Selamat tahun baru 2025! Sudah hari kedua di tahun 2025, Alhamdulillah konsentrasinya masih cukup baik terpantau dari menulis tahun di catatan dengan benar hahaha. Biasanya di awal-awal tahun baru dengan pikiran yang kesana-kemari, menulis tahun pun masih terbayang angka yang lalu.
Januari ini saya insyaAllah akan genap lima bulan kembali ke Jakarta sejak pulang ke rumah di akhir 2022 yang lalu. Seperti Surabaya yang juga lama jadi tempat rantau, Jakarta pun selalu menyuguhkan kesan dalam dua sisi koin. Saya akan mulai dari hal-hal yang menyebalkan atau hmm... mungkin sedikit tidak nyaman.
Pertama, polusi dan langit biru. Hampir dua tahun kembali ke rumah membuat saya terbiasa menghirup udara segar pagi hari di desa. Langit yang hampir selalu biru, cerah tanpa polusi dan hujan yang menyisakan petrichor. Berada di rumah yang jauh dari hiruk pikuk kota, tidak ada tuntutan hidup dengan pace serba cepat ternyata sungguh nyaman. Sejak full-time menjadi anak kos (2011-2022) saya rasanya kehilangan "sarang". Berpindah dari satu kamar ke kamar lain, membuat saya tidak pernah punya kamar sendiri yang bisa ditata sesuka hati. Sebab kamar-kamar kos itu hanya tempat tinggal sementara. Padahal sejak kecil saya paling suka menghabiskan waktu di kamar. Hingga saat pulang ke rumah, saya kembali "membangun sarang", beli pernak-pernik lucu, menggelar karpet yang senada dengan sprei, bahkan melukis dinding (akhirnya!)
Lalu di 2024, saya harus kembali lagi ke Jakarta. Tak hanya meninggalkan kamar yang nyaman dan amat personal, namun juga mengucap bye-bye pada udara segar dan langit cerah setiap hari. Alhamdulillah, di tempat tinggal yang baru saya tetap bebas menata sesuka hati walau kamarnya tak lagi dihuni sendiri. Tapi soal bimbang antara polusi atau kabut pagi masih selalu jadi obrolan tak henti-henti. Debu yang masuk lumayan bikin kewalahan. Melihat langit cerah dan biru seperti momen langka karena tidak bisa dinikmati setiap hari. Yaaa... begitulah langit Jakarta, lebih sering disambangi polusi dan tentu saja susah diromantisasi.
Kedua, ketimpangan yang terlihat nyata dan dimana-mana. Mengedarkan pandangan dengan penuh empati ke tiap sudut kota Jakarta, tak pernah gagal membuat pikiran penuh. Sedih, marah, dan kecewa adalah top #3 perasaan yang sering kali muncul. Orang-orang tidur beratap langit beralas spanduk partai. Anak usia sekolah berlalu lalang menjajakan tisu di lampu merah. Balita bermain di dekat rel kereta, pinggir jalan raya, tepi sungai kotor. Tempat-tempat yang tak seharusnya jadi "taman bermain" mereka.
Saya lahir dan besar di desa yang sebagian warganya hidup dengan cukup (bukan berkecukupan, hanya cukup. tidak berkelimpahan, tidak juga yang amat kekurangan). Disana, walau tak semua rumah berlantai keramik, namun setidaknya setiap keluarga punya tempat bernaung yang aman dari panas dan hujan. Anak-anak sekolah dan bermain, tumbuh dengan aktivitas sesuai usianya. Jadi, melihat realita kota besar seperti Jakarta tetap menguras emosi saya.
Dalam hati, saya sering berimajinasi punya resources yang melimpah untuk membuat hidup orang-orang terpinggirkan itu jadi lebih nyaman. Tapi saya juga berpikir, akankah mindset dan empati saya akan berubah ketika memiliki kemampuan untuk mewujudkan khayalan itu. Sebab, banyak saya dengar money doesn't change you, it reveals who you truly are. Hehe ngeri juga, takut ternyata karakter sebenarnya pure evil. Eh lha kok terdesak keadaan yang dari kecil garis hidupnya kebetulan susah, jadinya bisa melakukan hal-hal baik dan manusiawi. Naudzubillah, semoga tetap dijaga dalam kebaikan dan dijauhkan dari berbuat yang buruk ya (sekalipun mulai dari pikiran). Yaaa... jika belum bisa membuat impact yang bikin nyaman hidup banyak orang, setidaknya bertindaklah baik. Semoga kita bisa saling berwelas asih, mewujudkan hidup yang lebih ramah untuk mereka.
Ketiga, waktu di Jakarta terasa selalu berjalan lebih cepat. Jalan yang padat adalah penyebab utama. Waktu orang-orang dihabiskan banyak sekali untuk menempuh jarak yang tak seberapa. Sebagai perbandingan, di Jakarta dari tempat tinggal saya ke GI butuh sekitar 25-30menit untuk menempuh jarak 8,8km, di kampung halaman saya, dengan waktu yang sama saya bisa sampai ke stasiun terdekat yang berjarak 20km dari rumah. Namun demikian, selalu ada sisi koin sebaliknya yang menarik. Transportasi umum di Jakarta tentu adalah yang paling mutakhir di Indonesia. Integrasinya cukup baik. Walau tetap saja berlomba dengan banyaknya pengguna, maka kenyamanan sudah tentu bukan prioritas utama.
Selanjutnya, hal-hal menyenangkan dan hanya bisa saya rasakan ketika tinggal di Jakarta. Mungkin tak sebanyak dan sedetail hal menyebalkannya LOL tapi ya sudahlah, bukan lomba banyak-banyakan juga. Mal dan bioskop dekat, saya tak perlu menempuh satu jam perjalanan seperti di kampung hanya untuk nonton film. Pilihannya pun banyak sekali, mau mal yang banyak tenant atau yang cukup sepi asal ada jajan oke, bisaaaa. Lalu, di Jakarta juga bisa pakai fitur pengiriman instant untuk banyak official store di marketplace, karena yaaa...apa sih yang tidak ada di Jakarta? Kehadiran pemerintah. Hampir semua bisa kita dapatkan dengan mudah disini. Soal kemudahan transportasi umum yang dibahas diatas juga adalah hal menyenangkan berada di Jakarta.
Memang nyaman ya tinggal di pusat pemerintahan dan perekonomian, akses menuju (nyaris) apapun mudah dijangkau. Well, perasaan ini sekaligus memvalidasi fakta bahwa pembangunan belum merata. Sebab banyak kemudahan di Jakarta tidak saya alami di kampung halaman.
2025 ini semoga hidup ke depan dilimpahi berkah. Semoga nyaman yang ada di Jakarta perlahan menyebar sampai ke titik terluar Indonesia, semoga hal menyebalkan di Jakarta sedikit demi sedikit menemukan muara terbaiknya. Sungguh harapan yang terlalu tinggi ya untuk diwujudkan pemerintah. Gapapa, kita punya Allah. Hahaha!
Salam,
A.