Bapak, mungkin sudah berkali-kali aku mengadu tentang ini
padamu
Tentang betapa rindu aku berada disampingmu
Berkumpul bersama menunggu masakan ibu
Haha kemudian kalimat diatas menjelaskan bahwa aku lebih
sering menonton tv bersamamu daripada membantu ibu
Tapi percayalah pak, kini aku sudah mulai tahu
Aku mengerti posisiku
Bapak, seolah tak pernah bosan aku menulis tentangmu
Sekalipun kalimat yang kutulis tak pernah berhasil mengikis
rindu
Tapi ini adalah salah satu cara terbaik untuk melegakanku
Selain berdoa dan menangis tersedu-sedu
Bapak, aku tak pernah tahu siapa saja yang membaca tulisan
ini
Aku juga tak akan mengerti bagaimana tanggapan mereka
tentangku
Tapi terserah!
Toh aku memang menulis ini untuk melegakan diriku sendiri
Sebab akan percuma kata-kata manis mereka
Yang terucap seolah pernah ada di posisi yang sama
Bapak tak marah kan?
Jika selalu kubahas dalam setiap tulisanku
Lalu kuulang-ulang cerita yang kita punya di masa lalu
Karena hanya dengan itu ,pak
Aku mampu merasa sedikit lebih hidup lagi
Meski tak jarang harus menulis sambil menahan tangis
Bapak, aku baru sadar sesuatu
Bahkan setelah hampir 3tahun berlalu
Sepertinya setelah Bapak pulang aku seperti tak punya tujuan
Rasanya seperti debu yang dihapus hujan
Hilang entah kemana
Hanya hidup dengan semangat untuk saat ini dan esok hari
Kemudian di lain hari semangatku lari lagi, pergi
Kini, untuk membuktikan betapa cinta aku terhadapmu
Aku berusaha lebih hidup lagi
Memeluk Bapak dalam doa setiap hari
Aku janji akan mampu menentukan arah kemana melangkah
Seperti yang selalu Bapak bilang “jadilah perempuan mandiri”
Aku mencoba mengais kembali semua mimpi yang pernah
kusampaikan dihadapanmu
Mimpi yang selalu bersambut senyum darimu
Dari engkau yang tak pernah sedikitpun meragukanku
Dengan cinta,
Intan Anggi Melati
