April 24, 2015

Singkat cerita...



Halo, hm cuaca Surabaya sedang menyenangkan. Hehehe setidaknya untuk hatiku :p
Ah apalah selalu gagal bikin prolog yang membangkitkan semangat pembaca ,ya meskipun juga dibaca sendiri muahahah
Tulisan pembuka diatas baik-buruk nya relatif. Soal baik-buruk, pantas-tidak pantas, sesuai-tidak sesuai berkaitan dengan standar yang ada di khalayak.
Naaah, mulai masuk pokok bahasan nih, serius ya.
Satu Dua Tiga
Hahahaha
apasih-_-



hm jadi , beberapa bulan ini aku sedikit demi sedikit mulai sadar, ya, setelah tertampar oleh :

"Apakah kalian akan beriman kepada sebagian isi kitab dan mengkufuri sebagian isi yang lain. Maka, tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu, selain kehinaan dalam kehidupan di dunia, serta pada hari kiamat nanti akan diseret ke dalam adzab yang sangat pedih." 
(Quran Surat Al Baqarah: 85)

Jadi rasanya, sedih.
Aku melihat aku selama ini selalu memilah-milah “aturan” yang tertulis jelas, ku ikuti yang kumau, ku tinggalkan yang tak kusuka.
Tanpa sadar aku ini adalah seorang hamba

Ternyata selama ini, hampir 19 tahun aku hidup dalam standar baik-buruk yang semu. 
Bagaimana tidak? 
Aku bahkan tak banyak paham tentang apa yang kuyakini selama ini, aku bukan perempuan yang mengerti benar hakikat ku sebagai seorang hamba. 
Selama ini baik-buruk yang ada dimataku mayoritas didasari oleh pendapat manusia, bukan Rabb-ku.
Mulai dari cara berpakaian. 
Ya. Aku perempuan dengan khimar(penutup kepala), terulur sampai dada inshaAllah, tapi kadang jilbab(pakaian yang menutup aurat) yang ku kenakan bukan yang sesuai dengan apa yang tertulis.
Tak sesuai tuntunan. 
Tanpa perlu kubahas pun siapa2 yang melihatku tahu benar aku belum benar. 
Selama ini kepantasanku kudasarkan pada apa yang dikenakan sebayaku, kepantasanku kudasarkan pada keenggananku mencari tahu yang benar. 
Lalu, cara berbicara. 
Berteriak, berucap kalimat yang sia-sia. 
Oh, sungguh menyedihkan apa-apa yang ditunjukkan si cermin kepadaku,sosok di dalamnya begitu mudah meninggikan nada bicara, kata sia-sia keluar seolah takkan ada pertanggungjawabannya kelak.

Kemudian hm akan sangat panjang jika ku rinci kesalahanku sendiri, banyak sekali cela yang baru aku sadar, atau mungkin baru ku akui adanya. (Maka sudah ya batere leptop uda mo abisss hehe)

Kini ketika memutuskan untuk mulai mengikuti standar baik-buruk yang sebenar-benarnya, aku baru merasakan. 
Sebuah perubahan tak datang dengan instan. 
Menyusuri jalan kebaikan itu tak selalu menyenangkan. 
Tapi bukankah selalu ada pertolongan bagi niat baik yang disegerakan? :))

with love,
Anggi

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.