Berusaha menutup 2020 dengan mencatat resume dari buku yang dibaca, sebuah kegiatan yang diyakini (oleh diri sendiri) sebagai peningkatan dari sekadar menulis ulasan. Dalam salah satu buku yang sebenarnya sudah berupa ringkasan, saya memulai menulis dan memilih kalimat-kalimat yang kiranya penting dibaca ulang suatu hari nanti.
Saya terhenti pada bagian pembahasan tentang mempertimbangkan kembali sebuah kesalahan. Sebuah topik sensitif untuk saya adalah ketika topik itu mengandung tiga unsur; kesalahan, masa lalu dan pemaafan. Dalam bagian di buku tersebut dijelaskan bahwa sebaiknya kita berusaha objektif dalam menilai kesalahan orang lain, khususnya kesalahan yang secara langsung mempengaruhi hidup kita. (Ya! Sebab menilai kesalahan orang lain yang tidak bersinggungan dengan kita, sudah cukup valid untuk membuat kita melakukan kesalahan. Semoga selalu eling untuk fokus terhadap apa-apa yang ada dalam kontrol dirimu.) Sebab dalam praktiknya, kita cenderung mudah menjatuhkan penghakiman ketika kita dalam posisi tertimpa kesalahan orang lain. Setiap orang, sebagaimana dijelaskan dalam buku itu, memiliki latar belakang yang tidak kita paham seluruhnya. Mungkin ada ketakutan, luka atau bahkan beban masa lalunya yang mempengaruhi tindakan atau perkataannya di masa kini. Meskipun lagi-lagi sebagai manusia yang penuh pembenaran, kita bisa saja menjustifikasi alasan kita menyalahkan seseorang (yang dalam hal ini perbuatan atau perkataannya memang salah) dengan pemikiran;"seharusnya dia menyelesaikan seluruh masalahnya dengan tuntas sebelum tumbuh menjadi benalu yang memengaruhi tindakannya di masa depan". Tidak salah pula, hanya kurang bijak. Buku itu mengisyaratkan kita untuk memproses suatu pemikiran dengan pelan dan cermat. Benci dan marah terhadap perilakunya, sah-sah saja. Tapi murka berkepanjangan terhadap subjek yang menyebabkan tidur tak tenang makan tak nikmat bersangkutan tentu terlalu menghabiskan energi.
Maka berangkat dari latar belakang itu, kita bisa mulai meminjam sudut pandang orang lain, pertama; orang yang mendengar cerita tentang kesalahan dan pelakunya, sepasang telinga yang bersimpati namun tidak secara langsung mengalami dan terlibat atau dirugikan dengan kejadian yang diceritakan. Kedua; orang yang melakukan kesalahan itu sendiri (((tersangka))).
Orang pertama, mungkin akan berusaha keras memposisikan diri, namun sangat berpotensi memberikan pandangan yang objektif, karena tidak ada keterikatan terhadap tokoh-tokoh yang diceritakan. Hal yang bisa kita pelajari adalah untuk berusaha menyadari bahwa setiap manusia menjalani hidupnya lengkap dengan kesalahan bertindak dan berkata-kata. Hidup bagi setiap manusia adalah kesempatan pertama, dan melakukan seluruh hal dengan benar dalam kesempatan pertama adalah mustahil. Maka ketika seseorang melakukan kesalahan, ingatlah bahwa bisa jadi itu kesalahan pertama yang tidak disengaja, berada diluar perhitungannya. Jika kita tahu bahwa kesalahannya adalah suatu pola berulang maka pertimbangkan bahwa banyak variabel diluar pengetahuan kita yang membuatnya melakukan kesalahan itu. Cara untuk mempertimbangkan kesalahan ini digunakan hanya untuk mengubah perspektif kita terhadap subjek tertentu; untuk memudahkan kita mencapai pemaafan, bukan untuk merelakan diri kita terus tenggelam dalam kubangan kesalahan berulang yang disebabkan orang lain. Harus tetap ingat ya bahwa yang bertanggung jawab penuh atas seluruh keamanan perasaanmu adalah dirimu sendiri, jadi pastikan kontrol atas perasaan ada penuh dalam genggaman.
Meminjam sudut pandang dari pelaku kesalahan ini yang sulit, bagaimana caranya perasaan yang penuh luka dan dendam masih berusaha pelan-pelan difungsikan kembali memahami perasaan orang lain, yang bahkan jelas-jelas sudah menerobos batas toleransi kita? Bayangkan ada dalam situasi yang sama, persis, hanya saja posisi kita menjadi si pembuat masalah. Apakah kita akan melakukan hal yang sama dengannya? Yakinlah bahwa jawabannya tentu saja tidak, ya sebab kita tahu betapa marah, sedih, takut (atau apapun perasaan negatif lain yang terasa tidak nyaman) ketika harus menerima akibat dari suatu perlakuan menyakitkan. Tapi berpikirlah dengan perspektif pelaku, yang tentu saja memikirkan dirinya sebagai sosok utama yang harus ia lindungi, dia berlaku sedemikian tega, sedikit banyak karena tahu bahwa jika dalam kondisi sebaliknya tentu akan menderita. Ia melakukan sesuatu yang salah untuk tujuan yang baik bagi dirinya. APA? Ya, ia melakukan sesuatu yang salah dalam hal ini salah dalam perspektif kita sebagai subjek yang dirugikan, salah karena tidak sesuai standar nilai yang kita anut. Apakah salah baginya? belum tentu, sebab kita tidak pernah tahu apa-apa yang tersembunyi jauh dalam hati manusia. Apakah salah bagi sebagian penduduk bumi? bisa iya, bagi orang yang sepemikiran dengan kita, bisa juga tidak bagi orang yang tak menganut nilai yang sama dengan kita. Relatif. Maka ketika mempertimbangkan kesalahan seseorang dengan meminjam sudut pandangnya, ingatlah bahwa; kesalahan perilaku atau kata-katanya merupakan gabungan antara banyak variabel; karakter, latar belakangnya, cara pikirnya dan kondisi terkini. Juga bahwa subjek yang sama sangat mungkin berada dalam kondisi yang baik sehingga menyadari kesalahannya dan tanpa sepengetahuan kita, sedang sangat menyesali sesuatu yang tidak dapat lagi diperbaiki, menyadari hal ini bukankah lebih dari cukup sebagai bahan pertimbangan untuk menuju pemaafan? Lalu jika ia tidak menyadari kesalahan dan menyesalinya, bagaimana? Kembalikan semua pada kalimat ini;"fokus terhadap apa-apa yang ada dalam kontrol dirimu."
Mungkin dengan menulis ini semua, saya terlihat menjadi pribadi baik hati, hangat dan pemaaf. Namun memang lebih mudah menulis tanpa melakukan semuanya di kehidupan nyata. Saya yang menulis resume masih saya yang sama, bergelut dengan pemikiran yang tak henti timbul-tenggelam, mencari posisi paling depan untuk dijadikan alasan meyakini sesuatu benar atau salah. Lebih dari apa yang saya tulis hari ini, saya ingin benar-benar mengelola setiap pemikiran sesuai dengan nilai-nilai yang saya anut. Bahwa tidak semua pemikiran yang saya yakini adalah kebenaran sesungguhnya, dan perlu dirinci satu demi satu untuk melihat sesuatu yang benar lalu kemudian diyakini secara penuh. Terakhir, kenyataan bahwa manusia sangat peka terhadap perubahan, semoga menjadikan kita selalu ingat bahwa tiap-tiap kepala (sangat) bisa menyusun kembali kerangka berpikirnya dan memperbaiki sesuatu yang kurang tepat sebelumnya.
Lebih baik meluangkan waktu meminjam sudut pandang lain untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya (setidaknya berusaha mencari), meskipun sulit dan butuh energi. Daripada terus terkurung meyakini pembenaran hanya karena merasa terluka, meskipun terasa nyaman, Memangnya apa pelajaran yang bisa dipetik dari kondisi yang terus menerus mengikis kelapangan hati? Selamat bertumbuh.
Salam,
A.