Saya di masa kecil berpikir jadi manusia dewasa itu lebih menyenangkan karena terlihat bebas dari aturan orang tua. Tidak perlu punya jam malam, bisa pergi kemana saja, boleh beli apa saja. Waktu itu, keponakan saya yang masih umur 6 tahun nyeletuk "aku mau jadi orang dewasa aja, bukan anak-anak" lalu saya tanya memangnya kenapa mau jadi orang dewasa. Dia jawab "kan enak jadi orang dewasa bisa main hp terus".
Sebuah jawaban sederhana yang bisa jadi renungan sekaligus pukulan. "Orang dewasa bisa main hp terus" menurutnya adalah kebebasan, keleluasaaan yang belum dimiliki anak-anak. Sebab mereka masih hidup dalam naungan orang tua. "Orang dewasa bisa main hp terus" juga adalah pukulan telak, bisa jadi Ia mengamati orang dewasa di sekitarnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai daripada bermain dengannya.
Saya merasa waktu masih anak-anak, semangka banyak bijinya, aktivitas makan semangka jadi terasa sedikit tidak menggembirakan karena saya harus menyingkirkan bijinya satu-satu sebelum makan. Sementara hari-hari ini makan semangka terasa lebih nyaman karena banyak varietas semangka non-biji. Tidak hanya manusia ya yang berubah, ternyata hasil rekayasa hayati yang dulu sekadar dibaca di buku biologi sekarang memang ada di sekeliling. Ya, bahkan 3D printer dan mobil listrik yang waktu maba terdengar sangat futuristik itu, sekarang pun sudah marak dimana-mana.
Dulu di masa sekolah, fase yang dilalui teman seangkatan seakan seragam. Sedang mempelajari bab sekian, mempersiapkan ulangan pelajaran tertentu, dan memilih ekskul mana yang nyaman dijalani. Hidup yang bertahun-tahun terasa berjalan sesuai manual book itu kemudian berubah drastis ketika masa sekolah usai. Pun di kehidupan perkuliahan, kelas-kelas yang diambil sangat bisa berbeda walau ada dalam satu jurusan. Itu bisa jadi salah satu faktor yang mempercepat atau melambatkan laju setiap orang.
Ketika sudah lulus kuliah, fase yang berbeda ini semakin lebar gap-nya. Ada yang melanjutkan jenjang lebih tinggi, bekerja, membangun keluarga dan lainnya. Seiring fase yang berbeda, perspektif pun berubah, bahkan standar hidup baik-buruk; benar-salah setiap orang juga SANGAT mungkin berubah.
Ketika masih SD, waktu meraut pensil adalah salah satu "break" yang paling saya tunggu. Saya bisa keluar kelas, menghirup udara luar dan istirahat sebentar dari pelajaran yang berlangsung. Meraut pensil dengan cutter adalah favorit saya, sebab rasanya peraut biasa membuat runcingnya pensil jadi keterlaluan, tidak nyaman digunakan menulis karena goresan terlalu tipis.
Ketika sudah mengalami kerja kantoran, break-nya tidak sekadar untuk bisa menghirup udara luar, tapi juga untuk menangis diam-diam di toilet. Lalu kembali ke meja kerja, seolah biasa saja. Seakan perasaan tertekan dan gelisah di toilet itu ikut hanyut ketika flush sudah ditekan. Lucu juga ya, ternyata sejak kecil terlatih mengelola emosi tanpa disadari (dan tetap kewalahan walau sudah "latihan").
Setelah dewasa, ternyata memang punya kebebasan menentukan arah itu nikmat. Saya punya kewenangan sendiri tentang apa yang akan dilakukan, keputusan yang diambil serta tahu betul kemana resourcenya akan dicurahkan. Sementara itu, kebiasaan dan aturan-aturan yang membentuk saya sejak kecil adalah pagar yang bisa jadi membantu hidup masa dewasa ini lebih terstruktur. Jadi, meskipun dulu menyebalkan sekali mengikuti "cara main" orang tua, ternyata ada manfaatnya. Kadang malah ada perasaan mau jadi anak-anak lagi, yang tidak perlu mengerahkan 100% kemampuan otak untuk berpikir. Sebab orang tua biasanya sudah punya daftar to-do list untuk kita penuhi HAHA.
Sekarang, menentukan pilihan yang akan dijalani terasa lebih leluasa. Tentu saja, bisa sekadar punya pilihan berarti hidup sudah lebih baik. Apalagi sampai bisa menentukan pilihan secara merdeka. Tantangannya lebih kepada mengelola ekspektasi. Sebab tanpa disadari hari-hari ini kita melihat kehidupan orang lain terlalu intens. Lalu muncul perbandingan, secara diam-diam pikiran jadi terbelah fokusnya. Semoga senantiasa bisa kembali pada pertanyaan "melakukan ini untuk siapa, dan mengapa?" supaya penentuan keputusan selalu terang dan jelas.