Siang tadi saya main ke pasar jum’at di kampus saya, sesuai
dengan namanya pasar ini digelar tiap hari jumat mulai sekitar pukul 10an,
berisi penjual makanan ringan hingga berat, murah hingga sedikit mahal.
Saya dan teman saya memutuskan makan di stan berlabel mie
ayam solo.
Kami duduk lesehan, tepat disamping saya, duduk sekumpulan perempuan
cantik yang saya tebak seangkatan dengan saya.
Dan karena jarak kami yang
sangat dekat maka disinilah awalnya saya mencuri dengar pembicaraan mereka. Entah hal ini bisa dikatakan mencuri atau bukan. Karena meskipun saya diam dan
berada diluar pembicaraan mereka saya masih sangat mampu merekam semua
kalimatnya.
Seorang perempuan yang duduk membelakangi saya menghidupkan
obrolan dengan topik baru yang begitu mengiris hati saya,
kurang lebih dia berkata,”suka serem ih sama yang pake
jilbab (mungkin yang dimaksud khimar/kerudung) lebar, gede2 gitu”
seorang lainnya menimpali,” iya ih yang kaya gitu kan
gampang banget kena(pengaruh/ajakan aliran sesat), kan yang seumuran kita gini
gampang kena pengaruh hadits2 palsu gara-gara kitanya males ngecek ke-shahih-an
nya, yakan?”
lalu perempuan pertama membalas,” nah iyaa, ya sebenernya
sih bagus, kan malah itu yang bener tapi suka serem aja kalo kebawa secara kan
gampang banget gitu L”
“eh tapi kalo kamu mah masi wajar gitu, masih moderat” (sambil mengarah pandang
pada teman perempuan disebelahnya, yang secara penampilan sangat mirip dengan
sosok berkerudung lebar yang mereka bicarakan)
yang saya amati sesekali perempuan satu2nya yang memakai rok
diantara mereka itu hanya tersenyum simpul, agaknya saya mengerti apa yang ada
dipikirannya, dia kemudian membalas singkat,” ah gamesti gitu juga deh hehe”
lalu seorang lagi menyela,” ya tapi serem kan, kaya belum
waktunya gitu eh tapi bukan karena umur juga sih ya kan sebenernya kaya gitu
yang bener, tapi kan jadi gampang kebawa tuh, aku aja sering diwanti2 sama ibu
aku”.
Sampai setelahnya pembicaraan itu merembet pada cerita
mereka soal sosok “itu” dalam dunia nyata, teman2nya!
Mie ayam dihadapan saya seakan hambar setelah percakapan itu
memenuhi rongga telinga,ternyata masih ada beberapa atau mungkin banyak orang
yang mendiskreditkan seorang muslimah karena penampilannya, bahkan tak
jauh-jauh dari kaum agama lain melainkan saudara seimannya sendiri.
Sungguh kenyataan yang menyedihkan, tapi ada hal yang juga
menggelitik, bahwa mereka tidak mengingkari kebenaran aturan berpakaian untuk perempuan
dalam islam yang ada pada sosok yang mereka bicarakan, juga ketika mereka
mengakui dan mengiyakan kenyataan bahwa seringkali malas mengecek ke-shahih-an
hadits.
Namun tetap dengan keyakinan mereka yang sama bahwa setiap
yang-berkerudung-lebar adalah yang mudah terbawa arus aliran sesat.
Jika salah satu diantara mereka kebetulan menemukan tulisan
ini dan merasa tersinggung, dengan segala kerendahan hati saya mohon maaf,
sekaligus ijinkan saya berpendapat ,entah akan diterima atau tidak, bahwa
sebenarnya duhai saudariku yang semoga dilimpahi keberkahan, seorang perempuan
yang memutuskan untuk mengikuti syariat dengan penampilannya yang seperti
kalian jelaskan panjang lebar itu hanyalah sekedar menutup auratnya saja, bukan
lantas juga menutup pikirannya dari kebenaran dan pendapat orang lain.
Dan perempuan yang seperti mereka itu tak lain hanya ingin merayu
Allah dengan melaksanakan satu dari sekian kewajiban yang telah melekat kepada
mereka setelah memutuskan untuk menerima agama Allah secara kaffah. Jadi,
tidakkah sebaiknya kita bermuhasabah diri, apakah yang kita lakukan selama ini
sudah sesuai dengan yang Allah tetapkan? Apakah kita sudah benar-benar menerima
agama Allah dengan kaffah? Dengan tidak hanya menerima satu aturan dan
mengingkari yang lainnya? Sudahkah?
Ternyata benar, bahkan betapa pun baiknya perilaku kita
tetap akan mampu mengundang kontra, apalagi jika kita melakukan sesuatu yang
tercela? :))
Semoga tulisan yang tak tertata rapi ini mampu jadi pengingat
dan pelajaran baik tak hanya bagi saya seorang :))
Dengan cinta,
Anggi