Marahnya seorang anak manusia.
Meluap-luap beriring air mata yang ditabung sejak lama.
Esok ulang tahunnya, hari ini Bapaknya tutup usia.
Marahnya seorang anak manusia.
Merasa paling dihancurkan kenyataan.
Ia memanggil Tuhannya keras-keras sepanjang doa.
Memanggil dengan murka.
Memanggil untuk menggugat mengapa hari itu tiba.
Ia memanggil Tuhannya keras-keras sepanjang doa.
Memanggil dengan murka.
Memanggil untuk meminta kembali waktu untuk Bapaknya.
Marahnya seorang anak manusia.
Yang sia-sia.
Mengapa tak pernah usai sakit hatinya?
Tuhan yang menyayanginya dengan sangat.
Tuhan yang tidak berpaling sekalipun dia datang dengan amarah.
Tuhan yang memberinya hidup dan kesempatan.
Marahnya seorang anak manusia.
Menentang garis hidup kepada Sang Pemberi Hidup.
Marahnya seorang anak manusia.
Yang sia-sia.
Menangis.
Sujud.
Memohon ampun.
Marahnya seorang anak manusia.
Kepada dirinya yang kemarin.
Kemarahan yang teramat sangat.
Betapa kehilangan telah menguji kehambaannya dengan hebat.
Hampir ia lepas kehambaannya dengan sikap langit yang tinggi.
Bahkan langitpun enggan disamakan dengannya.
Sedangkan,
Tuhan terus menyelimutinya dengan rahmat.
Tuhan terus melimpahi hatinya dengan rahim.
Tuhan terus mendatangkan orang baik disekelilingnya.
Kemarahannya yang teramat sangat.
Yang sia-sia itu.
Luntur bersama air mata.
Semoga telah berlalu.
Semoga tak lagi berlaku.
Meluap-luap beriring air mata yang ditabung sejak lama.
Esok ulang tahunnya, hari ini Bapaknya tutup usia.
Marahnya seorang anak manusia.
Merasa paling dihancurkan kenyataan.
Ia memanggil Tuhannya keras-keras sepanjang doa.
Memanggil dengan murka.
Memanggil untuk menggugat mengapa hari itu tiba.
Ia memanggil Tuhannya keras-keras sepanjang doa.
Memanggil dengan murka.
Memanggil untuk meminta kembali waktu untuk Bapaknya.
Marahnya seorang anak manusia.
Yang sia-sia.
Mengapa tak pernah usai sakit hatinya?
Tuhan yang menyayanginya dengan sangat.
Tuhan yang tidak berpaling sekalipun dia datang dengan amarah.
Tuhan yang memberinya hidup dan kesempatan.
Marahnya seorang anak manusia.
Menentang garis hidup kepada Sang Pemberi Hidup.
Marahnya seorang anak manusia.
Yang sia-sia.
Menangis.
Sujud.
Memohon ampun.
Marahnya seorang anak manusia.
Kepada dirinya yang kemarin.
Kemarahan yang teramat sangat.
Betapa kehilangan telah menguji kehambaannya dengan hebat.
Hampir ia lepas kehambaannya dengan sikap langit yang tinggi.
Bahkan langitpun enggan disamakan dengannya.
Sedangkan,
Tuhan terus menyelimutinya dengan rahmat.
Tuhan terus melimpahi hatinya dengan rahim.
Tuhan terus mendatangkan orang baik disekelilingnya.
Kemarahannya yang teramat sangat.
Yang sia-sia itu.
Luntur bersama air mata.
Semoga telah berlalu.
Semoga tak lagi berlaku.



