April 29, 2020

(not an) internal memo*

since i made silence as a shield,
i hope my sincerity goes to you.
until this path comes to an end.

now, i won't scare you away.
but someday if i can't figure it out,
i will rewrite my story,
to win my life back,
to love myself more in another page of the book.

i wish you read something i wrote clearly, some other day.
i long to become the sweetest lullaby.

xx,
a.

*again

April 19, 2020

internal memo (3)

it's easier said than done.
but
this too shall pass.
you will flow elsewhere,
and it's okay.
it'll be okay.
please...
be nice to yourself, anggi.

sincerely,
yourself.

April 17, 2020

Menyikapi Patah Hati

Hai, apa kabar hari ini?
Banyak sekali kabar buruk dan tak menyenangkan akhir-akhir ini. Tapi karena dunia selalu punya dua sisi, kabar baik juga sebenarnya banyak sekali. Hanya nampaknya kita lebih cepat tanggap untuk merespon berita buruk dan membuatnya semakin ramai diperbincangkan (ups hehe!)
Jadi, sudah berapa kali patah hati?
Rasanya tidak ada manusia yang tak pernah patah hati, iya kan?
Buktinya, lihat saja lagu-lagu sedih selalu bersemi setiap tahun.
Semakin sedih dan relatable liriknya, niscaya akan semakin banyak orang yang jatuh hati pada lagu itu.
Wow, sebuah ironi ya. Betapa kita mudah jatuh hati pada lagu-lagu bertema patah hati.
Kenapa? we always know why :)
Anyway, patah hati itu selalu berat ya, sekalipun sudah dilewati lebih dari sekali dua kali.
Terlebih lagi, tidak pernah ada template yang sama untuk merawat luka yang berbeda.
Bahkan kita bisa patah hati untuk hal-hal kecil yang terjadi diluar dugaan, misalnya sudah merencanakan pergi ke minimarket untuk beli es krim, tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya!

Tapi sudah pasti bukan patah hati semacam itu yang akan dibahas disini.
Yah, saya yakin, kita telah cukup dewasa untuk menangani patah hati kecil yang terjadi setiap hari. Namun selalu ada satu case patah hati yang tak pernah siap kita hadapi, sedewasa apapun kita saat ini.
Patah hati ditinggal pergi yang terkasih, patah hati melihat yang dulu dekat kini sudah diselubungi kabut pekat, tak lagi terlihat, patah hati untuk kesempatan yang disia-siakan, patah hati karena tak sempat mengungkapkan, patah hati karena pernah memberi kesempatan pada yang salah.
Sakit ya rasanya?
Berusaha menyibukkan diri dengan apapun agar tak lagi punya tempat untuk mengingat kenangan masa lalu, tapi tiba-tiba lagu favoritnya terdengar lewat shuffle, oh shiz! teringat lagi.
Berusaha tidak menangis lagi, menganggap diri sendiri sekuat apa yang selalu dikatakan di depan cermin, tapi mendadak memori di kepala dengan berani meneriakkan kalimat pujiannya yang pernah dikatakan padamu, lagi-lagi harus menyiapkan waktu untuk menangis sendiri.
Sudah setengah terlelap lalu tiba-tiba di dalam mimpi dia dengan pongah masuk dan berinteraksi lagi denganmu! oh! sial, bangun dengan keadaan lelah setengah mati, menyadari sedih yang belum usai juga.

Panjang ya proses healing-nya?
Panjang sekali, melewati malam-malam dengan bantal basah yang mengantarmu tidur.
Melalui pagi hari dengan mata yang bengkak.
Recent playlist penuh berisi lagu-lagu sedih yang dikumpulkan hari demi hari.
Butuh kekuatan ekstra untuk menyisir isi galeri telepon genggam lalu membuat sebuah folder, untuk mengumpulkan foto-foto yang berhubungan dengan masa yang telah usai.
Namun butuh kekuatan ekstra super duper mega besar lagi untuk bisa memencet tab delete di folder itu.
Memutar otak setiap kali orang yang mengenal kisahmu itu mempertanyakan kondisi terkini, dijawab dengan opsi manis atau pahit ya? Pada akhirnya kita akan memilih yang paling aman diceritakan, lalu menyimpan sisanya untuk siap dilumat habis oleh keterbatasan ingatan, lalu setelahnya kita benar-benar siap bangun dan bersinar kembali.
Kita tidak pernah bisa memilih skenario seperti apa yang akan dijalani, meski sudah merasa menjalani satu cerita dengan sangat baik, mengusahakan yang terbaik, being 110% for it, but in the end all the things still fall apart. Yah, nyatanya hidup memang seperti itu.
Kita tidak pernah bisa memprediksi apakah hidup akan menghujani kita dengan emoticon hati atau tahi :)

Embrace your broken heart.
Setidaknya itu tanda bahwa kita pernah sangat tulus menyayangi. Ya, sebab bagaimana mungkin kita tidak merasa sedih ketika semua yang diusahakan tiba-tiba berantakan, bagaimana mungkin kita akan biasa saja ketika telah berjalan jauh tapi tiba-tiba dua tangan yang saling bekerja sama ditinggalkan yang satu.
Kembalilah sadar bahwa selama ini mungkin kita terlalu semena-mena memperlakukan perasaan diri sendiri, sampai hati memasrahkan hati pada yang jelas-jelas hanya menawarkan setengah hati.
Pertama kali patah hati, saya rasanya seperti tidak ingin kembali sembarangan menaruh hati pada orang lain, oh tapi ternyata ketika sembuh, semua terlihat normal lagi. Terlebih ketika ada dua tangan yang sepertinya siap menangkap jatuhnya, wah bahagia sekali rasanya. Meskipun belum bahagia sampai akhir. Yayaya here we go again, my heart, sorry but please be ready for another broken-heart-series. Hadeh!

It's okay to hate love songs when you're broken hearted.
Lah iyalah! Manusia mana yang bisa selalu ceria setiap hari rutin setiap tahun???! Dengarkan saja lagu-lagu patah hati, cari liriknya, hapalkan. Buat dirimu tenggelam di dalamnya, suatu saat nanti ketika sedihmu usai, maka responmu terhadap lagu-lagu patah hati itu hanyalah sebatas tawa lepas yang diiringi dengan ingatan betapa berat proses jadi manusia dewasa.

Melakukan semua hal menyenangkan, yang diinginkan, yang membuat bahagia, tanpa komentar judgemental. Sebab disadari atau tidak, orang terdekat kita adalah yang paling berpotensi menyakiti perasaan kita dengan komentarnya. Oh ya! dan lagi, privacy is a power, what people don't know, they can't destroy. Jadi sebisa mungkin, sesulit apapun, pastikan apa yang dibagi di sosial media memang benar-benar hanya hal yang telah layak dibagikan dan tidak berpotensi dijadikan alat untuk orang lain menyakiti kita di masa depan.

Tapi seperti apa yang telah tertulis di paragraf awal, tidak pernah ada template yang sama untuk merawat luka yang berbeda.
Jadi ya, nikmati saja. Yakinlah bahwa malam selalu akan berganti siang, setiap daun yang gugur selalu digantikan tunas baru, badai pun tak selamanya berada di area yang sama.
Sedihmu itu juga akan berlalu, cepat atau lambat.
Dan akan lebih cepat kalau memang ada kemauan besar untuk menyudahi masa-masa penuh ngilu dan membuka lembar baru.

Kita perlu sadar bahwa kita adalah sosok utuh yang tak perlu digenapi.
Seseorang yang akan datang di masa depan itu datang untuk menjadi partner membangun cerita hidup bersama, bukan untuk melengkapimu. Dengan atau tanpanya kamu harus yakin bisa tetap berdiri tegap.
Kita masing-masing telah lengkap dengan segala kurang dan lebih.
Kita tak saling bertemu hanya untuk bertukar kalimat manis yang akhirnya menguap habis ditelan waktu. Sehingga hanya menyisakan luka pada akhirnya.
Lebih dari itu, kita berusaha saling bertemu, saling mengerti dan saling berusaha untuk tidak menyerah, tak sekalipun berpikir untuk berbalik arah.
Tidak menemukan atau ditemukan, sebab kita bukan barang hilang.
Kita yang saling berusaha membangun self-worth hingga semesta setuju membuat garis kita saling bertemu di titik tertentu.

Patah hati itu hanya salah satu proses, yang harus dilewati untuk sampai ke titik dimana garis kita bersinggungan.
Patah hati itu, ya memang semenyebalkan itu.
Jadi, menyikapi patah hati harus bagaimana?
Yaaaaaa, jalani saja!

Selamat terus berusaha menuju titik yang disetujui semesta!

Salam,
Anggi

p.s.: jangan lupa olahraga, minum air yang cukup  dan makan tepat waktu!

April 06, 2020

(not an) internal memo



I once said,
"Don't wait until it's too late"
But if you did.
It means another late for me.
Now, I wish you already know.

Through this letter, I won't wait until it's too late.
I take the risk.
Because I know, I may have no chance since it began :)

Good luck on your life.

cheers,
Anggi.

April 03, 2020

Bagaimana Rasanya Menghadapi Kehilangan* Orang Terdekat?

*: kehilangan dalam konteks meninggal, idk but saya hanya belum merasa nyaman untuk menulis kematian, meski barusan telah menuliskannya:) walau saya pun tidak setuju bahwa saya telah kehilangannya, yah setidaknya mungkin itu kalimat yang bisa menggambarkan kondisi ini meski tidak mewakili perasaan saya terhadap kondisi itu setelahnya. ok case closed!

Hai!
Untuk membuat tulisan ini sedikit lebih terstruktur maka #BagaimanaRasanya kali ini akan ditulis dalam bentuk Q & A.
Meskipun tentu saja questionnya juga dari diriku sendiri, karena sungguh saya belum sanggup bertanya di kolom pertanyaan story instagram haha takut diabaikan:))
Setidaknya semoga memberi sedikit gambaran, bukan untuk mempersiapkan, karena tak pernah ada kata siap untuk sebuah kehilangan, hanya semoga setelah membaca tulisan ini kalian yang belum mengalaminya bisa menempatkan diri (berempati) kepada teman atau siapapun yang kalian ajak bicara.
Karena sosok orang terdekat yang saya maksud disini adalah Bapak, maka perspektif tulisan ini adalah dari sisi seorang anak perempuan yang Bapaknya telah meninggal delapan tahun silam.
Baiklah, mari kita mulai.

Q: Apa yang kamu rasakan ketika tahu Bapakmu sudah meninggal? 

Kosong. Rasanya ada yang berat sekali di dada tapi tidak bisa diungkapkan. Melihat Ibu dan Kakak histeris. Yang saya ingat pagi itu, saya belum menangis, tapi langsung lari meminta pertolongan keluar rumah. Masih berharap bapak hanya pingsan dan bisa diselamatkan.
Rasanya ingin berusaha sekeras mungkin menolak kenyataan.

Q: Apa yang kamu lakukan di hari ketika Bapakmu sudah meninggal?

Menangis. Memeluk bapak lalu bilang "besok ulang tahunku pak"
Ikut membasuh kaki bapak untuk terakhir kali.
Melihat banyak orang datang ke rumah dengan tatapan iba dan menguatkan.
Berjalan mengikuti rombongan untuk memakamkan Bapak.
Melihat jenazah diturunkan ke liang lahat.
Kembali ke rumah, memandang cermin dan bertanya kenapa aku dan kenapa hari ini.
Lalu duduk disamping ibu. Kemudian hari-hari terus berlalu seperti biasa, namun perasaan saya tak lagi sama.

Q: Bagaimana kamu bangkit dari rasa duka?

Sesungguhnya saya belum paham bangkit itu definisinya seperti apa ((lah padahal nanya-nanya sendiri wkwk)), jika hanya dalam konteks bisa hidup terlihat baik-baik saja dan menjalani aktivitas seperti biasa maka bisa dibilang ya saya telah bangkit sejak 2-3 bulan setelah Bapak berpulang.
Bagaimana caranya? simply dengan ya let it flow, ikuti saja kalau ceritanya memang begini. Menangis kapanpun dirasa ingin.
Tapi kalau bangkit berarti mampu menerima orang baru untuk mengganti sosok Bapak di rumah, hingga kini, tidak.
Entah, bukan belum tapi saya memang sengaja membatasi diri dan membiarkan hal ini, bahwa saya tidak ingin menerima orang lain ada di posisi Bapak.
Bukan sesuatu yang baik untuk dicontoh ya, hal seperti ini tidak bisa berlaku di semua keluarga, tapi saya sudah berulang kali mengkomunikasikannya dengan ibu, bahwa saya belum bisa dan saya minta maaf kalau hal itu mungkin menyulitkan ibu, tapi syukurlah ibu saya pun mengamininya.
Saya rasa, itu berperan besar menyembuhkan duka saya.

Q: Bagaimana caramu melepas rindu setelah Bapak tidak di rumah lagi?

Berdoa, mengunjungi makamnya, tidur di kamarnya, menulis setiap kenangan yang tiba-tiba muncul di kepala, mengabarkan kebaikannya melalui setiap tulisan atau pembicaraan sehari-hari. Saya masih sering berkata "kata Bapakku dulu", "Iya Bapakku juga gitu" seolah-olah Bapak selalu dekat dengan saya dan baru menasihati saya kemarin sore.
Oh ya! dan menangis, tapi meratapi kematian itu dilarang, jadi saya hanya menangis untuk meluapkan emosi saja, saya menangis ya hanya karena ingin, bukan untuk mengharap Bapak kembali karena itu mirip seperti tidak menerima qadha&qadar.

Q: Apakah kamu merasa sedih ketika orang bertanya kapan dan mengapa Bapakmu meninggal? 

Dulu iya, di tahun-tahun pertama. Saya merasa terganggu ketika harus kembali mengingat hari itu.
Tapi sekarang, tidak lagi. Saya lebih sedih saat melihat ekspresi rasa bersalah orang lain ketika mereka merasa telah menyinggung saya dengan pertanyaan itu, please believe me i really mean it ketika saya bilang "gapapa kok, santai aja"

Q: Apakah kamu memiliki trauma setelah kejadian itu?

Mungkin tidak separah itu sampai pantas disebut trauma, tapi saya selalu takut membangunkan orang yg sedang tidur, saya khawatir jika ibu yang sering tidur disamping saya tidak bernapas seperti biasa. Saya merasa tidak siap jika harus mengalami kejadian yang sama, lagi.
Jujur, diluar konteks keluarga, saya benci dibuat terbiasa dengan sesuatu yang akhirnya akan pergi, maka sejak itu saya membiasakan diri untuk sendirian and stood up for myself. 

Q: Apakah kamu merasa tersinggung ketika orang lain membicarakan Bapaknya dihadapanmu?

Iya. Kadang saya merasa iri ketika mereka menceritakan sesuatu yang baru terjadi dan itu masih bisa nyata dirasakan, sedangkan saya hanya bisa menceritakan cerita lama yang susah-payah saya ingat.
Tapi sekarang saya lebih melihat hal itu sebagai kebahagiaan, bahagia melihat orang lain masih merasakan hal-hal membahagiakan dan saya juga bisa ikut merasakan kebahagiaan melalui cerita itu.

Q: Apa yang bisa kamu sampaikan untuk mereka yang Bapak Ibunya masih hidup?

Kalian punya waktu, punya teman-teman dan punya kehidupan kalian sendiri. Tapi seiring itu juga umur orang tua terus menua, mereka tidak menunggu kita memiliki waktu luang, kita yang harus selalu meluangkan waktu. Kita tidak pernah tahu kapan waktu kita masing-masing akan dihentikan. Maka sebelum itu terjadi, appreciate those who don't give up on you since day one and please don't take them for granted.