Beberapa waktu ini saya banyak berpikir tentang batas. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga biasa saja, saya cukup kenyang dengan kondisi yang tidak ideal. Bukan berarti senang hati menerimanya kembali. Namun, di saat hidup sudah berangsur lebih baik, saya jadi punya pertanyaan. Semacam check and balance, sampai dimanakah kita merasa cukup, dan berapa nominal yang wajar untuk dimiliki.
Di usia ini, angka yang dulu sulit ditembus mata kini jadi amat gamblang. Bahkan tertera di baliho-baliho sepanjang jalan. Ya, waktu saya masih kecil sempat penasaran, harga rumah dan mobil itu berapa. Hari ini, semua bisa dicari dengan modal internet, tanpa harus bertanya langsung dan menjawab pertanyaan "mengapa bertanya demikian?".
Di sisi yang lain, saya selalu terkesima melihat rumah-rumah megah dan deretan mobil berbagai merek di halamannya. Jangankan untuk menjumlahkan harganya, membayangkan harga satu unitnya saja sudah terasa jauh dari jangkauan.
Diantara itulah saya berpikir, bagaimana seorang manusia bisa memiliki sumber daya begitu besarnya. Sedangkan ribuan orang lainnya menggabungkan gaji bulanannya dan tetap tak mencapai setengah total kekayaan si fulan.
Saya juga telah melihat tak hanya satu atau dua, orang yang nyaman berjalan dalam batas kewajaran. Walau dengan kemampuan dan posisinya sangat bisa menapaki hidup yang lebih lagi. Jumlahnya tak banyak, tapi dari merekalah percakapan yang renyah dan ramah berasal.
Sewajarnya manusia, banyak hal yang kita inginkan dalam hidup dan diantaranya bersifat kebendaan, lekat dengan dunia.
Hingga saya sampai pada satu kesimpulan yang personal. Rasa cukup itu sepertinya sangat bisa dibatasi, pun ditarik sampai lebar sekali cakupannya. Tinggal, mau yang mana. Semoga senantiasa diberi kemampuan untuk memilih pilihan-pilihan yang berkah, baik dan wajar.
"Bila orang tak bisa membatasi keinginan sebatas kebutuhan, apalagi selalu mengembangkan keinginan menjadi kebutuhan, orang itu tak bisa senang. Hidupnya akan selalu dikejar-kejar oleh keinginan itu sendiri yang terus meningkat tanpa tutugan, tanpa batas." (halaman 237, Bekisar Merah karya Ahmad Tohari)