April 06, 2015

Mandiri.



Hai, Kemarilah

Duduk disampingku

Sembari menanti langit berbalut jingga
Jika kau bersedia

biarkan aku membagi cerita

Menuai betapa kelamnya satu sisi dalam diriku

Dulu

Beberapa hari ini ada percakapan yang menamparku
Percakapan penuh nada manja, keluhan dan ragam pinta
Mengingatkan tentang bagaimana aku di masa itu

Aku ingat ada kalimat ini sampai di telingaku
                anggi ini manja sekali, mana mungkin bisa hidup mandiri”
                “mau jadi apa nanti, kemana2 tak sanggup sendiri”
Ucapan mereka yang pelan
Bagaikan pil pahit yang harus ku telan
Ya
Dengan kesadaran penuh aku akui
Aku yang dulu memang tak sanggup berdiri diatas kaki sendiri
Hal kecil pun harus ditopang enam kaki
Aku , bapak dan ibu

Sampai, pernah suatu kali bapak berkata dengan lembut
“nduk, kamu harus bisa mandiri, bapak tidak hidup selamanya”
Ya
Karena Bapak yang kukenal adalah sosok yang tak pernah menolak pintaku
Bapak yang selalu menjadi penyebab bahagia diujung tangisku
Bapak yang tak tinggal diam saat tahu putrinya merasa terganggu
Oleh sekumpulan anak sebayanya saat itu
Bapak yang aku tahu pasti selalu memenuhi mauku
Bapak yang aku paham benar selalu berat hatinya,
Antara memenuhi mauku yang rupa-rupa
Atau mulai mengenalkanku pada kata mandiri yang sebenarnya

Bapak
Kini aku mengerti
Mengapa engkau selalu bicara panjang lebar
Untuk setiap pintaku  yang terwujud tak perlu tunggu waktu
Bapak hanya tak ingin aku disebut manja oleh orang-orang itu

Teruntuk Bapak yang selalu menyayangiku tanpa jemu,

Terimakasih.

Aku rindu.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.