February 24, 2022

Mengapresiasi Sesuatu yang Layak Dilanjutkan Pemerintah

    Saya bukan pengagum fanatik pemerintahan negara saya sendiri. Menurut saya, mencintai tidak dengan serta merta menutup mata atas segala kesalahan atau kelalaian yang menyertainya. 
Pemerintah Indonesia kerap menuai kritik dari rakyatnya sendiri, dan saya rasa itu hal biasa dalam berdemokrasi. Tidak semua keputusan sejalan dengan harapan masyarakat, tidak semua program pemerintah disampaikan dengan cara yang efektif untuk dimengerti kaum awam.  

    Namun dari sekian banyak keputusan dan program pemerintah yang bisa dikritik atau bahkan membuat naik pitam, ada hal-hal yang bisa kita apresiasi. Dua yang terbaik menurut saya, Bidikmisi dan BPJS Kesehatan.  
 
    Saya akan mulai dari bidikmisi karena saya pribadi adalah alumni penerima bidikmisi. Bidikmisi adalah program bantuan dana di tingkat pendidikan tinggi, ditujukan bagi mahasiswa dari keluarga miskin. Pada tahun 2014 saya mendaftar bidikmisi melalui program SNMPTN (program seleksi perguruan tinggi negeri melalui nilai rapor). Namun karena saya tidak lolos, maka pendaftaran bidikmisi saya gugur. Saya lolos melalui jalur ujian masuk desain, yang mana tidak ada slot bagi penerima bidikmisi, hanya reguler dan mandiri. 

    Isi formulir data calon mahasiswa menjadi bekal penentuan uang kuliah tunggal (biaya kuliah persemester) yang harus dibayar. Waktu itu saya masuk kategori penerima UKT golongan terendah, 500 ribu rupiah per semester. Jumlah yang sama dengan biaya pendaftaran ujian masuk desain ((wkwkwk)). Lalu di semester dua saya dipanggil pihak kemahasiswaan untuk melengkapi berkas, nama saya termasuk mahasiswa yang eligible sebagai penerima bidikmisi pengganti. Bidikmisi pengganti demikian sebutannya di kampus saya, adalah slot bidikmisi yang kosong karena penerima sebelumnya terbukti tidak layak setelah cross-check data, pindah kampus atau mengundurkan diri. Mulai semester 3 saya bebas UKT dan menerima uang saku 600 ribu rupiah perbulan, dikirim melalui rekening yang khusus hanya bisa menerima transaksi dari bidikmisi. 

    Saya sempat kecewa menemui kenyataan bahwa dalam prakteknya, tidak semua penyaluran bidikmisi tepat sasaran. Beberapa orang yang datang dari keluarga berkecukupan ditunjang bidikmisi, lalu mereka menggunakan uang bidikmisi untuk membeli barang-barang tersier. Hal yang seperti itu menimbulkan kesan buruk untuk penerima bidikmisi yang memang tepat sasaran. Juga, merebut kesempatan untuk orang lain yang lebih membutuhkan. 

    Bagi saya bidikmisi adalah angin segar dalam masa-masa awal kuliah. Bidikmisi meringankan beban keluarga kami, dan membawa harapan untuk kuliah sampai lulus tanpa khawatir semester depan akan bayar UKT dengan uang dari mana lagi.  
Slogan bidikmisi yang berbunyi: menggapai asa, memutus rantai kemiskinan itu, nyata adanya dan terjadi pada saya, serta ribuan alumni lain. Hari ini kami punya bekal untuk memutus rantai kemiskinan di keluarga, salah satunya karena dukungan dan kesempatan dari pemerintah melalui bidikmisi. 

    Kedua, BPJS Kesehatan. Program jaminan kesehatan bagi masyarakat indonesia ini merupakan salah satu program yang juga sangat membantu secara langsung. Pertama kali saya menggunakan kartu kepesertaan saya adalah ketika kerja praktek di Bali. Saat itu saya didiagnosa gejala apendisitis (infeksi usus buntu). Saya menebus obat dengan kartu BPJS Kesehatan. Kali kedua saat saya menjalani pemeriksaan dan rawat jalan setelah diagnosa bronkitis. Semua biayanya ditanggung BPJS Kesehatan. Bagi mahasiswa yang jangankan dana darurat, membagi biaya makan dan biaya tugas kuliah saja kesulitan. Jaminan kesehatan yang menanggung biaya tidak terduga saat sakit ini bisa terhitung sebagai berkat. Setidaknya dalam kondisi yang belum mapan itu, iuran yang dengan sadar disisihkan tiap bulan adalah bagian dari “dana darurat” dalam sisi kesehatan. 

    Selain apa yang saya alami sendiri, BPJS Kesehatan juga telah terbukti efektif dan bermanfaat. BPJS Kesehatan menanggung biaya pengobatan bagi pasien, membuat layanan kesehatan terjangkau bagi semua kalangan.  

    Tentu tidak semua cerita tentang BPJS Kesehatan adalah rainbows and butterflies, kalau kata orang barat. Pasti ada kekurangan dan ketidaksempurnaan pada prakteknya, sewajarnya program pemerintah lainnya. Namun saya yakin, manfaatnya jauh lebih banyak lagi. 

    Kekurangan yang ada dalam kedua program tersebut ada untuk menjadi fokus perbaikan dari waktu ke waktu. Satu yang jelas, tujuannya baik dan terbukti efektif. Maka, semoga dapat terus berlanjut dan semakin baik. 
Kadang saya bingung bahwa yang sering bikin naik pitam karena keputusan dan peraturannya ((yang cenderung tidak dipikir dengan matang)) adalah pemerintah yang sama, yang menyusun serta terus membawa manfaat dengan hadirnya bidikmisi dan BPJS Kesehatan. Begitulah hubungan antara rakyat dan negaranya, banyak keputusan bisa membuat kita murka seakan ingin ganti kewarganegaraan, namun ada juga program lain yang memantik rasa syukur bahwa kita adalah bagian darinya. 


Salam, 

A. 

February 08, 2022

merangkai harapan untuk tetap hidup

tahun demi tahun berlalu, tidak setiap hari saya lewati dengan sepenuhnya hadir dan sadar. sejak kepulangan bapak, saya hanya sibuk mencari pengalih perhatian atau menangis semalaman. ada celah kosong yang selamanya tidak akan bisa terisi kembali dan digantikan.

saya benci sakit, pahit, luka dan darah. hehe. sebab itu saya tidak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, hanya sering kesulitan menemukan alasan untuk terus menjalani sisa waktu. terlalu egois ketika hanya fokus menyembuhkan duka sendiri, dengan mengabaikan hati lain yang masih hidup dan nyata.

dulu, saya selalu merasa cukup. dengan bapak dan ibu yang selalu menghujani kasih sayang setiap waktu. bukan berarti saat bapak pulang lalu kasih ibu berkurang. tidak sama sekali. namun beda tetap terasa. banyak tanya yang belum sempat terjawab.

lingkaran terdekat saya sangat baik dan mendukung, siap mendengarkan dan memberi afirmasi positif. hanya saja, menjalani hidup bersama duka ya memang seperti ini adanya. selamanya, saya akan selalu butuh waktu untuk tidur seharian, atau menangis sendirian. selamanya, saya akan tetap merasa sesak luar biasa saat ingat agustus 21. sejauh ini yang saya rasakan, waktu tidak menyembuhkan duka, mungkin duka memang tidak datang bersama kesembuhan.

beruntungnya sebelum bapak pulang, banyak sekali kebaikan hatinya yang membekas dalam ingatan. setidaknya bila diadu, akan sama kuat dengan goresan duka atas kepulangannya.

untuk bapak, saya tidak akan menyerah pada keadaan. seperti yang bapak bilang “kamu harus mandiri, bapak tidak hidup selamanya”. waktu yang terus melaju, bukan tak mungkin akan mengikis ingatan baik masa lalu. oleh karena itu, takkan berhenti saya mengabadikan bapak dalam setiap tulisan. ini adalah upaya perlawanan, menolak kehilangan untuk kesekian kalinya. supaya bapak tidak tinggal di masa lalu, sebab bapak salah satu harapan saya tetap hidup dan tidak menyerah.

untuk ibu, saya akan terus mencari alasan mengapa saya harus terus berjalan, walau sulit. semoga saya dianugerahi sabar yang sama panjangnya dengan doa-doa ibu. semoga saya diberi kesempatan untuk menjadi penyejuk hati dan pemantik bahagia untuk ibu. 


salam,

a.

Memperbaiki Judul (Sekaligus Pola Pikir)

Jika hidup seperti permainan telepon seluler, maka saya pasti akan memilih mode easy selamanya. Sebagai pecinta kedamaian dan zona nyaman, saya hampir selalu menghindari konflik. Sialnya, hidup yang katanya hanya sekali ini, tak begitu cara mainnya. Sebab yang saya rasakan selama ini malah mode easy tak pernah berfungsi. Saya sering sekali terjebak dalam victim mentality, merasa diri adalah korban dan dunia bergerak seakan melawan kita. Entah masih, atau sudah berlalu. Tapi hal tersebut sedikit banyak memengaruhi tindakan dan proses pengambilan keputusan.

Saya sering melakukan sesuatu dengan terlampau berhati-hati, berhasil sampai selesai, namun hanya berakhir di meja belajar. Jarang berani menunjukkan buah karya tangan dan pikiran, menulis di blog ini adalah salah satu cara paling aman. Mengeluarkan isi kepala di ruang terbuka, dengan sedikit mata yang fokus padanya.

Saya punya banyak ketakutan dan kekhawatiran. Saya takut ditertawakan, sebab itu menyakitkan, maka saya terlebih dahulu menjadikan kelemahan sebagai lelucon untuk ditertawakan. Saya khawatir orang akan fokus pada bagian tubuh saya yang kurang sempurna (dan beberapa orang memang dengan lantang mengatakannya). Maka saya terus menerus bercermin dan mencoba menerima diri saya apa adanya. Meski sambil menangis mengingat kalimat yang bahkan tak lagi mereka ingat. Ketakutan dan kekhawatiran ini jika semuanya ditulis bisa jadi menyaingi panjang kisah sedih yang tak sudah-sudah.

Dengan berkali-kali jatuh bangun sendiri, kadang belum cukup pelajaran untuk bisa berhati-hati. Lalu, saya baru sadar, bahwa pada dasarnya hidup memang sulit. Kita yang mengimajinasikan hidup seharusnya mudah, mulus tanpa aral melintang. Lalu kita sendiri yang akhirnya kecewa, merasa jadi korban saat ekspektasi tak menyentuh kenyataan.

Sadar bahwa hidup memang akan sulit dan penuh tantangan adalah awal untuk kesadaran-kesadaran berikutnya. Kita selalu bisa berencana, dan itu merupakan hal gratis di dunia. Tapi sadar bahwa banyak faktor yang beririsan dengan rencana kita, bisa jadi akan memberi sedikit rasa siap untuk gagal.

Siap untuk gagal tidak terlihat fancy ditengah tren FOMO dan sukses di usia muda. Tapi siap untuk gagal adalah salah satu kesadaran paling dasar, sebab kemungkinan terburuk selalu mungkin terjadi. Saya yakin, siap dan mampu menerima keberhasilan setiap waktu. Tapi untuk gagal dan harus memperbaiki “kekacauan”? Butuh proses panjang serta hati yang lapang. Melalui hari-hari penuh kejadian tidak menyenangkan.

Hidup yang terasa konstan dalam mode hardcore gulungkoming molakmalik ini, entah akan sampai kapan. Hal yang saya percaya, jalan terjal diciptakan untuk pejalan yang tangguh. Meski dalam perjalanannya sambil menangis tersedu-sedu, dengan sol sepatu yang kian menipis dan semangat yang hampir habis.

Hari-hari sulit bagaikan tanah tandus merindukan hujan, nyatanya tetap memberi kesempatan kelopak untuk mekar dan menebarkan harapan. Walau kadang muncul sedikit, lalu terkikis. Tumbuh lagi, lalu terbang disapu badai. Nyatanya, selalu ada harapan. Bahkan melalui jalan paling membingungkan sekalipun.


Wajah baru dari the overthinker, blooming day: when the petals unfold along the perplexing way.

Semoga penulis akan lebih rajin menuliskan cerita-cerita bahagia, atau cerita sedih yang bisa diambil hikmahnya. Juga semoga diberi kesempatan untuk menjalani hari-harinya dalam mode easy peasy lemon squeezy.


Salam,

a.