February 23, 2023

mengunjungi yang telah pulang

judul tulisan ini terasa ganjil namun amat tepat di waktu yang bersamaan. 
mengapa harus berkunjung padahal ia telah pulang? 
sebab ia tak pulang ke rumah kami, bukan pula pergi.
ia hanya pulang ke perhentian selanjutnya.
untuk berjumpa lagi nampaknya entah bila, tapi tak apa.
mengingat jaminan Tuhan kami akan dikumpulkan bersama.


hari ini saya dan ibu mengunjungi makam bapak. semuanya nampak sama, batu nisan dingin dan kaku menyambut kami. rumput liar dan bunga-bunga yang tumbuh subur seakan memohon untuk tetap tinggal. tapi, sebagai makhluk egois, kami tetap mencabut tanaman liar itu supaya makam bapak terlihat rapi. padahal, entah bapak akan lebih suka yang mana. makam yang subur oleh rumput dan bunga atau makam yang rapi dengan tebaran bunga warna-warni nan mati. mengingat bapak sangat suka menanam.
tapi dulu ia melakukan hal yang sama ketika mengajakku mengunjungi makam mbah kung dan mbah putri. jadi kurasa bapak akan suka juga melihat makamnya rapi. walau saya tak tahu juga, bagaimana alam kubur bekerja melihat kegiatan manusia. saya hanya memikirkan respon bapak supaya ia terlihat sama hidupnya dengan bunga-bunga mekar disekitar makam.

berkunjung ke makam itu adalah kegiatan yang selalu emosional. rasanya kehidupan dan kematian begitu dekat. manusia sangat lemah dan tidak punya kewenangan apapun tentang waktu. dulu saya suka berkunjung ke makam, sebelum makam bapak yang jadi tujuan utamanya. saya bisa ikut menebar bunga dan menatanya di sekitar nisan. dulu saya tidak mengerti apa pentingnya berkunjung ke makam. bahkan tanggal wafat di nisannya pun jauh sebelum saya lahir. bapak tidak berkata banyak saat mengajak saya ke makam, ibu juga sama. mereka hanya membersihkan rumput liar, berdoa dan menebar bunga. lantas pulang dan mencuci kaki sesampainya di rumah. bapak dan ibu bahkan tak pernah protes dan melarang saya yang membawa pulang bunga hasil petikan tangan jahil. bila orang tua lain bilang "jangan petik-petik nanti sawan", bapak ibu dulu hanya memandang heran.
"sing penting anaknya mau diajak ke makam dan kenal leluhur" mungkin itu ungkapan yang nyaris seirama dengan batin mereka.

sekarang saya sedikit paham kenapa. makam itu bisa jadi tempat terakhir kita bisa melihat mereka yang pulang. setelah liang lahad kembali dipenuhi tanah, jarak perjumpaan akan entah berapa lama. bapak dan ibu membawa saya ke makam mbah kung yang tidak sempat saya kenal. mungkin bukan tanpa alasan. sepertinya itu upaya terakhir bapak ibu menerjang kuasa waktu yang memutus perjumpaan saya dengannya. walau tetap tak mengubah banyak hal, karena saya gagal menyayangi seseorang yang tak pernah ditemui. tapi melihat mereka selalu menyebut nama-nama yang telah pulang setiap berdoa membuat saya mengikuti hal yang sama. entah itu cinta atau bukan, semoga jika nanti benar bertemu lagi, kami takkan saling merasa asing sebab telah bertalian doa.

bapak menanam kebaikan dan menyemai harapan. ia terus melakukannya walau telah lama pulang. dari makam yang sunyi dan tenang hingga jadi tulisan cukup panjang. terus menulis topik yang sama sambil berulang kali menahan sakit di telinga. kelak mungkin saya akan berterima kasih, sebab tulisan-tulisan ini mengiringi proses melepas ikatan duka yang tak terkira lapisannya.

semoga rahmat dan rahim Allah selalu tercurah pada bapak.
lahul-fatihah.

February 13, 2023

Perempuan dan Pilihannya

    Beberapa hari yang lalu ramai dibicarakan di linimasa media sosial tentang pilihan sepasang suami istri untuk tidak memiliki keturunan. Warganet saling unjuk pendapat, tidak segan untuk menegaskan dirinya ada dalam posisi kontra. Sekalipun masalah yang dikomentari sejatinya berada di ranah privat. Tidak seharusnya kita ikut campur terhadap keputusan seseorang atas tubuh dan keluarganya. Walau saya juga mengerti, banyak yang menyesalkan cara penyampaian pendapat yang bersangkutan, alih-alih konteks child-free itu sendiri.
Saya rasa, sebaiknya kita tidak perlu melempar pendapat atas keputusan orang lain tanpa diminta. Apalagi jika keputusan tersebut menyangkut tubuh dan keluarganya sendiri. Saya paham, desakan rasa ingin membawa orang ke jalan yang benar sangat kuat dalam karakter masyarakat kita. Namun, biarlah orang lain (khususnya perempuan) menjalani pilihannya dengan tenang.
Sebab kita tidak tahu, sebanyak apa kepahitan yang telah dia lalui untuk sampai di posisi yang sekarang ini. Kita tidak mengerti apa saja yang sudah dia lakukan hingga sampai pada keputusan itu.
Saya rasa energi yang dikeluarkan untuk menghargai pilihan perempuan lebih ringan daripada energi yang dikerahkan untuk menulis sumpah serapah di media sosial.

    Namun, di tengah masyarakat yang begitu "ramah" dan sangat peduli satu sama lain seperti Indonesia, hal ini menjadi semakin rumit. Perempuan yang entah karena kondisi atau pilihannya belum hamil di usia-usia ideal kemudian menerima pertanyaan dan kalimat yang tidak nyaman didengar.
Dimulai dari pendidikan, perempuan yang memilih sekolah sampai jenjang tertentu dianggap melakukan hal sia-sia. Sebab masih banyak masyarakat kita yang melihat peran perempuan hanya dalam pekerjaan domestik saja, jadi mengapa harus sekolah tinggi.
Kemudian pernikahan, perempuan yang dalam rentang usia ideal namun tak kunjung menjadi pengantin akan menerima banyak pertanyaan. Tak jarang disertai ujaran:"awas lho jangan sampai telat, nanti susah dapat anak".
Saat menikah pun, komentar tidak berhenti. Perempuan masih akan menerima pertanyaan kapan? kapan? kapan? seakan proses kehamilan itu bisa terjadi 100% akurat sesuai rencana manusia.
Pertanyaan dan penghakiman atas pilihan perempuan tidak akan berhenti hanya karena Ia telah menjadi istri atau ibu. Bahkan pilihan untuk bekerja di kantor atau di rumah juga kerap kali menjadi topik dalam perbincangan.
Kita terus memaklumi penghakiman terhadap pilihan perempuan dengan dalih basa-basi. Kita terus menganggap normal untuk mengomentari keputusan manusia lain dengan alasan peduli. Tanpa kita sadari, betapa kalimat-kalimat tersebut menjadi sayatan luka dan berbekas selamanya dalam pikiran mereka. 
Jika sudah begitu, apa iya minta maaf akan menyelesaikan segalanya?
Yakinkah bahwa kata maaf itu akan sebanding dengan hari berat yang mereka lalui dengan memikirkan kalimat yang mungkin telah lama kalian lupakan?

    Dalam tulisan saya yang ini, saya menulis:"Perempuan sepanjang hidupnya mungkin tak memilih sebebas dan sebanyak lelaki. Namun, selama ada kesempatan dan mungkin dilakukan maka lebih baik untuk memilih dengan selektif."
Mungkin, masyarakat kita masih belum terbiasa dengan kenyataan masa kini, bahwa perempuan bisa memiliki pilihan. Sebab di masa lalu, keputusan perempuan diwakilkan oleh laki-laki atau orang yang lebih dewasa darinya. Sebab dulu, perempuan dianggap tak perlu menyatakan pilihan. Seperti asal kata wanita yang telah banyak diketahui "wani ditata" kata yang secara mutlak telah mengindikasikan bahwa perempuan harus tunduk pada ketentuan dan perintah.

    Suatu waktu, dalam sesi konsultasi dengan psikolog saya pernah memaparkan kekhawatiran saya tentang memiliki anak dan menjadi orang tua. Saya perempuan dan belum menikah. 
Saya bilang bahwa saya bisa memetakan dari arah mana kekhawatiran itu muncul. Psikolog tersebut menjelaskan bahwa hal tersebut normal terjadi dan bisa didiskusikan dengan pasangan. Keputusan memiliki keturunan adalah hasil komunikasi dua arah dan perempuan punya hak yang sama untuk menyuarakan pendapatnya. Ia menyarankan saya terus membangun komunikasi yang baik dengan pasangan dan orang tua, supaya saling jadi support system yang baik. Sebab dengan lingkaran pendukung yang kuat, perempuan bisa jadi lebih mantap berjalan dengan pilihannya.

    Di Indonesia, usia saya sudah dikategorikan mulai masuk usia kedaluwarsa. Pada umumnya, orang tua menganjurkan (bahkan cenderung memaksa) anak perempuannya menikah dan melakukan program hamil sebelum usia 30 tahun.
Saya juga banyak membaca jurnal dan berita kesehatan tentang meningkatnya resiko kehamilan pertama pada perempuan diatas usia 30 tahun. Jadi anjuran orang tua itu memang bukan tanpa alasan. Sebagai manusia yang memiliki pengalaman lebih banyak, orang tua memang sepantasnya kita dengarkan anjuran dan pendapatnya. Tetapi, bukan berarti diatas usia tersebut perempuan tidak mungkin hamil dan melahirkan. Di tengah majunya fasilitas kesehatan dan mudahnya mengakses informasi seperti saat ini.
Lihat saja, tanpa penghakiman orang-orang, siklus dalam tubuh perempuan seakan berpacu dengan waktu. Dengan siklus yang demikian serta dengan pengalaman unik masing-masing perempuan menjalaninya, tidak elok rasanya untuk terus mengintervensi keputusannya.
Laki-laki yang tidak mengalami siklus yang sama lebih baik diam sejenak dan banyak mendengar atau membaca daripada terjebak mansplaining. Banyak mendengar dan membaca supaya bisa menjadi lingkaran pendukung yang kuat bagi perempuan disekitarnya.
Perempuan yang seharusnya jauh lebih mengerti sesamanya karena kurang lebih melalui siklus yang sama, lebih baik saling mendukung pilihan satu sama lain. Bukan merendahkan pilihan perempuan lain yang tidak sejalan dengan apa yang diyakini.

    Saya tidak lebih baik dari tulisan-tulisan saya, satu dua kali atau bahkan lebih, mungkin pernah menyinggung pilihan orang lain. Tapi manusia seakan memiliki tombol learn and unlearn, kita selalu bisa belajar lebih baik dari kesalahan yang lalu.
Saya berharap kita akan jadi bagian dari masyarakat yang tidak mudah marah, tidak lekas menghakimi pilihan orang lain. Lebih spesifik, saya berharap kita semua mau untuk sedikit membatasi tanggapan tidak perlu dan lebih banyak mendengar. Biarkan perempuan dan pilihannya berjalan beriringan dengan tenang.



Salam,
A.