Halo, hm cuaca Surabaya sedang menyenangkan. Hehehe
setidaknya untuk hatiku :p
Ah apalah selalu gagal bikin prolog yang membangkitkan
semangat pembaca ,ya meskipun juga dibaca sendiri muahahah
Tulisan pembuka diatas baik-buruk nya relatif. Soal baik-buruk,
pantas-tidak pantas, sesuai-tidak sesuai berkaitan dengan standar yang ada di
khalayak.
Naaah, mulai masuk pokok bahasan nih, serius ya.
Satu Dua Tiga
Hahahaha
apasih-_-
hm jadi , beberapa
bulan ini aku sedikit demi sedikit mulai sadar, ya, setelah tertampar oleh :
"Apakah kalian
akan beriman kepada sebagian isi kitab dan mengkufuri sebagian isi yang lain.
Maka, tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu, selain kehinaan
dalam kehidupan di dunia, serta pada hari kiamat nanti akan diseret ke dalam
adzab yang sangat pedih."
(Quran Surat Al Baqarah: 85)
Jadi rasanya, sedih.
Aku melihat aku selama ini selalu
memilah-milah “aturan” yang tertulis jelas, ku ikuti yang kumau, ku tinggalkan
yang tak kusuka.
Tanpa sadar aku ini
adalah seorang hamba
Ternyata selama ini, hampir 19 tahun aku hidup dalam standar
baik-buruk yang semu.
Bagaimana tidak?
Aku bahkan tak banyak paham tentang apa
yang kuyakini selama ini, aku bukan perempuan yang mengerti benar hakikat ku
sebagai seorang hamba.
Selama ini baik-buruk yang ada dimataku mayoritas
didasari oleh pendapat manusia, bukan Rabb-ku.
Mulai dari cara berpakaian.
Ya. Aku perempuan dengan khimar(penutup
kepala), terulur sampai dada inshaAllah, tapi kadang jilbab(pakaian yang
menutup aurat) yang ku kenakan bukan yang sesuai dengan apa yang tertulis.
Tak
sesuai tuntunan.
Tanpa perlu kubahas pun siapa2 yang melihatku tahu benar aku
belum benar.
Selama ini kepantasanku kudasarkan pada apa yang dikenakan
sebayaku, kepantasanku kudasarkan pada keenggananku mencari tahu yang benar.
Lalu,
cara berbicara.
Berteriak, berucap kalimat yang sia-sia.
Oh, sungguh
menyedihkan apa-apa yang ditunjukkan si cermin kepadaku,sosok di dalamnya begitu
mudah meninggikan nada bicara, kata sia-sia keluar seolah takkan ada
pertanggungjawabannya kelak.
Kemudian hm akan sangat panjang
jika ku rinci kesalahanku sendiri, banyak sekali cela yang baru aku sadar, atau
mungkin baru ku akui adanya. (Maka sudah ya batere leptop uda mo abisss hehe)
Kini ketika memutuskan untuk
mulai mengikuti standar baik-buruk yang sebenar-benarnya, aku baru merasakan.
Sebuah perubahan tak datang dengan instan.
Menyusuri jalan kebaikan itu tak
selalu menyenangkan.
Tapi bukankah selalu ada pertolongan bagi niat baik yang
disegerakan? :))
with love,
Anggi

No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.