February 24, 2022
Mengapresiasi Sesuatu yang Layak Dilanjutkan Pemerintah
February 08, 2022
merangkai harapan untuk tetap hidup
tahun demi tahun berlalu, tidak setiap hari saya lewati dengan sepenuhnya hadir dan sadar. sejak kepulangan bapak, saya hanya sibuk mencari pengalih perhatian atau menangis semalaman. ada celah kosong yang selamanya tidak akan bisa terisi kembali dan digantikan.
saya benci sakit, pahit, luka dan darah. hehe. sebab itu
saya tidak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, hanya sering kesulitan
menemukan alasan untuk terus menjalani sisa waktu. terlalu egois ketika hanya
fokus menyembuhkan duka sendiri, dengan mengabaikan hati lain yang masih hidup
dan nyata.
dulu, saya selalu merasa cukup. dengan bapak dan ibu yang
selalu menghujani kasih sayang setiap waktu. bukan berarti saat bapak pulang
lalu kasih ibu berkurang. tidak sama sekali. namun beda tetap terasa. banyak
tanya yang belum sempat terjawab.
lingkaran terdekat saya sangat baik dan mendukung, siap
mendengarkan dan memberi afirmasi positif. hanya saja, menjalani hidup bersama
duka ya memang seperti ini adanya. selamanya, saya akan selalu butuh waktu
untuk tidur seharian, atau menangis sendirian. selamanya, saya akan tetap
merasa sesak luar biasa saat ingat agustus 21. sejauh ini yang saya rasakan,
waktu tidak menyembuhkan duka, mungkin duka memang tidak datang bersama
kesembuhan.
beruntungnya sebelum bapak pulang, banyak sekali kebaikan
hatinya yang membekas dalam ingatan. setidaknya bila diadu, akan sama kuat
dengan goresan duka atas kepulangannya.
untuk bapak, saya tidak akan menyerah pada keadaan. seperti yang bapak bilang “kamu harus mandiri, bapak tidak hidup selamanya”. waktu yang terus melaju, bukan tak mungkin akan mengikis ingatan baik masa lalu. oleh karena itu, takkan berhenti saya mengabadikan bapak dalam setiap tulisan. ini adalah upaya perlawanan, menolak kehilangan untuk kesekian kalinya. supaya bapak tidak tinggal di masa lalu, sebab bapak salah satu harapan saya tetap hidup dan tidak menyerah.
untuk ibu, saya akan terus mencari alasan mengapa saya harus terus berjalan, walau sulit. semoga saya dianugerahi sabar yang sama panjangnya dengan doa-doa ibu. semoga saya diberi kesempatan untuk menjadi penyejuk hati dan pemantik bahagia untuk ibu.
salam,
a.
Memperbaiki Judul (Sekaligus Pola Pikir)
Jika hidup seperti permainan telepon seluler, maka saya pasti akan memilih mode easy selamanya. Sebagai pecinta kedamaian dan zona nyaman, saya hampir selalu menghindari konflik. Sialnya, hidup yang katanya hanya sekali ini, tak begitu cara mainnya. Sebab yang saya rasakan selama ini malah mode easy tak pernah berfungsi. Saya sering sekali terjebak dalam victim mentality, merasa diri adalah korban dan dunia bergerak seakan melawan kita. Entah masih, atau sudah berlalu. Tapi hal tersebut sedikit banyak memengaruhi tindakan dan proses pengambilan keputusan.
Saya sering melakukan sesuatu dengan terlampau berhati-hati,
berhasil sampai selesai, namun hanya berakhir di meja belajar. Jarang berani
menunjukkan buah karya tangan dan pikiran, menulis di blog ini adalah salah
satu cara paling aman. Mengeluarkan isi kepala di ruang terbuka, dengan sedikit
mata yang fokus padanya.
Saya punya banyak ketakutan dan kekhawatiran. Saya takut
ditertawakan, sebab itu menyakitkan, maka saya terlebih dahulu menjadikan
kelemahan sebagai lelucon untuk ditertawakan. Saya khawatir orang akan fokus
pada bagian tubuh saya yang kurang sempurna (dan beberapa orang memang dengan
lantang mengatakannya). Maka saya terus menerus bercermin dan mencoba menerima
diri saya apa adanya. Meski sambil menangis mengingat kalimat yang bahkan tak
lagi mereka ingat. Ketakutan dan kekhawatiran ini jika semuanya ditulis bisa
jadi menyaingi panjang kisah sedih yang tak sudah-sudah.
Dengan berkali-kali jatuh bangun sendiri, kadang belum cukup
pelajaran untuk bisa berhati-hati. Lalu, saya baru sadar, bahwa pada dasarnya
hidup memang sulit. Kita yang mengimajinasikan hidup seharusnya mudah, mulus
tanpa aral melintang. Lalu kita sendiri yang akhirnya kecewa, merasa jadi
korban saat ekspektasi tak menyentuh kenyataan.
Sadar bahwa hidup memang akan sulit dan penuh tantangan
adalah awal untuk kesadaran-kesadaran berikutnya. Kita selalu bisa berencana, dan itu merupakan hal gratis di dunia. Tapi
sadar bahwa banyak faktor yang beririsan dengan rencana kita, bisa jadi akan
memberi sedikit rasa siap untuk gagal.
Siap untuk gagal tidak terlihat fancy ditengah tren FOMO dan sukses di usia muda. Tapi siap untuk gagal adalah salah satu
kesadaran paling dasar, sebab kemungkinan terburuk selalu mungkin terjadi. Saya
yakin, siap dan mampu menerima keberhasilan setiap waktu. Tapi untuk gagal dan
harus memperbaiki “kekacauan”? Butuh proses panjang serta hati yang lapang. Melalui
hari-hari penuh kejadian tidak menyenangkan.
Hidup yang terasa konstan dalam mode hardcore gulungkoming molakmalik ini, entah akan sampai kapan. Hal
yang saya percaya, jalan terjal diciptakan untuk pejalan yang tangguh. Meski dalam
perjalanannya sambil menangis tersedu-sedu, dengan sol sepatu yang kian menipis
dan semangat yang hampir habis.
Hari-hari sulit bagaikan tanah tandus merindukan hujan,
nyatanya tetap memberi kesempatan kelopak untuk mekar dan menebarkan harapan. Walau
kadang muncul sedikit, lalu terkikis. Tumbuh lagi, lalu terbang disapu badai. Nyatanya,
selalu ada harapan. Bahkan melalui jalan paling membingungkan sekalipun.
Wajah baru dari the overthinker, blooming day: when the petals unfold along the perplexing way.
Semoga penulis akan lebih rajin menuliskan cerita-cerita
bahagia, atau cerita sedih yang bisa diambil hikmahnya. Juga semoga diberi
kesempatan untuk menjalani hari-harinya dalam mode easy peasy lemon squeezy.
Salam,
a.

