February 04, 2024

Melihat Zaman Berubah

     Melihat gambaran besar hanya bisa dilakukan dari jarak yang cukup jauh, katanya. Dulu waktu saya kecil saya pikir ya dunia akan begitu saja, tetap sama terus hingga nanti. Segala bentuk pemandangan sekitar dan teknologi akan tetap seperti yang saya tahu di masa itu. Ternyata ya tentu tidak~ perubahan yang bertahap dan secara terus menerus ini kadang tidak disadari. Kita bisa melihat perubahan itu saat punya jeda —untuk benar memperhatikan yang terjadi dan merefleksikan kembali dengan yang kita miliki hari ini. Dalam tulisan kali ini, saya mencoba melihat apa yang dulu pernah —ada, dan kini perlahan musnah. And, this is how the story goes...

    Di usia saya TK-SD, Bapak buka usaha wartel di rumah. Dua bilik berisi meja, kursi, telepon dan kipas angin kecil. Pada masa itu, telepon kabel masih dimiliki kalangan tertentu, era telepon genggam masih jadi barang mewah dan paling mutakhir.
Di daerah saya yang banyak anggota keluarganya bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri, tentu keberadaan wartel saat itu cukup jadi alternatif komunikasi yang efisien. Selain itu telepon ini juga aktif digunakan para pendengar radio lokal. Mereka biasanya menelepon untuk menyampaikan salam dan request lagu tertentu. OH THE OLD DAYSSSS LIKE THAT :")
Sebagai bocil saya tentu tak beda jauh dengan yang lain dari segi keusilannya, beberapa kali saya menguping pembicaraan konsumen HAHAHAHA berdosa sekali.
    Hari ini hampir semua orang, tua-muda, punya akses hanyak dengan sekali klik untuk terhubung kepada orang lain melalui telepon genggamnya. Wartel tentu tak lagi relevan, namun keterbatasan waktu dalam wartel itu yang membuat kita menghargai waktu komunikasinya. Sebab dalam keterbatasan waktu komunikasi itu kita cenderung lebih sadar (present) dengan apa yang kita bicarakan. Cukup jadi pengingat di masa yang serba cepat dan penuh distraksi, untuk tetap sadar dengan makna kini dan disini.

    Lanjut, waktu saya SD, ada tetangga baru di belakang rumah saya. Ternyata anak laki-laki keluarga tersebut berusia sebaya, kemudian bersekolah di sekolah yang sama dengan saya. Beberapa kali kami berada dalam satu kelompok tugas. Saya selalu bersemangat mengerjakan tugas kelompok di rumah tetangga saya yang satu itu. Mengapa? Karena keluarganya punya rumah produksi kerupuk yang rasanya enak sekali. Selain itu Mamanya juga sangat royal akan sajian, lauk-pauk, buah, minuman dingin dan jajanan. Bagi anak kecil dari keluarga biasa saja, apalagi yang suka makan —hal itu tentu bikin semangat berapi-api.
Rasa kerupuk yang berbeda dan sulit saya temukan kembali. Sayangnya, sejak Ayahnya meninggal, keluarga teman saya itu kemudian pindah.
Saya tidak menyangka, mengecap rasa makanan tertentu bisa betul-betul bikin rindu. Sesederhana kerupuk yang tidak lagi diproduksi. 
    Soal makanan ini juga dulu begitu bermakna karena kita cenderung hanya makan makanan yang jangkauannya dekat, bisa kita beli di sekitar kita. Namun, kini dengan adanya e-commerce, kita bisa beli makanan dari manapun tanpa harus menunggu oleh-oleh dari kerabat yang pulang wisata. Di zaman ini, tak ada rindu yang bertahan cukup lama saat masih sama-sama di dunia LOL. Termasuk soal rindu makanan tertentu yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal kita.

    Kemudian saat masa SMP, saya berangkat sekolah naik sepeda bersama teman. Teman saya ini rumahnya lebih jauh dari sekolah, kira-kira 2x jarak rumah saya ke sekolah. Ia tentu harus bangun dan bersiap lebih pagi dari saya. Kami berangkat pagi-pagi untuk meminimalisir interaksi dengan teman atau kakak kelas lainnya. Bukan karena tidak ingin berteman, semata ingin menyimpan energi untuk enam jam pelajaran kedepan saja haha! Saat itu aktivitas sekolah adalah hal utama yang paling melelahkan. Beban satu-satunya remaja biasa seperti saya LOL.
Hari-hari ini anak sekolah naik sepeda masih banyak ditemui, namun yang pakai motor dan motor listrik juga lebih banyak lagi. Kendaraan berbahan bakar listrik adalah sesuatu yang jauh dari bayangan saya saat SMP. Yah~ saat jadi maba desain saja, kendaraan listrik masih terlihat asing dan terlalu futuristik bagi saya. Namun, hari ini sudah ada di sekitar kita. Time flies~

    Saat SMP itu juga awal perkenalan saya lebih akrab dengan internet. Sepulang sekolah mampir warnet untuk menyalin lirik lagu terbaru, hahaha ya~ I'm one of those kids yang punya buku lagu, walau suaranya sumbang~ Waktu itu masih pakai earphone untuk mendengarkan radio, musik di radio dipenuhi lagu-lagu pop melayu, ungu, radja, kangen band, repvblik dkk hahaha. Radio pocket mini adalah gadget terkini saya di masa itu, karena mp3 player masih lebih mahal.
    Sekarang, mendengarkan musik lebih mudah dengan adanya youtube dan platform streaming musik digital. Tidak perlu kita punya banyak lagu yang disimpan, sebab semua sudah tersedia secara online dan bisa kapan saja diputar. Liriknya juga tersedia berdampingan dalam aplikasinya. Ah, sungguh kenikmatan zaman yg mutakhir~

(sumber: alibaba)

    Di sekolah saya juga selalu setia menyimak cerita teman-teman K-POPers tentang SNSD, suju, shinee, f(x). Kenapa hanya menyimak? disini saya ungkapkan bahwa; menurut saya waktu itu sulit menghafal nama-nama idol korea. Akses menonton music videos dan drakor pada saat saya SMP juga masih "underground" alias memanfaatkan link streaming ilegal dan copyan antar flashdisk. Saya cukup malas dengan effort yang demikian hahaha.
Era SMP ini juga awal kemunculan BlackBerry sebelum iPhone menjadi ikon pergaulan tertinggi seperti sekarang. Tapi saya tidak ikut terjun into those trends karena punyanya Nokia WKWKWK.
    Dengan kenal internet otomatis saya akrab dengan Friendster dan Facebook.
Dulu trennya adalah nama akun facebook ada partnya karena dia punya friendlist sampe maksimal. Tanda keren pada saat itu adalah saat temannya sudah full empat ribu, seingat saya CMIIW.
Dulu dan kini sepertinya standar keren masih sedikit banyak sama ya, punya banyak pengikut atau crowds. Yah, untuk mereka yang memang tak masalah hidupnya jadi konsumsi banyak orang, mungkin punya pengikut banyak cukup menyenangkan dan jadi lahan rezeki. Tapi untuk saya yang cukup dengan hidup normal biasa saja, tentu punya pengikut besar di media sosial itu bukan tujuan. Secara, semua medsosnya juga selalu digembok selamanya LOL.
    Sekarang semua orang berpotensi jadi public figure, dengan satu dua video yang sesuai algoritma dan viral, bisa saja hidup seseorang berubah karenanya. Suatu hal yang luar biasa canggih sekaligus ngeri disaat bersamaan.

    Banyak yang berubah, segalanya terasa jadi lebih mudah. Tentu saja perubahan itu tidak datang dengan percuma, akan selalu ada harga yang dibayar untuk itu semua. Salah satunya attention span kita. Menurut artikel ini, rentang perhatian kita telah menurun drastis hanya dalam 15 tahun. Pada tahun 2000, itu adalah 12 detik. Sekarang, 15 tahun kemudian, waktu tersebut menyusut secara signifikan menjadi 8,25 detik, yang mana itu lebih pendek dari attention span goldfish di 9 detik :)
    Maka, kegiatan yang butuh memusatkan perhatian secara penuh baiknya selalu kita usahakan, dengan sholat (bagi yang muslim tentu saja), meditasi, olahraga, menggambar dan membaca buku (fisik —bagi saya masih yang terbaik untuk mencegah distraksi).
Semoga kita senantiasa dikaruniai pikiran yang jernih, ruang tenang, dan penglihatan yang jelas di tengah-tengah dunia yang riuh karena deru cepat melajunya zaman.

Salam,
A.

Rekomendasi K-Drama dari Penonton Biasa

 Hai, siapapun yang dengan ajaibnya sampai ke blog terasing ini. 


    Tulisan kali ini sesuai judulnya akan membahas mengenai Korean Drama alias drakor. Dari artikel online yang saya baca tren menonton drakor di Indonesia muncul sejak tahun 2000. Saat itu Indosiar adalah stasiun TV yang cukup sering menayangkan drakor. Salah tiganya yang saya ingat adalah Endless Love (Autumn in My Heart), Full House, dan Boys Before Flower. Ketiganya juga pernah saya tonton walau tidak full dari awal sampai tamat. Hanya nonton sepotong yang sedang tayang saja.
Sekarang dengan mudahnya akses platform streaming, menonton drakor tidak perlu tunggu tayang di TV. Tinggal cari judul drakor dan platform yang menyediakannya saja. Keunggulan lain menonton di platform streaming juga bisa mengatur laju durasi tontonan, tidak takut ketinggalan momen penting karena ada play, replay dan playback hahaha.

    Saya bukan orang yang paham betul dengan culture K-Wave/ Hallyu. Itu adalah sebutan untuk fenomena populernya unsur kebudayaan dan hiburan Korea di dunia Internasional (mencakup musik, serial TV, film, kuliner dsb)
Walau sejak SMP sampai kuliah hampir setiap teman dekat saya sangat into K-wave. Saya justru hanya menjadi pendengar cerita saja. Cukup tahu. Menurut saya waktu itu sulit menghafal nama-nama idol korea. Akses menonton drakor pada saat saya SMP juga masih "underground" alias memanfaatkan link streaming ilegal dan copyan antar flashdisk. Saya cukup malas dengan effort yang demikian hahaha.
    Sampailah pada saat pandemi mengubah cara hidup orang-orang di dunia dengan cukup mengejutkan. Dalam sepanjang 2020 yang hampir 90% saya habiskan di dalam kamar itulah saya mulai kehabisan bahan tontonan. Biasanya saya hanya mengandalkan YouTube dan konten yang disajikan disana. Saya tidak ingat drakor apa yang pertama saya tonton sejak pandemi, karena mencari tontonan yang tepat cukup sulit. Apalagi kalau bicara soal serial, yang butuh kesabaran mengikuti jalan cerita berepisode-episode lamanya. Bisa berhenti ditengah-tengah karena merasa jengah, bahkan skip dari awal karena merasa ceritanya akan template saja.
    Dari pengalaman yang tak cukup intens itu, inilah beberapa drakor rekomendasi dari saya. Umumnya bergenre romcom, karena saya suka nonton kisah cinta yang berhasil hahaha. Juga mementingkan aspek gergerger komedi lagi komedi terusss.

1. Because This Is My First Life
Episodes: 16
Genre: Romcom
Release Year: 2017
Main Cast:
Lee Min-ki as Nam Se-hee
Jung So-min as Yoon Ji-ho

(source: pinterest)

Ji-ho, seorang perempuan penulis naskah yang belum punya rumah sendiri. 
Se-hee, lelaki pekerja kantor IT yang hidupnya telah mapan secara finansial dan sedang dalam tahap mencicil apartemen pribadinya.
Mereka berdua dipertemukan oleh keresahan tentang memiliki tempat tinggal sendiri. Ji-ho perlu segera punya kosan dengan harga murah, dan Se-hee butuh passive income untuk lekas menutup cicilan rumahnya.
Se-hee merupakan pemilik rumah yang selektif, Ia berharap orang yang ngekos di rumahnya tidak hanya mampu membayar sewa tapi juga bertanggung jawab dan tidak menganggunya. Ji-ho dan Se-hee terkejut, ternyata selama beberapa hari ini mereka tinggal dengan lawan jenis di satu rumah yang sama. Lalu Se-hee berpikir bahwa hubungan mereka akan lebih efektif apabila menjadi suami-istri. Jadilah mereka berdua membuat kontrak pernikahan selama dua tahun.

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Walau premisnya cukup bertentangan dengan nilai moral (di Indonesia paling tidak), namun mereka realistis soal kehidupan pernikahan dan kepemilikan aset. Hahaha. Se-hee memaparkan bahwa menikah dan membiayai keluarga itu adalah hal yang butuh biaya besar. Ia juga sadar bahwa banyak biaya yang bisa dipangkas supaya lebih sesuai dengan realita dan kemampuan, salah satunya mengenai resepsi pernikahan. Awalnya mereka berdua setuju untuk tidak mengadakan pesta, namun orang tuanya tidak setuju. 
    Mereka mengambil komitmen menikah semata karena hubungan itu saling menguntungkan bagi satu sama lain walau tanpa perasaan cinta atau kasih sayang. Umumnya, pasangan yang menikah tentu berdasar perasaan, ketertarikan lalu menyesuaikan preferensi atau keuntungan satu sama lain. Walau nampaknya, saat bicara tentang cinta, jadi tabu rasanya jika dihitung untung rugi.
Padahal sangat manusiawi juga menikah karena punya pandangan bahwa hidup berdua dengannya akan lebih baik dibanding ketika sendiri. Hal barusan itu kan termasuk hitungan untung rugi.
Hubungan Se-hee dan Ji-ho jadi sangat dewasa karena kompromi mereka didasarkan pada data dan kebutuhan. Komunikasi antara pasangan ini pada awalnya terlampau dingin dan sangat profesional.
Berbeda dengan Won-seok dan Ho-rang, teman Ji-ho yang telah berpacaran tujuh tahun. Ho-rang masih terus berkomunikasi dengan kode-kode dan isyarat. Sedangkan Won-seok seperti lelaki pada umumnya yang kurang pandai membaca pesan "berlapis". Menyebabkan hubungan mereka diselingi pertengkaran-pertengkaran. Namun, Won-seok dan Ho-rang mampu terus menemukan jalan kembali satu sama lain.
    Itulah dinamika hubungan, dalam relasi romantis memang harus tetap seimbang antara komunikasi yang mengandalkan logika dan obrolan yang bersandar pada perasaan/kepekaan. Karena jika dalam relasi romantis terus-terusan pakai logika, yah apa bedanya dengan relasi profesional serupa kontrak kerja? Haha.
    Hal menarik selanjutnya adalah mereka gooners. Melihat aspek yang dekat dengan keseharian saya dalam drama tentu saja menarik. Ada scene saat mereka menonton pertandingan Arsenal di handphone maupun televisi. Di rak juga terdapat pajangan dan merch Arsenal.
    Aspek lain yang tak kalah menarik adalah soundtrack yang easy listening. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk menambahkan soundtracks drama ini ke dalam playlist favorit saya.

2. Reply 1988
Episodes: 20 + Special
Genre: Family Drama, Comedy, Romance
Release Year: 2015
Main Cast:
Lee Hye-ri as Sung Deok-sun/ Sung Soo-yeon
Ryu Jun-yeol as Kim Jung-hwan/ Jung-pal
Park Bo-gum as Choi Taek
Go Kyung-pyo as Sung Sun-woo
Lee Dong-hwi as Ryu Dong-ryong

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Reply 1988 ini menyajikan suasana kehidupan bertetangga yang guyub. Anak-anak sebaya yang tinggal di satu lingkungan dengan latar belakang keluarga berbeda-beda lalu menjadi sahabat. Suasana neighborhood yang terasa dekat. Kebiasaan berbagi makanan, saling  membalas hantaran satu sama lain, copot alas kaki saat masuk rumah. Hal-hal yang mungkin sulit kita dapatkan saat melihat sinema yang berasal dari luar Asia.
    Hal lain yang menarik ya karena poin jalinan asmaranya (jyakh jalinaaaan). Melihat kisah cinta yang berhasil adalah salah satu poin pertimbangan ketika saya memilih tontonan. Walau yaaa sebenarnya tidak semuanya berakhir bahagia ya hahaha (@ Jung-pal).
However, kisah cinta masa remaja memang selalu gemas untuk ditonton!
    Drama ini juga realistis karena cerita pertetanggaannya ini yaa hampir dialami juga oleh rata-rata anak kabupaten seperti saya hehe. Konfliknya tidak terlalu membuat hati terasa berat dan tidak tega melanjutkan agenda nonton. Selalu jadi comfort-zone saat bingung mau nonton apa.

3. My Liberation Notes
Episodes: 16
Genre: Slice of Life
Release Year: 2022
Main Cast:
Kim Ji-won as Yeom Mi-Jeong
Son Sok-ku as Mr. Gu (Gu Ja-gyeong)
Lee El as Yeom Ki-Jeong
Lee Min-ki as Yeom Chang-hee

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Ceritanya cukup realistis, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kehidupan tiga kakak beradik anak dari pasangan di desa. Orang tuanya sehari-hari bekerja di ladang dan mebel. Mereka bertiga kerja di kantor pusat kota, perjalanan yang cukup jauh dari rumah sehari-hari. Selalu mendapat pertanyaan mengapa tidak ngekos di kota saja daripada capek pulang-pergi.
    Kedua, secara visual sangat memanjakan mata saya, karena menurut saya tone drama ini sangat lembut, spring, dan hangat. Jadi secara visual, drama ini bisa juga jadi pilihan ketika saya bingung mau nonton apa hahah, walau secara konflik sangat huhu tidaaaak mau! tidak mau! EMOH! (iykyk)
    Terakhir, aspek personal. Profesi tokoh utamanya adalah desainer grafis dari dusun yang kerja di kota hahahah. Segala dinamika kantor dan revisi desain yang entah ada berapa lapis itu memiliki scene yang cukup banyak dan memvalidasi keresahan saya LOL. Atasan yang menyebalkan, teman yang bermuka dua, dan program mandatory kantor yang tidak sesuai kehendak hati. Lengkap menjadi bagian cerita si tokoh utama.

4. Mystic Pop-up Bar
Episodes: 12
Genre: Drama, Fantasy, Comedy
Release Year: 2020
Main Cast:
Hwang Jung-eum as Weol-ju
Yook Sung-jae as Han Kang-bae
Choi Woon-young as Guibanjang/ Chief Gwi

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Jalan cerita, theme song dan visual drama ini unik sekali. Dengan genre fantasi tentu saja akan ada bagian-bagian cerita yang ramashook. Bagi saya yang cenderung lebih suka menonton drama-drama realistis, Mystic Pop-up Bar ini jadi refreshment yang oke.
    Secara garis besar drama ini menceritakan perjalanan Weol-ju menebus kesalahan masa lalunya. Ia menjalani reinkarnasi dan harus membantu 100 ribu manusia melepaskan dendam. DHYAR! 100 ribu. Melepas dendam. HAHAHAHA sebagai manusia yang ikhlasnya setara ketebalan hvs 70gr, saya tahu betapa itu merupakan tugas yang berat BERAT! Jangankan 100 ribu manusia. Satu manusia melepaskan dendam saja kadang butuh waktu yang tidak singkat, kan? :)
    Walau fokus utama adalah di kehidupan tiga tokoh utama, namun cerita-cerita tokoh yang dibantu Weol-ju ini juga amat padat dan meaningful. Tentang permasalahan yang akrab dengan keseharian kita juga, ketidakadilan karena nepotisme, pelecehan di tempat kerja, usaha orang tua yang ingin memiliki anak, salah paham antar keluarga dll.
    Selalu ada rasa lega tiap kali Weol-ju selesai membantu orang-orang ini merilis dendamnya poooff jadi abu!~ ((mau jugaaa))

5. Weightlifing Fairy Kim Bok-joo
Episodes: 16
Genre: Romcom
Release Year: 2016
Main Cast:
Lee Sung-kyung as Kim Bok-joo
Nam Joo-hyuk as Jung Joon-hyung
Lee Jae-yoon as Jung Jae-yi
Kyung Soo-jin as Song Shi-ho

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Tokoh utamanya hidup sebagai piatu, ibunya telah meninggal dan hanya tinggal dengan ayah yang penyayang. +2000 untuk drama dengan tokoh ayah yang lembut hati, present & provide. Jadi tidak susah untuk saya terus menonton drama yang punya tokoh ayah seperti itu.
    Selain itu romcom lagi~ ya karena mengapa tidak~ Jalinan cerita Bok-joo dan Joon-hyung ini sangat bisa dinikmati. Lagi-lagi, kisah cinta remaja itu memang jadi salah satu cerita favorit saya LOL~ gemash romantis tak masuk logikaaa~ kalo kata lagunya Donne Maula.

Selain lima drakor favorit saya diatas, saya juga punya tiga list yang juga jadi drama kesayangan, walau konfliknya sedikit lebih berat daripada yang lima diatas. Itu kenapa tiga drama ini walau termasuk favorit tidak jadi #top5 coyyy pening nontonnya!

*Juvenile Justice
Episodes: 10
Genre: Legal drama
Release Year: 2022
Main Cast:
Kim Hye-soo as Shim Eun-seok
Kim Mu-yeol as Cha Tae-joo
Lee Sung-min as Kang Won-joong
Lee Jung-eun as Na Geun-hee

(source: pinterest)

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Drama tentang peradilan mungkin bukan hal yang baru, namun dengan fokus dalam peradilan anak menjadikan drama ini cukup punya unique selling point. Walau akhirnya cukup satu musim saja karena tidak cukup banyak penontonnya. LOL tapi yang menonton hampir merupakan solid fanbase. ((cie yakin))
    Tokoh utamanya, Shim Eun-seok adalah hakim yang sangat membenci penjahat remaja, kompeten di bidangnya dan memiliki kepribadian yang dingin.
Kasus kriminal anak yang meningkat signifikan dari tahun ke tahun di Korsel dipotret cukup baik dalam drama ini, mulai kasus perundungan hingga prostitusi. Tidak ada satupun kasus yang tidak membuat saya mengelus dada menahan emosi. Walau sering merasa kasihan karena terdakwanya adalah remaja, dan kadang terlihat clueless dalam scene di depan meja pengadilan. Tapi kembali lagi, saat dalam scene kriminal itu, kelakuan mereka sungguh jauh dari tingkah manusia normal. Hzzz!
    Dengan anak-remaja yang jadi subyek peradilan, tentu saja ceritanya akan lebih mengaduk emosi. Yah begitulah ya~ memetik moral value kadang memang harus dengan menyaksikan konflik yang t*i banget!

*Thirty-Nine
Episodes: 12
Genre: Romance
Release Year: 2022
Main Cast:
Son Ye-jin as Cha Mi-jo
Jeon Mi-do as Jeong Chan-young
Kim Ji-hyun as Jang Joo-hee

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Heart-warming dan heartbreaking dalam waktu yang sama! Persahabatan, cinta dan kematian diceritakan dengan indah dalam drama ini. Menjadi sebuah serial yang asyik, lucu, menguatkan juga memilukan. Campur aduk, bukan?! Yah betapa tidak, ditinggal pas lagi cinta-cintanya, gimana sih? bayangkanlah! Drama ini juga tidak melulu fokus pada hubungan romantis, tapi menampilkan bahwa hubungan platonic itu juga bisa sama indahnya.
    My kind of drama! walau temponya lambat namun ini justru membiarkan penonton memiliki waktu untuk berefleksi dengan ceritanya.

*Oh My Venus
Episodes: 16
Genre: Romance, Drama, Comedy 
Release Year: 2015
Main Cast:
Shih Min-a as Kang Joo-eun (Venus of Daegu)
Soo Ji-sub as Kim Young-ho/ John Kim

Mengapa drama ini menarik bagi saya?
    Layak ditonton, bahwa cinta tidak ada hubungannya dengan bentuk tubuh, ukuran, dan kesehatan. Chemistry antara pemeran utama sangat manis dan kuat! Tokoh utamanya bekerjasama tidak hanya dalam transformasi tubuh si Venus of Daegu ini, namun juga saling membantu menyembuhkan luka emosionalnya masing-masing. Hangat!

    Kegiatan nonton drama korea ini menyenangkan dan jadi pilihan nyaman untuk introvert seperti saya. Rebahan dan nonton serial di hari libur cukup membuat saya terhibur dibanding jalan-jalan seharian HAHAHA. Murah, nyaman dan menghibur.
Hanya saja, kadang dengan banyaknya pilihan drama yang bisa ditonton, saya cukup sulit menentukan pilihan. Maka dari itu list ini jadi pengingat drama-drama apa saja yang mungkin jadi tempat kembali alias comfort-zone di saat-saat bingung ini.
Jadi kurang konsisten sih judulnya rekomendasi, tapi kesimpulannya cuma jadi referensi tontonan pribadi saat ngeblur HAHAHAH anyway memang begitulah konsep semrawut dalam blog ini. Tararengkyu!

Terima kasih sudah mampir dan membaca sampai disini!

Salam,
A.