February 22, 2015

Hiduplah lagi, Aku!



Bapak, mungkin sudah berkali-kali aku mengadu tentang ini padamu
Tentang betapa rindu aku berada disampingmu
Berkumpul bersama menunggu masakan ibu
Haha kemudian kalimat diatas menjelaskan bahwa aku lebih sering menonton tv bersamamu daripada membantu ibu
Tapi percayalah pak, kini aku sudah mulai tahu
Aku mengerti posisiku

Bapak, seolah tak pernah bosan aku menulis tentangmu
Sekalipun kalimat yang kutulis tak pernah berhasil mengikis rindu
Tapi ini adalah salah satu cara terbaik untuk melegakanku
Selain berdoa dan menangis tersedu-sedu

Bapak, aku tak pernah tahu siapa saja yang membaca tulisan ini
Aku juga tak akan mengerti bagaimana tanggapan mereka tentangku
Tapi terserah!
Toh aku memang menulis ini untuk melegakan diriku sendiri
Sebab akan percuma kata-kata manis mereka
Yang terucap seolah pernah ada di posisi yang sama

Bapak tak marah kan?
Jika selalu kubahas dalam setiap tulisanku
Lalu kuulang-ulang cerita yang kita punya di masa lalu
Karena hanya dengan itu ,pak
Aku mampu merasa sedikit lebih hidup lagi
Meski tak jarang harus menulis sambil menahan tangis

Bapak, aku baru sadar sesuatu
Bahkan setelah hampir 3tahun berlalu
Sepertinya setelah Bapak pulang aku seperti tak punya tujuan
Rasanya seperti debu yang dihapus hujan
Hilang entah kemana
Hanya hidup dengan semangat untuk saat ini dan esok hari
Kemudian di lain hari semangatku lari lagi, pergi

Kini, untuk membuktikan betapa cinta aku terhadapmu
Aku berusaha lebih hidup lagi
Memeluk Bapak dalam doa setiap hari
Aku janji akan mampu menentukan arah kemana melangkah
Seperti yang selalu Bapak bilang “jadilah perempuan mandiri”
Aku mencoba mengais kembali semua mimpi yang pernah kusampaikan dihadapanmu
Mimpi yang selalu bersambut senyum darimu
Dari engkau yang tak pernah sedikitpun meragukanku

Dengan cinta,
Intan Anggi Melati

February 12, 2015

Selamat pagi, Bapak

masih seperti hari-hari yang lalu
rinduku tak pernah habis padamu

:))

February 03, 2015

Tentang Ikan


sebut saja Ikan

Holla!!!
2015 uda nyampe bulan Februari , makin deket sama UN buat yang kelas 3 hehe. Ngomong2 soal kelas 3 jadi inget setahun lalu juga kebawa arus galau sibuk milih ptn dan jurusannya, ya meskipun sebenernya aku uda mantep sama ptn dan jurusan ini sejak awal kelas 2 sma. Tapi teteplah rasa minder sebagai siswa biasa aja di sekolah yang notabene non-rsbi itu ada. 

Awalnya banyak banget yang ragu kenapa aku pilih ptn ini, okelah ya nilai akademikku emang ga bagus2 banget, rata2 air nyaris tenggelam lah haha. Tapi yaudahsih aku tetep kekeuh sama pilihanku sampe hari finalisasi pendaftaran snmptn.
Meskipun pada akhirnya harus puas dengan terbuktinya omongan mereka bahwa nilai yang segitu itu sulit nembus ptn tujuanku.
Dasarnya aku keras kepala ,masih tetep aja nekat daftar tes tulis di ptn itu.
Dan diterima.
Alhamdulillah, Allah kasih kesempatan.

Terus sekarang aku sering baca status2 adek kelas yang pada bingung nentuin pilihannya, dan sama kayak judul postingan ini, ikan.
Banyak yang menganalogikan pilih ptn dengan ikan, dari jamanku, si ikan ini uda terkenal banget.
Jadi gini, entah siapa si empunya quote mastah (re:master)  ini : “Lebih baik jadi ikan besar di kolam kecil daripada jadi ikan kecil di kolam besar/lautan”. Maksud dari quote itu kurang lebihnya gini : Gapapa  kamu sekolah di tempat yang bukan jadi impian orang kebanyakan asal kamu berprestasi ,daripada kamu sekolah di tempat yang jadi tujuan banyak orang (favorit) tapi tidak bisa mengukir prestasi yang berarti.

Oke, quote itu emang gak salah. Bener banget malah. tapi aku bukan salah satu dari sekian banyak pengikutnya ya.
Kenapa?
Karena menurutku gak seharusnya ada analogi yang mengkotak-kotakkan kemampuan seseorang dengan tempatnya menuntut ilmu.
Karena sebaik apapun tempatnya menuntut ilmu kalo gak dibarengi sama  semangat buat meng-upgrade kemampuannya ya akan percuma.
Kalaupun kamu ada di lautan dalam keadaan jadi ikan kecil, ya harus semangat dong, pilihannya Cuma ada dua,tumbuh jadi ikan besar yang keren dan “berisi” atau tetap jadi ikan kecil yang langka, ikan kecil yang banyak dicari dan berharga. Pilihan yang sama-sama menguntungkan kan?.
Dan jika pada akhirnya keadaan mengharuskan kamu untuk tiba di kolam kecil dalam kondisi sebagai ikan besar maka yang harus dilakukan bukan bersantai ria kesana kemari tapi juga harus upgrade kemampuan semaksimal mungkin.
Boleh jadi di kolam itu kamu yang paling besar tapi di lautan sana? Kamu akan bertemu banyak ikan yang lebih besar atau bahkan bertemu dengan si kecil yang lebih banyak dicari ketimbang kamu.
Jadi, dimanapun kita belajar (kolam kecil atau lautan), dalam kondisi apapun kita saat ini (ikan kecil atau ikan besar). Bukan jadi penghalang untuk terus jadi lebih dan lebih baik lagi. Jangan terpaku pada analogi dan stigma yang membuat kita berhenti berkembang.

Oiya sesuai ceritaku setahun lalu, tidak pernah ada larangan bagi ikan kecil untuk bermimpi dan pergi ke lautan kok.  Proses akan merubah si kecil jadi lebih baik, mulai dari menyusuri sungai menuju laut, menemukan anemon tempat berlindung, menyusun strategi pertahanan diri  hingga tumbuh tangguh.

Jadi sekarang udah gak jamannya ikan kecil di lautan atau ikan besar di kolam kecil, ini 2015 vroh!! Jamannya jadi ikan tangguh yang banyak dicari dimanapun dia berada.  
Jangan  biarkan lingkungan yang mempengaruhi kita tapi jadikan diri kita kelak berpengaruh baik bagi lingkungan :D

Selama itu baik bagimu,
Selama kamu yakin dengan pilihanmu,
Selama masih berada di jalan Tuhanmu,
Dan selama orangtua memberi restu,
Takkan ada kata sulit menghampirimu.

xoxo,
Anggi

PS: Siapapun kalian yang baca tetaplah jadi manusia. Biarlah analogi tetap jadi analogi, dan biarlah ikan memilih tempat tinggalnya sendiri . Hahaha.