May 22, 2020

Bapak dan Lebaran

Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama saya tidak di rumah bersama ibu dan kakak. Sebagai orang yang hampir selalu menangis bahkan untuk hal-hal kecil sembari tetap wani ngadeg jejeg mantep*, saya tidak merasa hal ini sulit dilakukan. Namun, sedih jelas ada. Memangnya manusia macam apa yang tidak sedih merayakan lebaran jauh dari keluarga?

Lebaran tahun ini tidak ada pagi yang ramai dengan barisan makanan di meja, tidak ada wangi cat yang baru beberapa hari menempel di pintu dan jendela, tidak ada momen ingin-menangis-tapi-gengsi saat minta maaf pada ibuk dan kakak, tidak ada tamu-tamu yang saling mengunjungi satu sama lain.
Banyak ketiadaan di lebaran tahun ini. Meski bagi saya ketiadaan yang paling nyata adalah tidak adanya Bapak di rumah kami.
Tahun ini adalah tahun kedelapan Bapak tidak merayakan lebaran bersama kami. Hari ketiga lebaran 2012 adalah waktu Bapak pulang, menuju tempat istirahat yang jauh dan lapang.
Tahun itu adalah tahun pertama saya melewati lebaran yang sangat kelam, menyambut ulang tahun ke-16 dengan amat berat hati.
Bapak pulang pukul lima pagi seusai subuh, sehari sebelum hari kelahiran saya. Beberapa hari sebelum kepulangannya, Bapak berpesan "kapan mau mandiri? bapak itu tidak hidup selamanya" sembari mengantar saya ke depan pintu kamar mandi.
Bagaimana pesan itu disampaikan, melihat cara bapak berdiri, melipat tangan sambil memandangi langit-langit. Hingga kini saya masih ingat dengan jelas.
Sebab, bagaimana mungkin kamu melupakan pesan yang akan terus berguna untuk hidup bertahun-tahun ke depan?

Lebaran tahun-tahun berikutnya suasana rumah kami tak jauh berbeda, hanya saja kami tak lagi mencium wangi Bapak ketika keluar dari kamarnya, kami tak lagi melihatnya mengaduk kopi hitam setiap pagi, bangku favorit Bapak di depan meja TV tak lagi terisi, daun-daun jatuh di kebun tak lagi diolah menjadi kompos.
Lebaran kami tak jauh berbeda setelah Bapak pulang.
Melainkan perasaan kami melihat rumah dan seisinya lah yang berubah.

Lebaran 2020 memang berat dijalani, tapi saya pernah melalui lebaran yang jauh lebih sulit daripada kali ini.
Bapak memang tidak akan merayakan lebaran bersama kami lagi, tapi saya harus bersyukur bahwa Ibuk dan kakak masih berada di satu dimensi waktu yang sama.
Bapak memang tidak terlihat mendampingi kami, tapi ketika saya berjanji untuk tidak meninggalkannya di masa lalu, ketika itu pula Bapak terus hidup di dalam hati kami semua.

Bapak, lebaran tahun ini Ibuk sendirian di rumah. Maafkan saya belum bisa mendampingi ibuk merayakan Idul Fitri. Ketika kondisi sulit ini berlalu, saya janji akan lekas pulang dan memeluk ibuk.
Bapak, tahun ini saya menjaga beberapa tanaman hidup di kamar, saya berusaha meniru kebiasaan bapak menyayangi mereka, saya ingin selalu merasa dekat dengan Bapak.

Bapak bagi saya adalah surat cinta yang tak pernah usai ditulis, setiap lembar ingatan saya terus memunculkan hal-hal baik tentangnya.
Bapak bagi saya adalah cahaya terang, yang sekalipun dalam tempat paling gelap tak pernah berpikir untuk meredup.
Bapak bagi saya adalah rumah, tempat dimana segalanya terasa cukup dan selalu hangat.

Terima kasih untuk cinta Bapak yang tak pernah habis bagi kami, untuk setiap kilas balik kejadian baik yang tak berhenti berputar.
Untuk kali pertama, kami tak merayakan lebaran dengan berkumpul di rumah, pak.
Sampai jumpa lagi nanti, pada hari lebaran yang abadi.
InsyaAllah.


Selamat menyambut lebaran 2020, semoga selalu dikelilingi kebaikan dan orang-orang baik.
Maafkan saya lahir dan batin ya, terima kasih sudah membaca.


Salam,
Anggi.

*berani berdiri tegak mantap :D

May 17, 2020

internal memo (5)

Belakangan ini saya meminta sesuatu yang jarang saya minta kepada Tuhan sebelumnya.
Saya berdoa tentang suatu hal yang tidak saya duga akan saya katakan di waktu ini.
Saya rasa tidak pernah salah meminta apapun kepada Tuhan.
Kapanpun.

Semoga kali ini Tuhan memperkenankan doa saya.
Menyertakan kelapangan hati untuk saya menerimanya,
beserta sebaik-baiknya jawaban.

Saya yakin, kepada Tuhan,
saya takkan salah meletakkan harap.

Selamat kembali melangitkan doa-doa baik.
Selamat kembali menghirup udara segar harapan.
Selamat terus mengusahakan masa depan yang penuh kebahagiaan, Anggi.

*ditulis dengan amat bahagia setelah menyelesaikan membaca 2 buku berbeda,
teruntuk Anggi di masa depan, kamu pernah sebahagia ini, hatimu pernah sangat penuh harapan baik seperti hari ini.
Jangan sedih lagi, ya.

May 05, 2020

internal memo (4)

melihat kenyataan akhir-akhir ini yang semakin mudah menangis akan hal-hal kecil, rasanya memang harus diakui bahwa kamu belum sanggup hidup tanpa ekspektasi.
rasanya hanya denial saja.
kamu pikir sudah cukup siap, nyatanya mungkin kamu sedang menipu diri sendiri.
kamu pikir sudah cukup kuat, ternyata ada sesuatu yang diluar kendali, datang tiba-tiba.
jadwal tidurmu berantakan, kamu memaksa untuk terus bekerja meski sudah harus istirahat, mencuci semua baju kotor dalam satu waktu, menyikat lantai kamar mandi setiap hari padahal tak begitu perlu, semua sibuk yang dirangkai sendiri.
sesuatu yang sama sekali bukan kamu.
kamu terus lari menghindar.
kamu menangis karena sebenarnya ingin lebih berhati-hati bersikap, berkata-kata, dan bertanya.
kamu sepertinya tidak sedang baik-baik saja,
tapi terus menyangkal.
kamu ingin terlihat baik-baik saja,
hanya supaya tidak dikasihani.
sulit ya, mengakui kelemahanmu sendiri?
memang sulit, merasa sudah selesai melewati satu fase paling melelahkan, merasa kembali punya harapan, lalu ternyata layu sebelum berkembang.
tapi bukankah semuanya berawal dari dirimu sendiri?
siapa suruh kamu terus merawat ekspektasi?
tahu sendiri batu takkan menjadi lunak hanya karena terus disiram air.
memangnya siapa yang jamin kamu takkan jatuh lagi, sampai begitu berani?
setelah semua ini, kamu pasti sangat menyesal ya, karena bisa saja kamu kehilangan banyak kesempatan untuk obrolan-obrolan menyenangkan.
andai saja, kamu mau berhati-hati dan tidak mencoba jadi berani.
andai saja, kamu tidak menumpahkannya.
andai saja, kamu tetap diam.

mungkin kamu akan tetap tidak baik-baik saja.

oh ternyata akan sama saja, jadi yaudahlah ya :)

"does that scare you?"
yes, i have to admit it DOES.
i'm so scared that i made others feel bad because of me.
yes, i'm not okay,
but it's okay,
i CAN take it,
you just have to promise me one thing:
"nothing"

tetaplah baik-baik saja, karena setidaknya dari sekian banyak hal yang tidak baik-baik saja, melihatmu baik-baik saja adalah satu hal baik yang bisa membantu saya kembali baik-baik saja.

May 01, 2020

Bagaimana Rasanya Tidak Pandai Matematika?

Saya sebenarnya sempat menjadi A+ student, saat sekolah dasar.
Saya sering mendapat nilai sempurna saat ulangan matematika, angka yang tidak sekalipun saya dapat di SMA.

Entah bagaimana mulanya, saya tidak ingat pasti, yang jelas saya merasa matematika bukanlah teman baik untuk diajak kerja sama saat ujian sekolah.
Sulit.

Saya perlu berulang kali menghitung untuk memastikan jawaban yang ujung-ujungnya tidak ada di pilihan yang tersedia, bahkan tidak ada mepet-mepetnya!

Saya belajar bersama teman sebangku yang pandai matematika, diberi soal, dicontohkan cara mengerjakannya, dan saya bisa. Sempurna.
Esoknya, soal dengan model yang sama muncul di ujian.
Ketika hasil dibagikan, saya melompati satu cara dan itu membuat hasil akhir pengerjaan saya berbeda dengan jawaban yang benar. No excuse! Salah!

Saya bisa mengingat jumlah tulang vertebrata, saya bisa menggambar lingkaran tanpa jangka, saya sanggup menggaris lurus tanpa penggaris, tapi saya meminta bantuan ke segala penjuru untuk sekadar mencari alas segitiga.
Saya bisa mengerjakan soal matematika hanya saat tidak dilihat guru dan tidak dipanggil ke depan kelas.
Rumit.

Baru-baru ini saya merasakan tes kraepelin dan pauli.
Setelah mengerjakan dengan keterpaksaan, kecemasan dan tangan yang gemetar, rasanya saya benar-benar ingin memeluk kenyataan yang ada saja.
Matematika bukan teman baik saya.
Angka-angka yang berpacu dengan waktu itu membuat saya merasa amat bodoh.

Sementara itu, seorang teman berotak kiri mengatakan, saya harus mampu mengerjakan jenis tes itu untuk bisa bekerja di multinational company.
Sekali lagi, saya hanya ingin segera pulang dan memeluk kenyataan yang ada.
Matematika bukan untuk saya. 

Saya tidak pernah benci belajar matematika, saya hanya menemukan kegembiraan saat tidak dipaksa menghitung dengan cepat.
Saya tidak pernah benci angka, saya hanya lebih suka mengukur volume ruang daripada mencari x yang entah sedang dimana.

Saya sering iri pada teman-teman yang pandai matematika, sedang saya tidak pernah benar-benar menyelesaikan soal dengan sempurna, selalu ada angka yang salah atau simbol yang tidak tepat.
Saya selalu merasa orang yang pandai matematika itu hidupnya pasti mudah sekali, angka dan rumus itu menjadikannya kritis luar biasa.
Sedangkan saya tetap biasa-biasa saja dan jadi langganan tetap ujian remedial.

Menjadi tidak pandai pada hal yang umum itu berat.
Bisa saja langsung dipukul rata bahwa kamu sama sekali tidak punya kemampuan apapun.
Gagal di matematika bisa sama dengan gagal dalam segalanya, setidaknya itulah yang tersirat dari ucapan guru matematika SMA saya, saat saya ujian remedial yang kedua kalinya.

Kira-kira begitulah rasanya tidak pandai matematika. 

Saya bersyukur sudah pernah belajar matematika dan melewatinya (meskipun dalam kehidupan sehari-hari tetap terlibat dengan matematika sederhana, setidaknya saya tidak harus memberi nilai untuk x atau menemukan y).
Meskipun finish di angka dua koma lima.
Yang jelas, saya tidak akan lagi membandingkan kemampuan saya dengan orang lain hanya karena saya tidak pandai matematika.

Selamat kembali belajar matematika dasar!

Salam,
Anggi
(ditulis Juli 2019)