July 31, 2019

Meluapkan Kemarahan kepada Tuhan.

Marahnya seorang anak manusia.
Meluap-luap beriring air mata yang ditabung sejak lama.
Esok ulang tahunnya, hari ini Bapaknya tutup usia.

Marahnya seorang anak manusia.
Merasa paling dihancurkan kenyataan.

Ia memanggil Tuhannya keras-keras sepanjang doa.
Memanggil dengan murka.
Memanggil untuk menggugat mengapa hari itu tiba.

Ia memanggil Tuhannya keras-keras sepanjang doa.
Memanggil dengan murka.
Memanggil untuk meminta kembali waktu untuk Bapaknya.

Marahnya seorang anak manusia.
Yang sia-sia.
Mengapa tak pernah usai sakit hatinya?

Tuhan yang menyayanginya dengan sangat.
Tuhan yang tidak berpaling sekalipun dia datang dengan amarah.
Tuhan yang memberinya hidup dan kesempatan.

Marahnya seorang anak manusia.
Menentang garis hidup kepada Sang Pemberi Hidup.
Marahnya seorang anak manusia.
Yang sia-sia.

Menangis.
Sujud.
Memohon ampun.

Marahnya seorang anak manusia.
Kepada dirinya yang kemarin.

Kemarahan yang teramat sangat.

Betapa kehilangan telah menguji kehambaannya dengan hebat.
Hampir ia lepas kehambaannya dengan sikap langit yang tinggi.
Bahkan langitpun enggan disamakan dengannya.

Sedangkan,
Tuhan terus menyelimutinya dengan rahmat.
Tuhan terus melimpahi hatinya dengan rahim.
Tuhan terus mendatangkan orang baik disekelilingnya.

Kemarahannya yang teramat sangat.
Yang sia-sia itu.
Luntur bersama air mata.

Semoga telah berlalu.
Semoga tak lagi berlaku.

July 26, 2019

kepada siapa pun surat ini tertuju.

terima kasih telah berbagi cerita dan menebar energi baik.
terima kasih sudah berkenan membumi meski tempatmu di langit.
terima kasih untuk halaman luas yang tak bosan dikunjungi.

semoga kelak bertemu kembali dengan frekuensi yang sama.
dalam suasana yang gembira.

salam,
sepotong hati yang menapak bumi

/////banyak lagu-lagu baru yang bikin lembut hatinya, mendukung suasana untuk nulis yang menye-menye begini hahaha, yasudah gapapa sekali-kali jadi cewe teenlit

July 19, 2019

Orang Tua dan Harapan

Bertemu dan bicara dengan orang-orang dari berbagai latar belakang berbeda (baik sosial, ekonomi dan pendidikan) selalu mengejutkan, kita seringkali mendapat banyak insight yang tidak didapat semata dengan bersekolah saja.

Waktu itu, ketika saya sedang mengendarai ojek, si Bapak membuka obrolan dengan menanyakan dimana saya sekolah, lalu berlanjut dengan beliau yang bercerita bahwa anaknya seusia saya dan juga sedang mengerjakan skripsi.
Bapak itu bercerita dengan semangat, bahwa pekerjaan barunya sebagai pengemudi ojek online bisa menghasilkan pendapatan lebih daripada pekerjaannya yang sebelumnya beliau jadi bisa mengirimi anaknya uang saku lebih di tanah rantau.
Bapak tersebut juga bercerita bahwa beliau tak sekalipun memilih-milih orderan yang masuk ke aplikasinya, beliau selalu mempertahankan performa baik agar ratingnya tidak turun.
Beliau berharap anaknya yang sebentar lagi lulus itu akan mendapat pekerjaan yang baik agar dapat menghidupi dirinya sendiri dengan layak.
"Saya sudah berusaha sangat keras untuk mengupayakan anak saya sekolah sampai perguruan tinggi itu biar apa mbak, ya cuma biar dia tidak bernasib seperti ayahnya", ujar beliau mengakhiri percakapan tentang keluarganya. (tentu saja cerita ini sudah dialih bahasakan ke bahasa indonesia ya, hahaha ngobrol sama pak ojek di Surabaya ya pake bahasa jawa lho)

Lalu hari ini, ART baru di rumah sepupu saya bercerita mengenai alasan mengapa beliau bekerja jauh dari rumah.
Beliau bercerita bahwa anaknya butuh biaya untuk terus sekolah, tidak bisa jika hanya mengandalkan pemasukan dari pekerjaan suaminya.
Beliau bercerita bahwa anaknya rajin dan suka menabung (akhirnya benar-benar bertemu seorang ibu yang mendeskripsikan anaknya dengan frasa ini! yay hahaha), bukan anak nakal dan amat penurut. Maka dari itu si ibu sungguh memperjuangkan pendidikan anaknya.
Beliau bilang nanti anaknya akan sekolah ke STM agar saat lulus bisa segera bekerja di bengkel milik saudaranya, dengan sekolah si ibu percaya bahwa anaknya kelak akan memiliki garis hidup lebih baik darinya.

Orang tua pada umumnya selalu mengharapkan hal-hal baik selalu meliputi anak-anaknya.
Dimulai dari nama yang diberikan, sudah barang tentu menyimpan makna dan harapan.
Orang tua selalu menaruh harapan baik dan optimis terhadap kehidupan anaknya di masa depan, sedangkan saya sendiri sebagai seorang anak lebih sering meragukan diri sendiri dan pesimis melihat kesempatan.
Orang tua yang selalu mengharapkan hal baik bagi anaknya itu, tidak berhenti dan sekadar berharap, mereka juga terus berusaha setiap hari, sepanjang masa mengupayakan jalan terbaik bagi anaknya menuju kehidupan di usia dewasa, karena mereka paham bahwa dirinya tak hidup selamanya untuk terus mendampingi anaknya (meminjam kalimat yang selalu diucapkan Bapak sebelum beliau pulang)

Saya tahu tulisan ini tidak akan bisa relate dengan anak-anak yang tumbuh tidak bersama orang tuanya, namun perkenankanlah saya untuk meminta maaf atas keterbatasan pengalaman, hal itu membuat saya tidak banyak mengerti dan bisa menulis tentangnya, meski saya tetap berusaha paham rasanya.
Intinya, di dunia yang rupa-rupa warnanya ini akan selalu ada harapan baik dari orang-orang yang menyayangi kalian, jadi jangan pernah menyerah, putus asa atau pesimis melihat masa depan! Semangat, ya!✨

xoxo,
anggi๐ŸŒป

July 18, 2019

portfolio dua juta tahun.

membuat suatu karya tidaklah sulit bagi yang terbiasa.
kesulitan justru tiba saat harus mengumpulkan semua karya, memilih yang terbaik lalu menatanya menjadi beberapa halaman dengan penyampaian yang menarik.
berulang kali memastikan apakah kiranya akan membosankan atau bikin penasaran.
DANK!
memilih dari banyak pilihan tentu sulit apalagi kalau merasa tidak ada pilihan karena semua yang dikerjakan kok ya seperti banyak kurangnya.

cover portfolio tahun 2018๐Ÿ‘ป
cover portfolio Januari 2019๐Ÿ’ซ
cover portfolio Juli 2019๐Ÿ’
dengan berkali-kali drag and drop images, aplikasi yang crash, gagal saving, dan dari dua juta tahun pembuatannya setiap kali memutuskan membuat dokumen baru itu, 1,8 juta tahunnya dihabiskan dengan bingung milih font, yang padahal ujung-ujungnya gitu-gitu aja.

dari cover dan tema layout minimalis yang sebenarnya didasar motivasi pokoke mari ketika mengerjakan portfolio pertama tahun 2017-2018.
kemudian menuju tema layout undangan nikah yang elegant dan mevvah diawal tahun ini, kemudian bulan ini membuat portfolio baru dengan tema layout yang warnanya sungguh cheerful dan tidak menggambarkan diri sendiri yang gak mentas-mentas membiru hahaha,
tapi lucu,
jadi yaudah.๐Ÿ˜ด

ternyata warna yang tepat dan sedikit berani bisa memangkas waktu pengerjaan, karena antusiasme yang tinggi biarpun tetep crash beribu kali.

akhirnya terbit (lagi)!
๐Ÿ’ bit.ly/PortoAnggiJuly ๐Ÿ’

semoga akan ada kabar baik setelah antusiasme tinggi anggi yang sungguh jarang sekali terjadi๐Ÿ˜

xoxo,
anggi.

*lampiran puenting:
clearly stated~
 

July 14, 2019

mencicipi berbagai rasa sakit.

sebelum hidup kaya raya,
mari menyiapkan diri untuk kaya rasa.
bila tau rasa sakitnya,
niscaya akan mengerti dimana letak penawarnya.

mencicipi tidak menghabiskan seluruhnya.
lagi pula, siapa yang kuasa?

selamat terus bertahan.

selamat terus berjalan.

selamat jalan, rasa sakit.

July 12, 2019

sedih.

memangnya apa yang perlu ditulis saat merasa sedih?

July 06, 2019

Bekal untuk Masa Depan.

Terima kasih Anggi, untuk tidak menyerah disaat-saat sulit.
Jika hari kemarin berhasil dilalui, meski dengan susah payah.
Percayalah, bahwa hari ini pun begitu.
Nggak apa-apa lho menangis, kalau itu melegakan.
Nggak apa-apa lho makan lagi meskipun tadi sudah, jangan terlalu peduli pada komentar mereka soal berat badanmu (yang sebenarnya kamu tahu masih normal-normal aja).
Nggak apa-apa lho menulis catatan-catatan aneh semacam ini, toh kewarasanmu sepenuhnya tanggung jawabmu sendiri.
Terima kasih Anggi, untuk tidak berhenti berdo'a.
Kamu masih terus dan selalu berharap pada Dzat yang sama, bukan?
Lalu kenapa harus khawatir berlebihan?

salam,
dirimu di pertengahan 2019.