Menonton Arsenal apalagi jika lawan tim-tim besar itu hampir selalu emosional ((tepatnya saya memang emo maksimal)). Tepat di laga terakhir jelang international break yang kemarin itu, Arsenal menyambut Manchester United di Emirates Stadium.
Salah satu match yang saya tunggu-tunggu setiap musim. Selalu ada perasaan ganjil yang mengganjal di hati saya terhadap klub setan merah ini. Tapi di match kali ini, melihat performa Arsenal yang bisa dikatakan sedikit naik kelas, saya merasa lebih percaya diri. Walau tidak sampai di level sesumbar akan menang mudah. Ya sesombong-sombongnya fans Arsenal, umumnya masih bisa mikir untuk tidak koar-koar sampai jadi template tweet atau diquote massal saat terbukti sebaliknya. OOPSIE.
BTW, Away kit MU ini sekilas seperti Jersey andalan Newcastle United. Ah, memang banyak sekali hal yang bisa dikritik kalo dasarnya sudah tidak suka, ya. Aowkaowkaowk.
20 menit pertama Arsenal cukup mendominasi tapi sayangnya gol pertama malah dicetak dengan sangat cantik oleh Rashford di menit 27.
Gol yang kalo dirunut berawal dari sloppy pass Havertz yang berbuah umpan Eriksen kepada Rashford. Kencangnya laju Rashford tidak dikawal dengan baik, Ramsdale juga tidak berhasil menyelamatkan bola.
Sesak sekali rasanya.
Tapi entah do'a siapa yang diijabah Tuhan, tepat 35 detik setelah selebrasi, Martinelli passing ke arah kapten andalan arsenal. Ødegaard membawa Arsenal mengimbangi United di menit 28.
Hahahaha, kesempatan selebrasi yang singkat ya. I love to see that.
Menit ke-40 Star Boy kami dapat kartu kuning, foul ke bruno katanya. Opini saya (yang bias): Saka cuma fokus ngejar bola saja, memang Bruno yang sengaja taruh kakinya kedepan Saka. Sungguh menyebalkan, tapi yowestalah. Skor tetap imbang sampai peluit paruh waktu dibunyikan Anthony Taylor.
Saat masuk babak kedua, saya mulai risau karena ball possession United nampak better dari babak sebelumnya. Saya selalu merasa kebobolan setelah imbang itu luar biasa menyedihkan, apalagi di menit-menit akhir. (jyakh spoiler)
Di menit ke-77 akhirnya Gabjes masuk lapangan bersama Vieira dan Tomiyasu. Mereka menggantikan King Eddie, Mas Kai dan Zinny.
Permainan terus membuat saya mbatin lebih kencang. Apalagi waktu gol Garnacho di menit ke-88. Lha wong baru masuk di babak kedua dan langsung bikin gol keren. Sebagai tim lawan kan jelas saya habis kata cuma sisa sedihnya HAHA.
Untungnya apa? Untungnya offside. HAHAHA.
*Sweet like honey, karma's a cat. Purring in my lap 'cause it loves me*¹
Sampai menit ke-90 skor masih betah imbang 1-1. Hingga Saka melakukan tendangan pojok yang disambut dada bidang Rice! Rice! Baby!. Bola kemudian ditendang dengan sangat percaya diri oleh pemain yang baru bergabung ke Arsenal sejak Juli lalu.
Dan saya tidak menyangka itu akan jadi gol kedua Arsenal di menit 90+6. Betul-betul finishing yang mantap dari seorang pemain yang memecah rekor pembelian Arsenal so far.
Disitu saya mulai nangis tersedu-sedu. Lebay memang, tapi kembali ke kalimat yang saya tulis dengan warna merah dan underlined tadi.
*Honey, I rose up from the dead, I do it all the time. I got a list of names, and yours is in red, underlined*²
Di menit yang entah sudah keberapa, Uncle Jorginho masuk menggantikan Ødegaard. Uncle yang surprisingly selalu perform dengan baik walau seringnya masuk subs. Saya selalu skeptis terhadap transfer pemain dari chelsea, yah bagaimana tidak setelah melihat Luiz dan Willian bekerja. LOL.
Saat-saat itu saya hanya berharap wasit segera meniup peluit tanda berakhirnya laga. Bagi saya 2-1 sudah cukup, selain itu saya juga khawatir United menyeimbangkan skor lagi, sih.
Memang rejeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka, tepat saat kita sudah memasrahkan segalanya. Fabio Vieira yang di match kali ini tidak saya temukan celanya passing ke Gabjes, dan GOL KETIGA COYYY!!! Menit ke 90+11. What a wonderful night!
Saya bersyukur match kali ini tidak berakhir imbang, dengan banyaknya chance Arsenal, hasil imbang itu menyedihkan walau tetap dapat satu poin.
Tapi apapun itu, yang jelas kekalahan 3-1 pasti sangat menyakitkan dan saya senang sekali menyaksikan itu terjadi.
*Living for the thrill of hitting you where it hurts. Give me back my girlhood, it was mine first and I damn sure never would've danced with the devil at nineteen*³
Nangis lebih deras lengkap dengan ingusnya~ Dengan perasaan yang lega dan bahagia. Hati saya penuh malam itu. Hari senin tidak terasa berat (karena deadlinenya selasa). Saya siap menghadapi international break dengan stok video gol-gol Arsenal.
Terima kasih untuk permainan yang delightful walau detak jantung cukup amburadul. It's always you, Arsenal. It's always been you.
Dua minggu telah berlalu, saatnya kembali ke jadwal arsenal-arsenalan lagi. Saya post tulisan ini, untuk dibaca lagi kapan-kapan. Bahwa pada satu hari saya pernah sangat khawatir, lalu ikhlas dan pasrah sampai berakhir menangis bahagia. Hanya dalam 2x45 menit plus injury time.
Tidak ada harapan yang tidak didengar Tuhan, jika tidak datang sesuai keinginan pasti diganti dengan yang berkali lipat lebih baik. Pun saat sesuai, akan tiba dengan cara yang tak diduga.
Salam,
A.
*Tapi rilisnya telat banget. Maklum banyak acara~ Si ada tuh acaraaaaa.
(Pura-puranya) Musik pengiring:
¹: Karma - Taylor Swift
²: Look What You Made Me Do - Taylor Swift
³: Would've Could've Should've - Taylor Swift
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.