February 13, 2023

Perempuan dan Pilihannya

    Beberapa hari yang lalu ramai dibicarakan di linimasa media sosial tentang pilihan sepasang suami istri untuk tidak memiliki keturunan. Warganet saling unjuk pendapat, tidak segan untuk menegaskan dirinya ada dalam posisi kontra. Sekalipun masalah yang dikomentari sejatinya berada di ranah privat. Tidak seharusnya kita ikut campur terhadap keputusan seseorang atas tubuh dan keluarganya. Walau saya juga mengerti, banyak yang menyesalkan cara penyampaian pendapat yang bersangkutan, alih-alih konteks child-free itu sendiri.
Saya rasa, sebaiknya kita tidak perlu melempar pendapat atas keputusan orang lain tanpa diminta. Apalagi jika keputusan tersebut menyangkut tubuh dan keluarganya sendiri. Saya paham, desakan rasa ingin membawa orang ke jalan yang benar sangat kuat dalam karakter masyarakat kita. Namun, biarlah orang lain (khususnya perempuan) menjalani pilihannya dengan tenang.
Sebab kita tidak tahu, sebanyak apa kepahitan yang telah dia lalui untuk sampai di posisi yang sekarang ini. Kita tidak mengerti apa saja yang sudah dia lakukan hingga sampai pada keputusan itu.
Saya rasa energi yang dikeluarkan untuk menghargai pilihan perempuan lebih ringan daripada energi yang dikerahkan untuk menulis sumpah serapah di media sosial.

    Namun, di tengah masyarakat yang begitu "ramah" dan sangat peduli satu sama lain seperti Indonesia, hal ini menjadi semakin rumit. Perempuan yang entah karena kondisi atau pilihannya belum hamil di usia-usia ideal kemudian menerima pertanyaan dan kalimat yang tidak nyaman didengar.
Dimulai dari pendidikan, perempuan yang memilih sekolah sampai jenjang tertentu dianggap melakukan hal sia-sia. Sebab masih banyak masyarakat kita yang melihat peran perempuan hanya dalam pekerjaan domestik saja, jadi mengapa harus sekolah tinggi.
Kemudian pernikahan, perempuan yang dalam rentang usia ideal namun tak kunjung menjadi pengantin akan menerima banyak pertanyaan. Tak jarang disertai ujaran:"awas lho jangan sampai telat, nanti susah dapat anak".
Saat menikah pun, komentar tidak berhenti. Perempuan masih akan menerima pertanyaan kapan? kapan? kapan? seakan proses kehamilan itu bisa terjadi 100% akurat sesuai rencana manusia.
Pertanyaan dan penghakiman atas pilihan perempuan tidak akan berhenti hanya karena Ia telah menjadi istri atau ibu. Bahkan pilihan untuk bekerja di kantor atau di rumah juga kerap kali menjadi topik dalam perbincangan.
Kita terus memaklumi penghakiman terhadap pilihan perempuan dengan dalih basa-basi. Kita terus menganggap normal untuk mengomentari keputusan manusia lain dengan alasan peduli. Tanpa kita sadari, betapa kalimat-kalimat tersebut menjadi sayatan luka dan berbekas selamanya dalam pikiran mereka. 
Jika sudah begitu, apa iya minta maaf akan menyelesaikan segalanya?
Yakinkah bahwa kata maaf itu akan sebanding dengan hari berat yang mereka lalui dengan memikirkan kalimat yang mungkin telah lama kalian lupakan?

    Dalam tulisan saya yang ini, saya menulis:"Perempuan sepanjang hidupnya mungkin tak memilih sebebas dan sebanyak lelaki. Namun, selama ada kesempatan dan mungkin dilakukan maka lebih baik untuk memilih dengan selektif."
Mungkin, masyarakat kita masih belum terbiasa dengan kenyataan masa kini, bahwa perempuan bisa memiliki pilihan. Sebab di masa lalu, keputusan perempuan diwakilkan oleh laki-laki atau orang yang lebih dewasa darinya. Sebab dulu, perempuan dianggap tak perlu menyatakan pilihan. Seperti asal kata wanita yang telah banyak diketahui "wani ditata" kata yang secara mutlak telah mengindikasikan bahwa perempuan harus tunduk pada ketentuan dan perintah.

    Suatu waktu, dalam sesi konsultasi dengan psikolog saya pernah memaparkan kekhawatiran saya tentang memiliki anak dan menjadi orang tua. Saya perempuan dan belum menikah. 
Saya bilang bahwa saya bisa memetakan dari arah mana kekhawatiran itu muncul. Psikolog tersebut menjelaskan bahwa hal tersebut normal terjadi dan bisa didiskusikan dengan pasangan. Keputusan memiliki keturunan adalah hasil komunikasi dua arah dan perempuan punya hak yang sama untuk menyuarakan pendapatnya. Ia menyarankan saya terus membangun komunikasi yang baik dengan pasangan dan orang tua, supaya saling jadi support system yang baik. Sebab dengan lingkaran pendukung yang kuat, perempuan bisa jadi lebih mantap berjalan dengan pilihannya.

    Di Indonesia, usia saya sudah dikategorikan mulai masuk usia kedaluwarsa. Pada umumnya, orang tua menganjurkan (bahkan cenderung memaksa) anak perempuannya menikah dan melakukan program hamil sebelum usia 30 tahun.
Saya juga banyak membaca jurnal dan berita kesehatan tentang meningkatnya resiko kehamilan pertama pada perempuan diatas usia 30 tahun. Jadi anjuran orang tua itu memang bukan tanpa alasan. Sebagai manusia yang memiliki pengalaman lebih banyak, orang tua memang sepantasnya kita dengarkan anjuran dan pendapatnya. Tetapi, bukan berarti diatas usia tersebut perempuan tidak mungkin hamil dan melahirkan. Di tengah majunya fasilitas kesehatan dan mudahnya mengakses informasi seperti saat ini.
Lihat saja, tanpa penghakiman orang-orang, siklus dalam tubuh perempuan seakan berpacu dengan waktu. Dengan siklus yang demikian serta dengan pengalaman unik masing-masing perempuan menjalaninya, tidak elok rasanya untuk terus mengintervensi keputusannya.
Laki-laki yang tidak mengalami siklus yang sama lebih baik diam sejenak dan banyak mendengar atau membaca daripada terjebak mansplaining. Banyak mendengar dan membaca supaya bisa menjadi lingkaran pendukung yang kuat bagi perempuan disekitarnya.
Perempuan yang seharusnya jauh lebih mengerti sesamanya karena kurang lebih melalui siklus yang sama, lebih baik saling mendukung pilihan satu sama lain. Bukan merendahkan pilihan perempuan lain yang tidak sejalan dengan apa yang diyakini.

    Saya tidak lebih baik dari tulisan-tulisan saya, satu dua kali atau bahkan lebih, mungkin pernah menyinggung pilihan orang lain. Tapi manusia seakan memiliki tombol learn and unlearn, kita selalu bisa belajar lebih baik dari kesalahan yang lalu.
Saya berharap kita akan jadi bagian dari masyarakat yang tidak mudah marah, tidak lekas menghakimi pilihan orang lain. Lebih spesifik, saya berharap kita semua mau untuk sedikit membatasi tanggapan tidak perlu dan lebih banyak mendengar. Biarkan perempuan dan pilihannya berjalan beriringan dengan tenang.



Salam,
A.

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.