April 26, 2015

Pahamilah bahwa...



Selamat akhir pekaaaaaaaaaan ^-^

Yay menghirup napas dalam-dalam, menikmati weekend (yang seolah) tanpa tugas
Huhu padahal ya ada tapi ngerjainnya pake jurus mager dan diselingi tawa-tawa gapenting, ah sungguh selo hidupmu, semoga selamat sentosa ya /ngaca/ :3

Haphap aku mau bahas soal perempuan lagi nih ,hm jadi beberapa kali aku sering liat di timeline twitter /anaktwitterbanget/ ,ask.fm, fb juga sih, orang2 pengertian yang (mencoba) mengingatkan pada kebaikan, ehem tapi dengan berbagai rupa cara. Mulai dari yang menyentuh hati /eaaak/ sampai yang menggelikan bahkan menjengkelkan.
Mengingatkan dalam hal apa?
Pakaian perempuan :)
 
Hehehe jangan keburu close tab ya, aku nulis disini buat nyampein isi kepala ,no judge, insyaAllah :)
Jadi aku sedih , sedih pol liat beberapa tweet/ask/status yang maksudnya sih menjelaskan hukum berjilbab bagi perempuan, tapi pake kata-kata yang menyinggung, bikin sedih yang baca. Pun sampai bawa kosakata kebun binatang, apalah, bukankah Rasul kita tak pernah memberi tauladan seperti itu, teman? :))
Ada 3 hal yang biasanya jadi bahasan yang sensitif soal perempuan dan pakaiannya:

1.       I’m in a progress

Oiya sambil sama2 belajar , jadi ayo baca dulu perbedaannya /jengjengjeng/
Hijab : sesuatu pembatas atau aling-aling yang menutup aurat. Secara umum bisa dimaknai sebagai pembatas, ex: kelambu, papan pembatas dll
Jilbab : busana muslim terusan panjang yang menutupi seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.
Khimar : penutup kepala yang menutup seluruh kepala kecuali muka dan terulur hingga dada.
Kerudung : penutup kepala ,namun biasanya hanya diikat sampai leher, tidak diulurkan hingga menutup dada.

Perempuan yang belum mengenakan jilbab dan hijab bukan berarti tidak berbudi baik.
Janganlah terburu-buru melabeli mereka dengan macam-macam kata yang tak pantas.
Setiap perempuan sejatinya sedang ada dalam proses yang hanya ia dan TuhanNya yang tahu, Mereka sedang berusaha menjemput Hidayah, memantapkan hati dan meluruskan niat.
Tugas kita sebagai saudara sesama muslim hanyalah saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan.
 Nah tapi dengan cara yang baik dan lemah lembut.  

Jadi begini, teman-teman cantikku :) mungkin mengenakan jilbab memang terlihat berat, panas, dan kurang praktis.
Rambut indahmu tak bisa tergerai dengan bebas,iya, tapi memang mahkota yang seindah itu harusnya kita simpan, tak kita perlihatkan.
Baju panjang akan membuatmu gerah, iya, tapi takkan sebanding dengan gerahnya padang mahsyar yang telah dikabarkan matahari sejengkal diatas kepala, belum lagi kita sudah sama-sama paham tentang tempat bagi pemilik catatan yang amalnya lebih berat di sebelah kiri.
Jilbab tak membuat aktivitas dan pekerjaan terhambat, sungguh tidak.
Tanya google tentang prestasi perempuan berjilbab ,maka akan dijelaskannya betapa jilbab hanya menutup aurat namun tak pernah menutup diri kita dari prestasi dan dunia luar.

Dan Maha Besar Allah yang selalu punya alasan dibalik semuanya, alasan yang begitu amat mulia.
Jilbab akan membuat kita terjaga, mudah dikenali sebagai seorang muslim tentunya.

Lalu apa untungnya? Tanpa jilbab pun aku terjaga dan orang pun mengenalku.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Hm ya, bisa jadi begitu, namun insyaAllah dengan Jilbab akan sedikit demi sedikit berkurang siulan nakal yang mampir ketika kamu lewat di jalanan ramai, akan berkurang pula mata yang memandangimu dengan nafsu.
Dan jika orang tahu kamu seorang muslim,
Bisa jadi ketika kamu ada di tempat baru dan ingin makan di suatu tempat tiba-tiba ada yang dengan lembut berkata “kalau mau makanan halal di tempat seberang saja, mbak”
Atau dilain waktu ketika dalam perjalanan dan tiba waktu berbuka puasa akan ada senyum manis sembari berucap “sudah maghrib, mari berbuka”
pun juga ketika temanmu yang non-muslim tahu , dia mungkin2 saja akan dengan senang hati mengingatkan “hayo, sudah waktunya sholat lho” ditengah kesibukan mengerjakan tugas bersama.

Selain itu ada bagian dari alasan Allah yang paling membuatku leleh, hihi
Yaitu, kelak hanya akan ada seorang lelaki non-mahram (kemudian jadi mahram setelah ijab-qobul) yang  boleh melihat aurat seorang perempuan dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Bukankah akan jadi hadiah yang sangat istimewa bagi si lelaki, jika ia sadar betapa beruntung bahwa selama ini ada perempuan yang rela hati menjaga aurat mengikuti tuntunanNya sekaligus mempersembahkan dirinya dalam keadaan belum pernah-ada-yang-melihat-ku-seperti-ini-sebelum-engkau /:)))

Hadist ini pula yang sanggup menyentuh hati dan membuatku menangis:
“Selangkah anak perempuan keluar rumah tanpa menutup aurat,maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka. Selangkah seorang istri keluar rumah tanpa menutup aurat,maka selangkah juga suaminya itu hempir ke neraka” HR. Bukhari dan Muslim

Jadi, teman-teman cantikku , Allah mewajibkan jilbab dengan maksud melindungi kita :)
Betapa Allah menyayangimu, menyayangi kita semua sebagai perempuan.
Perempuan yang dimuliakan kedudukannya dalam Islam, insyaAllah.

2.       Sudah, tapi kok…

“Ah memang berjilbab, tapi kok kelakuannya begitu. “
“Ah tapi kok jilboobs.”
“halah lepas pake gak jelas”

Ya, kalimat seperti diatas itu memang sering kita jumpai.
Aku hanya menghela napas panjang tak mampu menemukan kata untuk meluruskan ucap mereka, yang seperti ini memang sangat sensitif.
Sejujurnya, aku tak suka dengan istilah jilboobs yang beredar, istilah yang begitu menyudutkan, merendahkan perempuan.
Kemudian ada yang mengatakan bahwa julukan seperti itu memang pantas disematkan padanya yang  tak mengikuti syariat.
Hei hei, tuan nona, tak begitu cara mengingatkan yang baik, bukan dengan menyakiti hati.

Hmmm…proses seorang perempuan sampai ia memutuskan berjilbab itu panjang.
Dia harus dengan rela meninggalkan model pakaian kesukaannya, tidak lagi bebas mengenakan bandana dan jepit di rambut indahnya, bahkan juga harus jeli memilih wewangian yang hanya boleh tercium oleh dirinya saja :)
Maka ketika kita menemui teman yang telah berjibab namun masih belum sempurna, pahamilah bahwa dia juga manusia, yang masih berproses.
Bisa jadi dia baru mulai membiasakan diri, bisa jadi juga dia belum mengerti yang benar, nah inilah tugas kita untuk saling mengingatkan, masih dan selalu dan terus dengan cara yang baik dan lemah lembut.

3.       Pasti aliran ini, nih!
Last but not least hehe, perempuan berjilbab panjang dan berpakaian longgar.
Biasanya pandangan negatif muncul seiring pemberitaan media yang mengekspos habis-habisan tentang ciri-ciri teroris yang patut dicurigai, padahal sebelumnya, perempuan berjilbab panjang dan berpakaian longgar tak pernah identik dengan hal itu.
Bahkan yang menyedihkan,
Perempuan seperti mereka sering disebut aliran a, b, c.
Perempuan serupa mereka sering dilabeli sesat bahkan oleh saudaranya sesama muslim.
Sungguh menyedihkan, bukankah memang begitulah seharusnya pakaian perempuan muslim sesuai yang dijelaskan dalam Al-Qur’an? :”)



Mengingatkan  dengan cacian, mengumbar aib, mengkafirkan saudaranya sendiri,
Cara milik siapa itu? Islam tak pernah mengajarkan umatnya berlaku demikian.
Maka, hargailah setiap perempuan muslim, baik dia seperti yang tersebut dalam nomor satu ,dua maupun tiga, pahamilah bahwa setiap dari kita sedang menempuh proses perbaikan dirinya masing-masing :)))

Salam hangat,
Anggi

April 24, 2015

Singkat cerita...



Halo, hm cuaca Surabaya sedang menyenangkan. Hehehe setidaknya untuk hatiku :p
Ah apalah selalu gagal bikin prolog yang membangkitkan semangat pembaca ,ya meskipun juga dibaca sendiri muahahah
Tulisan pembuka diatas baik-buruk nya relatif. Soal baik-buruk, pantas-tidak pantas, sesuai-tidak sesuai berkaitan dengan standar yang ada di khalayak.
Naaah, mulai masuk pokok bahasan nih, serius ya.
Satu Dua Tiga
Hahahaha
apasih-_-



hm jadi , beberapa bulan ini aku sedikit demi sedikit mulai sadar, ya, setelah tertampar oleh :

"Apakah kalian akan beriman kepada sebagian isi kitab dan mengkufuri sebagian isi yang lain. Maka, tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu, selain kehinaan dalam kehidupan di dunia, serta pada hari kiamat nanti akan diseret ke dalam adzab yang sangat pedih." 
(Quran Surat Al Baqarah: 85)

Jadi rasanya, sedih.
Aku melihat aku selama ini selalu memilah-milah “aturan” yang tertulis jelas, ku ikuti yang kumau, ku tinggalkan yang tak kusuka.
Tanpa sadar aku ini adalah seorang hamba

Ternyata selama ini, hampir 19 tahun aku hidup dalam standar baik-buruk yang semu. 
Bagaimana tidak? 
Aku bahkan tak banyak paham tentang apa yang kuyakini selama ini, aku bukan perempuan yang mengerti benar hakikat ku sebagai seorang hamba. 
Selama ini baik-buruk yang ada dimataku mayoritas didasari oleh pendapat manusia, bukan Rabb-ku.
Mulai dari cara berpakaian. 
Ya. Aku perempuan dengan khimar(penutup kepala), terulur sampai dada inshaAllah, tapi kadang jilbab(pakaian yang menutup aurat) yang ku kenakan bukan yang sesuai dengan apa yang tertulis.
Tak sesuai tuntunan. 
Tanpa perlu kubahas pun siapa2 yang melihatku tahu benar aku belum benar. 
Selama ini kepantasanku kudasarkan pada apa yang dikenakan sebayaku, kepantasanku kudasarkan pada keenggananku mencari tahu yang benar. 
Lalu, cara berbicara. 
Berteriak, berucap kalimat yang sia-sia. 
Oh, sungguh menyedihkan apa-apa yang ditunjukkan si cermin kepadaku,sosok di dalamnya begitu mudah meninggikan nada bicara, kata sia-sia keluar seolah takkan ada pertanggungjawabannya kelak.

Kemudian hm akan sangat panjang jika ku rinci kesalahanku sendiri, banyak sekali cela yang baru aku sadar, atau mungkin baru ku akui adanya. (Maka sudah ya batere leptop uda mo abisss hehe)

Kini ketika memutuskan untuk mulai mengikuti standar baik-buruk yang sebenar-benarnya, aku baru merasakan. 
Sebuah perubahan tak datang dengan instan. 
Menyusuri jalan kebaikan itu tak selalu menyenangkan. 
Tapi bukankah selalu ada pertolongan bagi niat baik yang disegerakan? :))

with love,
Anggi

April 06, 2015

Mandiri.



Hai, Kemarilah

Duduk disampingku

Sembari menanti langit berbalut jingga
Jika kau bersedia

biarkan aku membagi cerita

Menuai betapa kelamnya satu sisi dalam diriku

Dulu

Beberapa hari ini ada percakapan yang menamparku
Percakapan penuh nada manja, keluhan dan ragam pinta
Mengingatkan tentang bagaimana aku di masa itu

Aku ingat ada kalimat ini sampai di telingaku
                anggi ini manja sekali, mana mungkin bisa hidup mandiri”
                “mau jadi apa nanti, kemana2 tak sanggup sendiri”
Ucapan mereka yang pelan
Bagaikan pil pahit yang harus ku telan
Ya
Dengan kesadaran penuh aku akui
Aku yang dulu memang tak sanggup berdiri diatas kaki sendiri
Hal kecil pun harus ditopang enam kaki
Aku , bapak dan ibu

Sampai, pernah suatu kali bapak berkata dengan lembut
“nduk, kamu harus bisa mandiri, bapak tidak hidup selamanya”
Ya
Karena Bapak yang kukenal adalah sosok yang tak pernah menolak pintaku
Bapak yang selalu menjadi penyebab bahagia diujung tangisku
Bapak yang tak tinggal diam saat tahu putrinya merasa terganggu
Oleh sekumpulan anak sebayanya saat itu
Bapak yang aku tahu pasti selalu memenuhi mauku
Bapak yang aku paham benar selalu berat hatinya,
Antara memenuhi mauku yang rupa-rupa
Atau mulai mengenalkanku pada kata mandiri yang sebenarnya

Bapak
Kini aku mengerti
Mengapa engkau selalu bicara panjang lebar
Untuk setiap pintaku  yang terwujud tak perlu tunggu waktu
Bapak hanya tak ingin aku disebut manja oleh orang-orang itu

Teruntuk Bapak yang selalu menyayangiku tanpa jemu,

Terimakasih.

Aku rindu.