September 17, 2023

Obsesi pada yang Terkini

    Setelah hampir satu tahun kembali ke rumah, saya yang kini punya jarak dengan Jakarta bisa melihat lebih jelas perbedaan yang sebelumnya terasa subtil.
Saat berada di kota ramai itu saya diselamatkan banyak hal sehingga tak ikut larut dalam keharusan yang tidak perlu. Keharusan yang dipaksakan, tidak esensial, dan menuntut. "Akal-akalan orang Jakarta" kalo bahasa twitter. (Iya, sudah jadi X, tapi saya masih suka pakai nama yang lama. Maaf ya, pak Elon.) Frasa "Orang Jakarta" ini kalau saya tangkap bukan warga asli kota itu (yang merujuk ke satu suku mayoritas disana). Namun lebih ke orang-orang yang aspek kesehariannya sudah sejalan dengan lifestyle khas ibukota.

Tren yang "mewabah" dengan cepat
    Ya, tren itu memang cepat sekali menyebar. Apalagi untuk ukuran ibukota negara seperti Jakarta. Hal paling kentara itu pada gaya berpakaian. Padu padan pakaian yang saya lihat di instagram, bisa dengan cepat saya temukan di dunia nyata. Mereka berjalan di lobby-lobby mall, duduk di depan komputer kantor, berdesakan diantara penumpang KRL. Nampak seperti seragam hanya saja warnanya diubah tergantung preferensi. Di kabupaten, biasanya tren dari ibukota itu sampai beberapa bulan atau bahkan tahun berikutnya. Kini, bisa lebih cepat lagi dengan jangkauan media sosial, aplikasi belanja online dan jasa ekspedisi.

   Diskursus soal keharusan pakai/punya/beli A untuk B ini hampir selalu ramai di media sosial. Namun, kembali ke hook awalnya tadi, latar tempatnya masih berkutat di pusat perekonomian negara ini. Contoh yang sempat ramai: setelan tas Goyard, lanyard Coach dan sepatu teplek Tory Burch untuk OOTD pekerja perempuan ibukota, botol minum Corkcicle, dan yang terbaru soal tools desainer supaya terlihat kredibel. Yang terakhir barusan juga sumbernya dari pertanyaan dari perempuan soal tas branded apa yang harus dibeli supaya terlihat meyakinkan saat bertemu klien.

  Preferensi orang untuk ikut atau tidak mengikuti tren itu sepenuhnya urusan pribadi. Yang jadi aneh menurut saya, yakni upaya bahwa harus beli, harus pakai atau harus punya supaya tidak terlihat ketinggalan zaman, lebih-lebih supaya diterima pergaulan. Adanya "harus" diawal kata ini yang mengganjal. Sebab inilah yang membuat sebagian orang jadi berpenampilan tidak sesuai kemampuan.
 
    Kecenderungan untuk terlihat up to date ini bahkan sampai pada titik munculnya sejumlah jasa sewa iPhone. Ya, produk Apple yang dipercaya sebagian orang bisa membuatnya terlihat keren. tidak berhenti sampai disitu, bahkan ada juga jasa screenshot iPhone untuk bahan post/story media sosial. Oh My God! Belum lagi membeli barang trendy dengan metode paylater alias cicilan. Tidak bermaksud mendiskreditkan orang yang memilih beli sesuatu dengan mencicil. Jika pada akhirnya harus mengeluh gaji hanya numpang lewat karena cicilan barang trendy, ya kenapa dilakukan?
Hal lain yang tidak kalah mengagetkan warga kabupaten seperti saya adalah rebutan mass product di peluncuran pertama. Maksud saya, itu kan produk yang diproduksi dalam jumlah besar, jika tidak dapat sekarang kan nanti juga tetap akan diproduksi. Ya, mungkin ada kehendak jadi yang pertama disitu. Hal yang belum bisa saya mengerti.

Melihat tren dari kacamata warga biasa    
    Sebagai orang yang memang belum mampu beli barang-barang sekunder dengan harga mahal, saya memang tidak risau membaca huru-hara itu. Yaaa...apa yang harus diributkan kalau tidak ada uang untuk sekadar membelinya? Dan ini mungkin faktor penyelamat pertama. Hahaha. 
Sejak kecil memang saya bukan tipikal orang yang punya barang-barang trendy. Bahkan di era hampir semua remaja bertukar pin BBM dan mulai bergeser ke hp android touchscreen, saya masih 2x pakai hp nokia mulai SMP sampai awal masuk kampus.

Jadi latihan untuk menahan diri itu memang lebih karena keadaan, bukan karena kemauan sih. Tapi ketika dewasa, dan punya kebebasan untuk menggunakan uang sendiri. Saya tetap tidak menjadikan tren sebagai acuan pembelian barang. Aowkaowkaowk.

    Di sisi lain, sebagai orang yang dulu kuliah desain produk, saya juga paham bahwa semua tampilan menarik itu adalah akal-akalan desainer untuk mendongkrak daya jual😂 Faktor penyelamat kedua. Sebab tren tidak muncul dengan sendirinya, tren diciptakan, ditunggangi, dan dipelihara dengan tujuan tertentu. Brand-brand terkenal itu walau tidak saya miliki langsung, tapi nilai dan fungsinya pernah saya pelajari. Saya paham betul harga tinggi yang ditawarkan umumnya sebanding dengan kualitas material dan fungsi yang mengikutinya. Namun, saya akan tetap memilih barang yang sesuai kebutuhan, berkualitas baik dan punya harga terjangkau. Walau tidak membuat orang lain terkesan. Kan, saya yang menggunakan, kenapa harus ada campur tangan impresi orang?

Memiliki dan mengenakan barang milik sendiri adalah satu hal. Penerimaan orang adalah hal lain. Jadi menggunakan barang pribadi untuk meraih perhatian orang lain memang seharusnya tidak dijadikan dasar dalam menjalin hubungan. Terlebih dalam hubungan profesional, kita menawarkan kemampuan berpikir dan karya bukan barang apa yang dipakai.

Mengapa harus sekarang?
    Di zaman serba cepat ini, kecenderungan untuk jadi serba update dan "sekarang juga" memang sangat tinggi. Ketika nonton film, berlomba-lomba untuk jadi yang pertama. Padahal penayangan film tentu tidak satu hari saja. Saat semua orang terlihat menggenggam botol minum dengan satu logo tertentu, ada perasaan gusar karena tidak punya yang sama. Padahal semua botol minum dengan harga berapapun ya kalau isinya air putih rasanya juga akan tetap air putih. Kalau belum bisa beli sekarang, dibeli nanti juga botol itu masih ada di pasaran.

Memangnya akan ada perasaan apa setelah mengikuti tren tertentu? Sedangkan tren baru akan selalu ada dan membanjiri linimasa tanpa hari libur. Kesenangan sesaat itu tentu tidak sepadan dengan efek samping yang ditimbulkan akibat sesuatu yang dipaksakan. Jadi, mengapa harus sekarang dan tetap resah?

Sak Madyo
    Tidak kurang dan tidak lebih. Dulu saya ingat, nenek saya pernah bilang "ora sumbut" yang artinya tidak sesuai. Jika ada sesuatu yang tak sepadan, entah itu antara kata dan perbuatan, atau penghasilan dan penampilan, Nenek akan bilang "ora sumbut". Menurutnya jadi manusia itu ya, yang sedang-sedang saja, tak kurang dan tak lebih. Ada ya digunakan, kalo tak ada ya tak perlu dipaksakan. Utamanya pada hal-hal tidak esensial. Yang tanpanya hidup kita pun akan baik-baik saja.

Perasaan cukup dan rasa syukur inilah yang seringkali terabaikan. Tertelan deru kota yang sibuk. Tersisih oleh tuntutan pergaulan dan gengsi. Menemukannya kembali bukan hal yang sulit saat kita pernah terbiasa memilikinya. Namun jika sejak mula memang tak pernah kenal, ya harus mulai dari awal.

Semoga kita tak menggantungkan nilai diri dari nominal yang ada disaku celana atau dari merek apa yang menyentuh kepala.
Semoga kita selalu dianugerahi perasaan cukup dan rasa syukur. 
Semoga tetap tenang di tengah dunia yang melaju kencang.


Salam,
A.

September 16, 2023

Kemenangan Semalam*

    Menonton Arsenal apalagi jika lawan tim-tim besar itu hampir selalu emosional ((tepatnya saya memang emo maksimal)). Tepat di laga terakhir jelang international break yang kemarin itu, Arsenal menyambut Manchester United di Emirates Stadium.

Salah satu match yang saya tunggu-tunggu setiap musim. Selalu ada perasaan ganjil yang mengganjal di hati saya terhadap klub setan merah ini. Tapi di match kali ini, melihat performa Arsenal yang bisa dikatakan sedikit naik kelas, saya merasa lebih percaya diri. Walau tidak sampai di level sesumbar akan menang mudah. Ya sesombong-sombongnya fans Arsenal, umumnya masih bisa mikir untuk tidak koar-koar sampai jadi template tweet atau diquote massal saat terbukti sebaliknya. OOPSIE.
BTW, Away kit MU ini sekilas seperti Jersey andalan Newcastle United. Ah, memang banyak sekali hal yang bisa dikritik kalo dasarnya sudah tidak suka, ya. Aowkaowkaowk.

    20 menit pertama Arsenal cukup mendominasi tapi sayangnya gol pertama malah dicetak dengan sangat cantik oleh Rashford di menit 27.
Gol yang kalo dirunut berawal dari sloppy pass Havertz yang berbuah umpan Eriksen kepada Rashford. Kencangnya laju Rashford tidak dikawal dengan baik, Ramsdale juga tidak berhasil menyelamatkan bola.

Sesak sekali rasanya.

Tapi entah do'a siapa yang diijabah Tuhan, tepat 35 detik setelah selebrasi, Martinelli passing ke arah kapten andalan arsenal. Ødegaard membawa Arsenal mengimbangi United di menit 28.
Hahahaha, kesempatan selebrasi yang singkat ya. I love to see that.

Menit ke-40 Star Boy kami dapat kartu kuning, foul ke bruno katanya. Opini saya (yang bias): Saka cuma fokus ngejar bola saja, memang Bruno yang sengaja taruh kakinya kedepan Saka. Sungguh menyebalkan, tapi yowestalah. Skor tetap imbang sampai peluit paruh waktu dibunyikan Anthony Taylor.

    Saat masuk babak kedua, saya mulai risau karena ball possession United nampak better dari babak sebelumnya. Saya selalu merasa kebobolan setelah imbang itu luar biasa menyedihkan, apalagi di menit-menit akhir. (jyakh spoiler)
Di menit ke-77 akhirnya Gabjes masuk lapangan bersama Vieira dan Tomiyasu. Mereka menggantikan King Eddie, Mas Kai dan Zinny.
Permainan terus membuat saya mbatin lebih kencang. Apalagi waktu gol Garnacho di menit ke-88. Lha wong baru masuk di babak kedua dan langsung bikin gol keren. Sebagai tim lawan kan jelas saya habis kata cuma sisa sedihnya HAHA.
Untungnya apa? Untungnya offside. HAHAHA.

*Sweet like honey, karma's a cat. Purring in my lap 'cause it loves me*¹

    Sampai menit ke-90 skor masih betah imbang 1-1. Hingga Saka melakukan tendangan pojok yang disambut dada bidang Rice! Rice! Baby!. Bola kemudian ditendang dengan sangat percaya diri oleh pemain yang baru bergabung ke Arsenal sejak Juli lalu.
Dan saya tidak menyangka itu akan jadi gol kedua Arsenal di menit 90+6. Betul-betul finishing yang mantap dari seorang pemain yang memecah rekor pembelian Arsenal so far.

Disitu saya mulai nangis tersedu-sedu. Lebay memang, tapi kembali ke kalimat yang saya tulis dengan warna merah dan underlined tadi.

*Honey, I rose up from the dead, I do it all the time. I got a list of names, and yours is in red, underlined*²

    Di menit yang entah sudah keberapa, Uncle Jorginho masuk menggantikan Ødegaard. Uncle yang surprisingly selalu perform dengan baik walau seringnya masuk subs. Saya selalu skeptis terhadap transfer pemain dari chelsea, yah bagaimana tidak setelah melihat Luiz dan Willian bekerja. LOL.
Saat-saat itu saya hanya berharap wasit segera meniup peluit tanda berakhirnya laga. Bagi saya 2-1 sudah cukup, selain itu saya juga khawatir United menyeimbangkan skor lagi, sih.
Memang rejeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka, tepat saat kita sudah memasrahkan segalanya. Fabio Vieira yang di match kali ini tidak saya temukan celanya passing ke Gabjes, dan GOL KETIGA COYYY!!! Menit ke 90+11. What a wonderful night!

Saya bersyukur match kali ini tidak berakhir imbang, dengan banyaknya chance Arsenal, hasil imbang itu menyedihkan walau tetap dapat satu poin.
Tapi apapun itu, yang jelas kekalahan 3-1 pasti sangat menyakitkan dan saya senang sekali menyaksikan itu terjadi.

*Living for the thrill of hitting you where it hurts. Give me back my girlhood, it was mine first and I damn sure never would've danced with the devil at nineteen*³

Nangis lebih deras lengkap dengan ingusnya~ Dengan perasaan yang lega dan bahagia. Hati saya penuh malam itu. Hari senin tidak terasa berat (karena deadlinenya selasa). Saya siap menghadapi international break dengan stok video gol-gol Arsenal.
Terima kasih untuk permainan yang delightful walau detak jantung cukup amburadul. It's always you, Arsenal. It's always been you.

    Dua minggu telah berlalu, saatnya kembali ke jadwal arsenal-arsenalan lagi. Saya post tulisan ini, untuk dibaca lagi kapan-kapan. Bahwa pada satu hari saya pernah sangat khawatir, lalu ikhlas dan pasrah sampai berakhir menangis bahagia. Hanya dalam 2x45 menit plus injury time.
Tidak ada harapan yang tidak didengar Tuhan, jika tidak datang sesuai keinginan pasti diganti dengan yang berkali lipat lebih baik. Pun saat sesuai, akan tiba dengan cara yang tak diduga. 


Salam,
A.


*Tapi rilisnya telat banget. Maklum banyak acara~ Si ada tuh acaraaaaa.

(Pura-puranya) Musik pengiring:
¹: Karma - Taylor Swift
²: Look What You Made Me Do - Taylor Swift
³: Would've Could've Should've - Taylor Swift

August 21, 2023

Bukan Sekadar Angka

    


    Dulu mendekati usia dua puluh lima, konten-konten mengenai quarter life crisis adalah hal paling saya hindari. Bagi saya, krisis sudah dimulai sejak lama. Topik itu nampak tidak relevan lagi. Sehingga, daripada harus menambah sugesti negatif, baiknya saya hindari saja. Tanpa membaca topik quarter life crisis pun saya sudah sering meragukan kewarasan diri sendiri.
    Bagi saya dua puluh enam kemarin terasa amat singkat, sepertinya alasan utama mengapa demikian adalah saya terlalu sibuk mengejar checklist. Di usia itu, saya mulai bekerja di tempat baru, budaya dan lingkungan kerja yang berbeda. Mendaftar enam beasiswa di usia dua puluh enam dan semuanya gagal.

    Tahun ini, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Keluar dari Jakarta, lepas dari pekerjaan penuh waktu, beruntun gagal beasiswa. Tapi saya tidak terpuruk seburuk yang sudah-sudah (atau mungkin, belum?) Walau tetap nangis malam-malam ke kamar Ibu wkwkwk!
    Pekerjaan baru yang kemarin saya idam-idamkan itu memang benar membawa saya pada banyak pengalaman dan deretan portfolio yang menguntungkan. Tapi ternyata tiga tahun di Jakarta tidak membuat cita-cita saya kembali ke rumah saja surut. Tidur dan bekerja di dalam kamar di rumah sendiri. Tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana menyeberang jalan hari ini dan melihat langit biru setiap hari. Tidak bingung mau makan apa hari ini, sebab jam terbang Ibu di dapur adalah pemadam kelaparan paling ampuh sedunia!
    Beasiswa dan lanjut kuliah S2 itu memang mimpi sejak kuliah sarjana. Yah, apa daya! Tidak semua kerja keras akan diberi ganjaran instan. Kita juga tidak bisa mengukur seberapa keras yang telah kita sebut kerja keras itu, ya kan?
Kenyataannya, tidak ada batas maksimal mencoba, demikian juga dengan maksimal gagalnya. Jadi perkara beasiswa ini juga urusan seberapa tangguh menghadapi penolakan dengan ketelatenan mempersiapkan seluruh dokumennya. Persiapan yang kalau bisa saya analogikan adalah setara dengan kerja penuh waktu. Jika tidak hari ini, mungkin saja nanti (walau tetap tidak ada garansi pasti). Satu yang jelas adalah kita hanya akan tahu mengapa satu pintu tidak terbuka walau telah diketuk hingga memar di buku jari ketika semua telah lama berlalu. Sebab kita hanya bisa melihat seluruh gambaran besar itu dari jarak yang cukup jauh. Terbaca sedih ya... Memang kenyataan ini asem tenan!

    Ora kabeh-kabeh kudu saiki. Mungkin adalah kalimat yang paling dekat untuk mendeskripsikan tahun ini bagi saya. Banyak yang berubah dengan cepat dan saya tak berdaya menyiapkan rencana pengganti. Namun, tepat seperti janji-Nya, Ia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Ketakutan saya tentang pekerjaan dan keluar dari Jakarta ternyata hanya pikiran yang melaju kencang dalam kepala. Rumah yang memeluk dengan hangat dan rahmat Tuhan yang jauh lebih besar adalah kenyataan. Saya belajar untuk tidak membuat rencana tanpa memikirkan bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana. Ikut apa yang telah ditentukan Tuhan setelah berusaha itu jauuuuuh lebih menenteramkan. Semoga saja ini adalah tanda bahwa saya sudah tidak protes sebanyak masa remaja dan awal berduka hahaha. Semoga ini adalah #growth #adulting #characterdevelopment. (((cie gitu)))

    Agustus ini menandai bahwa sebelas tahun sudah berlalu. Kini jari jemari saya sudah tak cukup menghitung jarak kepulangan Bapak. Saya takut sekali lupa, karena itu saya terus menulis.
Walau tulisan tentang Bapak sebatas mengulang ingatan yang itu-itu saja, bagi yang telah membacanya berkali-kali.
    Ketakutan saya kehilangan memori tentang Bapak ini seperti divalidasi saat menonton film anime berjudul Words Bubble Up Like Soda Pop di Netflix. Salah satu tokohnya bernama Pak Fujiyama. Ia seorang lelaki lansia, menghabiskan waktu sehari-hari di senior day care. Ia sibuk mencari piringan hitam yang hilang dari covernya. Dalam satu scene ada percakapan yang hits too close to home dan berhasil membuat saya banjir air mata.

"Ini adalah rekaman yg paling sering kudengarkan berulang-ulang.
Aku ingin mendengarnya sekali lagi. 
Jika aku bisa mendengarkannya lagi, aku akan ingat"

"Ingat apa?"

"Aku tak mau lupa.
Aku tak ingat..."

Yang baru terungkap kemudian, bahwa piringan hitam itu berisi rekaman lagu istrinya yang telah meninggal. Dulu istri Pak Fujiyama adalah seorang penyanyi.
    Selalu ada perasaan ingin mempertahankan yang tersisa. Sekalipun saya tahu itu tak akan mengubah banyak hal. Saya menyesal dulu tidak banyak mengambil foto atau video bersama Bapak, walau saat itu telah punya HP kamera. Tidak berandai-andai tahu lebih baik juga, sih. Kalau saya tahu sebelumnya, mungkin bukannya lebih sering mengambil dokumentasi, tapi malah akan gila lebih cepat lagi. Hahaha.

    Anyway, di usia dua puluh enam kemarin itu untuk pertama kalinya Arsenal tampil dengan performa yang pantas jadi juara. Walau kita semua tahu akhirnya Manchester biru lagi biru lagi~ Sudah menjadi pemuncak berbulan-bulan tapi akhirnya cuma jadi second lead. Hahaha! Tapi setidaknya, saya bersyukur sampai di tahap ini. Nonton Arsenal dan menikmati permainan mereka, bukan sekadar misuh-misuh karena permainannya ra ngalor ra ngidul.  Semoga musim ini, Arsenal bisa buka puasa ya! Ora kabeh-kabeh kudu saiki, sih. Tapi yo YUK BISA YUK buka puasa musim ini yukkk!!! ((tetap bersikeras))

    Begitulah dua puluh enam yang singkat, yang terabaikan, yang tidak benar diperhatikan. Jika saya bisa minta maaf pada diri sendiri yang dua puluh enam kemarin maka;
Maaf ya, sudah menekan seluruh daya upaya untuk mengejar sesuatu tapi belum dapat juga.
Sudah berkali-kali meragukan kemampuan dan kekuatanmu, sementara orang lain percaya lebih besar dari yang pernah diduga.
Semoga patah yang berkali-kali itu bisa jadi pelajaran sekaligus guyonan ringan.
Semoga akan ada hari yang lebih baik lagi di masa depan.
Semoga suatu saat, kamu dapat jawaban untuk semua mengapa.
Selamat terus berjalan, semangat terus melawan!

Hari terakhir di dua puluh enam,
Tahun
            kesebelas
                             Bapak
                                         pulang
                                                        ,
Semoga jalan Bapak lapang dan terang.

Salam,
A.

July 14, 2023

Bagaimana Rasanya Membaca Majalah Anak di Usia Dewasa?

Hai selamat datang di #BagaimanaRasanya vol. 7! Kali ini tentang nostalgia bacaan lama. Mungkin akan jadi tulisan yang lebih panjaaang dari biasanya (dan bisa jadi TMI juga).

Penampilan Bobo dari masa ke masa
(Dokumentasi pribadi diolah dari: Majalah Bobo)

    Sebulan yang lalu saya melihat postingan di twitter, Majalah Bobo sedang membuka pre-order edisi khusus 50 tahun. Lalu, mengapa edisi ini istimewa? Pertama, karena dalam edisi khusus ini Bobo akan terbit 100 halaman, dengan 50+ cerita terbaik sepanjang masa, dan bonus stiker serta akses gratis konten digital.
    Saya membelinya di marketplace hijau, masa pre-order yang nyaris sebulan itu cukup membuat saya lupa telah memesan sesuatu. Walau tetap saja saat ingat, saya langsung meluncur ke tab lacak pengiriman hahaha. Pesan pada tanggal 9 Juni, dan sampai ke tangan saya pada tanggal 2 Juli. Saya bukan tipe pembeli yang suka ikut PO dan sabar dalam transaksi online yang berminggu-minggu. Namun, kali ini saya tidak mungkin melewatkannya, karena Bobo sangat sentimental bagi saya.

Majalah Bobo edisi 50 tahun

Bagaimana bisa kembali bersentuhan dengan majalah Bobo?
    Tahun lalu, saya baru tahu bahwa di aplikasi S Lime (aplikasi akses majalah/buku/koran informasi digital bawaan Samsung) menyediakan free subscription majalah Bobo. Setelah itulah saya mulai kembali membaca Bobo, walau sangat tidak nyaman mengakses majalah digital di HP karena layoutnya tetap seperti tampilan fisik asli.
    Lanjut di awal tahun 2023 ini saya terpikir untuk membeli majalah Bobo versi cetakan kertas. Namun, alih-alih membeli edisi terbaru saya lebih tertarik membeli edisi yang pernah saya baca dulu (majalah Bobo bekas). Sebenarnya, membeli buku bekas bukan hal baru bagi saya, sebab kegiatan membaca saya tidak selalu diisi oleh buku-buku baru yang bersegel. Belanja buku bekas di online marketplace sangat menyenangkan dan tak jarang dapat buku-buku langka dengan harga terjangkau. 
    Ketika paket pertama datang, saya sangat antusias. Melihat sampul majalah yang penuh warna, dengan pose-pose Bobo dan keluarganya yang beragam. Di pojok kanan atas tertera harga jual majalah, nominal yang pada masanya sangat diupayakan Bapak Ibuk setiap minggu. 

Seperti apa isi dan tampilan majalah Bobo saat itu?
    Pada masa itu, Bobo edisi reguler terbit sekitar 48-60 halaman. Di tahun 2004-2005 ada saat perpindahan Bobo dari tidak full color jadi full color setiap edisi. Dalam edisi awal full color, masih ada tanda tulisan "full color" di pojok kiri atas, setelahnya kemudian terus full color hingga kini. Saat Bobo mengalami kenaikan harga karena berganti jenis kertas pun, redaksi menyampaikan hal tersebut dalam rubrik Bopan (Bobo edisi/minggu depan)

Bobo bertanda full color

Halaman awal Bobo diisi dengan iklan atau poster di bagian belakang sampul, kemudian halaman pertama adalah bobosiana dan menu. Dalam bobosiana ini Bobo menyapa pembaca melalui tulisan tentang budi pekerti. Menu adalah daftar isi majalah edisi tersebut.
    Ada lima kategori utama dalam menu:
Yang Istimewa, berisi berita dan liputan terkini dalam rubrik sbb:
    Profil: menyajikan liputan tentang tokoh publik maupun tokoh berpengaruh. Dalam rubrik ini akan dibahas latar belakang si tokoh lengkap dengan foto kegiatan, tak jarang juga dicantumkan alamat surat bagi para pembaca yang ingin berkomunikasi langsung.

Rubrik Profil majalah Bobo no. 19, Agustus 2007

    Potret Negeriku: Seperti namanya, dalam rubrik inilah dipaparkan hal menarik dari daerah-daerah Indonesia. Mulai dari budaya, tempat wisata, kerajinan, komoditas, hingga santapan khas. Beragam cerita unik Indonesia dipotret langsung dalam rubrik ini.

Potret Negeriku majalah Bobo no. 51, Maret 2007

    Pengetahuan: rubrik ini membahas tentang hal-hal baru atau yang sedang populer saat itu. Lengkap dengan gambar atau foto yang mendukung penjelasan tentang topik tertentu. Bahasannya cukup luas mulai dari alam sekitar sampai penemuan paling mutakhir
    Reportasia: pada bagian inilah disajikan liputan kunjungan tim redaksi ke event spesial dan tempat-tempat baru. Tentunya ada banyak foto pendukung, dan deskripsi tempat atau kegiatannya.

Dari Teman, berisi rubrik yang memuat kiriman pembaca.
    Apa Kabar, Bo?: disini adalah tempat surat dari pembaca dimuat, biasanya dari rubrik ini juga para pembaca bobo menemukan sahabat pena. Mereka yang suratnya dimuat otomatis akan dicantumkan pula alamatnya.

Rubrik Apa Kabar, Bo? saat belum edisi full color
Rubrik Apa Kabar, Bo? setelah edisi full color

   Arena Kecil dan Tak Disangka: rubrik ini memuat cerita pengalaman kiriman pembaca. Pengalaman unik dan mengandung plot twist biasanya ada di Tak Disangka.
    Halamanku: berisi karya puisi dan gambar kiriman pembaca.

Rubrik Halamanku majalah Bobo no. 51, Maret 2007

    Uji Imajinasi: dalam setiap edisi, redaksi ataupun pembaca kadang memberikan pertanyaan untuk memantik imajinasi. 
Selanjutnya, pembaca diharapkan mengirimkan hasil imajinasinya dalam bentuk tulisan singkat. Misalnya dalam suatu edisi ada pertanyaan seperti ini;"Seandainya di luar angkasa ada sekolah juga, maukah teman-teman bersekolah disana? Mengapa?". Pada edisi selanjutnya, jawaban paling menarik akan dimuat.

Rupa-rupa:
    Buku Pilihanku: rubrik ini khusus untuk memuat ulasan buku favorit dari pembaca.
   Our English Page: berisi cergam lengkap dengan soal latihan dalam bahasa inggris. Tokoh dalam rubrik ini adalah Sam, Yos, Didi dan Pipin. Saat itu rubrik ini diilustrasikan oleh Odenk.
   Sayembara Bobo: berisi teka-teki silang, atau juga kuis dalam bentuk cerita dari Bibi Titi Teliti. Pembaca yang berhasil mengirimkan jawaban yang benar akan mendapatkan hadiah.

Rubrik Sayembara Bobo sebelum edisi full color

    Boleh Tahu: merupakan rubrik berisi kejadian unik dan aneh dari seluruh dunia. Dalam rubrik boleh tahu, uji imajinasi, pengetahuan dan liputan ada ilustrasi bergaya khas yang digambar oleh Uzie.

Ilustrasi dengan goresan khas Uzie

    Kupon dan Bopan: disini pembaca bisa mendapat kupon untuk ditempelkan pada surat yang ditujukan pada rubrik kiriman pembaca, dan mengetahui apa saja isi Bobo edisi minggu depan.
    Membuat Sendiri: ini bukan rubrik yang selalu muncul setiap minggu, namun salah satu favorit saya. Sejak kecil saya suka crafting, dan rubrik ini menyediakan berbagai tutorial membuat hasta karya dengan bahan-bahan yang mudah didapatkan.

Rubrik Membuat Sendiri majalah Bobo no. 38, Desember 2005

Cergam (Cerita bergambar) dalam judul-judul berikut:
    Keluarga Bobo: tentu saja cergam ini menceritakan tentang kehidupan keluarga Bobo di negeri kelinci. Walau saya baru tahu silsilah lengkap keluarga Bobo dalam edisi khusus 50 tahun ini. Oh ya selain tokoh yang ada di dalam silsilah keluarga Bobo ini, Bobo punya teman karib bernama Doni yang juga sering muncul dalam cergam keluarga Bobo.

Silsilah Keluarga Bobo di Negeri Kelinci
(Bobo Edisi 50 tahun)

Dulu saya sempat mengira Upik adalah laki-laki karena penampilannya, ternyata Upik itu perempuan (seperti Coreng!). Karena sekarang terlihat memakai dress dan rambutnya lebih terlihat seperti poni daripada jambul hahaha.
Pada tahun 2007an cergam ini diilustrasikan oleh Rudi.

Penampilan Upik dulu dan kini. Wajar kan kalau dulu saya kira Upik itu laki-laki? haha
(Dokumentasi pribadi diolah dari: Majalah Bobo)

    Ceritera dari Negeri Dongeng (sekarang: Cerita dari Negeri Dongeng): Karakter utama dalam cergam ini adalah Nirmala (peri hutan bergaun pink dan memakai bandana bunga putih), Oki (kurcaci laki-laki berbaju serba hijau), Ratu Bidadari (peri penguasa berbaju biru muda mirip Cinderella), Pipiyot (penyihir usil bermuka buruk sebagai tokoh antagonis), Pak Tobi (tabib istana) dan Pak Dobleh (koki istana). Ilustrator Cerita dari Negeri Dongeng ini bernama Iwan Darmawan.

Header Ceritera dari Negeri Dongeng dari waktu ke waktu
Nirmala dan Oki pada Bobo edisi tahun 2007 dan 2018 (dari kiri ke kanan)

    Paman Kikuk, Husin dan Asta: Cergam ini mengisahkan keseharian Paman Kikuk (seorang lelaki tambun dengan kaus merah andalan) bersama keponakannya Husin (bocah SD) dan anjing bernama Asta. Ceritanya kocak karena ada saja kejadian tak disangka akibat kecerobohan Paman Kikuk.
    Bona Gajah kecil berbelalai panjang: Karakter dalam cergam ini adalah Bona (karakter utama sesuai judul) dulu warnanya pink, sekarang lebih keunguan. Rong-rong (kucing putih coklat berslayer leher biru) yang entah kenapa tak muncul di jajaran karakter utama edisi 50tahun, Ola (karakter kucing belang "pengganti" Rong-rong) bertopi dan sepatu merah coklat, dan Kaka (burung kakak tua kuning) tokoh baru yang belum ada di masa saya rutin membaca Bobo dulu. 
Saya tidak tahu mengapa Bona kini berganti warna, penampilan dan bentuk telinganya berubah juga mengapa Rong-rong tidak muncul lagi. Yang jelas cergam ini tetap menarik dan sarat makna.
Ceritanya beragam, namun intinya adalah belalai panjang Bona yang selalu mampu menyelesaikan berbagai masalah wkwkwk. Pernah dalam suatu episode mereka diceritakan memiliki teman gajah perempuan berwarna biru bernama Boni. Pada saat itu, ilustrator cergam Bona dan Rong-rong ini adalah Iwan Darmawan.

Bona, Rong-rong dan Boni dalam episode Kebun Mawar Merah Muda
Bona dan Rong-rong ilustrasi Iwan Darmawan, Bobo 2005
Bona, Ola dan Kaka ilustrasi Adit, Bobo 2018

Cerita Pilihan adalah rubrik khusus untuk cerita pendek dan dongeng terjemahan dari berbagai negara.

Ilustrasi cerita pilihan dengan ciri khas ilustratornya masing-masing

    Cerita pendek: biasanya terdiri dari satu sampai dua halaman dengan ilustrasi yang menarik. Ilustrator cerpen Bobo yang saya ingat diantaranya adalah Mono, Yoyok, Piet, Iwan Darmawan, Jali, Benny, Melani, dkk. Ilustrasinya sangat khas jadi antara satu ilustrator dengan yang lain dapat mudah dikenali. Rubrik ini merupakan bagian favorit saya dalam majalah Bobo.
    Dongeng: formatnya sama dengan cerpen hanya saja biasanya cerita berasal dari terjemahan dongeng mancanegara atau pengembangan kisah turun-menurun yang telah ada.
    Cerita bersambung: ini adalah salah satu yang menarik pembaca untuk membeli edisi selanjutnya jika ada cerbung yang sedang berlangsung. Biasanya sekitar dua hingga delapan episode atau bahkan lebih.
Judul cerbung yang saya ingat diantaranya ialah Ia bukan Nenekku, Pelukis yang Tak Bisa Melukis, Tamu Istimewa, dan Liburan Menegangkan.
Sayangnya dalam edisi 50 tahun kali ini tak ada satupun cerita pendek yang dimuat, edisi ini lebih fokus pada cerita bergambar yang memang tokoh-tokoh utamanya sama dan selalu muncul setiap episode. Selain itu pula, mungkin karena kumpulan cerita pendek Bobo telah terlebih dahulu dibukukan dalam banyak judul.

Salah satu judul Kumpulan Cerpen Bobo: Sang Dirigen.

Bagaimana Rasanya membaca majalah anak di usia dewasa?
    Tentu berbeda sekali sensasi membaca Bobo saat ini dan belasan tahun lalu saat saya masih anak-anak. Sekarang saya langsung menuju halaman tertentu dimana rubrik favorit saya berada. Dulu saya akan menyusuri lembar demi lembarnya dengan sabar. 
Namun, ketika membaca cergam dan cerita pilihan masih ada suara-suara yang sama dalam pikiran saya. Dalam cerpen yang ilustrasinya lebih terbatas dibanding cergam, saya masih bisa membayangkan latar belakang tempat dan suasana ceritanya. 
    Sekarang saya mengamati ilustrasi-ilustrasi cerita dengan interpretasi, bagaimana setiap ilustrator dan goresan garisnya masing-masing, apa makna dari detail gambar tersebut, dsb. Hal-hal yang mungkin tidak seharusnya dipikir alias lho ini kan ilustrasi majalah anak, it's not that deep. Walau begitu saya tetap punya keyakinan, para ilustrator itu pasti mencurahkan segenap pikirannya untuk menangkap momen dalam cerita jadi sebuah ilustrasi. Jadi ya, that's deep wkwkwkw. 
Dulu, saya hanya menikmatinya saja, melihat tanpa penilaian. Bagi saya semua menarik. Memang ada ciri khas yang bisa dikenali dari setiap ilustrasi. Namun bagi saya saat itu berwarna atau tidak, semuanya bagus dan saya suka.
    Alur cerita yang sederhana, sarat budi pekerti dan kebaikan adalah inti setiap cerita yang ada dalam majalah Bobo. Sekarang saat jadi orang dewasa, membaca cerita seperti itu kadang seperti terlampau naif. Tak lama setelah masa sulit kemudian datang kebahagiaan dan kemudahan. Semua terlihat nyaman dan mudah saja. Yaa.. walau dunia nyata di usia dewasa tidak selalu seperti itu. Tapi, dengan membacanya saja saya seolah mendapatkan optimisme anak-anak yang membuncah, kebahagiaan yang melimpah ruah dan keceriaan sepanjang hari. Sepertinya, melihat dunia nyata usia dewasa dengan kacamata anak-anak itu bisa jadi aspirin juga. Supaya tidak terus-terusan bitter menjalani hidup, dipikir dengan sederhana saja, karena bumi berputar, demikian pula nasib seseorang (yang mengusahakannya).
    Membaca jadi salah satu cara saya meningkatkan kembali attention span. Saya rasa karena banyaknya gadget dan sumber informasi yang bisa diakses saat ini, saya jadi kurang bisa berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Mudah tergoda distraksi. Membaca Bobo sekarang membantu saya fokus pada bacaan yang ada di hadapan saya, hanya menyerap informasi yang disuguhkan saja. Tidak perlu buru-buru buka tab baru mencari info lanjutan seperti saat mengakses informasi di internet.
Dulu saat jadi anak-anak, saya bisa berkonsentrasi lebih lama karena terbiasa membaca. Selain itu gadget juga belum punya, televisi tidak selalu menyediakan tayangan favorit setiap waktu. Dulu lebih mudah mencurahkan perhatian ke satu poin tertentu.
    Sekarang saya tidak kesal dengan lembaran iklan dalam majalah hahaha. Karena saya tahu itu salah satu sumber dana penopang produksi atau bisa jadi laba juga. Dulu saya merasa itu tidak penting karena tidak tahu apa gunanya. 

Mohon kebijaksanaan pembaca. Bagian selanjutnya mengandung unsur personal, kurang penting (tapi tetap ditulis, ya ini kan jurnal saya juga wkwkw) dan TMI.

Kenapa Bobo sangat berarti untuk saya?
    Pertama, Bobo mungkin bukan majalah pertama yang saya baca, tetapi saya ingat betul Bobo adalah satu-satunya majalah yang hampir selalu rutin dibelikan Bapak Ibuk setiap minggu. Di daerah saya tinggal, tidak banyak toko buku. Sepanjang ingatan saya, hanya satu toko yang selalu menyediakan majalah Bobo di hari Jum'at. Meskipun jadwal terbit Bobo pada hari Kamis, namun baru sampai ke daerah saya pada keesokan harinya haha. Saya tidak berlangganan, karena membeli eceran lebih masuk akal untuk aliran kas keluarga. Dalam hati ingin sekali berlangganan, selain karena ada paket souvenir menarik juga supaya tidak harus khawatir kehabisan. Apalagi dalam edisi-edisi khusus dengan bonus yang beragam. 
    Ya! Hal lain yang membuat saya selalu semangat menanti hari Jum'at setiap minggu selain majalah Bobo, tak lain adalah bonusnya. Selama tahun-tahun saya membaca Bobo, sekitar 2004-2008, Bobo memberikan banyak bonus dan sisipan menarik dalam edisi tertentu. 
Saya ingat pernah mendapat bonus sbb; biji wortel (yang tentu tak pernah tumbuh walau selalu saya cek setiap hari sejak ditanam. Entah salah di bagian mana, tapi saya cukup kecewa saat itu hahaha), poster, map, gantungan kunci, buku agenda, jam tangan (jadi bonus favorit saya), pin, penggaris, tempat pensil dan lain-lain yang mungkin saya lupa. Juga sisipan dongeng, pengetahuan, resep, dan tutorial membuat pernak-pernik.

Sisipan buku lipat dongeng, Maret 2007

    Kedua, saya tumbuh dikelilingi hal-hal yang sifatnya primer dan penting. Barang-barang yang ada bersama saya umumnya adalah yang berguna dan berarti. Tidak hanya sekadar menjadi pajangan. Satu-satunya yang saya anggap sebagai koleksi dan begitu berharga adalah tumpukan majalah Bobo ini. 
Nahas bagi saya, dalam suatu waktu yang gelap dalam hidup saya harus kehilangan majalah-majalah yang telah dibelikan Bapak Ibuk. Majalah yang menemani usia sekolah dasar, yang saya harap terus bersama saya sampai kini. Semuanya dijual ke tukang loak kiloan. Tak bersisa. Bukan kakak, dia tidak berminat pada barang saya. Bukan saya juga pastinya, apalagi Bapak yang telah pulang. Bukan pula Ibuk, yang tahu betapa saya sangat mencintai seluruh isi meja belajar saya. Sejak saat itu seperti ada puzzle ingatan yang hilang bersama lenyapnya tumpukan majalah, buku-buku, lemari, meja belajar dan seisinya di rumah kami.
    Dua sisi koin yang berkebalikan, ingatan baik dan menyakitkan. Sekaligus terangkum dalam hubungan saya dengan majalah anak-anak. Pernah membuat saya tidak ingin membacanya lagi karena akan mengingat fase kehilangannya.
Momen itu juga mungkin yang jadi titik balik kegiatan membaca saya, saya tidak lagi membaca hanya yang baru dan bersegel. Buku bekas, baru, berbagai genre, majalah, koran, apapun yang masih bisa dibaca. Beruntungnya "one man's trash is another man's treasure". Kini saya bisa mendapatkan Bobo edisi jadul kembali di toko buku bekas, walau belum semua tapi sudah cukup menghibur.
Ada pula suatu kemunduran, saya menghindar dari kegiatan meminjamkan bacaan. Ada rasa takut bacaan itu tidak kembali pada saya, dan ya di satu titik saya lebih baik dilabel pelit daripada itu terjadi dan harus menyimpan dendam.
Walau tetap saja masih ada beberapa orang beruntung yang pernah mendapat pinjaman bacaan saya. Karena apa? Mereka sudah saya kenal baik dan lama, juga bertanggung jawab dengan apa yang dipinjam, hahaha.

Sekian #BagaimanaRasanya kali ini. Terima kasih sudah membaca sampai disini. 

Salam semanis permen kapas!
A.

May 12, 2023

Bagaimana Rasanya Cabut Gigi Bungsu?

    Halo! Kembali di serial #BagaimanaRasanya. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman mencabut gigi bungsu dengan BPJS Kesehatan. Sepertinya, riwayat pelayanan di JKN mobile saya melaju kencang jejaknya dua tahun ini. Betapa tidak, tahun lalu saya baru saja selesai PSA gigi. Proses panjang dan melelahkan dari bulan Juni-September setiap dua minggu sekali rutin ke RS. Tapi ya semuanya itu worth it dengan hasil yang dirasakan dan Rp.0,- untuk biaya perawatan WKWKWK. 

1. Gejala Awal (Mulai tahun 2022)

Jadi, sejak tahun 2022 saat saya mulai PSA gigi geraham kanan, sebetulnya saya juga sering merasakan sakit di rahang-telinga dan migrain. Saya pikir itu karena si gigi yang saluran akarnya sedang dirawat. Tapi semakin lama ternyata yang sakit kok sisi sebelah kiri.

Jujur saja kalau dibanding dengan si geraham kanan yg dalam PSA itu, gigi bungsu kiri bawah ini lebih mengganggu sakitnya. Pernah ada satu malam saya tidur tak nyenyak dan terbangun beberapa kali karena sakitnya sungguh tak tertahan. Tapi anehnya (entah aneh atau memang begitu) sakitnya ini kambuhan. Bisa sangat mengganggu di satu malam tapi bisa seperti sehat-sehat saja di hari-hari yang lain. Biasanya saya pakai spray cooling 5 plus ketika rasa sakitnya mulai muncul. Sedikit membantu, sementara.

2. Tahapan Administrasi dengan BPJS

04/01 - kunjungan pertama (faskes 1): Saya menuju faskes 1 sesuai yang tertera di kartu BPJS, disana saya sampaikan keluhan dan disusul dengan pemeriksaan oleh dokter gigi yang bertugas. Setelah itu dokter menjelaskan bahwa gigi bungsu kiri saya harus segera dicabut supaya tidak menimbulkan sakit berkepanjangan. Selain itu kondisinya yang sudah setengah muncul juga sangat beresiko menjadi berlubang karena posisi dan kondisi yang tidak ideal. Kurang lebih begitu yang dijelaskan. Lalu saya diberi obat pereda nyeri dan anti inflamasi. Dokter menyarankan saya untuk mengatur jadwal dan kembali lagi untuk mengurus surat rujukan cabut gigi, karena prosesnya akan cukup panjang (karena antrian RS dan prosedur BPJS).

06/01 - kunjungan kedua (faskes 2): Dua hari setelah kunjungan pertama, saya kembali ke faskes 1 untuk mengurus surat rujukan ke RS. Diperiksa lagi oleh dokter yang bertugas, lalu diantar ke bagian administrasi dan menunggu surat rujukan terbit. Prosesnya dari datang, diperiksa dan administrasi kurang lebih sekitar satu jam.

09/01 - kunjungan ketiga (RS rujukan): Datang ke RS rujukan dengan bekal mencari jam buka pendaftaran poli gigi dan bedah mulut di RS terkait lewat google. Lalu sampai di RS ambil nomor antrian untuk mendaftar konsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut. Dokumen yang saya bawa saat itu adalah surat rujukan dan kartu bpjs, beserta fotokopiannya. Sebaiknya sekali fotokopi langsung beberapa, karena setiap kunjungan akan perlu fotokopian dokumen tsb. Di RS ini juga memperoleh kartu RS yang wajib dibawa setiap kali berobat ke RS tersebut. 
Setelah masuk ruangan, diperiksa oleh dokter dan dijadwalkan untuk rontgen panoramic di kunjungan berikutnya. Sebelum keluar ruangan juga diberi surat pengantar untuk ke bagian radiologi serta obat pereda nyeri (lagi wkwkw). Di kunjungan kali ini saya dapat dua jadwal kunjungan selanjutnya: pertama, rontgen panoramic, kedua konsultasi. Waktu periksa cukup cepat, hanya proses menunggu giliran saja yang cukup lama, tapi normal saja yah namanya juga Rp.0,-
11/01 - kunjungan keempat (RS rujukan): Datang ke RS yang sama sesuai jadwal di surat pengantar, langsung menuju ruang radiologi, daftar dengan menyerahkan surat pengantar dan kartu RS. Rontgen panoramic sendiri tidak memakan waktu lama, kurang dari lima menit sudah beres.
Malah lebih lama proses lepas pasang kerudung, kacamata, dan maskernya hehe. Setelah dapat hasilnya langsung boleh pulang. 

16/01 - kunjungan kelima (RS rujukan): Di kunjungan kali ini saya datang ke ruangan dengan membawa hasil rontgen panoramic, setelah dokter menjelaskan kondisi gigi dan mengapa harus dicabut. Lalu beliau memberikan pilihan tanggal yang tersedia lalu saya memilih tanggal yang paling sesuai dengan jadwal dan kesediaan saya. Kunjungan ini yang paling singkat. Enam minggu lagi saya baru akan kembali ke RS untuk operasi.

02/03 - kunjungan keenam (RS rujukan): baca poin 3. Hari Operasi

08/03 - kunjungan ketujuh (RS rujukan): baca poin 4. Hari-hari Pemulihan

3. Hari Operasi

06:50 (waktunya Indonesia bagian Barat ygy): Pada tanggal operasi yang telah di jadwalkan, saya datang ke tempat pendaftaran biasanya, setelah itu mengurus surat masuk kamar rawat inap (walau nantinya tidak menginap). Membawa dokumen seperti biasa, surat dokter, kartu bpjs, kartu RS beserta fotokopinya. Sebelum masuk kamar rawat inap, saya ditimbang berat badan, diukur tekanan darah, rontgen dada dan diambil darahnya di lab. Suasana santai berubah jadi serius dan kata "operasi" terdengar lebih menakutkan saat saya harus memakai gelang identitas pasien. Saya pikir awalnya hanya seperti prosedur cabut gigi biasa di tempat praktek drg. Mengisi formulir rawat inap dan tindakan operasi juga terasa sangat serius. Sedikit ganjil menandatangani bagian penanggung jawab, sebab saya bertanggung jawab untuk diri sendiri karena memang berangkat sendiri akakakak.

07.51: Setelah itu diantar perawat masuk ke kamar rawat inap untuk menunggu operasi sesuai jadwal dokter. Kamarnya berisi dua bed kosong, setelah ditinggal perawat saya segera makan bekal dan salad buah yang dibeli di Indomaret sebelumnya (hahaha agenda rutin tiap berkunjung ke RS ini yaitu mampir beli salad buah di Indomaret sampingnya). Tidak lama kemudian, seorang pasien lagi masuk ke ruangan yang sama. Rupanya mbak tsb juga pasien impacted teeth sama seperti saya. Datang dari kota sebelah, naik kereta sendirian. Lumayan, ternyata yang datang operasi gigi sendirian tidak hanya saya. Ah! ini benar-benar kegiatan normal orang dewasa memang wkwkwkw.

10.33: Masuk kamar operasi, pake jubah ijo dan tutup kepala plastik, momen serius dan ketakutan semakin memuncak hahaha. Lalu naik ke bed operasi, yang sungguh sangat datar dan makin terasa serius. Diatas bed datar, lampu yang secerah masa depan itu sudah siap ikut menunaikan tugas. 
Lalu mulutnya dilap pake tisu antiseptik. Puncak ketakutan ini ditutup pake kain ijo yang bolong tengah dan diletakkan di seluruh wajah. Jadi area bolong kain hanya di bagian mulut dan hidung. Sangat reasonable kalo disebut operasi YHA🙏🏻  
Kemudian terdengar langkah dokter masuk dan menyapa (walau tak terlihat, yakan muka w tertutup ygy). Chit chat dikit karena sepertinya gerak-gerik gusarku terdeteksi yah WKWKW. Lalu proses dimulai dengan saya mangap, lalu dokter memberi aba-aba "tenang ya dibius sakit dikit abis itu ga berasa". Ternyata gusinya disuntik bius, ini rasanya sakit tapi lebih banyak tegangnya karena takut 🤣 Dokternya sabar dan telaten, dikit-dikit "tahan ya mbak" "sedikit ngilu ya, tahan sebentar ya" padahal ya kerasanya cuma gusiku seperti menebal dan penuh aja haha. 
Proses cabut giginya tidak sakit, lebih sakit menahan rasa takutnya. Setelahnya terasa ada benang melintas lewat bibir, oh ternyata gusinya dijahit. 

10.50: Begitulah, dokter mengucap syukur karena proses berjalan lancar dan saya ditawari mau ambil giginya atau skip. YA JELAS SKIP DONGGG. Lalu boleh kembali ke kamar rawat inap. Belum boleh pulang karena harus tunggu waktu observasi 2 jam.

11.18: Tiba-tiba dapat makanan. Sungguh sedih karena sebenarnya lumayan enak laper tapi gusiku sepertinya tidak siap bekerja hahaha. Jadi yaaaaa, gak dimakan sampai diambil petugasnya lagi hehe. Sedih dikit.

Makanan RS yang sungguh menarik namun masih takut mengunyah.

11:37: Dipanggil ke bagian administrasi bangsal, diberi obat dan surat kontrol.

13:47: Eh ternyata diluar hujan lalu jam segini baru bangun tidur, WKKWWK bahaya kok jadi nyenyak tidur pas hujan-hujan walau di RS. Setelah hujan reda, pulang deh khawatir dapet makanan sesi 2 ntar ga kemakan lagi (pede) :))

4. Hari-hari Pemulihan.

Makanan pertama yang dilahap setelah operasi.

Hari-hari awal cukup sering makan bubur dan betah tidak ngemil (WAH). Makanan diatas itu nasi, wortel, tongkol dan tahu. Rasanya enak, walau mirip seperti tampilan di highlight resep MPASI teman-temanku. Tiga hari pasca operasi terpantau sudah makan nasi anget pakai pecek terong santen, guys akakaka. Tapi tetap #StayNganan #IStandOnTheRightSide alias bagian gigi kiri istirahat dulu. Minum obat tetap sesuai resep. Alhamdulillah tidak ada keluhan. Ketika jadwal kunjungan terakhir di RS saya bertemu mbak teman sekamar saya lagi akakak. Ternyata kunjungan kali itu adalah untuk lepas benang jahitan. Prosesnya cukup cepat dan dokter bilang hasilnya bagus (yakan hasil kerja blio sendokir). By the waaaaaaaaaay, mantul terima kasih Pak Dokter, perawat, petugas administrasi, ibu lab, mbak radiologi, ibu fotokopian, pak parkir, pak angkot dan pihak-pihak lain yang turut serta membantu perpisahan saya dan gigi bungsu kiri bawah ini. Luv yu ol.

5. #IWishIKnewThisEarlier

a. Harusnya menyiapkan berkas fotokopian rangkap banyak sebelum daftar. 
b. Meletakkan semua berkas di dalam map supaya lebih praktis.
c. Sarapan yang cukup sebelum berangkat operasi ke RS.
d. Tidak takut berlebihan, karena prosesnya tidak menyakitkan. Lebih sakit saat giginya masih ada dan berulah :)

Jadi, #BagaimanaRasanya Cabut Gigi Bungsu? Lega! ya, karena setidaknya satu (dari tiga gigi bungsu) telah pergi selamanya LOL bye. Prosesnya panjang dan bolak-balik antre karena pasien BPJS Kesehatan adalah wajar. Pelayanannya tetap baik bintang 5 tidak ada diskriminasi atau hal tidak menyenangkan lainnya. Satu-satunya hal tidak menyenangkan hanyalah ketika ada makanan gratis tapi saya tidak bisa makan. Takut nyangkut ke jahitan yang masih basah! hahahaha hadeeeh.

Sekian serial #BagaimanaRasanya volume keenam ini, semoga bermanfaat. Salam sehat! (JYAKHHH)

Salam,
A.

p.s: pakai kata cabut instead of operasi supaya tidak terlihat serius dan menakutkan LOL menenangkan siapa kalau bukan diri sendiri hahahah T-T

February 23, 2023

mengunjungi yang telah pulang

judul tulisan ini terasa ganjil namun amat tepat di waktu yang bersamaan. 
mengapa harus berkunjung padahal ia telah pulang? 
sebab ia tak pulang ke rumah kami, bukan pula pergi.
ia hanya pulang ke perhentian selanjutnya.
untuk berjumpa lagi nampaknya entah bila, tapi tak apa.
mengingat jaminan Tuhan kami akan dikumpulkan bersama.


hari ini saya dan ibu mengunjungi makam bapak. semuanya nampak sama, batu nisan dingin dan kaku menyambut kami. rumput liar dan bunga-bunga yang tumbuh subur seakan memohon untuk tetap tinggal. tapi, sebagai makhluk egois, kami tetap mencabut tanaman liar itu supaya makam bapak terlihat rapi. padahal, entah bapak akan lebih suka yang mana. makam yang subur oleh rumput dan bunga atau makam yang rapi dengan tebaran bunga warna-warni nan mati. mengingat bapak sangat suka menanam.
tapi dulu ia melakukan hal yang sama ketika mengajakku mengunjungi makam mbah kung dan mbah putri. jadi kurasa bapak akan suka juga melihat makamnya rapi. walau saya tak tahu juga, bagaimana alam kubur bekerja melihat kegiatan manusia. saya hanya memikirkan respon bapak supaya ia terlihat sama hidupnya dengan bunga-bunga mekar disekitar makam.

berkunjung ke makam itu adalah kegiatan yang selalu emosional. rasanya kehidupan dan kematian begitu dekat. manusia sangat lemah dan tidak punya kewenangan apapun tentang waktu. dulu saya suka berkunjung ke makam, sebelum makam bapak yang jadi tujuan utamanya. saya bisa ikut menebar bunga dan menatanya di sekitar nisan. dulu saya tidak mengerti apa pentingnya berkunjung ke makam. bahkan tanggal wafat di nisannya pun jauh sebelum saya lahir. bapak tidak berkata banyak saat mengajak saya ke makam, ibu juga sama. mereka hanya membersihkan rumput liar, berdoa dan menebar bunga. lantas pulang dan mencuci kaki sesampainya di rumah. bapak dan ibu bahkan tak pernah protes dan melarang saya yang membawa pulang bunga hasil petikan tangan jahil. bila orang tua lain bilang "jangan petik-petik nanti sawan", bapak ibu dulu hanya memandang heran.
"sing penting anaknya mau diajak ke makam dan kenal leluhur" mungkin itu ungkapan yang nyaris seirama dengan batin mereka.

sekarang saya sedikit paham kenapa. makam itu bisa jadi tempat terakhir kita bisa melihat mereka yang pulang. setelah liang lahad kembali dipenuhi tanah, jarak perjumpaan akan entah berapa lama. bapak dan ibu membawa saya ke makam mbah kung yang tidak sempat saya kenal. mungkin bukan tanpa alasan. sepertinya itu upaya terakhir bapak ibu menerjang kuasa waktu yang memutus perjumpaan saya dengannya. walau tetap tak mengubah banyak hal, karena saya gagal menyayangi seseorang yang tak pernah ditemui. tapi melihat mereka selalu menyebut nama-nama yang telah pulang setiap berdoa membuat saya mengikuti hal yang sama. entah itu cinta atau bukan, semoga jika nanti benar bertemu lagi, kami takkan saling merasa asing sebab telah bertalian doa.

bapak menanam kebaikan dan menyemai harapan. ia terus melakukannya walau telah lama pulang. dari makam yang sunyi dan tenang hingga jadi tulisan cukup panjang. terus menulis topik yang sama sambil berulang kali menahan sakit di telinga. kelak mungkin saya akan berterima kasih, sebab tulisan-tulisan ini mengiringi proses melepas ikatan duka yang tak terkira lapisannya.

semoga rahmat dan rahim Allah selalu tercurah pada bapak.
lahul-fatihah.

February 13, 2023

Perempuan dan Pilihannya

    Beberapa hari yang lalu ramai dibicarakan di linimasa media sosial tentang pilihan sepasang suami istri untuk tidak memiliki keturunan. Warganet saling unjuk pendapat, tidak segan untuk menegaskan dirinya ada dalam posisi kontra. Sekalipun masalah yang dikomentari sejatinya berada di ranah privat. Tidak seharusnya kita ikut campur terhadap keputusan seseorang atas tubuh dan keluarganya. Walau saya juga mengerti, banyak yang menyesalkan cara penyampaian pendapat yang bersangkutan, alih-alih konteks child-free itu sendiri.
Saya rasa, sebaiknya kita tidak perlu melempar pendapat atas keputusan orang lain tanpa diminta. Apalagi jika keputusan tersebut menyangkut tubuh dan keluarganya sendiri. Saya paham, desakan rasa ingin membawa orang ke jalan yang benar sangat kuat dalam karakter masyarakat kita. Namun, biarlah orang lain (khususnya perempuan) menjalani pilihannya dengan tenang.
Sebab kita tidak tahu, sebanyak apa kepahitan yang telah dia lalui untuk sampai di posisi yang sekarang ini. Kita tidak mengerti apa saja yang sudah dia lakukan hingga sampai pada keputusan itu.
Saya rasa energi yang dikeluarkan untuk menghargai pilihan perempuan lebih ringan daripada energi yang dikerahkan untuk menulis sumpah serapah di media sosial.

    Namun, di tengah masyarakat yang begitu "ramah" dan sangat peduli satu sama lain seperti Indonesia, hal ini menjadi semakin rumit. Perempuan yang entah karena kondisi atau pilihannya belum hamil di usia-usia ideal kemudian menerima pertanyaan dan kalimat yang tidak nyaman didengar.
Dimulai dari pendidikan, perempuan yang memilih sekolah sampai jenjang tertentu dianggap melakukan hal sia-sia. Sebab masih banyak masyarakat kita yang melihat peran perempuan hanya dalam pekerjaan domestik saja, jadi mengapa harus sekolah tinggi.
Kemudian pernikahan, perempuan yang dalam rentang usia ideal namun tak kunjung menjadi pengantin akan menerima banyak pertanyaan. Tak jarang disertai ujaran:"awas lho jangan sampai telat, nanti susah dapat anak".
Saat menikah pun, komentar tidak berhenti. Perempuan masih akan menerima pertanyaan kapan? kapan? kapan? seakan proses kehamilan itu bisa terjadi 100% akurat sesuai rencana manusia.
Pertanyaan dan penghakiman atas pilihan perempuan tidak akan berhenti hanya karena Ia telah menjadi istri atau ibu. Bahkan pilihan untuk bekerja di kantor atau di rumah juga kerap kali menjadi topik dalam perbincangan.
Kita terus memaklumi penghakiman terhadap pilihan perempuan dengan dalih basa-basi. Kita terus menganggap normal untuk mengomentari keputusan manusia lain dengan alasan peduli. Tanpa kita sadari, betapa kalimat-kalimat tersebut menjadi sayatan luka dan berbekas selamanya dalam pikiran mereka. 
Jika sudah begitu, apa iya minta maaf akan menyelesaikan segalanya?
Yakinkah bahwa kata maaf itu akan sebanding dengan hari berat yang mereka lalui dengan memikirkan kalimat yang mungkin telah lama kalian lupakan?

    Dalam tulisan saya yang ini, saya menulis:"Perempuan sepanjang hidupnya mungkin tak memilih sebebas dan sebanyak lelaki. Namun, selama ada kesempatan dan mungkin dilakukan maka lebih baik untuk memilih dengan selektif."
Mungkin, masyarakat kita masih belum terbiasa dengan kenyataan masa kini, bahwa perempuan bisa memiliki pilihan. Sebab di masa lalu, keputusan perempuan diwakilkan oleh laki-laki atau orang yang lebih dewasa darinya. Sebab dulu, perempuan dianggap tak perlu menyatakan pilihan. Seperti asal kata wanita yang telah banyak diketahui "wani ditata" kata yang secara mutlak telah mengindikasikan bahwa perempuan harus tunduk pada ketentuan dan perintah.

    Suatu waktu, dalam sesi konsultasi dengan psikolog saya pernah memaparkan kekhawatiran saya tentang memiliki anak dan menjadi orang tua. Saya perempuan dan belum menikah. 
Saya bilang bahwa saya bisa memetakan dari arah mana kekhawatiran itu muncul. Psikolog tersebut menjelaskan bahwa hal tersebut normal terjadi dan bisa didiskusikan dengan pasangan. Keputusan memiliki keturunan adalah hasil komunikasi dua arah dan perempuan punya hak yang sama untuk menyuarakan pendapatnya. Ia menyarankan saya terus membangun komunikasi yang baik dengan pasangan dan orang tua, supaya saling jadi support system yang baik. Sebab dengan lingkaran pendukung yang kuat, perempuan bisa jadi lebih mantap berjalan dengan pilihannya.

    Di Indonesia, usia saya sudah dikategorikan mulai masuk usia kedaluwarsa. Pada umumnya, orang tua menganjurkan (bahkan cenderung memaksa) anak perempuannya menikah dan melakukan program hamil sebelum usia 30 tahun.
Saya juga banyak membaca jurnal dan berita kesehatan tentang meningkatnya resiko kehamilan pertama pada perempuan diatas usia 30 tahun. Jadi anjuran orang tua itu memang bukan tanpa alasan. Sebagai manusia yang memiliki pengalaman lebih banyak, orang tua memang sepantasnya kita dengarkan anjuran dan pendapatnya. Tetapi, bukan berarti diatas usia tersebut perempuan tidak mungkin hamil dan melahirkan. Di tengah majunya fasilitas kesehatan dan mudahnya mengakses informasi seperti saat ini.
Lihat saja, tanpa penghakiman orang-orang, siklus dalam tubuh perempuan seakan berpacu dengan waktu. Dengan siklus yang demikian serta dengan pengalaman unik masing-masing perempuan menjalaninya, tidak elok rasanya untuk terus mengintervensi keputusannya.
Laki-laki yang tidak mengalami siklus yang sama lebih baik diam sejenak dan banyak mendengar atau membaca daripada terjebak mansplaining. Banyak mendengar dan membaca supaya bisa menjadi lingkaran pendukung yang kuat bagi perempuan disekitarnya.
Perempuan yang seharusnya jauh lebih mengerti sesamanya karena kurang lebih melalui siklus yang sama, lebih baik saling mendukung pilihan satu sama lain. Bukan merendahkan pilihan perempuan lain yang tidak sejalan dengan apa yang diyakini.

    Saya tidak lebih baik dari tulisan-tulisan saya, satu dua kali atau bahkan lebih, mungkin pernah menyinggung pilihan orang lain. Tapi manusia seakan memiliki tombol learn and unlearn, kita selalu bisa belajar lebih baik dari kesalahan yang lalu.
Saya berharap kita akan jadi bagian dari masyarakat yang tidak mudah marah, tidak lekas menghakimi pilihan orang lain. Lebih spesifik, saya berharap kita semua mau untuk sedikit membatasi tanggapan tidak perlu dan lebih banyak mendengar. Biarkan perempuan dan pilihannya berjalan beriringan dengan tenang.



Salam,
A.

January 28, 2023

Mengapa Sosok Keiko dalam Novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) Karya Sayaka Murata Terasa Familiar?


Gadis Minimarket
oleh Sayaka Murata
Alih bahasa: Ninuk Sulistyawati
Editor: Karina Anjani
Editor Supervisi: Siska Yuanita
Ilustrasi cover: Orkha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
160 halaman; 20cm
ISBN 9786020644394
ISBN Digital 9786020644400

    Saya mengetahui novel ini pertama kali dari litbase di twitter, berkali-kali muncul dan akhirnya baru terbeli akhir tahun kemarin. Bukan novel tebal yang untuk membuka plastiknya saja butuh niat ekstra sebelum benar-benar membacanya. Novel ini memiliki sampul dengan background kuning cerah dan ilustrasi apik -seorang perempuan memegang miniatur supermarket dan tempelan label barcode- yang membuat saya semakin yakin untuk membeli novel ini. Tulisan ini murni berisi pandangan/opini pribadi tentang makna yang saya dapat/mengerti dari novel Gadis Minimarket. Apa yang saya uraikan dibawah bisa jadi tidak sama dengan yang dialami/dimengerti oleh pembaca lain. 

    Untuk membantu saya merapikan struktur tulisan ini saya akan membaginya dalam beberapa poin sebagai berikut;
    1. Keiko Furukara dan kepribadiannya.
    Keiko Furukara adalah perempuan yang sejak kecil selalu kesulitan berperilaku selayaknya manusia lain. Perbuatannya di sekolah membuat Ibunya sering dipanggil dan harus meminta maaf karenanya. Keiko tidak mengerti mengapa Ibunya meminta maaf, Keiko bahkan tidak mengerti mengapa orang lain menganggap perbuatannya salah. Semakin dewasa, Keiko ingin menyesuaikan diri saja supaya diterima lingkungan sekitarnya, walau sebenarnya Ia tetap tidak mengerti kenapa. Keiko yang bekerja di minimarket merasa terbantu dengan adanya buku panduan yang berisi penjelasan tentang bagaimana pegawai harus bersikap setiap harinya. Buku panduan yang selama ini tidak Keiko dapatkan selama menjadi manusia.
Awalnya saya merasa Keiko sama sekali tidak memiliki empati, sebab digambarkan dalam beberapa kejadian, Ia memang sangat dingin. Tapi setelah Keiko mencoba menyesuaikan diri dengan sekitarnya melalui apa yang Ia pelajari dari buku panduan, saya rasa Keiko tidak benar-benar nirempati. 

    2. Bagaimana dunia luar memperlakukan Keiko?
    Teman-teman Keiko mengasihani kondisinya yang telah berusia 30an, lajang dan masih bekerja sambilan. Menurut standar masyarakat pada umumnya, Keiko adalah anomali. Keiko yang tidak mampu merasakan beban emosional dari penilaian orang-orang, terus menanyakan banyak hal untuk mendapat penjelasan. Ia tidak merasa kondisinya adalah beban yang membuatnya gelisah dan khawatir, namun pandangan dan komentar teman-temannya yang membuatnya merasa perlu mencari alternatif jawaban. Keiko sering bertanya kepada adik perempuannya, alasan apa yang harus dibawa saat bertemu teman-temannya. 
Keiko mengamati setiap perilaku, reaksi emosi dan mimik wajah seseorang, lalu mencoba mengaplikasikan pada peristiwa serupa yang terjadi padanya. Hal itu berhasil, Keiko terlihat memiliki kemampuan menunjukan emosi dengan baik. Namun, pada akhirnya itu tetap tidak cukup untuk memenuhi ekspektasi kenormalan teman dan keluarganya. Mereka terus merasa Keiko harus disembuhkan supaya dapat diterima sepenuhnya di masyarakat.

"Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu
mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang."

Di minimarket, Keiko merasa seperti orang normal, Ia hanya perlu bekerja dan bertindak sesuai buku panduan. Namun hal tersebut pun nyatanya berubah, teman-teman kerjanya yang semula tidak pernah berbicara diluar konteks pekerjaan kini mulai membicarakannya. Teman-teman kerjanya mulai lebih antusias mengulik kehidupan pribadinya sejak mereka menemukan fakta tentang Keiko dan Shiraha.

    3. Kita hidup dalam dunia Keiko.
    Seringkali orang-orang yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan kita, jauh lebih "aman". Kita bisa terhindar dari segala penilaian terhadap urusan pribadi karena hubungannya hanya transaksional (dalam hubungan profesional/pekerjaan). Dalam dunia Keiko, pelanggan minimarket adalah orang-orang di zona amannya.
Orang-orang yang mengenal kita secara pribadi, seringkali merasa berhak untuk mengomentari dan memberi penilaian terhadap fase hidup yang kita jalani. Mereka tak jarang membuat cerita dalam imajinasinya, mengasihani orang lain lebih dari kenyataan sebenarnya, melakukan penghakiman sepihak dan menyarankan sesuatu tanpa diminta. Hubungan sosial yang seperti inilah, yang membuat beberapa orang lebih memilih diam atau bahkan menghindari kontak dengan sekitar.
Hal yang dipermasalahkan orang sekitar Keiko ketika Ia lajang dan masih berstatus pegawai paruh waktu di usia 36 tahun. Ketika Keiko sendiri tidak merasa hal tersebut adalah masalah yang mengganggunya, justru orang lain terus menekan dan membuat Keiko merasa abnormal di dalam kelompok pertemanan itu.

"Bagiku diam adalah cara terbaik,
seni hidup yang paling rasional untuk menjalani hidup."

    Apa yang dialami Keiko berkaitan dengan tindakan orang terdekatnya, bukankah lazim kita temui di dunia saat ini?
Banyak yang sering mengasihani seseorang karena terlihat lajang dan belum menikah di usia dewasa. Menganggap remeh seseorang yang tidak memiliki pekerjaan sesuai standar kemapanan ala utas financial advisor. Bahkan tidak segan melempar pertanyaan yang sama berulang kali untuk dua topik tersebut, walau yang dituju telah memberikan jawaban. Seolah mereka hanya ingin menegaskan posisi dan status orang yang dituju, dibanding ingin membuka percakapan dua arah. 
Secara tidak sadar, kita terus menerus memelihara kebiasaan buruk ini tetap berlangsung. Penilaian dan tekanan sosial itulah yang seringkali lebih besar daripada masalah sebenarnya yang dihadapi.

"Mungkin orang yang merasa hidupnya dilanggar oleh orang lain
akan merasa sedikit lebih baik dengan menyerang orang lain
menggunakan cara yang sama."

    Walau berdasarkan penelitian, empati pernah dikategorikan sebagai sifat bawaan, namun dewasa ini banyak jurnal menunjukkan bahwa empati adalah sesuatu yang dapat diasah dan dipelajari.
Sesederhana mempertimbangkan kembali -bila perlu berulang kali- apakah suatu pertanyaan yang sifatnya pribadi layak kita ajukan. Jika diri kita sendiri merasa tidak nyaman, maka jangan lakukan/tanyakan pada orang lain. Sekalipun jika diri kita merasa nyaman, cek lagi apakah kiranya pantas atau seberapa besar kepentingannya.
Sebab, interaksi sosial adalah wadah dimana asumsi kita bergesekan dengan asumsi orang lain. Maka, ada baiknya kita belajar untuk seobyektif mungkin. Memang mustahil membuat semua orang merasa nyaman. Namun, saya yakin jauh di dalam diri kita tahu hal-hal mana yang layak dan tidak ditanyakan/dibicarakan secara terus menerus.

    Akhir kata, bagi saya novel ini cukup detail mendeskripsikan isi pikiran orang-orang yang secara mental memiliki kondisi khusus. Membagikan perspektif baru. Tatanan masyarakat yang tidak ideal memang tantangan terbesar yang harus dihadapi. Semoga kita -yang mungkin dianggap normal- bisa menjadi bagian dari tatanan masyarakat yang lebih ramah terhadap mereka.

Salam,
A.