February 23, 2026

Yoga

Sebagai perempuan yang punya love and hate relationship dengan tubuhnya sendiri, olahraga tidaklah familiar untuk saya dalam waktu yang lama. Sejak remaja, saya selalu merasa jadi yang paling gendut di lingkar pertemanan. Pikiran ini terus bertahan hingga saya tumbuh dewasa, bahkan di kala berat badan saya baik dan normal, lebih ideal daripada saat ini. Sederhananya, saya tetap merasa gendut saat berada di berat badan terendah pun. Dari segi makanan dan cara makan juga, saya cenderung kurang bisa mengontrol porsi dan keinginan. Walau sedikit banyak telah paham akan kebutuhan nutrisi, namun secara sadar maupun tidak sadar sering kali terjebak ke "treat yourself better". Padahal better tidak berarti semaunya dan tidak kenal cukup. Oh... Ya Allah, semoga seiring waktu, kesadaran diri terbentuk dan punya hubungan baik dengan cara makan.

Saya pernah rutin mat pilates & barre di 2020-2021 secara mandiri dengan bantuan video YouTube. Tapi tidak pernah memilih yoga karena merasa pose-posenya terlalu sulit dan tidak cocok untuk saya yang fleksibilitasnya kurang. Saya memilih latihan yang mudah dulu supaya lebih gampang memelihara konsistensi, sayangnya lalu tenggelam dalam rutinitas yang telah diciptakan dan tidak mengeksplor lebih lanjut jenis latihan tubuh yang lain, hahaha. Setelah itu, walau tidak dalam waktu yang intens, saya mulai familiar dengan olahraga menggunakan dumbbell, lalu ditambah dengan lompat tali dan jalan kaki. Pilihan olahraga saya semakin bervariasi namun belum dilakukan secara rutin/terjadwal.

Di bulan Mei 2025 saya daftar membership gym bersama suami, ikut PT session 10x tapi PT-nya banyak sekali klien jadi susah punya jadwal rutin, saya tidak bisa mengatur jadwal sepihak dan somehow, ketidakteraturan is my kryptonite. Sesungguhnya main alat gym tidak seberat yang saya bayangkan, sebab banyak pilihan beban yang bisa disesuaikan. Namun, karena terbiasa gym dengan PT, maka keterampilan mengatur alat sebelum siap digunakan kurang saya dapatkan. Biasanya langsung dibantu dan tidak dibiarkan terbiasa mengatur alat sendiri. Akhirnya, saya menyisihkan opsi gym sementara waktu dan mencoba eksplor kelas-kelas. Mulai dari Poundfit, TRX, CID, Senam, dan Yoga. Dari banyak kelas ini, saya putuskan untuk coba konsisten di satu sampai dua kelas dulu sebelum nanti cross training sesuai kebutuhan. (Coyyy... atlet kahhhh)

Setelah kelas yoga, yang tentu saja seperti perkiraan, terasa sulit. Saya tetap memutuskan akan memilih kelas-kelas yoga. Karena pace-nya relatif lebih ringan dibanding Poundfit atau senam. Untuk saya, perasaan nyaman karena tidak merasa dikejar-kejar dan harus cepat mengikuti tempo musik ini adalah prioritas. Selain itu, yoga akan bermanfaat bagi saya yang bertahun-tahun struggling dengan konsentrasi. Lalu, soal fleksibilitas dan mobilitas badan, memang tidak semua orang terberkati dengan kemampuan itu secara alami, Namun, tetap bisa dilatih. Guru yoganya sendiri juga bilang, come as you are, practice and all is coming.

Di Juni-Desember tahun 2025 kemarin saya berhasil melalui 67 kelas yoga, yang ternyata banyak macamnya. Ada kelas:
- Backbend yoga yang pose/asana-nya fokus pada tulang belakang, membuka dada dan bahu serta tulang pinggul untuk melawan postur dan kebiasaan duduk yang tidak tegak/ bungkuk.
- Hatha yoga dengan pace pelan, fokus lebih dalam pada napas dan lebih banyak menahan asana, cocok untuk pemula karena guru akan lebih banyak memperbaiki alignment.
- Vinyasa yoga dengan pace lebih cepat, dinamis dan banyak transisi dari satu asana ke asana lain. Cocok untuk yang sudah mahir dan paham alignment.
- Inside flow yoga yang merupakan versi modern dari vinyasa dengan memadukan musik sebagai kuncian setiap pose. Pose dan transisi akan mengikuti tempo dan mood lagu. Challenging karena selain harus paham asana, juga harus menghafal dan peka terhadap bit musik.
- Power yoga secara transisi lebih padat dan ditujukan untuk membentuk otot dan fleksibilitas. Memang saat di kelas power yoga juga terasa lebih berat dibanding backbend.

Selain rutin mengikuti yoga di kelas gym, saya juga beberapa kali memberanikan diri mencoba latihan di studio yoga, ternyata suasananya berbeda. Di kelas gym, mungkin karena faktor banyak jenis kelas dan berbagai macam orang dengan olahraga pilihannya, rules and etiquette-nya tidak sesaklek di studio yoga yang memang fokus pada yoga saja. Dimana kondisi harus dipertahankan sesunyi dan setenang mungkin untuk menjaga konsentrasi. Namun, dari segi biaya tentu gym subscription lebih murah untuk hitungan kelas yang bisa diikuti daripada sekali datang ke studio yoga. Maka, untuk pemula yang ingin belajar dengan guru dan lebih ekonomis, kelas yoga di gym adalah stepping stone yang bagus. Sedangkan di studio, saya bisa mendapatkan pengalaman latihan sesuai pakem dan kondisi paling mendekati ideal. Selain itu perbedaan bahasa pengajaran juga menjadikan pengalaman keduanya lebih kaya lagi. Memahami dan lebih familiar dengan nama-nama pose dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Sanskrit. Secara keseluruhan, saya tetap menikmati kondisi berlatih baik di kelas gym dan studio yoga sebab masing-masing punya manfaat tersendiri untuk saya.

Setelah rutin yoga, saya mulai beli matras yang nyaman. Saya juga banyak follow dan menonton konten praktisi yoga di media sosial. Menyimpan banyak drills and tutorials yang belum dibuka lagi sampai sekarang, ya... namanya juga usaha, hahahaha. Sekarang saya sudah rutin yoga tiga sampai lima kelas seminggu, bahkan bisa dua kelas dalam sehari. Sebuah kemajuan besar untuk seseorang yang sempat benci pelajaran olahraga ketika sekolah. Semoga ini jadi kegiatan yang berlangsung lama hingga lebur jadi kebiasaan sehari-hari, senantiasa sparks joy dan membawa kebaikan. Aamiin!

Salam olahraga! Bzir~
A.

Oh, Hidup di Kota!

Hampir lima tahun tinggal di Ibukota, rasanya tetap banyak hal yang membuat tercengang. Perbedaan nilai-nilai dan cara hidup yang cukup signifikan walau dalam satu bendera yang sama. I guess, you can take the girl out of kabupaten, but you can't take the kabupaten out of the girl. Dan, ya tidak semua yang berasal dan berada di kabupaten citranya negatif, begitu pula sebaliknya.

Cukup banyak pemikiran baru yang saya alami di Jakarta. Orang-orang yang paham betul akan haknya dan tidak segan untuk komplain atau mengkonfrontir sesuatu. Saya, tumbuh dan terbiasa hidup dalam garis batas kesopanan, kadang komplain atau sekadar menuntut hak sama dengan melanggar kesopanan. Terbiasa menerima apa yang diberikan tanpa tapi.

Namun, tak jarang pemikiran yang begitu individualis ini mengakibatkan ketidaknyamanan. Pada beberapa kesempatan, ada permintaan tolong yang tak dihiraukan dan tanya yang diabaikan. Hanya karena, tidak mau terlibat masalah atau memotong waktunya. Ya, di kota besar waktu adalah uang (literally & figuratively).

Salah satu yang paling saya amati perbedaannya ialah saat pernikahan. Umumnya, saat ada hajatan di desa, tetangga berbondong-bondong saling membantu. Di kota, kini event organizer semakin marak. Salah satu penyebabnya tentu karena budaya saling membantu mulai ditinggalkan. Pergeseran budaya selalu punya sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, semua jadi lebih praktis. Sanak saudara bisa menikmati acara dengan nyaman karena tidak perlu ada yang masih sibuk di dapur saat ada perayaan. Sisi negatifnya, ya setiap yang transaksional pasti ada biayanya. Selain itu, suasana "guyub" saat rewang itu kadang terasa priceless, dan melihatnya luntur ditelan zaman menyisakan rasa getir yang sulit dijelaskan. Bittersweet.

Tentang hujan, adalah hal lain yang saya rasakan berbeda antara di kampung dan di kota. Di usia anak-anak dulu, hujan terasa menyenangkan. Bisa tidur pakai selimut, sebab di hari-hari biasa udara sudah cukup gerah untuk pakai selimut. Lalu makan mi kuah dan lihat hujan dari balik jendela. Seiring waktu berlalu, dan ekonomi orangtua bergejolak (lol) hujan tidak lagi nyaman. Rumah bocor jadi kekhawatiran yang muncul setiap tetes hujan mulai menitik. Walau tak lama dan tak menimbulkan kesusahan berarti, tapi cukup membekas. Atap bocor di kosan blok U juga jadi pengalaman tidak nyaman saat hujan. 

Saat kuliah dua semester awal saya tidak dibekali kendaraan, jadi dari asrama ke kampus harus jalan kaki. Dengan keadaan itu, tas saya terasa lebih berat karena tiap musim hujan harus tambah muatan jas hujan dan payung lipat. Sebagai orang yang prepare mentok, saya tidak merasa tenang jika harus memilih salah satunya. Karena keduanya dipakai saat hujan yang berbeda, jas hujan ketika hujan deras dan payung ketika gerimis. Saya, tentu saja tidak bisa memprediksi hujan seperti apa yang akan turun hari itu. Pengalaman jalan kaki pakai jas hujan sudah saya rasakan sejak kuliah, pun tetap saya rasakan saat bekerja. Jujur tidak nyaman, karena perasaan saya beberapa orang yang berpapasan memandang dengan tatapan aneh. Entah kenapa, padahal kan tidak ada aturan khusus ya, jas hujan cuma boleh dipakai pengendara dan bukan pejalan kaki, Hahahah. Ya, itu dulu saat saya lebih muda, masih banyak memikirkan apa kata orang. Sekarang sih, gaaaas do whatever is right and safe for me, and vice versa, you do you.

Kembali ke masa kecil, bisa langsung tidur nyenyak saat hujan deras di luar adalah privilege. Sebab saya tahu sedang berada dalam kondisi aman, maka bisa tidur saat hujan tanpa banyak pikiran. Saya tumbuh besar di kampung yang relatif aman dari banjir. Ketika dewasa dan tinggal di kota besar. Hujan seakan jadi ancaman dan datang dengan menakutkan. Ada pikiran takut banjir dan atap kebocoran. Tidak ada lagi cerita hujan saatnya tidur nyenyak safe and sound. Apalagi tinggal di kota yang rawan banjir.

Tulisan ini beberapa lama tersimpan dalam draft, hari ini hujan sejak pagi dan ya... walaupun bahasannya mungkin kesana kemari, setidaknya semoga ini menjadi pemantik untuk kembali aktif disini. Sebab rasanya kepala semakin berisik, butuh yapping dengan lebih terstruktur dan waras disini. Haha.


Salam,
A.

January 19, 2026

Hidup Sebagai Manusia Dewasa

    Saya di masa kecil berpikir jadi manusia dewasa itu lebih menyenangkan karena terlihat bebas dari aturan orang tua. Tidak perlu punya jam malam, bisa pergi kemana saja, boleh beli apa saja. Waktu itu, keponakan saya yang masih umur 6 tahun nyeletuk "aku mau jadi orang dewasa aja, bukan anak-anak" lalu saya tanya memangnya kenapa mau jadi orang dewasa. Dia jawab "kan enak jadi orang dewasa bisa main hp terus".
    Sebuah jawaban sederhana yang bisa jadi renungan sekaligus pukulan. "Orang dewasa bisa main hp terus" menurutnya adalah kebebasan, keleluasaaan yang belum dimiliki anak-anak. Sebab mereka masih hidup dalam naungan orang tua. "Orang dewasa bisa main hp terus" juga adalah pukulan telak, bisa jadi Ia mengamati orang dewasa di sekitarnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai daripada bermain dengannya.
    Saya merasa waktu masih anak-anak, semangka banyak bijinya, aktivitas makan semangka jadi terasa sedikit tidak menggembirakan karena saya harus menyingkirkan bijinya satu-satu sebelum makan. Sementara hari-hari ini makan semangka terasa lebih nyaman karena banyak varietas semangka non-biji. Tidak hanya manusia ya yang berubah, ternyata hasil rekayasa hayati yang dulu sekadar dibaca di buku biologi sekarang memang ada di sekeliling. Ya, bahkan 3D printer dan mobil listrik yang waktu maba terdengar sangat futuristik itu, sekarang pun sudah marak dimana-mana.
    Dulu di masa sekolah, fase yang dilalui teman seangkatan seakan seragam. Sedang mempelajari bab sekian, mempersiapkan ulangan pelajaran tertentu, dan memilih ekskul mana yang nyaman dijalani. Hidup yang bertahun-tahun terasa berjalan sesuai manual book itu kemudian berubah drastis ketika masa sekolah usai. Pun di kehidupan perkuliahan, kelas-kelas yang diambil sangat bisa berbeda walau ada dalam satu jurusan. Itu bisa jadi salah satu faktor yang mempercepat atau melambatkan laju setiap orang. 
   Ketika sudah lulus kuliah, fase yang berbeda ini semakin lebar gap-nya. Ada yang melanjutkan jenjang lebih tinggi, bekerja, membangun keluarga dan lainnya. Seiring fase yang berbeda, perspektif pun berubah, bahkan standar hidup baik-buruk; benar-salah setiap orang juga SANGAT mungkin berubah.
    Ketika masih SD, waktu meraut pensil adalah salah satu "break" yang paling saya tunggu. Saya bisa keluar kelas, menghirup udara luar dan istirahat sebentar dari pelajaran yang berlangsung. Meraut pensil dengan cutter adalah favorit saya, sebab rasanya peraut biasa membuat runcingnya pensil jadi keterlaluan, tidak nyaman digunakan menulis karena goresan terlalu tipis.
    Ketika sudah mengalami kerja kantoran, break-nya tidak sekadar untuk bisa menghirup udara luar, tapi juga untuk menangis diam-diam di toilet. Lalu kembali ke meja kerja, seolah biasa saja. Seakan perasaan tertekan dan gelisah di toilet itu ikut hanyut ketika flush sudah ditekan. Lucu juga ya, ternyata sejak kecil terlatih mengelola emosi tanpa disadari (dan tetap kewalahan walau sudah "latihan").
  Setelah dewasa, ternyata memang punya kebebasan menentukan arah itu nikmat. Saya punya kewenangan sendiri tentang apa yang akan dilakukan, keputusan yang diambil serta tahu betul kemana resourcenya akan dicurahkan. Sementara itu, kebiasaan dan aturan-aturan yang membentuk saya sejak kecil adalah pagar yang bisa jadi membantu hidup masa dewasa ini lebih terstruktur. Jadi, meskipun dulu menyebalkan sekali mengikuti "cara main" orang tua, ternyata ada manfaatnya. Kadang malah ada perasaan mau jadi anak-anak lagi, yang tidak perlu mengerahkan 100% kemampuan otak untuk berpikir. Sebab orang tua biasanya sudah punya daftar to-do list untuk kita penuhi HAHA. 
    Sekarang, menentukan pilihan yang akan dijalani terasa lebih leluasa. Tentu saja, bisa sekadar punya pilihan berarti hidup sudah lebih baik. Apalagi sampai bisa menentukan pilihan secara merdeka. Tantangannya lebih kepada mengelola ekspektasi. Sebab tanpa disadari hari-hari ini kita melihat kehidupan orang lain terlalu intens. Lalu muncul perbandingan, secara diam-diam pikiran jadi terbelah fokusnya. Semoga senantiasa bisa kembali pada pertanyaan "melakukan ini untuk siapa, dan mengapa?" supaya penentuan keputusan selalu terang dan jelas.

November 24, 2025

Batas

Beberapa waktu ini saya banyak berpikir tentang batas. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga biasa saja, saya cukup kenyang dengan kondisi yang tidak ideal. Bukan berarti senang hati menerimanya kembali. Namun, di saat hidup sudah berangsur lebih baik, saya jadi punya pertanyaan. Semacam check and balance, sampai dimanakah kita merasa cukup, dan berapa nominal yang wajar untuk dimiliki.

Di usia ini, angka yang dulu sulit ditembus mata kini jadi amat gamblang. Bahkan tertera di baliho-baliho sepanjang jalan. Ya, waktu saya masih kecil sempat penasaran, harga rumah dan mobil itu berapa. Hari ini, semua bisa dicari dengan modal internet, tanpa harus bertanya langsung dan menjawab pertanyaan "mengapa bertanya demikian?".

Di sisi yang lain, saya selalu terkesima melihat rumah-rumah megah dan deretan mobil berbagai merek di halamannya. Jangankan untuk menjumlahkan harganya, membayangkan harga satu unitnya saja sudah terasa jauh dari jangkauan.

Diantara itulah saya berpikir, bagaimana seorang manusia bisa memiliki sumber daya begitu besarnya. Sedangkan ribuan orang lainnya menggabungkan gaji bulanannya dan tetap tak mencapai setengah total kekayaan si fulan.

Saya juga telah melihat tak hanya satu atau dua, orang yang nyaman berjalan dalam batas kewajaran. Walau dengan kemampuan dan posisinya sangat bisa menapaki hidup yang lebih lagi. Jumlahnya tak banyak, tapi dari merekalah percakapan yang renyah dan ramah berasal.

Sewajarnya manusia, banyak hal yang kita inginkan dalam hidup dan diantaranya bersifat kebendaan, lekat dengan dunia. 

Hingga saya sampai pada satu kesimpulan yang personal. Rasa cukup itu sepertinya sangat bisa dibatasi, pun ditarik sampai lebar sekali cakupannya. Tinggal, mau yang mana. Semoga senantiasa diberi kemampuan untuk memilih pilihan-pilihan yang berkah, baik dan wajar.

"Bila orang tak bisa membatasi keinginan sebatas kebutuhan, apalagi selalu mengembangkan keinginan menjadi kebutuhan, orang itu tak bisa senang. Hidupnya akan selalu dikejar-kejar oleh keinginan itu sendiri yang terus meningkat tanpa tutugan, tanpa batas." (halaman 237, Bekisar Merah karya Ahmad Tohari)

October 29, 2025

Bagaimana Rasanya Menonton Arsenal Live Pertama Kali?

    Walaupun ada dalam seri #BagaimanaRasanya tapi dalam post kali ini, sepertinya ulasan soal liburan ke Singapura lebih mendominasi. Hahahaha, karena rasanya terlalu boros (alias malas) kalau harus dipisah jadi dua tulisan. Jadi yaaaah langsung saja ke ceritanya.

25 April 2025
    Saya beli tiket lewat platform ticketek. Saat menunggu loket online dibuka, saya menyiapkan tiga gawai karena saya pikir ticket war-nya akan segila konser Blackpink atau pertunjukan standup Raditya Dika. Ternyata tidak HAHAHA. Proses pembayarannya cukup seamless dengan rekening jenius. Setelah memilih jadwal pertandingan dan kategori tiket, akan diberikan pilihan section/row. Setelah itu diberikan nomor kursi sesuai section yang dipilih. Berhasil mengamankan tiket nonton + hotel, sebelum punya tiket pesawat (riil cegil)

23 Juli 2025
    Jadwal terbang kami ke Singapore 09:35-12:15 dan gate stadion akan dibuka pada jam 17:00. Untuk penonton luar negeri first-timer (Walaupun secara jarak Indo-SG juga tidak sejauh itu) ini sungguh rencana perjalanan yang tidak direkomendasikan ya! Bayangkan jika harus ada delay atau kemungkinan paling buruknya bahkan penerbangan dibatalkan. WAH kacau.
    Alhamdulillah, Allah Maha Mengetahui... kami yang modal nekat dan dengan sangu pas-pasan ini tidak menemui kendala terkait jadwal penerbangan. Take off dan landing tepat waktu. Sampai di Changi, immigration clearing kemudian langsung menuju counter penjualan SG tourist pass. Setelah kartu di tangan, kami naik MRT menuju hotel. 
  Di hari pertama, kami menginap di hotel dekat stadion. Kawasan Geylang, yang tidak direkomendasikan untuk pelancong keluarga, katanya red-light district. Tapi, dengan pertimbangan jarak yang sangat dekat dengan stadion (upaya memangkas ongkos transport) kami tetap memilih menginap disana. Di hotel, kami bebersih dan mengisi daya gawai. Sekira pukul setengah empat sore, kami keluar hotel dengan pakaian tradisional supporter alias jersey masing-masing klub. Saya dengan jersey arsenal dan suami memakai jersey AC Milan. Ya! ini adalah pertandingan Arsenal vs AC Milan, match made in heaven if I might say. Klub favorit kami masing-masing sejak remaja, all the way from another continent bertanding di satu lapangan, dan bisa dijangkau dari Jakarta.
   Sore itu, kami berjalan sembari melihat kegiatan warga. Para pekerja helm kuning di proyek perbaikan/galian jalan. Kuli yang sedang mengecat bangunan restoran. Anak-anak berlatih sepak bola di lapangan. Bapak-bapak duduk merokok di belakang rumah. Ternyata masih ada rumah tapak di kawasan Geylang, bagian belakang rumahnya masih terasa mirip dengan rumah-rumah di kampung. Dinding berlumut, mesin cuci yang terlihat dimakan usia, tali jemuran dan kandang ayam. Potret langka untuk negara semakmur Singapura.
    Makan siang (yang sudah sore) pertama kami di Singapura adalah di resto muslim nasi kandar. Saya pesan nasi goreng ikan bilis, dan thai tea. Porsinya cukup besar dengan harga yang terjangkau. Ketika saya tulis porsinya cukup besar artinya saya butuh waktu cukup lama untuk sekadar makan setengahnya. Porsinya benar-benar BESAR.
    Selesai makan, kami lanjut jalan ke National Stadium. Di jalan, kami banyak bertemu sesama penonton juga. Sangat mudah dikenali karena semua mengenakan jersey favoritnya masing-masing. Sampai di area stadion, kami berkeliling mengambil foto dan video. Lalu mampir ke merchandise booth, sayangnya booth Arsenal antrinya seperti keramaian PopMart saat grand opening. Jadi saya tidak membeli apapun walau sebenarnya ingin. Ya, keinginan saya tidak lebih besar dari kesediaan mengantri segitu panjangnya. Saya sempat mengambil video Gunnersaurus dan melihatnya dari dekat. Maskot gemas yang biasanya saya lihat di layar kaca, lalu jadi stiker dan meme itu ternyata beneran ada. Sangat lucu dan ijo (OH what a description!)
    Saat waktu open gate hampir dimulai, kami dipersilakan untuk mengantre security check. Prosesnya juga cukup cepat dan tidak ada kendala berarti. Uncle dan Auntie-nya cukup friendly dan informatif. Kami menuju gate yang tertera di tiket. Saat itu kami ingin mengisi botol air karena sudah cukup haus, saat bertanya letak kran air minum, Uncle panitianya sempat nyeletuk "Eh you two couple, support different teams ah? Hahaha". NGL, ada rasa was-was ketika interaksi setelah pengalaman bekerja dengan Singaporean yang cukup kental dengan kiasu culture. Jadi waktu ketemu locals yang mau basa-basi guyon tuh cukup heartwarming.
   Akhirnya duduk di stadion! (Bahkan di Indonesia saja. saya belum pernah duduk di kursi dalam SUGBK). Akhirnya juga menyaksikan Mikel Arteta dan Arsenal Squad di lapangan. Wah rasanya surreal sekali. Orang-orang yang bertahun-tahun biasa saya lihat lewat layar hp, laptop dan TV itu ada di depan mata saya. Ternyata mereka nyata. Saya sedang menghirup udara yang sama dan berada satu stadion dengan mereka.
    Melihat Ben White menganggu konsentrasi lawan saat tendangan sudut, melihat Odegaard dan Saka bergantian mengambil giliran sepak pojok, melihat Kai Havertz yang setinggi gapura kabupaten, melihat Declan Rice yang sibuk menggendong satu tim di babak pertama, melihat Martin Zubimendi tidak hanya di postingan instagram. Lalu utamanya, melihat Arteta sibuk di pinggir lapangan. Bersorak, melambaikan tangan, dan berteriak. Teriakan yang hari ini saya dengar langsung, tidak melalui sound gadget manapun. Semuanya nyata ya... Alhamdulillaaah!
    Pertandingan hari itu berbuah satu gol Bukayo Saka di babak kedua menit 52. Lega rasanya bisa melihat dan merayakan gol Saka secara langsung. Ikut menyanyi North London Forever dan bersorak-sorai dengan bebas. Setelah pertandingan selesai. kami keluar stadion dan berjalan kembali menuju hotel. Pertama kali jalan kaki tengah malam di Singapura, suasananya sepi tapi masih ada orang-orang yang pulang selesai olahraga. Jembatan penyeberangannya bersih dan tidak bau pesing. Liftnya juga masih beroperasi ketika kami pulang malam itu. Di area geylang, malam justru lebih hidup sepertinya. Namun, seingat saya jalan yang kami lewati tetap tidak seramai yang kami pikirkan. Lampu warna-warni menyala terang, sementara jalanan cukup lengang.


24 Juli 2025
    Kami pergi cukup pagi (untuk ukuran orang kurang tidur) dengan bus menuju area Fort Canning Park. Disana kami mengantre satu jam untuk foto di area tree tunnel. Spot foto itu sebenarnya sudah lama terkenal, namun baru-baru ini viral di medsos China, jadi banyak turis asal negara ybs yang menjadikan FCP tree tunnel jadi destinasi wajibnya. Tak heran ketika sampai disana, banyak sekali turis China. 


    Hari ini jadwal kami pindah hotel, dari hotel satu (dengan pertimbangan dekat National Stadium) ke hotel dua (yang dekat ke area pusat jajanan). Sebelum pindah hotel di tengah siang bolong, setelah pulang dari FCP kami sempat ke Kinokuniya, walau buku yang dicari tidak ada disana huft.
Saya (lagi dan lagi) mampir ke 7-eleven, membeli blindbox Miffy. Sampai di hotel, saya unboxing dan yaps isinya IJO LAGI. Hahaha, teman twitter saya mungkin sudah paham, saya berkali-kali dapat benda hijau di macam-macam blindbox. Sampai pada titik, okay hijau menambah koleksi luv!
   Kami ke Marina Barrage pukul setengah lima sore, sampai sana ternyata panasnya masih cukup menyengat. Sempat kembali ke dalam stasiun MRT untuk ke toilet. Sampai akhirnya kami memutuskan jalan naik ke lapangan atas. Sampai di lapangan atas, kami melihat-lihat laut dan landscape Singapura yang megah itu. Lalu kami menggelar tikar di area yang strategis untuk menunggu matahari terbenam. 
"Always balance something expensive with something cheap" They said hahaha. So, here we are piknik gratis, jajan snack murah konbini dan minum air gratis, tapi di Singapura.


25 Juli 2025
    Kegiatan pagi ini adalah menuntaskan agenda kopi pagi suami. Kami menuju Nylon Coffee dengan MRT. Kedai kopi ini terletak di kawasan apartemen. Ukurannya tidak terlalu luas, saat kami datang suasananya cukup ramai. Menurut saya yang bukan penikmat kopi, rasa kopi susunya cukup bisa saya terima (entah memang benar enak, atau sugesti produk negara maju LOL). Ketika pengunjung kedai mulai lengang, pemiliknya menyapa kami. Another obrolan hangat yang tidak disangka bisa ditemukan juga disini hehe.
Selesai dengan urusan kopi, kami yang berniat naik bus menuju area Takashimaya mengalami kejadian umume turis. Salah naik bus. Alih-alih menuju tempatnya, kami malah bergerak menjauhinya. Yah, namanya juga orang asing. Setelah sampai di Takashimaya, tujuan saya adalah Kinokuniya dan BTV.
Sore nanti setelah jam pulang kerja, kami punya janji bertemu teman se(mantan)kantor saya, Hamizah dan Syafa. Sekaligus akan jadi kopi darat pertama, karena selama kerja remote yang sak nyuk itu saya tidak pernah bertemu mereka secara langsung.
    Karena datang lebih dulu, saya mampir ke Fluff Bakery di dekat resto tujuan. Ngadem makan gelato sambil menunggu suami yang mencari toilet terdekat. Kami juga sempat membungkus cheesecake dan almond brioche-nya. Cheesecakenya lembut dan lumer di mulut, almond briochenya juga nikmat sekali walau tidak dimakan langsung di tempat. Hamizah membantu kami reservasi untuk makan malam di The Dim Sum Place. Disana, saya pesan mie bebek dan yah rasanya enak sebagaimana bayangan saya hahaha. Setelah makan kami ke arab street dan foto-foto di photobooth tematik sebelum pulang.
    Salah satu pengalaman menarik di SG adalah beli sari buah dari vending machine. Yang pertama adalah ijooz, vending machine yang menjual sari buah jeruk. Lalu ada iboozee, yang menyajikan sari buah apel, dari empat buah apel sampai ke segelas minuman segar di tangan. Selama di Singapura kami beli ijooz tiga kali dan iboozee satu kali, sebenarnya dari sisi rasa kami lebih suka iboozee apel. Namun, unit vending machine ijooz jeruk sepertinya lebih banyak dan mudah ditemui.
    Hal lain yang membuat kami cukup terkesima juga, melihat lansia di Singapura yang tetap produktif. Di ruang publik, mereka mengakses transportasi umum dengan mandiri. Mereka juga aktif bekerja, sebagai security di stasiun, pekerja event, penjaga toko/konbini, sopir dsb. Hal ini menunjukkan betapa pemerintahnya memperhatikan sarana dan prasarana negaranya untuk mengakomodir rakyat dari segala lapisan. Juga aturan soal pekerjaan yang lebih manusiawi terkait batas usia dan kapabilitas. Kami juga sempat ternganga, melihat poster lowongan pekerjaan di salah satu restoran yang mencantumkan besaran gaji. Sesuatu yang harusnya wajar, namun jarang ditemui di negara sendiri (oits negara mana tuh?!).



26 Juli 2025
     Pagi hari terakhir di SG, kami telah bersiap dengan koper yang telah dikemas rapi. Sore nanti kami akan kembali ke Jakarta. Hamizah menjemput kami di hotel, lalu menemani kami berjalan-jalan keliling di area Arab street. Kami makan di All Things Delicious. Saya makan shaksouka. Tempatnya cukup ramai dan menurut teman saya memang sedang banyak diminati. Harga menu di tempat ini tergolong cukup tinggi, dan memang tampilan makanan saat sampai ke meja sungguh fancy. Sesuai dengan foto menunya, hahaha. "Please don't worry about the price, it's all on me." Ucap teman saya, ketika melihat kami kebingungan memilih menu. Sebenarnya selain soal harga, kami juga tidak familiar dengan menu-menunya yang terlampau western HUAHAHAHA. Jadi kami ikuti rekomendasinya saja, pagi itu 100% mempercayakan menu pilihan kami pada ulasan warlok. Menurutnya, banyak tenant ruko di kawasan Arab street yang come and go karena harga sewa yang semakin mahal. Ah ternyata permasalahan global (seketika ingat soal harga sewa toko-toko blok M)

    Tiga hari dua malam di Singapura kali ini sungguh menyenangkan. Dari segi kerapian dan keteraturan, berwisata di negara ini terasa nyaman. Tapi lagi-lagi we lost in translation currency, membuat kami tidak bisa berlama-lama liburan disana hahaha. Seminggu di Bangkok masih bisa hahahihi, tapi tiga hari di Singapura lumayan meringis kecil. Namun, pengalaman yang kami dapat saat itu jauh-jauuuuuh lebih bernilai. Alhamdulillah dengan kemurahan Allah, keinginan masa remaja untuk lihat tim sepakbola kesayangan bertanding secara langsung telah ditunaikan. Mungkin saya sudah tidak lagi berambisi kuliah di Inggris biar bisa nonton Arsenal di Emirates Stadium menggebu-gebu dengan mimpi saya soal bola. Mimpi memang gratis, berharap memang boleh sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya, kan backing-an e Gusti Allah. Namun, soal yang satu itu biarlah hanyut ditelan waktu. Hari ini, semoga hidup dengan selalu bersyukur. May you always remember that finding your goals and dreams again is a lifelong process.
    Alhamdulillaaah... sudah bisa nonton Arsenal langsung. Semoga segera diberi kesempatan untuk merayakan Arsenal juara liga, ya. Aamiin. Kebetulan saat selesai nulis ini, Gajahnya lagi diatas pohon.

Salam,
A.