April 14, 2019

saya tidak membencimu, sebenarnya saya hanya belum selesai dengan diri sendiri.

saya selalu berhadapan dengan ketidakmampuan mengelola konflik.
hari ini saya membenci kamu.
bukan atas apa yang kamu lakukan,
tapi karena saya yang membiarkan kamu mengacak-acak emosi saya.
saya tahu seharusnya satu-satunya yang patut saya benci adalah diri sendiri.
tapi biarlah saya membenci kamu.
sebab ini satu-satunya cara agar saya tak keliru.
membedakan maklum dan terlalu.
saya harus membakar habis dendam saya hari ini.
segera,
agar esok tidak ada lagi yang membenci kamu.

sebuah tulisan lama, diterbitkan karena mendadak jatuh cinta pada diksinya.
tidak istimewa, tapi saya senang pernah menulis dan mengakui kelemahan sendiri.

a hello.


Selamat tahun 2019!
Yah telat kok nemen ya, udah april baru nulis selamat tahun 2019. Yah namanya juga blogger labil, kadang nulis, kadang nganggur. Tahun ini dibuka dengan masa-masa sidang TA yang harus melalui malam-malam penuh tangisan di dalam kamar kos kemudian di bulan ini sedang dalam masa transisi dari status mahasiswa menuju manusia mandiri berdikari (hopefully). Melihat banyak kesempatan baik yang diambil maupun dilewatkan dengan sengaja, mengikuti sepak terjang Arsenal yang tidak selalu memenangkan 3 poin, menempuh ratusan kilometer untuk menjemput kesempatan baru dan menakar keberanian, mengumpulkan meme tentang pemilu untuk bahan roasting di kemudian hari, menghapus file-file yang nyatanya sudah tidak lagi punya tempat di masa datang, bahkan thumbnailnya saja tidak terlihat. 

Hah. 

Rasanya hari demi hari kadang terasa lama sekali. Menatap mata setiap orang yang ditemui sungguh terlihat terik sekali. Tapi sepertinya semua akan tetap baik-baik saja. Karena, kata Bapak aku pasti bisa.
Selamat melanjutkan tahun 2019, semoga selalu tenang hatinya. 
Kangen Bapak Ibuk.

Cheers,
Anggi