May 12, 2023

Bagaimana Rasanya Cabut Gigi Bungsu?

    Halo! Kembali di serial #BagaimanaRasanya. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman mencabut gigi bungsu dengan BPJS Kesehatan. Sepertinya, riwayat pelayanan di JKN mobile saya melaju kencang jejaknya dua tahun ini. Betapa tidak, tahun lalu saya baru saja selesai PSA gigi. Proses panjang dan melelahkan dari bulan Juni-September setiap dua minggu sekali rutin ke RS. Tapi ya semuanya itu worth it dengan hasil yang dirasakan dan Rp.0,- untuk biaya perawatan WKWKWK. 

1. Gejala Awal (Mulai tahun 2022)

Jadi, sejak tahun 2022 saat saya mulai PSA gigi geraham kanan, sebetulnya saya juga sering merasakan sakit di rahang-telinga dan migrain. Saya pikir itu karena si gigi yang saluran akarnya sedang dirawat. Tapi semakin lama ternyata yang sakit kok sisi sebelah kiri.

Jujur saja kalau dibanding dengan si geraham kanan yg dalam PSA itu, gigi bungsu kiri bawah ini lebih mengganggu sakitnya. Pernah ada satu malam saya tidur tak nyenyak dan terbangun beberapa kali karena sakitnya sungguh tak tertahan. Tapi anehnya (entah aneh atau memang begitu) sakitnya ini kambuhan. Bisa sangat mengganggu di satu malam tapi bisa seperti sehat-sehat saja di hari-hari yang lain. Biasanya saya pakai spray cooling 5 plus ketika rasa sakitnya mulai muncul. Sedikit membantu, sementara.

2. Tahapan Administrasi dengan BPJS

04/01 - kunjungan pertama (faskes 1): Saya menuju faskes 1 sesuai yang tertera di kartu BPJS, disana saya sampaikan keluhan dan disusul dengan pemeriksaan oleh dokter gigi yang bertugas. Setelah itu dokter menjelaskan bahwa gigi bungsu kiri saya harus segera dicabut supaya tidak menimbulkan sakit berkepanjangan. Selain itu kondisinya yang sudah setengah muncul juga sangat beresiko menjadi berlubang karena posisi dan kondisi yang tidak ideal. Kurang lebih begitu yang dijelaskan. Lalu saya diberi obat pereda nyeri dan anti inflamasi. Dokter menyarankan saya untuk mengatur jadwal dan kembali lagi untuk mengurus surat rujukan cabut gigi, karena prosesnya akan cukup panjang (karena antrian RS dan prosedur BPJS).

06/01 - kunjungan kedua (faskes 2): Dua hari setelah kunjungan pertama, saya kembali ke faskes 1 untuk mengurus surat rujukan ke RS. Diperiksa lagi oleh dokter yang bertugas, lalu diantar ke bagian administrasi dan menunggu surat rujukan terbit. Prosesnya dari datang, diperiksa dan administrasi kurang lebih sekitar satu jam.

09/01 - kunjungan ketiga (RS rujukan): Datang ke RS rujukan dengan bekal mencari jam buka pendaftaran poli gigi dan bedah mulut di RS terkait lewat google. Lalu sampai di RS ambil nomor antrian untuk mendaftar konsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut. Dokumen yang saya bawa saat itu adalah surat rujukan dan kartu bpjs, beserta fotokopiannya. Sebaiknya sekali fotokopi langsung beberapa, karena setiap kunjungan akan perlu fotokopian dokumen tsb. Di RS ini juga memperoleh kartu RS yang wajib dibawa setiap kali berobat ke RS tersebut. 
Setelah masuk ruangan, diperiksa oleh dokter dan dijadwalkan untuk rontgen panoramic di kunjungan berikutnya. Sebelum keluar ruangan juga diberi surat pengantar untuk ke bagian radiologi serta obat pereda nyeri (lagi wkwkw). Di kunjungan kali ini saya dapat dua jadwal kunjungan selanjutnya: pertama, rontgen panoramic, kedua konsultasi. Waktu periksa cukup cepat, hanya proses menunggu giliran saja yang cukup lama, tapi normal saja yah namanya juga Rp.0,-
11/01 - kunjungan keempat (RS rujukan): Datang ke RS yang sama sesuai jadwal di surat pengantar, langsung menuju ruang radiologi, daftar dengan menyerahkan surat pengantar dan kartu RS. Rontgen panoramic sendiri tidak memakan waktu lama, kurang dari lima menit sudah beres.
Malah lebih lama proses lepas pasang kerudung, kacamata, dan maskernya hehe. Setelah dapat hasilnya langsung boleh pulang. 

16/01 - kunjungan kelima (RS rujukan): Di kunjungan kali ini saya datang ke ruangan dengan membawa hasil rontgen panoramic, setelah dokter menjelaskan kondisi gigi dan mengapa harus dicabut. Lalu beliau memberikan pilihan tanggal yang tersedia lalu saya memilih tanggal yang paling sesuai dengan jadwal dan kesediaan saya. Kunjungan ini yang paling singkat. Enam minggu lagi saya baru akan kembali ke RS untuk operasi.

02/03 - kunjungan keenam (RS rujukan): baca poin 3. Hari Operasi

08/03 - kunjungan ketujuh (RS rujukan): baca poin 4. Hari-hari Pemulihan

3. Hari Operasi

06:50 (waktunya Indonesia bagian Barat ygy): Pada tanggal operasi yang telah di jadwalkan, saya datang ke tempat pendaftaran biasanya, setelah itu mengurus surat masuk kamar rawat inap (walau nantinya tidak menginap). Membawa dokumen seperti biasa, surat dokter, kartu bpjs, kartu RS beserta fotokopinya. Sebelum masuk kamar rawat inap, saya ditimbang berat badan, diukur tekanan darah, rontgen dada dan diambil darahnya di lab. Suasana santai berubah jadi serius dan kata "operasi" terdengar lebih menakutkan saat saya harus memakai gelang identitas pasien. Saya pikir awalnya hanya seperti prosedur cabut gigi biasa di tempat praktek drg. Mengisi formulir rawat inap dan tindakan operasi juga terasa sangat serius. Sedikit ganjil menandatangani bagian penanggung jawab, sebab saya bertanggung jawab untuk diri sendiri karena memang berangkat sendiri akakakak.

07.51: Setelah itu diantar perawat masuk ke kamar rawat inap untuk menunggu operasi sesuai jadwal dokter. Kamarnya berisi dua bed kosong, setelah ditinggal perawat saya segera makan bekal dan salad buah yang dibeli di Indomaret sebelumnya (hahaha agenda rutin tiap berkunjung ke RS ini yaitu mampir beli salad buah di Indomaret sampingnya). Tidak lama kemudian, seorang pasien lagi masuk ke ruangan yang sama. Rupanya mbak tsb juga pasien impacted teeth sama seperti saya. Datang dari kota sebelah, naik kereta sendirian. Lumayan, ternyata yang datang operasi gigi sendirian tidak hanya saya. Ah! ini benar-benar kegiatan normal orang dewasa memang wkwkwkw.

10.33: Masuk kamar operasi, pake jubah ijo dan tutup kepala plastik, momen serius dan ketakutan semakin memuncak hahaha. Lalu naik ke bed operasi, yang sungguh sangat datar dan makin terasa serius. Diatas bed datar, lampu yang secerah masa depan itu sudah siap ikut menunaikan tugas. 
Lalu mulutnya dilap pake tisu antiseptik. Puncak ketakutan ini ditutup pake kain ijo yang bolong tengah dan diletakkan di seluruh wajah. Jadi area bolong kain hanya di bagian mulut dan hidung. Sangat reasonable kalo disebut operasi YHA🙏🏻  
Kemudian terdengar langkah dokter masuk dan menyapa (walau tak terlihat, yakan muka w tertutup ygy). Chit chat dikit karena sepertinya gerak-gerik gusarku terdeteksi yah WKWKW. Lalu proses dimulai dengan saya mangap, lalu dokter memberi aba-aba "tenang ya dibius sakit dikit abis itu ga berasa". Ternyata gusinya disuntik bius, ini rasanya sakit tapi lebih banyak tegangnya karena takut 🤣 Dokternya sabar dan telaten, dikit-dikit "tahan ya mbak" "sedikit ngilu ya, tahan sebentar ya" padahal ya kerasanya cuma gusiku seperti menebal dan penuh aja haha. 
Proses cabut giginya tidak sakit, lebih sakit menahan rasa takutnya. Setelahnya terasa ada benang melintas lewat bibir, oh ternyata gusinya dijahit. 

10.50: Begitulah, dokter mengucap syukur karena proses berjalan lancar dan saya ditawari mau ambil giginya atau skip. YA JELAS SKIP DONGGG. Lalu boleh kembali ke kamar rawat inap. Belum boleh pulang karena harus tunggu waktu observasi 2 jam.

11.18: Tiba-tiba dapat makanan. Sungguh sedih karena sebenarnya lumayan enak laper tapi gusiku sepertinya tidak siap bekerja hahaha. Jadi yaaaaa, gak dimakan sampai diambil petugasnya lagi hehe. Sedih dikit.

Makanan RS yang sungguh menarik namun masih takut mengunyah.

11:37: Dipanggil ke bagian administrasi bangsal, diberi obat dan surat kontrol.

13:47: Eh ternyata diluar hujan lalu jam segini baru bangun tidur, WKKWWK bahaya kok jadi nyenyak tidur pas hujan-hujan walau di RS. Setelah hujan reda, pulang deh khawatir dapet makanan sesi 2 ntar ga kemakan lagi (pede) :))

4. Hari-hari Pemulihan.

Makanan pertama yang dilahap setelah operasi.

Hari-hari awal cukup sering makan bubur dan betah tidak ngemil (WAH). Makanan diatas itu nasi, wortel, tongkol dan tahu. Rasanya enak, walau mirip seperti tampilan di highlight resep MPASI teman-temanku. Tiga hari pasca operasi terpantau sudah makan nasi anget pakai pecek terong santen, guys akakaka. Tapi tetap #StayNganan #IStandOnTheRightSide alias bagian gigi kiri istirahat dulu. Minum obat tetap sesuai resep. Alhamdulillah tidak ada keluhan. Ketika jadwal kunjungan terakhir di RS saya bertemu mbak teman sekamar saya lagi akakak. Ternyata kunjungan kali itu adalah untuk lepas benang jahitan. Prosesnya cukup cepat dan dokter bilang hasilnya bagus (yakan hasil kerja blio sendokir). By the waaaaaaaaaay, mantul terima kasih Pak Dokter, perawat, petugas administrasi, ibu lab, mbak radiologi, ibu fotokopian, pak parkir, pak angkot dan pihak-pihak lain yang turut serta membantu perpisahan saya dan gigi bungsu kiri bawah ini. Luv yu ol.

5. #IWishIKnewThisEarlier

a. Harusnya menyiapkan berkas fotokopian rangkap banyak sebelum daftar. 
b. Meletakkan semua berkas di dalam map supaya lebih praktis.
c. Sarapan yang cukup sebelum berangkat operasi ke RS.
d. Tidak takut berlebihan, karena prosesnya tidak menyakitkan. Lebih sakit saat giginya masih ada dan berulah :)

Jadi, #BagaimanaRasanya Cabut Gigi Bungsu? Lega! ya, karena setidaknya satu (dari tiga gigi bungsu) telah pergi selamanya LOL bye. Prosesnya panjang dan bolak-balik antre karena pasien BPJS Kesehatan adalah wajar. Pelayanannya tetap baik bintang 5 tidak ada diskriminasi atau hal tidak menyenangkan lainnya. Satu-satunya hal tidak menyenangkan hanyalah ketika ada makanan gratis tapi saya tidak bisa makan. Takut nyangkut ke jahitan yang masih basah! hahahaha hadeeeh.

Sekian serial #BagaimanaRasanya volume keenam ini, semoga bermanfaat. Salam sehat! (JYAKHHH)

Salam,
A.

p.s: pakai kata cabut instead of operasi supaya tidak terlihat serius dan menakutkan LOL menenangkan siapa kalau bukan diri sendiri hahahah T-T

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.