Dulu mendekati usia dua puluh lima, konten-konten mengenai quarter life crisis adalah hal paling saya hindari. Bagi saya, krisis sudah dimulai sejak lama. Topik itu nampak tidak relevan lagi. Sehingga, daripada harus menambah sugesti negatif, baiknya saya hindari saja. Tanpa membaca topik quarter life crisis pun saya sudah sering meragukan kewarasan diri sendiri.
Bagi saya dua puluh enam kemarin terasa amat singkat, sepertinya alasan utama mengapa demikian adalah saya terlalu sibuk mengejar checklist. Di usia itu, saya mulai bekerja di tempat baru, budaya dan lingkungan kerja yang berbeda. Mendaftar enam beasiswa di usia dua puluh enam dan semuanya gagal.
Bagi saya dua puluh enam kemarin terasa amat singkat, sepertinya alasan utama mengapa demikian adalah saya terlalu sibuk mengejar checklist. Di usia itu, saya mulai bekerja di tempat baru, budaya dan lingkungan kerja yang berbeda. Mendaftar enam beasiswa di usia dua puluh enam dan semuanya gagal.
Tahun ini, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Keluar dari Jakarta, lepas dari pekerjaan penuh waktu, beruntun gagal beasiswa. Tapi saya tidak terpuruk seburuk yang sudah-sudah (atau mungkin, belum?) Walau tetap nangis malam-malam ke kamar Ibu wkwkwk!
Pekerjaan baru yang kemarin saya idam-idamkan itu memang benar membawa saya pada banyak pengalaman dan deretan portfolio yang menguntungkan. Tapi ternyata tiga tahun di Jakarta tidak membuat cita-cita saya kembali ke rumah saja surut. Tidur dan bekerja di dalam kamar di rumah sendiri. Tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana menyeberang jalan hari ini dan melihat langit biru setiap hari. Tidak bingung mau makan apa hari ini, sebab jam terbang Ibu di dapur adalah pemadam kelaparan paling ampuh sedunia!
Beasiswa dan lanjut kuliah S2 itu memang mimpi sejak kuliah sarjana. Yah, apa daya! Tidak semua kerja keras akan diberi ganjaran instan. Kita juga tidak bisa mengukur seberapa keras yang telah kita sebut kerja keras itu, ya kan?
Kenyataannya, tidak ada batas maksimal mencoba, demikian juga dengan maksimal gagalnya. Jadi perkara beasiswa ini juga urusan seberapa tangguh menghadapi penolakan dengan ketelatenan mempersiapkan seluruh dokumennya. Persiapan yang kalau bisa saya analogikan adalah setara dengan kerja penuh waktu. Jika tidak hari ini, mungkin saja nanti (walau tetap tidak ada garansi pasti). Satu yang jelas adalah kita hanya akan tahu mengapa satu pintu tidak terbuka walau telah diketuk hingga memar di buku jari ketika semua telah lama berlalu. Sebab kita hanya bisa melihat seluruh gambaran besar itu dari jarak yang cukup jauh. Terbaca sedih ya... Memang kenyataan ini asem tenan!
Ora kabeh-kabeh kudu saiki. Mungkin adalah kalimat yang paling dekat untuk mendeskripsikan tahun ini bagi saya. Banyak yang berubah dengan cepat dan saya tak berdaya menyiapkan rencana pengganti. Namun, tepat seperti janji-Nya, Ia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Ketakutan saya tentang pekerjaan dan keluar dari Jakarta ternyata hanya pikiran yang melaju kencang dalam kepala. Rumah yang memeluk dengan hangat dan rahmat Tuhan yang jauh lebih besar adalah kenyataan. Saya belajar untuk tidak membuat rencana tanpa memikirkan bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana. Ikut apa yang telah ditentukan Tuhan setelah berusaha itu jauuuuuh lebih menenteramkan. Semoga saja ini adalah tanda bahwa saya sudah tidak protes sebanyak masa remaja dan awal berduka hahaha. Semoga ini adalah #growth #adulting #characterdevelopment. (((cie gitu)))
Agustus ini menandai bahwa sebelas tahun sudah berlalu. Kini jari jemari saya sudah tak cukup menghitung jarak kepulangan Bapak. Saya takut sekali lupa, karena itu saya terus menulis.
Walau tulisan tentang Bapak sebatas mengulang ingatan yang itu-itu saja, bagi yang telah membacanya berkali-kali.
Ketakutan saya kehilangan memori tentang Bapak ini seperti divalidasi saat menonton film anime berjudul Words Bubble Up Like Soda Pop di Netflix. Salah satu tokohnya bernama Pak Fujiyama. Ia seorang lelaki lansia, menghabiskan waktu sehari-hari di senior day care. Ia sibuk mencari piringan hitam yang hilang dari covernya. Dalam satu scene ada percakapan yang hits too close to home dan berhasil membuat saya banjir air mata.
"Ini adalah rekaman yg paling sering kudengarkan berulang-ulang.
Aku ingin mendengarnya sekali lagi.
Jika aku bisa mendengarkannya lagi, aku akan ingat"
"Ingat apa?"
"Aku tak mau lupa.
Aku tak ingat..."
Yang baru terungkap kemudian, bahwa piringan hitam itu berisi rekaman lagu istrinya yang telah meninggal. Dulu istri Pak Fujiyama adalah seorang penyanyi.
Selalu ada perasaan ingin mempertahankan yang tersisa. Sekalipun saya tahu itu tak akan mengubah banyak hal. Saya menyesal dulu tidak banyak mengambil foto atau video bersama Bapak, walau saat itu telah punya HP kamera. Tidak berandai-andai tahu lebih baik juga, sih. Kalau saya tahu sebelumnya, mungkin bukannya lebih sering mengambil dokumentasi, tapi malah akan gila lebih cepat lagi. Hahaha.
Anyway, di usia dua puluh enam kemarin itu untuk pertama kalinya Arsenal tampil dengan performa yang pantas jadi juara. Walau kita semua tahu akhirnya Manchester biru lagi biru lagi~ Sudah menjadi pemuncak berbulan-bulan tapi akhirnya cuma jadi second lead. Hahaha! Tapi setidaknya, saya bersyukur sampai di tahap ini. Nonton Arsenal dan menikmati permainan mereka, bukan sekadar misuh-misuh karena permainannya ra ngalor ra ngidul. Semoga musim ini, Arsenal bisa buka puasa ya! Ora kabeh-kabeh kudu saiki, sih. Tapi yo YUK BISA YUK buka puasa musim ini yukkk!!! ((tetap bersikeras))
Begitulah dua puluh enam yang singkat, yang terabaikan, yang tidak benar diperhatikan. Jika saya bisa minta maaf pada diri sendiri yang dua puluh enam kemarin maka;
Maaf ya, sudah menekan seluruh daya upaya untuk mengejar sesuatu tapi belum dapat juga.
Sudah berkali-kali meragukan kemampuan dan kekuatanmu, sementara orang lain percaya lebih besar dari yang pernah diduga.
Semoga patah yang berkali-kali itu bisa jadi pelajaran sekaligus guyonan ringan.
Semoga akan ada hari yang lebih baik lagi di masa depan.
Semoga suatu saat, kamu dapat jawaban untuk semua mengapa.
Selamat terus berjalan, semangat terus melawan!
Hari terakhir di dua puluh enam,
Tahun
kesebelas
Bapak
pulang
,
Semoga jalan Bapak lapang dan terang.
Salam,
A.
