Menyambung tulisan sebelumnya soal rangkaian liburan ke Thailand (setahun lalu) yang transit di Singapore itu. Akhirnya kami mulai menyadari ini adalah liburan berdua pertama kali, dan ke luar negeri. Yah, dengan persiapan liburan yang singkat dan setelah serangkaian acara yang padat itu, mengembalikan konsentrasi dan kesadaran nampak jadi pekerjaan rumah kami berdua. Jika ulasan orang tentang Bangkok adalah mirip Jakarta, mungkin saya bisa setuju ketika pertama kali mendarat di Suvarnabhumi. Segala hal selain bahasa masih terasa familiar, yaiyalah masih Asia ini. Deeeuuh~
Hari Pertama (17 Agustus 2024)
Kami sampai pukul 20.40 di Bangkok. Dari Suvarnabhumi ke airbnb yang direncanakan pakai SRT & BTS mendadak batal karena kami berdua sudah lelah. Akhirnya menuju airbnb dengan grabcar. Tarif grabcar di Bangkok bisa kami bilang masih terjangkau, karena jika tidak pastinya kami akan memilih tetap naik transum walau sudah lelah HAHAHA
Di jalan kami bertanya dan meminta tolong pada sopir untuk berhenti di 7-eleven. Alhamdulillah sopir paham dan berbaik hati menunggu kami belanja air dan makanan sebentar. Kami takjub menemui air mineral berukuran 6 liter, yang rasanya cukup praktis dibeli turis PaHe seperti kami.
Sampai di area apartemen sekira hampir tengah malam. Kami mengikuti step-by-step yang telah diuraikan pemilik airbnb. Mengingat penyewaan airbnb untuk jangka pendek sebenarnya banyak menjadi persoalan di berbagai negara, kami harus bersikap ekstra hati-hati dan sebisa mungkin berperilaku tidak seperti pendatang. Setelah mengambil kunci di loker, masuk pintu otomatis menuju lift, akhirnya kami sampai di unit yang telah kami sewa untuk beberapa hari ke depan. Kami membongkar koper, bebersih diri lalu makan dan minum secukupnya. Perjalanan panjang hari itu diakhiri dengan tidur nyaman di kasur dan suhu AC yang sesuai preferensi.
Hari Kedua (18 Agustus 2024)
Kami memulai hari vakansi efektif cukup siang, sekira pukul delapan lebih baru keluar apartemen. Kami naik grabcar ke NANA Coffee Roastery. Perhentian pertama ini adalah agenda perkopian suami, salah satu rekomendasi dari temannya. Suasana tempat kopi ini lumayan fancy, sejak awal kami tiba, di pelataran telah terparkir deretan mobil-mobil mewah. Sampai di dalam juga kursinya cukup padat, bertemu beberapa turis asal Indonesia juga. Baik interior maupun eksteriornya instagrammable di segala sisi. Harga kopi dan kudapannya juga cukup mahal, nampaknya sesuai dengan target marketnya (berdasar mobil-mobil di parkiran tadi).
Setelah usai mengganjal perut di tempat kopi (lumayan) mewah, kami berjalan menuju jalan utama dan naik BTS ke Chatuchak. Yah, walau bukan yang pertama dituju namun, tujuan utama kami hari ini adalah ke Pasar Chatuchak yang tersohor itu. Sampai di stasiun Mo Chit, kami berjalan menuju pasar yang keramaiannya sudah terasa dari jauh. Suasananya mengingatkan pada pasar wisata yang ada di area candi-candi di Indonesia. Banyak sekali stall dengan beragam barang ataupun makanan. Kami beli beberapa figur keramik gajah, manisan dan sedikit oleh-oleh. Ketika waktu dhuhur tiba kami menuju mushola yang ada di dalam pasar. Tempatnya bersih dan adem. Bertemu locals yang ramah di dalam mushola (sepertinya adalah pedangan di pasar), saling menyapa dengan mengucap salam dan ditanya asal mana. Usai sholat kami makan siang di stall halal, kami pesan makan thai chicken basil rice, mango sticky rice, crab fried rice dan minum es thai tea (minum thai tea di Thailand #moment).
Setelah puas (capek) mengelilingi setiap sudut chatuchak, kami kembali naik BTS untuk menuju ke Beaker and Bitter (agenda perkopian suami). Tempatnya cukup masuk ke dalam area pemukiman, dari stasiun BTS terdekat menuju lokasi harus jalan cukup jauh. Sempat melewati kantor National Broadcasting and Telecommunications Commission yang tampak megah. Salah satu gegar budaya saat sampai Bangkok adalah betapa banyaknya foto-foto Raja yang dipajang di kantor-kantor pemerintahan. Tidak hanya di dinding dalam ruangan, tapi seukuran banner beeeeeesaaaaarrrr di gedung tinggi. Lalu kembali ke Beaker and Bitter lagi, konsepnya one of a kind sih! Alih-alih kedai kopi industrial atau japandi concept pada umumnya, masuk kesana rasanya seperti masuk ke dalam laboraturium. Seperti jadi objek penelitian dan berada di tempat super higienis. Warna putih dan metalik silver mendominasi. Seperti namanya, banyak beaker glass yang jadi dekorasi. Daaaan yap! setelah googling barusan, konon memang dulu tempat ini adalah pabrik obat New York Chemical di 1967 yang kini disulap menjadi kedai kopi. Suasananya nyaman untuk belajar atau kerja. Ada ruangan yang bisa disewa para digital nomads untuk meeting atau simply kerja bareng. Oh ya! Cheesecakenya mantap.
Sore jelang malam, kami ke Jodd fair, tempatnya seperti pasar malam, hanya saja isinya penuh kedai makanan tanpa ada wahana permainan. Kami makan olahan laut, judul menunya seafood bloom. Suasananya tak jauh berbeda dengan makan olahan laut di Jakarta, namun rasa bumbunya cukup berbeda. Ada rasa khas yang hanya saya temui di masakan-masakan Thailand. Sayangnya, sebagai penyantap hidangan biasa saja (bukan foodvlogger) saya belum bisa memastikan itu rasa dari rempah/bahan apa. Mungkin basil, mungkin kecap ikannya. Entah. Kami juga jajan crispy squid yang seukuran dua kali telapak tangan saya. Pulangnya kami beli durian dan ketika sampai airbnb, itu adalah durian paling enak yang pernah kami makan. Tanpa bermaksud berlebihan, tapi durian Thailand memang next level rasanya. Pernah makan durian Thailand beku yang dijual di food hall, tapi tentu saja yang segar non frozen rasanya lebih nikmat dan legit!
Hari Ketiga (19 Agustus 2024)
Hari ini kami pasang mode full turis, tujuan pertama adalah Wat Arun. Kami menuju kesana dengan BTS dan grabcar. Suasana yang panas sekali membuat kami membeli payung di 7-eleven terdekat. Payung yang akhirnya bahkan tak sempat digunakan, karena kelalaian saya meninggalkannya di dalam taksi. HAAAAAAH.
Sampai di area Wat Arun yang cantik dan megah itu sekira pukul 11 siang. Masuk ke dalam hanya bisa membayar tiket dengan uang cash, kami diberi karcis dan air minum berlogo Wat Arun.
Suasananya sudah ramai saat kami tiba, hal ini membuat kami susah dapat spot foto menarik. Selain itu, memang banyak jasa foto yang "menguasai" area-area tertentu. Jadi kalau mau (banget) dapat foto instagrammable di Wat Arun, sepertinya opsi terbaik adalah menggunakan jasa foto. Hal lain yang bisa dijadikan hikmah dari perjalanan kami adalah sampai ke tempat wisata di tengah hari tidak direkomendasikan. Panasnya luar biasa dan cahaya foto jadi kurang bagus.
Setelah dirasa cukup mengelilingi area Wat Arun, kami antri naik perahu dan menyeberang ke area Wat Phra. Tapi kami tidak masuk ke dalam Wat Phra, hanya berjalan di sekeliling luar pagarnya. Sebab agenda kami selanjutnya adalah makan es krim nattaporhn di kawasan old town. Kami pesan es krim rasa mangga dan thai tea. Rasanya enak, sungguh menjadi pendingin di tengah panasnya Bangkok hari itu. Bukan hari terbaik kami karena (sedikit) sama-sama emosi di jalan. Pelajarannya adalah OH ternyata berjalan di bawah terik matahari (di tempat asing) bukan liburan ideal bagi mental kami berdua HAHAHAH.
Hari Keempat (20 Agustus 2024)
Hari ini diawali dengan agenda perkopian suami (lagi). Pagi-pagi kami menuju Factory Coffee yang letaknya di dekat stasiun BTS Phaya Thai. Wah nampaknya ini toko kopi viral ya, saat kami datang antrean dine-in sudah cukup panjang (tapi masih oke, untuk pemalas seperti saya). Saya pesan es coklat dan kue. Beli stiker lucu juga untuk dibawa pulang (yay, luvvv stikerrr)
Setelah itu lanjut ke mall Siam Paragon dengan tujuan Kinokuniya! Senang sekali akhirnya mencium wangi halaman buku lagi hahaha, saya beli tiga buku. Dua buku soal bunga dan satu fiksi karya penulis lokal. Keinginan saya adalah beli buku fiksi karya penulis lokal setiap pergi ke suatu negara. (yaAllah padahal baru juga pergi ke SATU negara lain) (namanya juga mimpi)
Mall Siam Paragon bagus dan mewah sekali, lantainya licin sebagaimana umumnya mall "luxury" hahahah. Hari itu tidak banyak pergi ke tempat wisata, hanya berjalan-jalan di area mall satu ke mall lain (anjay mall hopping). Makan pun juga di food court mall. Pulang pergi naik BTS seperti biasa, di jalan pulang juga sempat makan tanghulu stroberi yang di beli di stasiun BTS.
Hari Kelima (21 Agustus 2024)
Pagi itu kami memulai hari dengan naik grab ke Buriram United shop yang jaraknya sekitar 20-an kilometer dari airbnb kami. Demi merchandise klub sepakbola lokal. Setelahnya kami sempat pulang dulu dan bersantai sejenak. Selain agenda belanja merch bola, tujuan kami hari ini juga hanya berkisar soal jalan di mall dan lihat-lihat (atau belanja kalau ada yang oke)
Kami makan padthai enak di Tummour. Harganya cukup pricey namun setara dengan porsi yang segunung-kidul itu. Rasanya juga tidak mengecewakan. Cukup untuk bahan bakar mlaku sedino.
Selain makan besar kami juga mencicipi rasanya ngafe After You di Platinum mall. Ya, After You yang milkbunnya sempat viral dijastipin itu. Oh ya memang rasanya enak. Kue-kuenya lembut, manisnya tidak terasa lebay dan sakit di gigi-tenggorokan. Kami beli strawberry and cream croffle, kopi, milkbun dan kukis. Di mall, saya juga masuk ke moshimoshi (konsepnya semacam miniso, banyak barang dengan tema-tema seasonal). Harganya juga cukup terjangkau, lumayan alternatif oleh-oleh stationeries dan barang lucu. Seperti hari-hari lainnya di Bangkok, entah itu mengawali atau mengakhiri hari, kami selalu pergi ke 7-eleven. Hari itu saya makan tao kae noi rasa tomat, enak sekali!!!
Hari Keenam (22 Agustus 2024)
Tujuan kami di hari efektif terakhir dalam liburan ini adalah untuk makan all you can eat di sunset cruise sungai Chao Praya. Jadwalnya sore hari yah obviously namanya juga SUNSET cruise ya pemirsa. Jadi kami masih punya seharian untuk jalan-jalan sambil tunggu waktu.
Pagi kami mulai dengan pergi ke agenda perkopian satu: Pobnar Specialty Coffee and Roastery. Tempatnya ada di dalam gang kecil. Kami sempat salah masuk gang dan berujung sampai di pintu dapur kedainya haha. Di dalam kedai kopi terasa homey, ukurannya relatif kecil namun cukup penuh pengunjung. Dari pakaiannya mayoritas sepertinya pekerja kantor, karena lokasinya juga berada di sekitar area perkantoran.
Selanjutnya kami lanjut ke agenda perkopian dua: Mother Roaster Talad Noi. Ini salah satu kedai kopi paling nyentrik sih dari segi tempat. Jadi, kedainya ada di lantai dua, lantai satunya (terlihat) seperti area pengepul barang bekas. Walau telah ditata cukup rapi, barang-barang bekas di lantai satu ini bau apek debu dan aroma khas besi berkaratnya masih cukup kuat. Jujur saya tidak nyaman, untungnya lantai satu itu hanya sebagai tempat lewat saja. Suasana dalam kedai di lantai dua seperti toko kopi pada umumnya, lumayan dingin, didominasi aroma biji kopi walau saya akhirnya tetap pesan dan minum matcha latte. Cukup banyak sudut dan benda yang instagrammable pada dua kedai kopi diatas.
Selanjutnya kami langsung menuju Asiatique the Riverfront untuk jalan-jalan sambil menunggu jadwal naik sunset cruise. Karena masih siang dan kami belum makan besar, sedangkan makan ayce masih nanti sore, maka kami maksi di area food court. Pilihan makanan halalnya banyak, tapi cukup panas karena tempat ini adalah open-air mall (Pasar but make it fancy, lol). Makanannya enak dengan porsi yang cukup. Letak mushola mudah dijangkau dan tempatnya juga bersih.
Tibalah waktu yang ditunggu, untuk masuk ke dalam kapal, karcis kami sudah ditentukan lantai dan tempat duduknya. Di kapal yang saya tumpangi, ada dua lantai, lantai bawah indoor dan lantai atas outdoor. Kami dapat di lantai bawah indoor. Makanan mulai bisa dinikmati setelah semua penumpang duduk dan pramugari/a menjelaskan SOP. Makanannya beragam, bintang utamanya sih seafoodnya ya. Beda juga rasanya naik kapal bagus sambil makan cantik dengan naik perahu kayu waktu nyebrang dari Wat Arun ke Wat Phra itu hahaha.
Sampai di unit airbnb kami membereskan koper, dapur dan kamar. Juga memastikan kulkas dalam kondisi kosong sebelum ditinggal pulang besok. Packing pulang tidak makan waktu cukup lama, semua bawaan bisa masuk koper karena sudah beli satu koper baru LOL.
Hari Ketujuh (23 Agustus 2024)
Karena ini adalah hari terakhir dari rangkaian liburan pertama kami, jadi tentu tidak ada jadwal selain memastikan semua barang bawaan disusun dengan rapi dan siap caw.
Sebelum pulang kami tidak lupa mampir 7-eleven lagi. Beli ciki yang rasa-rasanya tidak ada di Indonesia hahaha. Kami menuju bandara dengan grab. Sampai di Bandara beli Chatramue (yang sekarang buka gerai Indonesia, tapi di Surabaya HAHAHA).
Kami pulang dengan pesawat direct. Keputusan yang bagus karena tidak terbayang capeknya kalau harus transit lagi dengan bawaan segambreng. Pertama kali naik Thai Airways yang terkenal cukup baik pelayanannya, dan terbukti. Makanan di pesawat enak, pilihan entertainment di layar kursinya juga cukup update (saya nonton film the pope's exorcist deh kalau tidak salah ingat, yang jelas film horor barat). Menurut suami saya yang pengalaman naik pesawatnya jauh lebih banyak, take-off dan landing-nya Thai Airways ini salah satu yang paling mulus.
Merangkum tujuh hari dalam satu tulisan blog butuh usaha luar biasa ya, terlebih ini sudah berlalu. Seharusnya ditulis langsung setelah selesai liburan, yah apa daya manusia yang lemah (malas) ini. Sekian, semoga ada hal baik yang bisa diambil jika anda tidak sengaja membaca tulisan ini sampai habis. Terima kasih!
Salam,
A.