October 29, 2025

Bagaimana Rasanya Menonton Arsenal Live Pertama Kali?

    Walaupun ada dalam seri #BagaimanaRasanya tapi dalam post kali ini, sepertinya ulasan soal liburan ke Singapura lebih mendominasi. Hahahaha, karena rasanya terlalu boros (alias malas) kalau harus dipisah jadi dua tulisan. Jadi yaaaah langsung saja ke ceritanya.

25 April 2025
    Saya beli tiket lewat platform ticketek. Saat menunggu loket online dibuka, saya menyiapkan tiga gawai karena saya pikir ticket war-nya akan segila konser Blackpink atau pertunjukan standup Raditya Dika. Ternyata tidak HAHAHA. Proses pembayarannya cukup seamless dengan rekening jenius. Setelah memilih jadwal pertandingan dan kategori tiket, akan diberikan pilihan section/row. Setelah itu diberikan nomor kursi sesuai section yang dipilih. Berhasil mengamankan tiket nonton + hotel, sebelum punya tiket pesawat (riil cegil)

23 Juli 2025
    Jadwal terbang kami ke Singapore 09:35-12:15 dan gate stadion akan dibuka pada jam 17:00. Untuk penonton luar negeri first-timer (Walaupun secara jarak Indo-SG juga tidak sejauh itu) ini sungguh rencana perjalanan yang tidak direkomendasikan ya! Bayangkan jika harus ada delay atau kemungkinan paling buruknya bahkan penerbangan dibatalkan. WAH kacau.
    Alhamdulillah, Allah Maha Mengetahui... kami yang modal nekat dan dengan sangu pas-pasan ini tidak menemui kendala terkait jadwal penerbangan. Take off dan landing tepat waktu. Sampai di Changi, immigration clearing kemudian langsung menuju counter penjualan SG tourist pass. Setelah kartu di tangan, kami naik MRT menuju hotel. 
  Di hari pertama, kami menginap di hotel dekat stadion. Kawasan Geylang, yang tidak direkomendasikan untuk pelancong keluarga, katanya red-light district. Tapi, dengan pertimbangan jarak yang sangat dekat dengan stadion (upaya memangkas ongkos transport) kami tetap memilih menginap disana. Di hotel, kami bebersih dan mengisi daya gawai. Sekira pukul setengah empat sore, kami keluar hotel dengan pakaian tradisional supporter alias jersey masing-masing klub. Saya dengan jersey arsenal dan suami memakai jersey AC Milan. Ya! ini adalah pertandingan Arsenal vs AC Milan, match made in heaven if I might say. Klub favorit kami masing-masing sejak remaja, all the way from another continent bertanding di satu lapangan, dan bisa dijangkau dari Jakarta.
   Sore itu, kami berjalan sembari melihat kegiatan warga. Para pekerja helm kuning di proyek perbaikan/galian jalan. Kuli yang sedang mengecat bangunan restoran. Anak-anak berlatih sepak bola di lapangan. Bapak-bapak duduk merokok di belakang rumah. Ternyata masih ada rumah tapak di kawasan Geylang, bagian belakang rumahnya masih terasa mirip dengan rumah-rumah di kampung. Dinding berlumut, mesin cuci yang terlihat dimakan usia, tali jemuran dan kandang ayam. Potret langka untuk negara semakmur Singapura.
    Makan siang (yang sudah sore) pertama kami di Singapura adalah di resto muslim nasi kandar. Saya pesan nasi goreng ikan bilis, dan thai tea. Porsinya cukup besar dengan harga yang terjangkau. Ketika saya tulis porsinya cukup besar artinya saya butuh waktu cukup lama untuk sekadar makan setengahnya. Porsinya benar-benar BESAR.
    Selesai makan, kami lanjut jalan ke National Stadium. Di jalan, kami banyak bertemu sesama penonton juga. Sangat mudah dikenali karena semua mengenakan jersey favoritnya masing-masing. Sampai di area stadion, kami berkeliling mengambil foto dan video. Lalu mampir ke merchandise booth, sayangnya booth Arsenal antrinya seperti keramaian PopMart saat grand opening. Jadi saya tidak membeli apapun walau sebenarnya ingin. Ya, keinginan saya tidak lebih besar dari kesediaan mengantri segitu panjangnya. Saya sempat mengambil video Gunnersaurus dan melihatnya dari dekat. Maskot gemas yang biasanya saya lihat di layar kaca, lalu jadi stiker dan meme itu ternyata beneran ada. Sangat lucu dan ijo (OH what a description!)
    Saat waktu open gate hampir dimulai, kami dipersilakan untuk mengantre security check. Prosesnya juga cukup cepat dan tidak ada kendala berarti. Uncle dan Auntie-nya cukup friendly dan informatif. Kami menuju gate yang tertera di tiket. Saat itu kami ingin mengisi botol air karena sudah cukup haus, saat bertanya letak kran air minum, Uncle panitianya sempat nyeletuk "Eh you two couple, support different teams ah? Hahaha". NGL, ada rasa was-was ketika interaksi setelah pengalaman bekerja dengan Singaporean yang cukup kental dengan kiasu culture. Jadi waktu ketemu locals yang mau basa-basi guyon tuh cukup heartwarming.
   Akhirnya duduk di stadion! (Bahkan di Indonesia saja. saya belum pernah duduk di kursi dalam SUGBK). Akhirnya juga menyaksikan Mikel Arteta dan Arsenal Squad di lapangan. Wah rasanya surreal sekali. Orang-orang yang bertahun-tahun biasa saya lihat lewat layar hp, laptop dan TV itu ada di depan mata saya. Ternyata mereka nyata. Saya sedang menghirup udara yang sama dan berada satu stadion dengan mereka.
    Melihat Ben White menganggu konsentrasi lawan saat tendangan sudut, melihat Odegaard dan Saka bergantian mengambil giliran sepak pojok, melihat Kai Havertz yang setinggi gapura kabupaten, melihat Declan Rice yang sibuk menggendong satu tim di babak pertama, melihat Martin Zubimendi tidak hanya di postingan instagram. Lalu utamanya, melihat Arteta sibuk di pinggir lapangan. Bersorak, melambaikan tangan, dan berteriak. Teriakan yang hari ini saya dengar langsung, tidak melalui sound gadget manapun. Semuanya nyata ya... Alhamdulillaaah!
    Pertandingan hari itu berbuah satu gol Bukayo Saka di babak kedua menit 52. Lega rasanya bisa melihat dan merayakan gol Saka secara langsung. Ikut menyanyi North London Forever dan bersorak-sorai dengan bebas. Setelah pertandingan selesai. kami keluar stadion dan berjalan kembali menuju hotel. Pertama kali jalan kaki tengah malam di Singapura, suasananya sepi tapi masih ada orang-orang yang pulang selesai olahraga. Jembatan penyeberangannya bersih dan tidak bau pesing. Liftnya juga masih beroperasi ketika kami pulang malam itu. Di area geylang, malam justru lebih hidup sepertinya. Namun, seingat saya jalan yang kami lewati tetap tidak seramai yang kami pikirkan. Lampu warna-warni menyala terang, sementara jalanan cukup lengang.


24 Juli 2025
    Kami pergi cukup pagi (untuk ukuran orang kurang tidur) dengan bus menuju area Fort Canning Park. Disana kami mengantre satu jam untuk foto di area tree tunnel. Spot foto itu sebenarnya sudah lama terkenal, namun baru-baru ini viral di medsos China, jadi banyak turis asal negara ybs yang menjadikan FCP tree tunnel jadi destinasi wajibnya. Tak heran ketika sampai disana, banyak sekali turis China. 


    Hari ini jadwal kami pindah hotel, dari hotel satu (dengan pertimbangan dekat National Stadium) ke hotel dua (yang dekat ke area pusat jajanan). Sebelum pindah hotel di tengah siang bolong, setelah pulang dari FCP kami sempat ke Kinokuniya, walau buku yang dicari tidak ada disana huft.
Saya (lagi dan lagi) mampir ke 7-eleven, membeli blindbox Miffy. Sampai di hotel, saya unboxing dan yaps isinya IJO LAGI. Hahaha, teman twitter saya mungkin sudah paham, saya berkali-kali dapat benda hijau di macam-macam blindbox. Sampai pada titik, okay hijau menambah koleksi luv!
   Kami ke Marina Barrage pukul setengah lima sore, sampai sana ternyata panasnya masih cukup menyengat. Sempat kembali ke dalam stasiun MRT untuk ke toilet. Sampai akhirnya kami memutuskan jalan naik ke lapangan atas. Sampai di lapangan atas, kami melihat-lihat laut dan landscape Singapura yang megah itu. Lalu kami menggelar tikar di area yang strategis untuk menunggu matahari terbenam. 
"Always balance something expensive with something cheap" They said hahaha. So, here we are piknik gratis, jajan snack murah konbini dan minum air gratis, tapi di Singapura.


25 Juli 2025
    Kegiatan pagi ini adalah menuntaskan agenda kopi pagi suami. Kami menuju Nylon Coffee dengan MRT. Kedai kopi ini terletak di kawasan apartemen. Ukurannya tidak terlalu luas, saat kami datang suasananya cukup ramai. Menurut saya yang bukan penikmat kopi, rasa kopi susunya cukup bisa saya terima (entah memang benar enak, atau sugesti produk negara maju LOL). Ketika pengunjung kedai mulai lengang, pemiliknya menyapa kami. Another obrolan hangat yang tidak disangka bisa ditemukan juga disini hehe.
Selesai dengan urusan kopi, kami yang berniat naik bus menuju area Takashimaya mengalami kejadian umume turis. Salah naik bus. Alih-alih menuju tempatnya, kami malah bergerak menjauhinya. Yah, namanya juga orang asing. Setelah sampai di Takashimaya, tujuan saya adalah Kinokuniya dan BTV.
Sore nanti setelah jam pulang kerja, kami punya janji bertemu teman se(mantan)kantor saya, Hamizah dan Syafa. Sekaligus akan jadi kopi darat pertama, karena selama kerja remote yang sak nyuk itu saya tidak pernah bertemu mereka secara langsung.
    Karena datang lebih dulu, saya mampir ke Fluff Bakery di dekat resto tujuan. Ngadem makan gelato sambil menunggu suami yang mencari toilet terdekat. Kami juga sempat membungkus cheesecake dan almond brioche-nya. Cheesecakenya lembut dan lumer di mulut, almond briochenya juga nikmat sekali walau tidak dimakan langsung di tempat. Hamizah membantu kami reservasi untuk makan malam di The Dim Sum Place. Disana, saya pesan mie bebek dan yah rasanya enak sebagaimana bayangan saya hahaha. Setelah makan kami ke arab street dan foto-foto di photobooth tematik sebelum pulang.
    Salah satu pengalaman menarik di SG adalah beli sari buah dari vending machine. Yang pertama adalah ijooz, vending machine yang menjual sari buah jeruk. Lalu ada iboozee, yang menyajikan sari buah apel, dari empat buah apel sampai ke segelas minuman segar di tangan. Selama di Singapura kami beli ijooz tiga kali dan iboozee satu kali, sebenarnya dari sisi rasa kami lebih suka iboozee apel. Namun, unit vending machine ijooz jeruk sepertinya lebih banyak dan mudah ditemui.
    Hal lain yang membuat kami cukup terkesima juga, melihat lansia di Singapura yang tetap produktif. Di ruang publik, mereka mengakses transportasi umum dengan mandiri. Mereka juga aktif bekerja, sebagai security di stasiun, pekerja event, penjaga toko/konbini, sopir dsb. Hal ini menunjukkan betapa pemerintahnya memperhatikan sarana dan prasarana negaranya untuk mengakomodir rakyat dari segala lapisan. Juga aturan soal pekerjaan yang lebih manusiawi terkait batas usia dan kapabilitas. Kami juga sempat ternganga, melihat poster lowongan pekerjaan di salah satu restoran yang mencantumkan besaran gaji. Sesuatu yang harusnya wajar, namun jarang ditemui di negara sendiri (oits negara mana tuh?!).



26 Juli 2025
     Pagi hari terakhir di SG, kami telah bersiap dengan koper yang telah dikemas rapi. Sore nanti kami akan kembali ke Jakarta. Hamizah menjemput kami di hotel, lalu menemani kami berjalan-jalan keliling di area Arab street. Kami makan di All Things Delicious. Saya makan shaksouka. Tempatnya cukup ramai dan menurut teman saya memang sedang banyak diminati. Harga menu di tempat ini tergolong cukup tinggi, dan memang tampilan makanan saat sampai ke meja sungguh fancy. Sesuai dengan foto menunya, hahaha. "Please don't worry about the price, it's all on me." Ucap teman saya, ketika melihat kami kebingungan memilih menu. Sebenarnya selain soal harga, kami juga tidak familiar dengan menu-menunya yang terlampau western HUAHAHAHA. Jadi kami ikuti rekomendasinya saja, pagi itu 100% mempercayakan menu pilihan kami pada ulasan warlok. Menurutnya, banyak tenant ruko di kawasan Arab street yang come and go karena harga sewa yang semakin mahal. Ah ternyata permasalahan global (seketika ingat soal harga sewa toko-toko blok M)

    Tiga hari dua malam di Singapura kali ini sungguh menyenangkan. Dari segi kerapian dan keteraturan, berwisata di negara ini terasa nyaman. Tapi lagi-lagi we lost in translation currency, membuat kami tidak bisa berlama-lama liburan disana hahaha. Seminggu di Bangkok masih bisa hahahihi, tapi tiga hari di Singapura lumayan meringis kecil. Namun, pengalaman yang kami dapat saat itu jauh-jauuuuuh lebih bernilai. Alhamdulillah dengan kemurahan Allah, keinginan masa remaja untuk lihat tim sepakbola kesayangan bertanding secara langsung telah ditunaikan. Mungkin saya sudah tidak lagi berambisi kuliah di Inggris biar bisa nonton Arsenal di Emirates Stadium menggebu-gebu dengan mimpi saya soal bola. Mimpi memang gratis, berharap memang boleh sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya, kan backing-an e Gusti Allah. Namun, soal yang satu itu biarlah hanyut ditelan waktu. Hari ini, semoga hidup dengan selalu bersyukur. May you always remember that finding your goals and dreams again is a lifelong process.
    Alhamdulillaaah... sudah bisa nonton Arsenal langsung. Semoga segera diberi kesempatan untuk merayakan Arsenal juara liga, ya. Aamiin. Kebetulan saat selesai nulis ini, Gajahnya lagi diatas pohon.

Salam,
A.