October 27, 2019

merapikan kembali mimpi yang berserakan.

dulu jauh belum masuk kampus almamater, saya rajin menuliskan mimpi-mimpi yang ingin dicapai, mulai yang kecil sampai yang agak mustahil tercapai.
semakin dewasa rasanya semakin ingin jadi realistis saja, mengikuti alur dan tidak terlalu ambisius mengejar sesuatu.
lalu hari ini, hmm belakangan ini maksudnya, mulai sadar.
kenapa tidak?
toh mimpi itu gratis kan? lagipula bukannya sudah sering juga menertawai mimpi-mimpi yang gagal atau belum tercapai?
di sisi lain juga sering pula terkagum-kagum pada kenyataan yang luar biasa sekali hingga rencana dan mimpi yang dianggap hanya khayalan level teenlit ternyata bisa juga jadi nyata.
kenapa saya yang hari ini tidak berani lagi menulis mimpi-mimpi untuk masa depan?
apa sudah lelah ditampar kenyataan?
dengan atau tanpa catatan itupun akan selalu ada kemungkinan disapa kenyataan pahit, iya kan?
jadi,
kenapa tidak menulis lagi?
tulis saja, jika sering terbaca mungkin lama-lama akan jadi sugesti positif agar diri berusaha lebih keras lagi, berdoa lebih sering lagi, memberi lebih tulus lagi.
jangan takut ya.
kamu akan baik-baik saja, dengan atau tanpa mimpi yang jadi nyata.
kamu boleh bermimpi,
kamu boleh menulis apapun yang kamu ingin,
dan kamu juga boleh berharap untuk tetap baik-baik saja ketika semua belum terjadi.
masih ingat kan bait doa yang diulang-ulang saat sma?

"ya Allah mohon ampunkan dosaku dan dosa kedua orangtua ku, kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku, ya Allah, aku percaya janji-Mu nyata, kuasa-Mu tak terbatas dan Engkau selalu punya cara. semoga setiap langkah selalu diiringi ridho-Mu,  ya Allah mohon ampunkan dosaku dan orang-orang yang menyakitiku, semoga aku tidak melakukan hal yang sama seperti mereka. ya Allah perkenankanlah doaku." 

mari kembali bermimpi dan mengusahakannya (lagi)!

October 19, 2019

seminggu di jakarta.

mengemas barang,
berpindah dari kota satu ke kota lainnya,
menyelami kemacetan di sisi lain pulau jawa,
di tempat dimana umumnya merasa sama sekali bukan jawa.

porter stasiun yang baik hati,
pengemudi taksi yang baik hati,
pemilik kos yang baik hati,
meski tak pernah diantar orang tua dalam setiap fase perpindahan ke kota baru,
kebaikan orang di sekelilingku pasti berasal dari doa tulus ibu bapakku.

kadang,
ingin rasanya diantar kedua orang tua di stasiun,
seperti anak lainnya.

akupun berdoa sepanjang jalan,
agar terus dipertemukan dengan hati-hati baik,
menulis lebih banyak,
mengimbangi kapasitas ingatan yang terbatas,
mencuci lebih sering,
membeli berbagai wewangian,
sabun, parfum, pengharum ruangan.

jakarta,
yang ramai dan tak sekalipun tidur,
panasnya sesak

surabaya,
yang ramai dan tak pernah nyenyak,
panasnya menusuk

kembali berjalan seperti ketika tiba di surabaya,
kembali menumbuhkan keberanian,
tapi tetap sendiri dan menangis,
melihat ketidakberuntungan di kanan kiri, di setiap sudut kota ini.

semoga di jakarta aku bertumbuh jadi manfaat dan bahagia untuk sekelilingku.
semoga aku tidak hanya sekedar menangisi keadaan,
semoga aku mampu menjadi perantara bahagia mereka atas doa yang dikabulkan Tuhan.

sakit di telingaku muncul lagi saat menulis ini,
mungkin aku harus segera menyudahinya,
aku permisi menangis dulu ya.

jangan lupa bersyukur! 

October 17, 2019

siomay dan sakit di telingaku.

jalan pulangku kali ini terasa berbeda, perhatianku tertuju pada gerobak siomay di pinggir jalan.
yang sempat kulewati lalu sebelum akhirnya putar balik kembali.

malam ini gerimis tipis, si penjual memasang payung dan jas hujannya.
gerobak berwarna biru diatas sepeda tua yang pedalnya tak lagi utuh.

"pak, masih?"tanyaku.
"iya masih, bu"jawabnya.

tak perlu dijelaskan bukan mengapa aku dipanggil ibu? entahlah, rasanya wajahku belum pantas dipanggil ibu.
tapi yang jelas bukan itu inti tulisan ini.

"seporsi dibungkus yah"
"iya bu"
"pak, uangnya 50an, ada kembalian?"
"ada kok ada" ucapnya antusias sambil menuang bumbu kacang ke dalam plastik.

segera setelah itu beliau mengeluarkan isi dompetnya, lalu mengorek sisi gerobak yang lain.
dengan raut wajah kecewa beliau berkata "maaf bu, uangnya ngga cukup, bawa aja, kalo saya lewat rumah ibu aja bayarnya"

"saya tukerin bentar ya pak"

"jangan repot-repot, bu. bawa aja"

setelah berlari ke toko kelontong, aku kembali dan membayar siomayku dengan uang pas.

bagaimana mungkin seorang penjual siomay,
ditengah gerimis,
dengan panci yang masih penuh,
menawari orang asing sepertiku untuk membawa seporsi dagangannya?
dengan cuma-cuma?

aku berlalu meneruskan jalan pulang, menahan sakit di telingaku.
hal sama yang selalu terjadi saat aku menahan tangis.

aku selalu benci berada di kota besar,
melihat orang lain tidak seberuntung aku,
lalu aku tak bisa berbuat banyak,
dan menangis sendirian.

bagaimana mungkin aku memilih menukarkan uang lalu membayar sesuai harganya?
kenapa aku tidak memilih untuk menyerahkan selembar biru yang kupunya?

penyesalan kali ini kubawa pulang,
kutumpahkan bersama tangis yang kutahan sejak tadi.

hujan di luar sudah berhenti,
ketika hujan di mataku semakin deras lagi.

dear anggi, semoga ketika rezeki lapang maupun sempit, kamu tak lupa berbagi.
agar tak perlu menahan tangis penyesalan.
agar tenang hatinya.
agar bisa selalu melihat kebahagiaan mengelilingimu.
selamat kembali berusaha,
menghidupkan bahagia❤