February 23, 2020

Menelan Desa, Mencicipi Kota

Jakarta adalah kota ketiga yang menjadi tempat tinggal, setelah Surabaya dan Jember.
Saya lahir dan menghabiskan masa sekolah di Jember, lahir sampai masa SMP di desa, lalu pindah ke kota dan tinggal di rumah kos saat SMA. Pindah ke Surabaya untuk kuliah lalu pindah lagi ke Jakarta untuk bekerja.
Saya cukup bisa menyesuaikan diri, luwes menjadi anak desa yang medhok notok jedog dan biasa dengan segala hal yang tidak fancy, tapi juga tau caranya memesan minuman yang gelas plastiknya ditulis dengan nama kita, dan bisa juga tetap melangkah tenang di eskalator. Bisa karena terbiasa. Sebelumnya pun saya selalu meng-google apapun yang baru pertama kali saya lakukan, terakhir saya mencari tahu bagaimana caranya naik pesawat domestik sendiri.

Dulu saat saya masih tinggal di desa, minimarket tidak sebanyak sekarang, ayam crispy masih jarang ditemukan dan lampu-lampu jalan masih menggunakan bohlam yang sama dengan yang dipasang di rumah-rumah kami, kap lampunya pun menggunakan wadah sego berkatan (re: nasi tasyakuran atau pengajian) yang dibalik.
Jalan di desa saya hanya macet ketika ada kecelakaan lalu lintas, jembatan putus akibat banjir atau saat pagi buta rutinitas pasar tradisional tumpah ke jalanan.
Saya pikir pergi ke mall dan membeli KFC (gerai McD bahkan belum masuk di kota saya saat itu) adalah kemewahan, yang hanya bisa saya nikmati saat memperoleh juara kelas di akhir semester.
Maka membeli ayam dan tepung bumbu mama suka di pasar adalah salah satu cara untuk bisa makan ayam crispy meski saya ingat betul tak satupun hasilnya mendekati rasa tepung KFC, walau sudah mencoba berbagai cara mulai dari dilapis telur kocok satu kali, dua kali, atau langsung digulingkan di tepung.
AC adalah kemewahan yang lain, hanya bisa ditemui di minimarket, laboraturium sekolah atau rumah saudara di kota.
Saya hanya membeli baju baru ketika lebaran dan tahun ajaran baru (itupun jika seragam sebelumnya sudah sesak).
Saya tak punya banyak pilihan sepatu yang bisa dicocokkan dengan warna atau model pakaian yang dikenakan, hanya ada 2 pasang sepatu sekolah berwarna hitam, sepasang flat shoes untuk les dan segala acara formal, dan sepasang sandal untuk bermain.
Saya ingat harga sepatu SD saya empat puluh ribu rupiah, dibeli di pasar tradisional karena saat itu gagal juara satu. Sebab untuk beli sepatu di toko sepatu terbaik di desa, saya harus lebih dulu mengamankan posisi juara satu di kelas.

Ketika pindah ke kota saat SMA, saya baru tahu, bahwa untuk bisa pergi ke mall dan membeli ayam KFC, teman-teman saya tidak harus menunggu adanya sesuatu untuk dirayakan.
Bahkan ketika pindah lagi ke Surabaya, teman-teman saya menganggap KFC adalah jajanan makan siang yang dengan mudah mereka datangi ketika jam istirahat tiba.
Di kota banyak minimarket bersebelahan, lampu-lampu tak hanya difungsikan sebagai sarana penerangan jalan, tapi juga jadi hiasan di sepanjang jalan.
Jalanan macet dimana-mana, beberapa yang lain kepanasan sambil mengetuk head lampnya berkali-kali mengusir jenuh, sebagian yang lain mengklakson bertubi-tubi sambil ditiup angin segar AC.
AC tidak terlihat jadi barang mewah di kota, seluruh ruang kelas di kampus pun dipasang AC, bahkan kamar teman-teman saya di kota ternyata juga dipasang AC, bukan kipas angin yang menoleh ke kanan dan kiri.
Di kota, saya juga mengerti bahwa teman-teman saya tidak harus menunggu lebaran untuk beli baju baru, kapanpun mereka pergi ke mall, mereka mungkin saja pulang dengan seplastik baju baru.
Teman-teman di kampus saya pun tidak memakai sepatu yang sama 5 hari dalam seminggu, mereka memadu-padankan sepatunya dengan baju yang dikenakan, itu artinya mereka punya banyak pilihan sepatu di rak.
Hal baru lainnya yang saya temukan di kota adalah betapa brand menjadi sangat penting. Waktu itu saat hari-hari pertama masa kuliah, saya melihat seorang teman memasuki kelas dengan memakai hoodie (yang sebelumnya selalu saya sebut jaket/sweater) bertuliskan pull & bear. Kalimat yang terlintas di pikiran saya tak lain dan tak bukan adalah "ih apasih maksudnya pull & bear kenapa tulisannya aneh".
Setelah mulai terbiasa dengan kota, mall dan serba-serbi kehidupan manusianya, saya baru mengerti bahwa pull & bear adalah merk dagang yang cukup dikenal oleh kalangan seusia saya (pada umumnya). Lalu ketika mengetahui harganya saya jauh lebih terkejut lagi, hampir setara dengan 3/4 harga sewa kamar kos saya saat itu.

Melihat saya hari ini, lalu mengingat saya yang dulu. Ingin tertawa, lalu menangis dan bersyukur sekaligus. (tulisan selanjutnya bismillah bukan ditujukan untuk pamer, hanya sekedar merinci bahwa banyak yang bisa berubah ketika tinggal di tempat baru, yang bisa disyukuri dan jadi pengingat)
Hari ini, meski saya masih selalu memakai sepasang sepatu yang sama untuk ke kantor, tapi pilihan sepatu yang dimiliki sudah lebih banyak daripada saat itu. Saya bisa pergi ke mall kapanpun karena bisa ditempuh cukup dengan berjalan kaki atau naik kereta melewati dua stasiun saja untuk pergi ke mall yang lain. Dulu ketika tinggal di desa, perlu satu jam untuk tiba ke mall terbesar di kota saya saat itu. Saya sering bertanya pada teman-teman saya yang lahir dan besar di kota, "Bagaimana rasanya biasa pergi ke mall sejak kecil?" atau "Bagaimana rasanya memiliki kampung halaman di kota?".
Hari ini saya bersyukur bisa makan ayam crispy tanpa harus menunggu sesuatu untuk dirayakan (meski saya terus mencari sesuatu yang patut dirayakan agar bisa mengijinkan diri sendiri beli ayam KFC atau McD, yang harganya masih bisa ditukar dua porsi nasi campur). Kini saya paham dan melek brand juga kenapa harganya bisa jadi semahal itu, bukan karena rajin membelinya tapi karena saya sekolah desain. (bau sangit-sangit sombong)
Hingga kini pun saya hanya punya beberapa barang keluaran brand terkenal, dan sebagian besar barang bekas.

Sejujurnya, saya tak ingin ketika tinggal di kota mengubah perspektif saya 180 derajat. Saya tidak ingin menjadi terlalu konsumtif dan impulsif, hanya karena apapun mudah dijangkau secara jarak. Maka ketika keinginan-keinginan itu mulai muncul saya ingat lagi, bahwa dulu saya bisa hidup seperti itu dan tetap baik-baik saja.
Ketika ada hal-hal tidak menyenangkan di kota, saya harus ingat bahwa dulu, tinggal di kota adalah salah satu hal yang paling ingin dialami.
Lalu ketika merasa jenuh dengan bisingnya kota, saya harus lekas bersyukur, masih memiliki kampung halaman di desa yang akan selalu menjadi rumah.
Saya tidak akan pernah malu mengaku sebagai anak desa, dimanapun berada.

Semoga hal-hal baik yang dibiasakan di rumah saya yang berada di desa itu (yang satu-satunya akses transportasi publiknya hanya bus ekonomi), terus melekat pada diri saya, hingga kapanpun.
Semoga kota ini tetap berseri dan memberi banyak pengalaman untuk dibagikan dan disyukuri.
Semoga kelak bisa kembali ke desa, memberi manfaat yang nyata sebagai wujud cinta. Masih jauh dari terwujud, mungkin. Tapi apa salahnya berdoa. Everything you can imagine is real! kan kata Pablo Picasso.

Selamat Malam, Jakarta.
Salam,
Anggi, yang amat merindukan desa.

February 14, 2020

Semoga Kali ini Aku Menang

Aku belum merasa mandiri.
Meskipun nyatanya ratusan kilometer dari rumah kutempuh sendiri.
Memasuki tiap pintu baru juga ditemani bayangan diri sendiri.
Aku terus merasa sebagai anak yang belum memegang tanggung jawab penuh.
Padahal kini aku membiayai hidup sendiri seperti orang dewasa lainnya.

Aku kadang hilang ditelan pemikiranku sendiri.
Aku siapa dan telah berubah seperti apa, pun selalu menjadi pertanyaan rutin.

Aku ingin jadi manusia mandiri seperti pesan bapak.
Tidak sering menangis, banyak tersenyum, dan berani menatap mata orang lain.
Aku juga ingin selalu memeluk diriku yang hampir hilang dihantam ngilu.

Aku masih sedih, bapak.
Aku sepertinya belum sembuh.
Aku terus menulis dan menangis,
Berusaha melepas lilitan waktu yang terus mengaburkan memori tentangmu.

Semoga kali ini aku menang.

February 12, 2020

Mendeskripsikan Khawatir

Aku sering tiba-tiba mengecilkan diriku sendiri; misalnya dengan menggumam, orang-orang sukanya apa ya? Aku ingin berubah menjadi apa yang mereka suka.

Kadang, aku ingin sekali berbicara keras dan mengucapkan kalimat-kalimat makian yang kasar. Aku sering berniat buruk kepada diriku sendiri, tapi diriku yang lain memendamnya dengan rapi.

Aku ingin tahu bagaimana orang lain melihatku.
Apakah aku teman yang baik? Atau tidak?
Apakah aku pendengar yang setia? Atau bukan?
Apakah aku berbicara dengan santun? Atau tidak?

Sejujurnya, aku ingin orang-orang mengirimiku sepucuk surat, entah apapun isinya.
Aku ingin sekali disapa.

Aku terlihat kesepian, ya? Atau tidak?
Mungkin aku terlihat khawatir.

February 10, 2020

Cerita lalu (II)

Lalu di suratmu tempo hari itu, siapa?
Siapa yang kau sebut lalu?
Mengapa harus menangisi lalu?
Lalu sejak kapan berlalu?
Apakah kau melalui masa sulit dengan lalu?
Atau kau selalu...

Kurasa cukup pertanyaanku yang bertubi-tubi ini, kau tak terlihat ingin menjawab.

"Harusnya kau lekas pergi, mendekap erat dirimu sendiri.
Tak usah kau sempatkan waktu membingkai sesalmu serapih itu.
Lalu, kau pikir peduli?"


Aku belum menulis surat kepada diriku sendiri.
Belum akan dan belum ingin.
Rasanya lebih nikmat menyaksikan aku menangisi lalu, menulis.
Aku ingin lekas menangis, lalu tersenyum.
Aku ingin menjadi asing bagi diriku.
Agar ketika suratku sampai,
Aku merasakan hangat yang sama.
Aku tersenyum, lalu menangis.

Pada kalimat terakhir tadi aku harus meletakkan koma atau dan, ya?

Cerita lalu (I)

Hari ini ingin kutulis surat cinta untuk diriku sendiri.
Telah ratusan kata kurangkai, namun tak satupun sampai.
Kepadaku.

Saat tiba masanya, sungguh sulit kalimat tercipta.
Tiba-tiba menjadi pelit bicara. Irit berkata.
Padahal seperti ada rindu yang sesak mengisi penuh kepala.

Hari ini ingin kupeluk aku yang sejak kemarin sibuk menangisi lalu.
Tak cukup sekotak tisu, menangisi lalu butuh hari-hari yang panjang, untuk sekedar memandang lekat-lekat sebingkai penyesalan.

Aku telah mengirim surat,
Berisi kalimat manis yang kupilih berjam-jam didepan layar.
Tak lupa kusisipkan harapan, barangkali yang dituju berkenan menjawab.

Aku telah mengirim surat,
Bukan untukku,
Tapi untuk menangisi lalu, lagi.