Hai, Kemarilah
Duduk disampingku
Sembari menanti langit berbalut jingga
Jika kau bersedia
biarkan aku membagi cerita
Menuai betapa kelamnya satu sisi dalam diriku
Dulu
Beberapa hari ini ada percakapan yang menamparku
Percakapan penuh nada manja, keluhan dan ragam pinta
Mengingatkan tentang bagaimana aku di masa itu
Aku ingat ada kalimat ini sampai di telingaku
“anggi ini manja sekali, mana mungkin bisa
hidup mandiri”
“mau
jadi apa nanti, kemana2 tak sanggup sendiri”
Ucapan mereka yang pelan
Bagaikan pil pahit yang harus ku telan
Ya
Dengan kesadaran penuh aku akui
Aku yang dulu memang tak sanggup berdiri
diatas kaki sendiri
Hal kecil pun harus ditopang enam kaki
Aku , bapak dan ibu
Sampai, pernah suatu kali bapak berkata
dengan lembut
“nduk, kamu harus bisa mandiri, bapak tidak
hidup selamanya”
Ya
Karena Bapak yang kukenal adalah sosok
yang tak pernah menolak pintaku
Bapak yang selalu menjadi penyebab bahagia
diujung tangisku
Bapak yang tak tinggal diam saat tahu
putrinya merasa terganggu
Oleh sekumpulan anak sebayanya saat
itu
Bapak yang aku tahu pasti selalu memenuhi
mauku
Bapak yang aku paham benar selalu berat
hatinya,
Antara memenuhi mauku yang rupa-rupa
Atau mulai mengenalkanku pada kata mandiri
yang sebenarnya
Bapak
Kini aku mengerti
Mengapa engkau selalu bicara panjang lebar
Untuk setiap pintaku yang
terwujud tak perlu tunggu waktu
Bapak hanya tak ingin aku disebut manja oleh orang-orang itu
Teruntuk Bapak yang selalu menyayangiku
tanpa jemu,
Terimakasih.
Aku rindu.
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.