September 28, 2014

Bagaimana?

Peka?
Apa itu? Seberapa penting?

hmmm... tunggu deeehh, peka yang ini bukan tentang gimana pekanya cowo ke cewe atau sebaliknya, intinya postingan ini bukan soal cinta-cintaan haha. /pembacakecewa/ /emangada?/ /pede/

Jadi setelah search di http://kbbi.web.id ini hasilnya:

Selama ini aku banyak dibilang gak peka, terlalu cuek, bahkan yang kejem lagi dibilang apatis.
haha ya makasih ya.
Padahal aku gak ada niatan sok cuek sok gak peduli pas ada di deket orang yang lagi punya masalah (agak) berat,karena menurutku mending aku diem aja daripada uda nanya segala macem demi memenuhi nafsu kepo ku tapi akhirnya gak bikin suasana lebih baik. Kecuali kalo dia memang bersedia bagi ceritanya ke aku, i'm a good listener, inshaAllah.

Memang ada yang bilang , seenggaknya tunjukkin rasa pedulimu lah dengan sekedar tanya atau ajak dia sharing soal masalahnya. ok , itu memang gak salah, aku juga setuju tapiiiiiii.........
Sebelum aku jadi se-gak-peka ini menurut mereka, aku sudah tau kok gimana rasanya pas dibilang "sabar ya, kamu harus ikhlas" atau "yang kuat ya, jangan nangis". Aku tau persis maksudnya baik, menguatkan, tapi masalahnya mereka cuma bilang tanpa pernah ngalami hal yang sama, pointless. Aku cuma ketawa sinis dalam hati. /anggikokjahat/

Padahal yaaa padahal, tiap ada yang keliatan lagi bermasalah gitu ya gak tega.
Keliatan-gak-mau-tau-nya aku bukan berarti aku gak peduli, tapi pengenku kalo aku tau masalahnya dia aku juga kudu bisa kasi saran yang bikin semua lebih baik. 
Dibalik keliatan-gak-peka-nya aku, aku berusaha gimana caranya jadi peka. Sebelum tanya dipikir lama-lama, dan negatifnya sampe kadang gak jadi tanya. 

Jadi pengen tanya,
Sudah seberapa pekanya kamu sampe bilang aku apatis?
Sudah tau rasanya dipukpukin dengan kata-kata manis tapi cuma "pemanis" belum?
Sudah pernah ditanya segala macem sampe rinci tapi setelah itu cuma ditanggepi "oh" belum?

Peka itu penting.
Sangat.
Dan tiap orang punya cara yang beda buat nunjukin kepekaannya sama sekitar.
Orang yang baik mungkin bakal langsung tanya dan kasih solusi.
tapi orang-yang-katanya-apatis kayak aku cuma bisa diem-diem ikut mikir dia kenapa, masalahnya seberat apa.

Mungkin.
Aku memang belum cukup peka.
atau bahkan aku sebenarnya belum benar-benar selesai dengan diriku sendiri.

September 26, 2014

Semoga


Aku butuh bapak.
Memang.
Tapi bapak sudah pulang.

Aku rindu.
Tak hanya sehari.
Setiap hari.

Karena meski tak di sisi.
Tapi menetap di hati.

Semoga akan lebih sering dipertemukan dalam mimpi.
Semoga juga akan dipertemukan dalam kedamaian suatu saat nanti.

Teruntuk bapak yang hanya pulang
bapak yang tak pernah pergi

Perjalanan

Kaki.
Sampai saat ini , masih satu-satunya yang aku punya.
Untuk menujumu.
Jalan.
Sampai saat ini, masih satu-satunya yang aku bisa.
Untuk menujumu.
Bukan masalah bagiku.
Tapi akan terlihat "so last year" dimata yang lain.

Mungkin ini cara-Nya menerangkan apa artinya berjuang.
Menikmati perjalanan yang sebenarnya.
Berusaha menapaki tiap langkah dengan apa yang dimiliki.
Dan tidak menjadikan lelah sebagai topeng pemicu rasa iba.

Karena pesan Bapak, lakukan sendiri apapun yang kamu mampu, jangan bergantung pada orang lain.
Semoga segalanya senantiasa dilancarkan.
Sampai tiba saatnya bisa menikmati perjalanan dengan cara yang lain.
Mengayuh sepeda ,misalnya.

September 25, 2014

Kembali


Agustus tahun itu sangat berbeda
Kebahagiaan idul fitri diselingi duka
Sehari sebelum usiaku genap  16 tahun
Hal biasa memang
Pasti menghampiri tiap manusia
Ketika seseorang harus kembali ke asalnya

Jauh, sangat jauh
Takkan kembali
Tapi masih mungkin bertemu
Meskipun entah kapan 
Dan akan seperti apa suasananya

Panggilan itu datang
Hari itu tiba

Hanya saja, terasa sesak di dada ketika itu….
Panggilan pulang untuk
Bapakku….
Kalian tau bagaimana rasanya?
Kehilangan sosok yang meneduhkan dan penuh cinta
Sekaligus tameng pelindung yang perkasa
Aku, kami dan mungkin semua yang mengenalnya  kehilangan sosok itu
Bapak sudah kembali
Ya, Bapak memang harus kembali
Karena Beliau memang milik-Nya
(Aku, 12-12-2012)


Berlebihan(?) 
Ya bisa jadi
Karena tak semua yang membaca pernah mengalami hal yang sama
hmm...anyway, aku lebih suka menyebut "bapak sudah pulang" atau "bapak sudah kembali"
daripada mengatakan "bapak sudah pergi".
Kenapa?
Karena bapak memang hanya pulang, bukan pergi.
Menurutku, pergi itu tak tentu kapan akan kembali bertemu.
Berbeda dengan pulang, itu berarti masih akan ada kesempatan bertemu~
Beberapa kali bapak menemuiku dalam mimpi
Indah sekali
Meski tanpa sepatah kata
Itu sudah merupakan hadiah luar biasa 
Bahkan kalau bisa aku ingin setiap malam bapak datang dalam mimpiku
Aku sering tiba-tiba terdiam diiringi genangan air mata 
Melihat orang lain bersenda gurau dengan bapaknya
Aku sering menangis sembunyi-sembunyi di rumah
Hanya ingin melepas rindu pada bapak tanpa ibu harus tahu
Sebab akan lebih sesak ketika menyadari bahwa ibu juga merasakan kerinduan yang sama
Dan masih harus berusaha tegar dihadapan putri satu-satunya ini

Kupikir aku ini kuat, ternyata ketika rindu datang aku harus menahan tangis kuat-kuat
(sebagian tulisan ini diketik di hotspot area asrama sembari mencegah air mata mengalir, haha)


Teruntuk bapak yang hanya pulang
bapak yang tak pernah pergi

Kangen


Aku sudah terbiasa
Makan nasi tanpa lauk bersamanya
Minum kopi dalam satu cangkir yang sama 
Menikmati pagi di kebun belakang  

Aku sudah terbiasa  
Menunggu berita TV bersamanya 
Meneguk kopi sembari melihat hujan dibalik jendela 
  
Aku sudah terbiasa 
Kehujanan bersamanya 
Bersembunyi dibalik punggungnya 

Aku sudah terbiasa
Diantar ke kamar mandi saat malam hari
Diambilkan rambutan dari ranting tertinggi 

Bapak 
Semua kenangan itu tidak lepas dari ingatan
Sekecil apapun 
Dalam keadaan sesulit apapun 
Akan tetap membahagiakan 
Jika itu bersamamu

miss you tons, dad~

September 23, 2014

Jadi... (part 2)

Hari pengumuman resmi kelulusan sekaligus wisuda.
Map sudah ditangan.
Buka sambil deg-degan.
Dan Jedaaaaaarr.
Ada nilai 2 ,ya DUA.
Rasanya sakit tapi kalah sama lega yang membuncah di dada.
Entah, disaat banyak tatapan iba, aku malah senyum-senyum tanpa beban.
Beberapa orang dekatku tau alasan kenapa tetap bahagia mendapat nilai yang menurut banyak orang itu aib.
Ya, nilai kecil yang merupakan sebagian cerminanku belajar selama ini.
Nilai kecil yang pantas diperoleh siswi pemuja sistem kebut semalam.
Meskipun sebenarnya bisa saja aku berteriak di muka mereka dengan suara lantang, aku punya kualitas langka dari nilai kecilku itu.
Tapi...
Untuk apa? toh aku melakukan itu bukan karena mereka.
Aku hanya ingin menjalani proses dengan baik.
Hasil akhir yang bagus itu bonus.
Meskipun hasil akhirku tak sepenuhnya bagus, tapi pasti ada bonus lain dari Sang Perencana.

Pengumuman SNMPTN.
Gagal.
Pupus harapan.
Nangis.
Kemudian aku sadar, kompilasi nilai rapor yang gak sepenuhnya "bersih"
Gak semua hasil belajarku. Ada nilai orang lain yang "kupinjam" disana.

Siap-siap SBMPTN dan UMDES.
Jujur, pilihan SBMPTNku samasekali bukan mauku.
Tapi tetep nekat.
Ngerjakan modal pede.
Beda SBMPTN, Beda lagi pas UMDES.
Suasana UMDES bikin gemeter banget, gedung robotika ITS penuh anak-anak yang mayoritas jago gambar.
Aku ngarep banget keterima lewat jalur reguler ini.
Tapi di sisi lain aku pesimis bisa lolos jadi 45 diantara 700an pendaftar.
Ngerjain gambar demi gambar dengan pikiran penuh harap.
Aku inget banget sebelum ngerjakan aku sms Ibuk minta doa restu~

Pengumuman SBMPTN dan UMDES di tanggal yang sama.
UMDES sekitar jam 2an.
SBMPTN jam 4.

Buka pengumuman UMDES dengan mulai memudarkan harapan~
Biar kalo ditolak gak sakit haha
dan muncul ini.






Terus SBMPTN nya apa kabar?
ga diterima haha, bersyukur.

Mungkin ini bonusnya.
Allah memang sangat sangat baik.
Aku hanya punya sedikit niat jadi lebih baik.
Tapi hadiahnya amat besar.
Aku tak selalu ada di jalan yang benar.
Namun peringatanNya tak pernah menyakitkan, selalu penuh kasih.
Semoga kesenangan ini tak melenakan.
Semoga aku sanggup menjaga tanggung jawab ini.

Berjuang memang pahit, sebab surga itu manis.

Jadi... (part 1)

Jadi...
inikah yang disebut berjuang?
hm sepertinya aku terlalu berlebihan.

throwback pas kelas XII~ masa-masa paling menarik dan ummm penuh liku *eaaaa*

"kok susah ya"
"ih apasih aku gak paham"
"jam istirahat lamanya"
"duh males ah"

Mungkin sebagian kalimat diatas sering keluar dari mulutku dulu. Mengeluh dan mengeluh.
Tugas menumpuk di awal semester.
Ulangan berderet.
Ujian Praktek mulai yang unyu sampe bikin emosi.
dan Jampi aka jam pembelajaran intensif.
Iya rasanya jam pembelajaran intensif itu lamaaaaaaaaaaaa banget haha.
Masuk kelas, kerjakan soal terus dibahas. dan aku selalu gagal paham sama kimia dan teman2nya, jadi mikir aku ini anak ipa apasih?
Terus tryout haha, selalu belajar sistem sks, ngerjakan sambil tidur dan doodling *bukan googling lo ya*
Daaan ya bisa dibayangin lah ya hasilnya kaya apa, hancur.
Setelah makin deket UN makin sadar aku harus bisa. Berubah. meskipun bisa dibilang sadarnya telat, tapi seenggaknya aku ada niat baik lah ya haha.
Mulai sering baca catatan mimpi yang panjang tapi belum satupun direalisasikan.
Mulai sering ngerjakan latihan soal meskipun loadingnya lama.
Mulai sering tanya temen-temen master soal yang ga ngerti meskipun ga jarang bikin mereka hopeless ngajari aku huahaha.
Dan yang paling ampuh bikin semangat adalah pas inget bapak ibuk, aku sekolah jauh-jauh dari pelosok desa *haha* ke kota masa iya gak bikin pencapaian yang bikin mereka bangga.
Kemudian inget gimana rasanya gagal masuk sekolah impian,ya sakit ya.
sejak itu, semangatku nambah~

Kabar buruknya adalah semakin aku rajin belajar gak berbanding lurus sama nilai tryoutku.
Semuanya sama.
Rasanya aku stuck disitu situ aja.
*mulai drama*

Yang aku inget,
Eat hard, Study harder, Pray hardest.
Disaat uda mepet ujian nasional, belajar juga uda (dirasa) maksimal, yang bisa dilakuin ya doa doa doa.
Meskipun aku sadar lah, rasanya temen-temenku berjuang lebih keras dari aku.
Mereka belajar lebih rajin daripada aku.
Bahkan mungkin mereka berdoa lebih sering daripada aku.

Hari pertama, kudu nangis.
Hari kedua, nangis
Hari ketiga, tambah deres nangisnya.

Pengumuman kelulusan.
SMA ku lulus 100%
Lega.
Seenggaknya aku Lulus.
Tapi..............................