July 04, 2025

Kopi

    Hari-hari ini cukup umum rasanya menjadikan kopi sebagai konsumsi harian. Entah itu dalam bentuk americano atau latte (yah atau banyak lainnya, tapi dua itulah top of mind saya pun10). Asupan kafein itu diharapkan jadi pendongkrak semangat untuk beraktivitas. Saya mulai mengamati hubungan orang-orang dan kopi ini sejak kuliah. Ajakan "Ngopi sek" jadi semacam ice breaking saat nugas terasa nyandhet. Ketika bekerja, kebiasaan orang sekitar minum kopi jauh lebih intens lagi. Faktor ekonomi mungkin, jelas beda dong kantong pekerja dan mahasiswa rantau hahaha. Namun, sebagai orang ketiga dalam cerita (lol) saya bukan termasuk golongan yang ngopi. Ketika teman-teman seruangan bulk order dari satu toko kopi andalan, saya hampir selalu pesan matcha (iya, abu kremasi shrek rasa rumput yang lagi hits sekarang itu) atau es coklat.

    Ketika menikah dan pasangan saya suka kopi, tentu kedekatan saya dan kopi jadi lebih akrab lagi. Tidak hanya suka minum kopi, Ia antusias mempelajarinya. Ikut kelas kopi, datang ke pameran-pameran kopi dan bergabung di grup pecinta kopi. Belum sampai pasang bio "a coffee enthusiast" juga sih (kalo bisa jangan deh HEHE). Saya dukung hobi baiknya soal kopi ini, asal tidak merokok dan Manchester United. Ia minum kopi hampir setiap hari. Dari yang diseduh sendiri (rispek barista) atau dibeli dari toko kopi favoritnya. Alhamdulillah, tidak ada tekanan untuk menjadi istri yang bisa bikin kopi enak. Alat kopi satu persatu mengisi ruang di rumah kami. Jalan-jalan ke luar kota tak pernah luput dari agenda mampir kedai kopi lokalnya. Mulai dari coffeeshop viral yang melihat antriannya saja sudah bikin saya lelah, sampai slow bar yang mengharuskan kami berbincang langsung dengan baristanya. Agenda yang tentu amat memperlihatkan betapa Ia adalah ekstrovert nyel. "Disana gak terlalu rame kok, kamu pasti suka." adalah kalimat paling sering diucapkannya untuk mengajak saya yang kurang eksplor ini. "Ada buku-buku juga, tempatnya bagus buat foto-foto." merupakan kuncian yang dia paham akan sulit saya tolak.

    Walau saya bukan anak kopi, saya suka meletakkan segelas biji kopi di kulkas. Sebagai penetralisir bau. Aroma biji kopi, sampai seduhannya itu sangat bermacam-macam ternyata. Dulu waktu kecil, referensi saya soal kopi hanya sebatas kopi tubruk yang dibuat Bapak. Kopi bubuk, gula, dan air panas di dalam gelas. Kopi panas yang dituang sedikit demi sedikit ke lepek lalu disesap perlahan. Kegiatan ngopag alias ngopi pagi Bapak itu sepertinya salah satu cara mindful memulai hari. Sekarang setiap suami saya selesai meroasting biji kopi atau menyeduh segelas dua gelas, saya ikut menghirup aromanya. Awalnya deskripsi saya hanya sebatas bau gosong kopi (sopannya kau punya mulut). Tapi kini, saya mulai tercerahkan dengan kemampuan deskriptif yang lebih baik. Ada aroma manis seperti madu, wangi seperti bunga, dan segar seperti buah (maaf ya, kalo "baik"nya masih segini HAHA)

    Layaknya banyak jenis sajian lain di meja makan, secangkir kopi juga melalui proses yang panjang untuk sampai di hadapan kami. Proses yang dilalui memengaruhi bagaimana rasa dan aromanya. Oleh siapa biji kopi itu diproses pun bisa jadi meningkatkan valuenya berkali lipat. Kolaborasi dari banyak tangan itu mestinya (well, since I'm not drinking it myself) membentuk rasa kopi yang beragam. Jadi saya sedikit mulai paham, kenapa dia tidak bosan ya minum kopi lagi dan lagi? Mungkin karena rasanya tidak pernah 100% sama di setiap seduhan.

    "Ada kenikmatan hidup yang tereduksi jika tidak minum kopi, mbak", ucap seorang barista sebuah slow bar di Bandung. Wow, syok kecil mendengarnya. Tapi saya tidak tersinggung, sebab nyatanya saya menemukan kenikmatan lain dalam hidup dan masih baik-baik saja walau tidak minum kopi (lho kok defensif).

    Saya jarang minum kopi lagi sejak maba. Saya bahkan lupa kenapa bisa menelan rasanya yang kini baru saya sadari tidak jadi preferensi lagi. Tujuan saya minum kopi semasa maba memang hanya supaya lebih giat mengerjakan tugas dan menepis kepeloran* yang mendarah daging. Momen jadi mahasiswa baru itu memang cukup sulit bagi saya. Beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, jauh dari rumah, dan banyak tugas yang harus diselesaikan. Sepertinya minum kopi bagi saya akan mengingatkan hal-hal itu, sebab saya minum kopi sebagai coping mechanism bukan recreation. Yah, saya harusnya bisa "memperbarui" mindset tentang minum kopi ini, hanya saja rasanya terlalu pekat di kepala. Sama seperti perjalanan panjang penyajian kopi, saya juga butuh waktu lama untuk bisa menikmatinya lagi.

    Tulisan ini untuk suami saya yang beberapa waktu lalu merayakan hari lahirnya. Saya berusaha mengenal kesukaannya lebih dekat dan menuliskannya disini. Selamat ulang tahun, cintaku. Sehat, tenang dan bahagialah selalu. Semoga rutinitas minum kopimu senantiasa mengiringi sesi ku membaca buku.

Salam,
A.

*pelor: nempel molor (ungkapan untuk orang yang mudah tidur kapan dan dimana saja)