butuh berapa lama untuk ku tertawakan sendiri.

seperti, semuanya bekerjasama...
menuntunku menuju ke arahmu.

Kamu, mungkin lebih bisa menjelaskan bagaimana rasanya.
Jadi...
Apakah sudah siap bercerita?
Aku mau mendengarkan saja.
Biar suara-suara itu bisa kuputar sedikit lebih lama,
Jadi pengantar tidur untuk malam-malam berikutnya. :)

May 30, 2016

Kenapa sih.

kenapa sih.
pakai titik, bukan tanda tanya
sebab sudah lelah mencari karena
banyak kenapa-sih yang berputar-putar di kepala
seperti
kenapa sih ngga sabaran dikit di jalan?
menurutmu nyaman ta kecipratan air kubangan?
kenapa sih ngeklakson ngga nyantai berkalikalikali?
menurutmu ini jalan punyamu sendiri?
kenapa sih nyerobot antrian?
ngga sadar kamu datengnya belakangan?
kenapa sih kenapa
ada masalah apa di rumah? /slap /slap /slap
apa susahnya sih pelan bawa kendaraan diantara kubangan?
sanggup tengok kiri kanan juga kan.
kamu mungkin ngga tau kalo beberapa orang cuma punya sepasang sepatu untuk dipakai setiap hari selama seminggu.
ya seminggu ini dan berikutnya berikutnya lagi.
apa susahnya sih sabar ditengah kemacetan?
toh yang ngerasain macetnya bukan kamu sendiri, buat apa ngeklakson berkalikalikali? klaksonmu sungguh tidak akan mengurai kemacetan, tuan.
apa susahnya ngasi kesempatan buat penyebrang jalan?
kamu mungkin ngga tau kalo beberapa orang selalu kebingungan mengalahkan ketakutannya sendiri. iya ini berlebihan, yang tidak mengalami pasti berpendapat demikian. iya :)
kenapa sih
menjadi baik kan bukan hanya pada yang dikenal saja
memahami orang lain kan tidak harus terlebih dahulu diminta

#AyoPeka
#JanganBikinSedih
#SepatuAkuBasah
#KamuNgebutParah

tertanda,
mbak-mbak hiperbolis yang mau belajar jadi baik
biar ngga bikin sedih juga

March 23, 2016

Tawakkal


Imam al-Ghazali ; "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.

                Urusan rezeki terutama tentang cara memperolehnya memang dipengaruhi usaha kita, dan jika orang lain berjalan di titian yang sama kemudian ia memperoleh hasil lebih baik, apakah pantas jika kita berbuat aniaya karenanya?
Ketika usaha telah dilakukan dengan maksimal ,sebaik yang kita mampu ,tawakkal ialah penyempurnanya.
Dengan berserah diri maka ikhlas pasti akan turut serta dibelakangnya.
Lalu kenapa harus merasa tersaingi? Bukankah Allah takkan salah membagi rezeki? Jangan khawatir. Sebab urusan rezeki sudah dijamin pasti oleh Allah.
Yang lebih patut kita khawatirkan adalah kemana tempat berlabuh setelah kematian?
Kita bukan rasul yang dijamin surga. Kita hanya hamba yang sering lupa bagaimana menjadi hamba. Melupakan tawakkal setelah usaha, lalu terjerumus perbuatan aniaya, dari sisi mana Allah akan cinta? Bukankah mengkhawatirkan sesuatu yang telah dijamin juga berarti meragukan keMahaKuasaan-Nya? Apakah dengan rezeki orang lain yang dilebihkan atas kita lantas kita sangsi akan sifat Rahman dan Rahim-Nya?

Kita ini, apakah diam-diam sedang diserang penyakit hati?

//tulisan ini dibuat ketika hampir semua media informasi membahas tentang pelaku usaha moda transportasi konvensional yang harus berdampingan dengan teknologi, juga saat telepon seluler saya jadi semakin “lucu” serta salah satu upaya memulihkan semangat setelah huruf itu tertera di artpaper 150gr minggu lalu//

xoxo,
anggi
               

#2 baperproof

you don't have to remember me or my birthday or even just my name.
unless you really want to.

March 13, 2016

Epilog



Ada yang sudah merasa lebih baik ketika ditinggal pergi, dan akan berkali lipat lebih baik lagi, jika tak ada yang berpikir untuk kembali, karena memperbaiki sesuatu tak selalu berarti kembali.

Sudah berkali-kali.

Datang. Pergi.

Datang lagi. Pergi lagi.

Datang lagi lagi. Pergi lagi lagi.

Ketika seseorang sadar akan kesalahannya maka tak ada pilihan lain selain berhenti. Memberi kesempatan yang sama berulang kali bukanlah bingkisan menarik bagi yang bersembunyi dibalik topeng. Selama ini kau kenal betul dia lewat topengnya. Namun sayang, topengnya ada seribu dan kau hanya kenal satu. Bagaimana mungkin kau tak tertipu?


Panggung kosong, kelambu sudah ditutup rapat. Sekarang sudah saatnya dia pergi. Menyudahi operet panjang yang melemahkanmu. Mengakhiri riuh ramainya pesta atas aliran air di pelupuk matamu. Menghentikan segala tanya yang berdansa di langit-langit kamarmu. Dan pada akhirnya menutup lembar-lembar kisah ini bukan dengan akhir bahagia seperti dongeng cinderella.


Kini kamu berhak menentukan siapa yang hanya boleh bicara tanpa bisa menuntut didengar suaranya, karena kamu berhak melindungi dirimu. Lagi.

xoxo,
anggi

March 11, 2016

Ternyata Benar


Siang tadi saya main ke pasar jum’at di kampus saya, sesuai dengan namanya pasar ini digelar tiap hari jumat mulai sekitar pukul 10an, berisi penjual makanan ringan hingga berat, murah hingga sedikit mahal.
Saya dan teman saya memutuskan makan di stan berlabel mie ayam solo. 
Kami duduk lesehan, tepat disamping saya, duduk sekumpulan perempuan cantik yang saya tebak seangkatan dengan saya. 
Dan karena jarak kami yang sangat dekat maka disinilah awalnya saya mencuri dengar pembicaraan mereka. Entah hal ini bisa dikatakan mencuri atau bukan. Karena meskipun saya diam dan berada diluar pembicaraan mereka saya masih sangat mampu merekam semua kalimatnya.

Seorang perempuan yang duduk membelakangi saya menghidupkan obrolan dengan topik baru yang begitu mengiris hati saya,
kurang lebih dia berkata,”suka serem ih sama yang pake jilbab (mungkin yang dimaksud khimar/kerudung) lebar, gede2 gitu”
seorang lainnya menimpali,” iya ih yang kaya gitu kan gampang banget kena(pengaruh/ajakan aliran sesat), kan yang seumuran kita gini gampang kena pengaruh hadits2 palsu gara-gara kitanya males ngecek ke-shahih-an nya, yakan?”
lalu perempuan pertama membalas,” nah iyaa, ya sebenernya sih bagus, kan malah itu yang bener tapi suka serem aja kalo kebawa secara kan gampang banget gitu L” “eh tapi kalo kamu mah masi wajar gitu, masih moderat” (sambil mengarah pandang pada teman perempuan disebelahnya, yang secara penampilan sangat mirip dengan sosok berkerudung lebar yang mereka bicarakan)
yang saya amati sesekali perempuan satu2nya yang memakai rok diantara mereka itu hanya tersenyum simpul, agaknya saya mengerti apa yang ada dipikirannya, dia kemudian membalas singkat,” ah gamesti gitu juga deh hehe”
lalu seorang lagi menyela,” ya tapi serem kan, kaya belum waktunya gitu eh tapi bukan karena umur juga sih ya kan sebenernya kaya gitu yang bener, tapi kan jadi gampang kebawa tuh, aku aja sering diwanti2 sama ibu aku”.
Sampai setelahnya pembicaraan itu merembet pada cerita mereka soal sosok “itu” dalam dunia nyata, teman2nya!

Mie ayam dihadapan saya seakan hambar setelah percakapan itu memenuhi rongga telinga,ternyata masih ada beberapa atau mungkin banyak orang yang mendiskreditkan seorang muslimah karena penampilannya, bahkan tak jauh-jauh dari kaum agama lain melainkan saudara seimannya sendiri.
Sungguh kenyataan yang menyedihkan, tapi ada hal yang juga menggelitik, bahwa mereka tidak mengingkari kebenaran aturan berpakaian untuk perempuan dalam islam yang ada pada sosok yang mereka bicarakan, juga ketika mereka mengakui dan mengiyakan kenyataan bahwa seringkali malas mengecek ke-shahih-an hadits. 
Namun tetap dengan keyakinan mereka yang sama bahwa setiap yang-berkerudung-lebar adalah yang mudah terbawa arus aliran sesat.

Jika salah satu diantara mereka kebetulan menemukan tulisan ini dan merasa tersinggung, dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf, sekaligus ijinkan saya berpendapat ,entah akan diterima atau tidak, bahwa sebenarnya duhai saudariku yang semoga dilimpahi keberkahan, seorang perempuan yang memutuskan untuk mengikuti syariat dengan penampilannya yang seperti kalian jelaskan panjang lebar itu hanyalah sekedar menutup auratnya saja, bukan lantas juga menutup pikirannya dari kebenaran dan pendapat orang lain.
Dan perempuan yang seperti mereka itu tak lain hanya ingin merayu Allah dengan melaksanakan satu dari sekian kewajiban yang telah melekat kepada mereka setelah memutuskan untuk menerima agama Allah secara kaffah. Jadi, tidakkah sebaiknya kita bermuhasabah diri, apakah yang kita lakukan selama ini sudah sesuai dengan yang Allah tetapkan? Apakah kita sudah benar-benar menerima agama Allah dengan kaffah? Dengan tidak hanya menerima satu aturan dan mengingkari yang lainnya? Sudahkah?

Ternyata benar, bahkan betapa pun baiknya perilaku kita tetap akan mampu mengundang kontra, apalagi jika kita melakukan sesuatu yang tercela? :))

Semoga tulisan yang tak tertata rapi ini mampu jadi pengingat dan pelajaran baik tak hanya bagi saya seorang :))
Dengan cinta,
Anggi

March 10, 2016

Setelah Semuanya



Teruntuk bapak yang hanya pulang,
Bapak yang tidak pernah pergi.

Beberapa hari ini kamarku berantakan
dan flu menyerangku.
Aku jadi semakin banyak menghabiskan waktu dikamar, setelah mencoba jadi sibuk berkutat dengan segala kegiatan sampai kehujanan karena lupa bawa jas hujan.
Aku melakukan beberapa hal dengan terburu-buru dan dengan konsentrasi yang hanya separuh.
Merepotkan beberapa atau banyak orang dengan ketidak-teliti-an ku.
Juga menumbuh-subur-kan kesal dihati mereka yang kesulitan menghubungiku karena telepon selulerku yang sedang berada pada titik kritis.
Dan entahlah. Memandangi foto bapak sebentar saja sudah mampu membuat mataku menjadi anak sungai. Semua ingatan tentang mimpi besar yang selalu kubanggakan  didepanmu dan kubilang akan kuraih itu berputar-putar disekelilingku. 

Setelahnya, aku berpikir terlalu dini untuk merasa lelah. Sebab ku tahu engkau jauh berkali lipat lebih lelah menahan pahit-manisnya kenyataan demi menjadikan aku hingga ada di posisi ini.
Setelahnya, aku berpikir terlalu dini untuk memutuskan berhenti berjuang. Karena masih ada dua sosok dibelakangku yang juga begitu hancur hatinya sepeninggalmu, mereka yang takkan kubiarkan kecewa hanya karena aku terlalu malas untuk sekedar berjalan lebih jauh, berdoa lebih sering, berjuang lebih keras dan hidup lebih sederhana dibandingkan yang lainnya.
Bapak, aku benar-benar yakin engkau tak pernah pergi.
Sebab, ragamu memang tak disini tapi siapa yang ada disebalik semangatku selama ini jika bukan engkau salah satunya? Atau bahkan engkau adalah sosok utamanya.
Aku mencukupkan segala tanya dan protesku selama ini, karena ditahun keempat setelah kepulanganmu aku terus saja tak sanggup menyembunyikan tanya , kenapa harus secepat itu dan kenapa harus aku.
Ternyata, Allah memilih aku untuk mengecap pahitnya ketiadaan ragamu disampingku karena aku mampu. 
Dan dalam enambelas tahunku bersamamu lalu kemudian dihentikan tiba-tiba itu, tidak lain karena akan ada waktu lain dimasa datang yang lebih lama lagi untukku kembali bertemu engkau. Janji itu nyata tapi hanya setelah aku melewati segala ujian dengan sempurna.

Bapak, aku tidak sepenuhnya yakin mampu melewati setiap ujian dengan sempurna, namun apa salahnya berharap, ya kan?
Mungkin saja Allah berkenan menyelipkan ridho-nya di saku kecilku.
Allah memang benar-benar lebih tahu.
Dan aku hanya perlu jadi lebih sederhana, tak merumitkan segala sesuatu karena sebenarnya aku tahu dan engkaupun tahu kemana tujuanku setelah semuanya :))

dengan ekstra-super-mega cinta,
Anggi