November 29, 2024

Punya Pilihan dan Mampu Memilih

    Gempita pilpres telah usai, presiden dan wapres terpilih juga telah dilantik. Kini saatnya perhatian publik tertuju pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Digelar pada Rabu, 27 November 2024, agenda ini sekaligus menjadi hari libur nasional. Tak hanya gembira karena ada libur tambahan, warga pun antusias saling membagikan poster-poster promosi dan diskon khusus kelingking (atau bila tidak, jari jemari manapun) ungu. Momen ini sontak jadi ajang quality time bagi keluarga-keluarga di kota besar*. Buktinya dapat dilihat dari ramainya jalan dan pusat perbelanjaan. Well, that's might be fun FUN, but there's always another side of the story.

    Sejak pilpres 14 Februari lalu, obrolan-obrolan seputar politik sudah bukan barang baru lagi. Terlebih dengan demo menolak revisi UU pilkada pada 22 Agustus yang jadi simbol perlawanan rakyat. Tahun 2024 ini sungguh melelahkan sejak awal. Betapa tidak? Pemilihan umum di Indonesia yang digadang-gadang sebagai pemilu terbesar di dunia ini berjalan diiringi sejumlah kontroversi. Seperti laporan kecurangan, penurunan keterwakilan perempuan, keberpihakan presiden, politik dinasti dan utamanya tentu saja terkait putusan MK soal batas usia capres-cawapres. Itu dari sisi sistem dan aktor-aktor politik. Dari sisi masyarakat, masalahnya tak kalah pelik. Terlihat nyata ketimpangan suara di daerah dan kawasan perkotaan. Bedanya tingkat literasi masyarakat berimbas pada pengambilan keputusan. 

    Dalam media sosial X, utas-utas berisi informasi tentang latar belakang capres-cawapres ramai diminati, disusul dengan penjabaran visi-misi. Warganet juga menyertakan rekam jejak baik ucapan, maupun tindakan yang tak jarang memicu tawa hingga amarah. Yaaa... setiap manusia punya salah dan kadang kurang mindful, mungkin belum terpikir bila di masa depan nanti satu cuitan akan dikupas tuntas sampai ke akarnya. Sementara itu di sisi lain, pendengung-pendengung bayaran dikerahkan untuk memengaruhi keputusan politik. TikTok, merupakan senjata baru bagi kontestan pemilu tahun ini. Dilansir dari Wired, penonton TikTok secara signifikan memperhatikan video berdurasi 21-34 detik. Tak heran jika penggunanya berlomba memasang backsound terkini, dengan caption pendek yang mengena demi meraup perhatian pemirsa. Caption pendek yang tak jarang disisipi berita bohong.

    Indonesia masih berada di jalan panjang dalam misinya mencerdaskan bangsa. Memilih informasi, membaca data dan membedakan fakta dengan berita bohong bukan pekerjaan mudah bagi sebagian besar orang di republik ini. Ketidakpahaman yang menuntun mereka pada pilihan tidak ideal tak semerta-merta berhenti hanya dengan menyalahkannya di media sosial. Dimulai dari diri sendiri, lalu orang-orang terdekat. Kita selalu bisa learn and unlearn something. Mendampingi orang tua dengan gawai itu jadi lebih sukar saat ini. Ketika sumber informasi tidak hanya lewat koran dan TV, seringkali para orang tua menganggap apa yang lewat di FYP adalah berita pasti. Mengamati linimasa akhir-akhir ini nampak muram, kondisi kedepan seolah akan memasuki musim dingin panjang. Sulit dan kacau, tapi jangan berputus asa dari rahmat Allah. Kenali kapasitas diri dalam memproses informasi dan kendalikan reaksi. Banyak membaca dan simak fakta dari ahlinya. Hindari bertengkar dengan teman dan saudara hanya karena politisi, mereka bahkan tidak peduli keberadaan kita barang seujung kuku. 

    Dengan timpangnya pengetahuan umum tentang bagaimana cara memproses informasi, tidak heran jika guyuran bansos dan serangan fajar* masih jadi salah satu cara efektif mendulang suara dalam pemilihan umum. Di media sosial kita bisa dengan mudah mempertanyakan kenapa banyak orang menggadai integritas dan suaranya. Menukarnya dengan rupiah yang tak seberapa. Jangankan bicara integritas, napas dan hidup mereka saja seolah diisi ulang hari demi hari. Jadi, bagi kaum yang rentan memang uang dan barang yang ditawarkan itu berguna bagi kelangsungan hidupnya (walau tak dalam jangka waktu lama, setidaknya di hari itu saja). Namun demikian, logistik yang dikucurkan bisa jadi alat untuk menarik balas budi. Dengan fakta ini, mereka tak hanya rentan namun juga dilemahkan oleh sistem. Bagi yang memilih untuk merdeka dalam pilihannya, mudah saja menghindari politik uang. Tak berpengaruh signifikan dalam hidupnya. Memiliki kemampuan dan sumber daya yang cukup hingga sampai pada titik dapat memilih sesuatu yang ideal adalah privileseBitter truth. Nyatanya, tidak semua warga punya privilese ini (that's why it's called privilege anyway LOL).

    Salut untuk para warga yang berada dalam kondisi rentan namun dengan berani tetap mempertahankan integritasnya. Prinsip yang diperoleh dari usaha belajar dan mendengar bertahun-tahun. Tak mesti dari jalur pendidikan formal. Banyak pepatah kuno yang turun menurun diajarkan sebagai pondasi akhlak baik; ojo keminter mundak keblinger, ojo cidra mundak cilaka.
Dari beberapa fakta diatas ternyata kita belum sepenuhnya merdeka. Untuk apa melahap semua ilmu pengetahuan di dunia bila sekadar jadi senjata memperalat saudara sebangsa. Semoga senantiasa jadi pengingat, semoga diberkahi badan dan jiwa yang sehat. Seperti filosofi jawa yang lekat dengan altruisme, Urip iku Urup; semoga hidup kita senantiasa memberi manfaat bagi orang lain.


Salam,
A.


catatan tambahan:
*Momen ini sontak jadi ajang quality time bagi keluarga-keluarga di kota besar; kenapa hanya kota besar? Karena sepengalaman saya, keluarga di pedesaan tidak menganggap libur sehari sebagai momen ideal untuk dirayakan, perlu momen lain yang lebih penting.
*Serangan fajar: Uang, sembako, rokok atau barang apapun yang bisa ditukar dengan komitmen untuk memilih/memenangkan/turut mengkampanyekan satu paslon tertentu.

November 18, 2024

Mengilhami yang Sekadar Lewat di FYP

    Hai, apa kabar? Semoga kebaikan dan perlindungan Tuhan selalu menyertai kita semua.
Sudah tiga bulan sejak tulisan terakhir disini, berarti tiga bulan juga telah berlalu satu waktu yang sibuk dan penuh grabak-grubuk itu. Life's been good so far. MasyaAllah.
    Prior to marriage I tried hard not to stress over the idea of being a wife or the changes that come with it. Sebab, saya paham betul perubahan dan masa-masa adaptasi akan jadi waktu yang sulit. Seperti fase yang telah dilalui sebelumnya, perubahan rutinitas bagi saya yang begitu mencintai stabilitas dan segala hal yang tertata adalah ujian. Segala penyesuaian dan pembentukan kebiasaan baru adalah trigger stres paling mujarab hehehe.
    Selama masa orientasi saya merasa kami bisa bekerjasama cukup baik. Setiap masalah atau persoalan adalah quest yang harus diselesaikan berdua. Kekocakan sehari-hari hingga sesi tangis-tangisan refleksi diri ternyata tetap nyaman dilalui asal ada partnernya (yang setara!).
Masa orientasi yang entah sampai kapan inikarena penyesuaian dan toleransi dalam rumah tangga sepertinya butuh kontinuitas hahaha. Semoga terhindar dari party pooper yang melempar celetukan tidak perlu seperti "yah orang baru tiga bulan, belum juga setahun, tiga tahun, lima tahun bzbzbz...". Aamiin.
    Memasuki fase baru selalu jadi pemantik terbaik untuk meninjau ulang pengalaman beberapa tahun ke belakang. Mengingat kembali betapa perjalanan itu adalah ujian sekaligus bingkisan terbaik dari Sang Pemilik Waktu. Suatu topik yang sungguh resonate dalam beberapa trend TikTok yang sering lewat FYP saya. Abaikan sejenak stigma aplikasi kandang monyet, setiap aplikasi tergantung penggunanya. Walau memang berselancar di TikTok butuh kecermatan ekstra to take literally everything with grain of salt HAHAHA.

#1
Marriage is scary, what if yadda yadda yadda
mine would be: "marriage is scary, what if my future husband isn't as considerate as my dad"
Naksir, kesengsem, atau jatuh hati adalah satu hal, tapi yakin bahwa kita rela dan siap menikah dengan seseorang adalah hal yang lain lagi. Tidak, tidak, ketakutan menikah dan bimbang banyak pertimbangan itu bukan semata milik laki-laki saja. Perempuan pun sangat bisa dan wajar punya concern yang sama. Selain itu, saya juga setuju dengan pendapat yang bilang semakin matang usianya, akan semakin banyak pertimbangan dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan hidup yang besar seperti menikah. Terasa sekali bedanya, pandangan soal pernikahan dalam diri saya di usia awal 20-an dengan yang di umur nyaris 28 tahun kemarin. Setelah dijalani, sejauh iniyang belum jauh-jauh banget juga, menikah tidak semenakutkan pikiran-pikiran burukku. Punya sosok yang setting the high bar seperti bapak adalah rahmat, tapi menyadari bahwa pasangan kita adalah manusia yang kita pilih untuk hidup dan tumbuh bersama, semoga jadi pengingat untuk tidak melulu membandingkan. Sebab ia tentu punya karakter dan pengetahuan yang berbeda, semoga kami tumbuh saling menguatkan dan menenteramkan satu sama lain. Aamin. Alhamdulillah ala kulli hal.

#2
Maaf ya kita belum bla bla bla, tapi kita bisa bla bla bla
kalau saya kurang lebih: "maaf ya kita belum bisa lulus cumlaude, tapi kita bisa makan sate tanpa nasi kan? BISA! 20 tusuk tanpa nasi dimakan sendiri, lossss!"
Lulus tepat waktu dengan IPK gemilang adalah satu dari sekian banyak hal ambi yang selalu sentimental bagi saya. Saya tumbuh dengan banyak mimpi, walau gagalnya tidak kalah banyak juga. Lalu, gagal lulus tepat waktu karena sistem kurikulum yang hzzzmbohwes itu sungguh menyebalkan. Apalagi sekarang melihat kabar jurusan dengan mahasiswanya sudah tidak lagi mustahil punya IPK sempurna. Bahkan bisa punya harapan lulus tepat waktu dengan persentase lebih besar dari tahun 2018/2019. Wah rasanya kuliah kemarin seperti main rigged game. Tapi yaaah life goes on, we should keep moving forward.
Terpaku pada satu kemalangan tidak mengubah apapun selain memperkeruh isi kepala, toh ternyata lebih banyak hal yang bisa disyukuri. Salah satunya ya itu; bisa makan sate tanpa nasi, kapan saja. Seperti janji Allah yang mengangkat derajat orang beriman dan orang yang berilmu. Untuk iman saya yang naik turun layaknya roller coaster, sepertinya perubahan kondisi ekonomi ini lebih karena imbas jadi orang berilmumenurut kacamata saya. Hal lain yang saya yakini Allah sudah menyiapkan sebaik-baiknya skenario dalam apapun kondisi kita.
Masa-masa kelaparan di asrama, waktu SD makan sate harus pake nasi, lalu beli nugget menunggu momen selebrasi. Semua telah berlalu, semua telah dilalui dengan baik dan penuh hikmah. Semoga setiap hari mampu lebih banyak mensyukuri nikmat dan jadi manfaat bagi manusia lain.

#3
Laki-laki tidak bercerita, tapi main game.
Hahaha dengan budaya Indonesia yang kurang memberi ruang bagi laki-laki bercerita, mengeluh, mencurahkan isi hati selepas perempuan, kalimat diatas nampaknya sangat relatable. Masih banyak anggapan bahwa lelaki dilarang menangis, jadi bercerita dan mencurahkan isi hati dengan gamblang juga tentu jadi tabu. Sementara itu, bagi perempuan awal dari sesi tangis-tangisan di tongkrongan itu ya dari curhat. Ada perasaan berat sekali di hati saya jika melihat lelaki mengabaikan perasaan sedih dan lelahnya. Tidak menangis itu berat sebab menangis itu melegakan. Sejak kecil banyak kalimat orang tua "jangan menangis, kayak anak perempuan", "jangan menangis, cemen!" pada anak lelakinya. Akibatnya, banyak laki-laki tidak sempurna kemampuan regulasi emosinya. Emosi negatif dan ekspresinya dianggap sebagai aib yang haram ditunjukkan. Padahal, sebagai manusia wajar saja punya dan merasakan emosi negatif. Tinggal bagaimana belajar mengungkapkan dan mengendalikannya dengan tepat. Kegagapan lelaki dalam meregulasi emosi ini kemudian ditumpahkan dalam kegiatan lain, seperti main game, tidur, dsb. Contoh kegiatan barusan mungkin tidak mengganggu hubungan, namun dalam frekuensi yang berlebihan tentu akan berbeda.
Jadi, langkah sederhana untuk menghilangkan ketimpangan ini bisa dimulai dengan tidak menginvalidasi perasaan laki-laki yang membagikan sisi vulnerabilitynya. Semoga kita diberkahi waktu dan ilmu untuk terus belajar. 

Kalau kata Bernadya, untungnya, hidup terus berjalan, untungnya, ku bisa rasa hal-hal baik yang datangnya belakangan. 
Kita beruntung, sebab dianugerahi waktu dan kesadaran untuk refleksi diri. Kita beruntung, sebab hal-hal baik selalu mengikuti walau sesulit apapun jalannya. Semoga selalu ada hikmah yang bisa dipelajari, seremeh dari yang sekadar lewat di FYP.


Salam,
Anggi