Saya bersyukur bertemu kamu disaat yang (cukup) tepat, ketika saya berani bertanya tujuan akhirnya sejak awal. Saya pikir, "tidak" lebih baik daripada "lihat nanti" atau "jalani dulu". Sebab dua yang terakhir itu, umumnya adalah "tidak" yang tertunda.
Saya pernah terjebak dan mengiyakan "jalani dulu", hingga di tengah jalan, Ia melepas genggaman tangannya. Lalu saya hilang sendirian.
Kamu jauh dari sempurna, memangnya sejak kapan kita pernah mendekatinya?
Sempurna adalah kata yang begitu agung, apalagi untuk seonggok manusia.
Tapi, setiap kata yang kamu ucapkan hampir selalu selaras dengan kenyataan.
Tidak ada manis yang dibuat-buat, dan tidak ada pahit yang disembunyikan.
Semua gamblang disajikan di depan mata.
Saya tidak takut terlihat lemah, kamu pun tidak segan menguraikan resah.
Saya bersyukur kamu sampai di depan saya, bertahan dan mau berjalan berdampingan.
Bersama kamu, cinta rasanya ringan dan menyenangkan.
Bukannya kemudian semua masalah mendadak hilang, tapi setiap kesulitan jadi mungkin dilalui.
Terima kasih untuk rasa tenang yang sangat lapang.
Selamat menapaki usia baru,
Semoga kamu terus menjadi bunga terwangi di taman hati saya.
Wopyu!
A.