September 06, 2025

sebenarnya ingin apa?

ternyata hingga kini saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang saya inginkan. selama kuliah dan bekerja, tujuannya hanya supaya berpenghasilan untuk melanjutkan hidup melalui sesuatu yang mampu saya kerjakan (menggambar dan membuat desain). saya pernah memelihara cita-cita sejak sarjana untuk melanjutkan kuliah sampai magister bahkan doktor, tapi hanya karena bayangannya bisa kuliah di luar negeri dan dekat dengan stadion-stadion liga inggris. supaya bisa nonton arsenal langsung. sebatas karena saya tidak punya pikiran lain bagaimana caranya tinggal di luar negeri dan nonton arsenal selain lewat jalur sekolah. shallow.

selepas sma dan benar-benar sendirian menentukan jurusan kuliah adalah pengalaman hidup paling liar bagi saya. jurusan kuliah adalah starting line bagi jalan karir ke depan. oh betul memang, kita selalu bisa memilih untuk switching career di tengah jalan, tapi lagi-lagi akan ada harga yang dibayar untuk itu. on my silent days, i wish i had someone to guide me choosing the prospective major and told me all the plus minus that time. saya tidak tahu kuliah desain itu mahal, tugas-tugasnya butuh biaya besar supaya kualitasnya baik dan tentunya menunjang fungsi + estetika, dua poin penting penilaian. saya tidak tahu bahwa industri di indonesia belum cukup mendukung kemapanan karir desainer produk. hingga lulusannya sangat agile bekerja di bidang-bidang lain mulai dalam lingkup desain hingga diluar desain. terbaca keren, namun tidak direkomendasikan untuk mahasiswa ekonomi kelas bawah yang ingin lekas bekerja mapan dan meningkatkan taraf hidup. sebab diakui atau tidak, jalan karirnya jelas tidak semulus jurusan-jurusan andalan well-established industry; teknik mesin, teknik informatika, kedokteran dsb.

saya jadi ingat perbincangan dengan salah seorang teman baik saya. kurang lebih seperti ini:

dengan semua pencapaian itu, kenapa kamu nggak lanjut bekerja jadi penulis saja?

"aku suka sekali menulis, itu hobi yang nyaman sekali buatku. aku tidak mau "pekerjaan" menjadikannya tidak nyaman lagi. menulis sebagai hobi dan pekerjaan itu pasti berbeda, akan ada tuntutan profesional yang mungkin membatasiku."

oh begitu ya...

bertahun kemudian saya baru bisa merenungkannya kembali. hobi adalah hal menyenangkan sebagai tempat kita lari dari kepenatan rutinitas, lepas dari hal-hal yang wajib, yang besar tanggung jawabnya. patah hati sekali rasanya ketika punya hobi dan bisa melakukannya dengan sangat baik, namun di perjalanannya lalu kita kehilangan antusiasme. meminjam kata marie kondo "it doesn't sparks joy anymore". sepertinya itu yang terjadi kini, ketika saya memilih bekerja sesuai passion. saya suka menggambar, bermain dengan warna, tata letak dan banyak model huruf. kesukaan saya membuat pekerjaan sebagai desainer grafis bearable di tengah tenggat waktu yang berkejaran.
tapi saat saya dihadapkan pada kertas kosong di waktu luang, pikiran saya tak sebebas dulu. aktivitas menggambar dan bermain warna tidak lagi senikmat dulu.
kalau saya mempertahankan hobi ini tetap sebagai hobi saja, kira-kira pekerjaan lain apa ya yang bisa saya kerjakan? duh, mana hobi ini telanjur membuahkan gelar akademik pula! apa iya mulai dari nol lagi ya, kak? hanya semata untuk melindungi hobi supaya tetap memancarkan sukacita?
wah tugas mengurai isi kepalanya jadi lebih panjang lagi, yaaa semangat deh! mungkin inilah saatnya mempelajari ikigai secara intensif, sepertinya cocok dengan keresahan saat ini. (wah sadar sendiri)

terasa sangat ganjil bahwa saya baru mempertanyakan ini semua di akhir 20an. seolah selama ini saya hidup autopilot. pertanyaan "kamu sebenarnya ingin apa?" bagi saya sejak dulu tak pernah sederhana. sering terlintas di kepala namun hanya untuk mengurainya saja, saya tak bernyali. karena semua yang diinginkan manusia selalu ada harganya.

harga.

inilah salah satu ketakutan besar dalam diri saya. lahir dan tumbuh besar dalam kondisi tidak ideal membuat saya sadar bahwa harga sebuah mimpi itu besar sekali. materiil dan immateril. lalu ketika saya sudah dewasa dan bisa menentukan kemana larinya uang dalam genggaman, selalu ada perhitungan-perhitungan, ketakutan, dan insting bertahan.
kalau diulas balik perjalanan kecil 2019-2023 kemarin sungguh sangat nekad. betapa saya dengan berani menempuh "perjalanan mahal" dengan hasil yang belum tentu setia dengan usaha hahaha. 
tiba-tiba masa muda habis karena sibuk mempertahankan pekerjaan sambil mengejar mimpi. wah, pada satu titik saya benar-benar harus memilih mana yang harus dilepas sementara. tapi hidup terkadang terlalu tega untuk mimpi-mimpi kita. realitas membuat kita harus mengerti, kapan mimpi lama harus dihentikan karena nasib memaksa untuk berjalan ke arah yang lain. (timun jelita, raditya dika)

sekarang saya punya sedikit keleluasaan untuk menepi, memetakan isi kepala dan banyak-banyak refleksi diri (shout out to my husbando!). saya jadi punya pilihan lebih banyak. ya, dulu pilihan saya hanya bekerja atau bekerja lagi setelah bekerja, lol. saya sulit punya pause time untuk berpikir dan banyak menulis (sebagai sarana memetakan isi kepala).
ternyata rerouting dan menata kembali visi ke depan ini adalah aktivitas seumur hidup, ya! 
dulu saat remaja, saya bertanya-tanya, kalau nanti dewasa dan cita-citanya sudah tercapai, lalu apa?happy ending itu hanya closure untuk sepenggal kisah hidup manusia. sementara itu, ternyata kita punya banyak sekali kisah dalam satu perjalanan panjang ini.
tidak apa-apa jika dalam perjalanannya, mimpi kita berubah, bertambah, berganti warna atau bahkan ditinggalkan. semoga selalu tersisa nyali untuk mempertanyakan "sebenarnya ingin apa?" lalu mengurainya dengan baik. 

namun, privilese ini juga meninggalkan satu pertanyaan besar di kepala, kira-kira suami saya punya berapa banyak mimpi ya, yang sebenarnya Ia inginkan, yang juga belum pernah diurai sempurna. lalu akhirnya ditinggalkan dan menjalani hidup sebagaimana lelaki pada umumnya. sampai akhirnya bisa memberikan kesempatan seistimewa ini pada saya.
i hope he finds his peace, as the abundance peace he gave me. i hope we find the peace together. one by one, step by step, pixel by pixel. insyaAllah. selamat satu tahun pernikahan.

selamat berjalan dan terus menguraikan isi kepala. semoga tumbuh dilingkupi cinta dan rasa syukur.

salam,
a

Bangkok Days

    Menyambung tulisan sebelumnya soal rangkaian liburan ke Thailand (setahun lalu) yang transit di Singapore itu. Akhirnya kami mulai menyadari ini adalah liburan berdua pertama kali, dan ke luar negeri. Yah, dengan persiapan liburan yang singkat dan setelah serangkaian acara yang padat itu, mengembalikan konsentrasi dan kesadaran nampak jadi pekerjaan rumah kami berdua. Jika ulasan orang tentang Bangkok adalah mirip Jakarta, mungkin saya bisa setuju ketika pertama kali mendarat di Suvarnabhumi. Segala hal selain bahasa masih terasa familiar, yaiyalah masih Asia ini. Deeeuuh~ 

Hari Pertama (17 Agustus 2024)
    Kami sampai pukul 20.40 di Bangkok. Dari Suvarnabhumi ke airbnb yang direncanakan pakai SRT & BTS mendadak batal karena kami berdua sudah lelah. Akhirnya menuju airbnb dengan grabcar. Tarif grabcar di Bangkok bisa kami bilang masih terjangkau, karena jika tidak pastinya kami akan memilih tetap naik transum walau sudah lelah HAHAHA
    Di jalan kami bertanya dan meminta tolong pada sopir untuk berhenti di 7-eleven. Alhamdulillah sopir paham dan berbaik hati menunggu kami belanja air dan makanan sebentar. Kami takjub menemui air mineral berukuran 6 liter, yang rasanya cukup praktis dibeli turis PaHe seperti kami. 
    Sampai di area apartemen sekira hampir tengah malam. Kami mengikuti step-by-step yang telah diuraikan pemilik airbnb. Mengingat penyewaan airbnb untuk jangka pendek sebenarnya banyak menjadi persoalan di berbagai negara, kami harus bersikap ekstra hati-hati dan sebisa mungkin berperilaku tidak seperti pendatang. Setelah mengambil kunci di loker, masuk pintu otomatis menuju lift, akhirnya kami sampai di unit yang telah kami sewa untuk beberapa hari ke depan. Kami membongkar koper, bebersih diri lalu makan dan minum secukupnya. Perjalanan panjang hari itu diakhiri dengan tidur nyaman di kasur dan suhu AC yang sesuai preferensi.

Hari Kedua (18 Agustus 2024)
    Kami memulai hari vakansi efektif cukup siang, sekira pukul delapan lebih baru keluar apartemen. Kami naik grabcar ke NANA Coffee Roastery. Perhentian pertama ini adalah agenda perkopian suami, salah satu rekomendasi dari temannya. Suasana tempat kopi ini lumayan fancy, sejak awal kami tiba, di pelataran telah terparkir deretan mobil-mobil mewah. Sampai di dalam juga kursinya cukup padat, bertemu beberapa turis asal Indonesia juga. Baik interior maupun eksteriornya instagrammable di segala sisi. Harga kopi dan kudapannya juga cukup mahal, nampaknya sesuai dengan target marketnya (berdasar mobil-mobil di parkiran tadi).
    Setelah usai mengganjal perut di tempat kopi (lumayan) mewah, kami berjalan menuju jalan utama dan naik BTS ke Chatuchak. Yah, walau bukan yang pertama dituju namun, tujuan utama kami hari ini adalah ke Pasar Chatuchak yang tersohor itu. Sampai di stasiun Mo Chit, kami berjalan menuju pasar yang keramaiannya sudah terasa dari jauh. Suasananya mengingatkan pada pasar wisata yang ada di area candi-candi di Indonesia. Banyak sekali stall dengan beragam barang ataupun makanan. Kami beli beberapa figur keramik gajah, manisan dan sedikit oleh-oleh. Ketika waktu dhuhur tiba kami menuju mushola yang ada di dalam pasar. Tempatnya bersih dan adem. Bertemu locals yang ramah di dalam mushola (sepertinya adalah pedangan di pasar), saling menyapa dengan mengucap salam dan ditanya asal mana. Usai sholat kami makan siang di stall halal, kami pesan makan thai chicken basil rice, mango sticky rice, crab fried rice dan minum es thai tea (minum thai tea di Thailand #moment).
    Setelah puas (capek) mengelilingi setiap sudut chatuchak, kami kembali naik BTS untuk menuju ke Beaker and Bitter (agenda perkopian suami). Tempatnya cukup masuk ke dalam area pemukiman, dari stasiun BTS terdekat menuju lokasi harus jalan cukup jauh. Sempat melewati kantor National Broadcasting and Telecommunications Commission yang tampak megah. Salah satu gegar budaya saat sampai Bangkok adalah betapa banyaknya foto-foto Raja yang dipajang di kantor-kantor pemerintahan. Tidak hanya di dinding dalam ruangan, tapi seukuran banner beeeeeesaaaaarrrr di gedung tinggi. Lalu kembali ke Beaker and Bitter lagi, konsepnya one of a kind sih! Alih-alih kedai kopi industrial atau japandi concept pada umumnya, masuk kesana rasanya seperti masuk ke dalam laboraturium. Seperti jadi objek penelitian dan berada di tempat super higienis. Warna putih dan metalik silver mendominasi. Seperti namanya, banyak beaker glass yang jadi dekorasi. Daaaan yap! setelah googling barusan, konon memang dulu tempat ini adalah pabrik obat New York Chemical di 1967 yang kini disulap menjadi kedai kopi. Suasananya nyaman untuk belajar atau kerja. Ada ruangan yang bisa disewa para digital nomads untuk meeting atau simply kerja bareng. Oh ya! Cheesecakenya mantap.
    Sore jelang malam, kami ke Jodd fair, tempatnya seperti pasar malam, hanya saja isinya penuh kedai makanan tanpa ada wahana permainan. Kami makan olahan laut, judul menunya seafood bloom. Suasananya tak jauh berbeda dengan makan olahan laut di Jakarta, namun rasa bumbunya cukup berbeda. Ada rasa khas yang hanya saya temui di masakan-masakan Thailand. Sayangnya, sebagai penyantap hidangan biasa saja (bukan foodvlogger) saya belum bisa memastikan itu rasa dari rempah/bahan apa. Mungkin basil, mungkin kecap ikannya. Entah. Kami juga jajan crispy squid yang seukuran dua kali telapak tangan saya. Pulangnya kami beli durian dan ketika sampai airbnb, itu adalah durian paling enak yang pernah kami makan. Tanpa bermaksud berlebihan, tapi durian Thailand memang next level rasanya. Pernah makan durian Thailand beku yang dijual di food hall, tapi tentu saja yang segar non frozen rasanya lebih nikmat dan legit!


Hari Ketiga (19 Agustus 2024)
    Hari ini kami pasang mode full turis, tujuan pertama adalah Wat Arun. Kami menuju kesana dengan BTS dan grabcar. Suasana yang panas sekali membuat kami membeli payung di 7-eleven terdekat. Payung yang akhirnya bahkan tak sempat digunakan, karena kelalaian saya meninggalkannya di dalam taksi. HAAAAAAH.
    Sampai di area Wat Arun yang cantik dan megah itu sekira pukul 11 siang. Masuk ke dalam hanya bisa membayar tiket dengan uang cash, kami diberi karcis dan air minum berlogo Wat Arun.
Suasananya sudah ramai saat kami tiba, hal ini membuat kami susah dapat spot foto menarik. Selain itu, memang banyak jasa foto yang "menguasai" area-area tertentu. Jadi kalau mau (banget) dapat foto instagrammable di Wat Arun, sepertinya opsi terbaik adalah menggunakan jasa foto. Hal lain yang bisa dijadikan hikmah dari perjalanan kami adalah sampai ke tempat wisata di tengah hari tidak direkomendasikan. Panasnya luar biasa dan cahaya foto jadi kurang bagus. 
    Setelah dirasa cukup mengelilingi area Wat Arun, kami antri naik perahu dan menyeberang ke area Wat Phra. Tapi kami tidak masuk ke dalam Wat Phra, hanya berjalan di sekeliling luar pagarnya. Sebab agenda kami selanjutnya adalah makan es krim nattaporhn di kawasan old town. Kami pesan es krim rasa mangga dan thai tea. Rasanya enak, sungguh menjadi pendingin di tengah panasnya Bangkok hari itu. Bukan hari terbaik kami karena (sedikit) sama-sama emosi di jalan. Pelajarannya adalah OH ternyata berjalan di bawah terik matahari (di tempat asing) bukan liburan ideal bagi mental kami berdua HAHAHAH.


Hari Keempat (20 Agustus 2024)
    Hari ini diawali dengan agenda perkopian suami (lagi). Pagi-pagi kami menuju Factory Coffee yang letaknya di dekat stasiun BTS Phaya Thai. Wah nampaknya ini toko kopi viral ya, saat kami datang antrean dine-in sudah cukup panjang (tapi masih oke, untuk pemalas seperti saya). Saya pesan es coklat dan kue. Beli stiker lucu juga untuk dibawa pulang (yay, luvvv stikerrr)
    Setelah itu lanjut ke mall Siam Paragon dengan tujuan Kinokuniya! Senang sekali akhirnya mencium wangi halaman buku lagi hahaha, saya beli tiga buku. Dua buku soal bunga dan satu fiksi karya penulis lokal. Keinginan saya adalah beli buku fiksi karya penulis lokal setiap pergi ke suatu negara. (yaAllah padahal baru juga pergi ke SATU negara lain) (namanya juga mimpi)
    Mall Siam Paragon bagus dan mewah sekali, lantainya licin sebagaimana umumnya mall "luxury" hahahah. Hari itu tidak banyak pergi ke tempat wisata, hanya berjalan-jalan di area mall satu ke mall lain (anjay mall hopping). Makan pun juga di food court mall. Pulang pergi naik BTS seperti biasa, di jalan pulang juga sempat makan tanghulu stroberi yang di beli di stasiun BTS.


Hari Kelima (21 Agustus 2024)
    Pagi itu kami memulai hari dengan naik grab ke Buriram United shop yang jaraknya sekitar 20-an kilometer dari airbnb kami. Demi merchandise klub sepakbola lokal. Setelahnya kami sempat pulang dulu dan bersantai sejenak. Selain agenda belanja merch bola, tujuan kami hari ini juga hanya berkisar soal jalan di mall dan lihat-lihat (atau belanja kalau ada yang oke)
    Kami makan padthai enak di Tummour. Harganya cukup pricey namun setara dengan porsi yang segunung-kidul itu. Rasanya juga tidak mengecewakan. Cukup untuk bahan bakar mlaku sedino.
Selain makan besar kami juga mencicipi rasanya ngafe After You di Platinum mall. Ya, After You yang milkbunnya sempat viral dijastipin itu. Oh ya memang rasanya enak. Kue-kuenya lembut, manisnya tidak terasa lebay dan sakit di gigi-tenggorokan. Kami beli strawberry and cream croffle, kopi, milkbun dan kukis. Di mall, saya juga masuk ke moshimoshi (konsepnya semacam miniso, banyak barang dengan tema-tema seasonal). Harganya juga cukup terjangkau, lumayan alternatif oleh-oleh stationeries dan barang lucu. Seperti hari-hari lainnya di Bangkok, entah itu mengawali atau mengakhiri hari, kami selalu pergi ke 7-eleven. Hari itu saya makan tao kae noi rasa tomat, enak sekali!!!


Hari Keenam (22 Agustus 2024)
    Tujuan kami di hari efektif terakhir dalam liburan ini adalah untuk makan all you can eat di sunset cruise sungai Chao Praya. Jadwalnya sore hari yah obviously namanya juga SUNSET cruise ya pemirsa. Jadi kami masih punya seharian untuk jalan-jalan sambil tunggu waktu.
    Pagi kami mulai dengan pergi ke agenda perkopian satu: Pobnar Specialty Coffee and Roastery. Tempatnya ada di dalam gang kecil. Kami sempat salah masuk gang dan berujung sampai di pintu dapur kedainya haha. Di dalam kedai kopi terasa homey, ukurannya relatif kecil namun cukup penuh pengunjung. Dari pakaiannya mayoritas sepertinya pekerja kantor, karena lokasinya juga berada di sekitar area perkantoran. 
    Selanjutnya kami lanjut ke agenda perkopian dua: Mother Roaster Talad Noi. Ini salah satu kedai kopi paling nyentrik sih dari segi tempat. Jadi, kedainya ada di lantai dua, lantai satunya (terlihat) seperti area pengepul barang bekas. Walau telah ditata cukup rapi, barang-barang bekas di lantai satu ini bau apek debu dan aroma khas besi berkaratnya masih cukup kuat. Jujur saya tidak nyaman, untungnya lantai satu itu hanya sebagai tempat lewat saja. Suasana dalam kedai di lantai dua seperti toko kopi pada umumnya, lumayan dingin, didominasi aroma biji kopi walau saya akhirnya tetap pesan dan minum matcha latte. Cukup banyak sudut dan benda yang instagrammable pada dua kedai kopi diatas.
    Selanjutnya kami langsung menuju Asiatique the Riverfront untuk jalan-jalan sambil menunggu jadwal naik sunset cruise. Karena masih siang dan kami belum makan besar, sedangkan makan ayce masih nanti sore, maka kami maksi di area food court. Pilihan makanan halalnya banyak, tapi cukup panas karena tempat ini adalah open-air mall (Pasar but make it fancy, lol). Makanannya enak dengan porsi yang cukup. Letak mushola mudah dijangkau dan tempatnya juga bersih.
    Tibalah waktu yang ditunggu, untuk masuk ke dalam kapal, karcis kami sudah ditentukan lantai dan tempat duduknya. Di kapal yang saya tumpangi, ada dua lantai, lantai bawah indoor dan lantai atas outdoor. Kami dapat di lantai bawah indoor. Makanan mulai bisa dinikmati setelah semua penumpang duduk dan pramugari/a menjelaskan SOP. Makanannya beragam, bintang utamanya sih seafoodnya ya. Beda juga rasanya naik kapal bagus sambil makan cantik dengan naik perahu kayu waktu nyebrang dari Wat Arun ke Wat Phra itu hahaha. 
    Sampai di unit airbnb kami membereskan koper, dapur dan kamar. Juga memastikan kulkas dalam kondisi kosong sebelum ditinggal pulang besok. Packing pulang tidak makan waktu cukup lama, semua bawaan bisa masuk koper karena sudah beli satu koper baru LOL.


Hari Ketujuh (23 Agustus 2024)
    Karena ini adalah hari terakhir dari rangkaian liburan pertama kami, jadi tentu tidak ada jadwal selain memastikan semua barang bawaan disusun dengan rapi dan siap caw.
Sebelum pulang kami tidak lupa mampir 7-eleven lagi. Beli ciki yang rasa-rasanya tidak ada di Indonesia hahaha. Kami menuju bandara dengan grab. Sampai di Bandara beli Chatramue (yang sekarang buka gerai Indonesia, tapi di Surabaya HAHAHA). 
    Kami pulang dengan pesawat direct. Keputusan yang bagus karena tidak terbayang capeknya kalau harus transit lagi dengan bawaan segambreng. Pertama kali naik Thai Airways yang terkenal cukup baik pelayanannya, dan terbukti. Makanan di pesawat enak, pilihan entertainment di layar kursinya juga cukup update (saya nonton film the pope's exorcist deh kalau tidak salah ingat, yang jelas film horor barat). Menurut suami saya yang pengalaman naik pesawatnya jauh lebih banyak, take-off dan landing-nya Thai Airways ini salah satu yang paling mulus.



    Merangkum tujuh hari dalam satu tulisan blog butuh usaha luar biasa ya, terlebih ini sudah berlalu. Seharusnya ditulis langsung setelah selesai liburan, yah apa daya manusia yang lemah (malas) ini. Sekian, semoga ada hal baik yang bisa diambil jika anda tidak sengaja membaca tulisan ini sampai habis. Terima kasih!

Salam,
A.

Rekreasi Singkat Berkedok Transit

    Ditengah sesi membaca yang sering kedistrek banyak hal itu, saya terpikir lho kenapa sampai sekarang belum menulis pengalaman pertama yang paling diinginkan sejak lama ini. Pergi ke luar negeri. Ya, beberapa tahun lalu saya bahkan giat mencari sekolah dan beasiswa supaya bisa merasakan tinggal di yurop LOL. Jadi hari ini, berbekal itinerary, foto dan catatan jurnal saya berusaha kembali merekam perjalanan pertama ke luar negeri setahun lalu itu dalam tulisan. (walau bukan untuk sekolah, walau bukan yurop)

    Seminggu setelah acara pernikahan, kami langsung tancap gas preian karena GOSH! menyiapkan acara itu lumayan bikin pening ya walau sudah terlatih jadi panitia waktu kuliah LOL. Rencana liburan kami dirancang dengan cepat dan tentu tidak 100% mindful hahaha. Sebenarnya kami berdua tidak punya ide liburan setelah menikah. Jangankan ke luar negeri, melihat setiap invoice vendor nikah saja sudah bikin lemas. Namun akhirnya terciptalah itinerary itu. Nekat, supaya pernah dan mumpung ada nyali serta ongkosnya. Jadi tujuan liburannya 8 hari 7 malam menuju Thailand, sudah termasuk perjalanan PP dan transit 18 jam di Singapura pada hari pertama.
Kenapa Thailand? karena dari segi harga hotel, makanan dan transportasi, Bangkok tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Begitu ulasan yang saya baca dan tonton dari banyak blog dan vlog pelancong.

    Jakarta ke Singapura kami naik Jetstar, low-cost airline andalan warga biasa. Pertama kali mendarat di Singapura saya belum merasa asing, sebab suasana bandara Changi yang tersohor itu sudah acapkali saya lihat dalam unggahan foto teman-teman. Bersih dan rapi adalah kesan pertama yang saya rasakan saat melihatnya sendiri. Bukan tujuan utama perjalanan kali itu memang, namun waktu 18 jam transit memang sengaja kami ambil sebagai win-win solution. Satu, bisa tidur di bandara dengan tenang karena berstatus penumpang transit. Harga hotel di Singapura begitu mengancam bagi warga biasa dari negara ketiga seperti kami. Dua, tetap bisa keluar bandara menghabiskan pagi-siang di kota. Bagi kami yang pertama kali ke luar negeri, momen transit di Singapura ini tetap terasa seperti bagian dari liburan.

    Mendarat lewat tengah malam di Changi, kami mengisi botol dengan tap water dan tidur ngemper menunggu pagi. AC Changi saat malam dingin sekali, memakai jaket dan kaus kaki sangat membantu menghangatkan tubuh. Ketika pagi tiba, kami bersiap keluar bandara dengan kereta. Sebelum lanjut naik kereta kami menitipkan koper di Smarte Carte. Berbekal kartu Singapore Tourist Pass seharga 17 SGD untuk 1 hari penuh kami bisa naik bus, MRT dan LRT. Tujuan pertama kami pagi itu adalah Jewel Changi untuk melihat air terjun indoor. Suasana masih cukup lengang dan memungkinkan untuk punya foto bagus. Kalau hasilnya kurang ya memang itu faktor kamera dan kemampuan kami saja.

    Lanjut naik kereta menuju kota, kami turun di stasiun MRT raffles place. Lalu jalan di sekitar Boat Quay, duduk-duduk di pinggir kali Singapura sambil makan buah potong dan lihat burung-burung. Hari itu tidak terlalu panas karena banyak awan menyelimuti. Jadi nyaman sih karena katanya panas Singapura lumayan menyengat, tapi juga sedikit cemas kalau hujan tiba-tiba karena payungnya ada di dalam koper yang ditinggal di penitipan barang itu. Lanjut ke tujuan berikutnya yang turis banget, area patung Merlion. Cukup ramai walau masih pagi. Sejauh mata memandang banyak sekali gedung megah.  Tak seperti lirik lagu Ekspektasi yang "foto postingannya dengan yang aslinya berbeda", Singapura ini tepat seperti apa yang dipotret media. Megah dan tertata rapi.

    Setelah jalan dan foto-foto sebagaimana turis pada umumnya, lanjut ke halte nunggu bus menuju Selegie Rd. Tujuan kami kesini adalah mengunjungi Apartment Coffee, sebuah kedai kopi yang masuk world's best coffee shop. Sebagai istri dari penggemar kopi ya ikut saja~ Kami bahkan sampai sebelum gantungan sign "CLOSE" dibalik jadi "OPEN" alias sek tutup. Menunggu tak terlalu lama, kami disambut dengan hangat oleh barista, dijelaskan singkat soal biji kopi dan penyajiannya. Tempatnya nyaman, minimalis ala japandi style. Tidak seperti kedai kopi Indonesia yang menyediakan WiFi dan colokan for free, disini hanya dapat apa yang dibeli hehe mungkin budaya yang berbeda atau memang itulah wajarnya hidup di negara yang living costnya setinggi langit.

    Setelah selesai dengan agenda (sebenarnya utama) perkopian suami. Kami lanjut naik bus menuju Bugis Street untuk bertemu teman. Sampai di Bugis+ kami langsung menuju toilet. Oh ya! Omong-omong soal toilet, ternyata tidak semua toilet di Singapura lengkap dengan jet shower ya hahaha huft. Lalu dengan PD kami masuk ke CoCo Ichibanya yang di Indonesia sudah pernah kami cicipi menunya. Ups, tapi ternyata chain di Singapura ini non-halal. Baiknya, uncle waiter memberi info dengan sopan pada kami. Jadi siang itu akhirnya kami makan onigiri 7-eleven saja hahaha. Lalu ditemani Blessy, teman kerja saya dari India, kami menyusuri area Bugis Street untuk membeli oleh-oleh dan tidak lupa foto-foto (jangan lupakan jati diri sebagai turis!!!)
Cukup lama kami menghabiskan waktu di Bugis sampai sore dan gerimis mulai turun, kami berpamitan dengan Blessy dan kembali ke bandara.

    Pesawat menuju Bangkok boarding jam 18:35, kami naik Jetstar part 2. Bangkok days akan ada di tulisan selanjutnya (jyakh).



Salam,
A.