July 14, 2023

Bagaimana Rasanya Membaca Majalah Anak di Usia Dewasa?

Hai selamat datang di #BagaimanaRasanya vol. 7! Kali ini tentang nostalgia bacaan lama. Mungkin akan jadi tulisan yang lebih panjaaang dari biasanya (dan bisa jadi TMI juga).

Penampilan Bobo dari masa ke masa
(Dokumentasi pribadi diolah dari: Majalah Bobo)

    Sebulan yang lalu saya melihat postingan di twitter, Majalah Bobo sedang membuka pre-order edisi khusus 50 tahun. Lalu, mengapa edisi ini istimewa? Pertama, karena dalam edisi khusus ini Bobo akan terbit 100 halaman, dengan 50+ cerita terbaik sepanjang masa, dan bonus stiker serta akses gratis konten digital.
    Saya membelinya di marketplace hijau, masa pre-order yang nyaris sebulan itu cukup membuat saya lupa telah memesan sesuatu. Walau tetap saja saat ingat, saya langsung meluncur ke tab lacak pengiriman hahaha. Pesan pada tanggal 9 Juni, dan sampai ke tangan saya pada tanggal 2 Juli. Saya bukan tipe pembeli yang suka ikut PO dan sabar dalam transaksi online yang berminggu-minggu. Namun, kali ini saya tidak mungkin melewatkannya, karena Bobo sangat sentimental bagi saya.

Majalah Bobo edisi 50 tahun

Bagaimana bisa kembali bersentuhan dengan majalah Bobo?
    Tahun lalu, saya baru tahu bahwa di aplikasi S Lime (aplikasi akses majalah/buku/koran informasi digital bawaan Samsung) menyediakan free subscription majalah Bobo. Setelah itulah saya mulai kembali membaca Bobo, walau sangat tidak nyaman mengakses majalah digital di HP karena layoutnya tetap seperti tampilan fisik asli.
    Lanjut di awal tahun 2023 ini saya terpikir untuk membeli majalah Bobo versi cetakan kertas. Namun, alih-alih membeli edisi terbaru saya lebih tertarik membeli edisi yang pernah saya baca dulu (majalah Bobo bekas). Sebenarnya, membeli buku bekas bukan hal baru bagi saya, sebab kegiatan membaca saya tidak selalu diisi oleh buku-buku baru yang bersegel. Belanja buku bekas di online marketplace sangat menyenangkan dan tak jarang dapat buku-buku langka dengan harga terjangkau. 
    Ketika paket pertama datang, saya sangat antusias. Melihat sampul majalah yang penuh warna, dengan pose-pose Bobo dan keluarganya yang beragam. Di pojok kanan atas tertera harga jual majalah, nominal yang pada masanya sangat diupayakan Bapak Ibuk setiap minggu. 

Seperti apa isi dan tampilan majalah Bobo saat itu?
    Pada masa itu, Bobo edisi reguler terbit sekitar 48-60 halaman. Di tahun 2004-2005 ada saat perpindahan Bobo dari tidak full color jadi full color setiap edisi. Dalam edisi awal full color, masih ada tanda tulisan "full color" di pojok kiri atas, setelahnya kemudian terus full color hingga kini. Saat Bobo mengalami kenaikan harga karena berganti jenis kertas pun, redaksi menyampaikan hal tersebut dalam rubrik Bopan (Bobo edisi/minggu depan)

Bobo bertanda full color

Halaman awal Bobo diisi dengan iklan atau poster di bagian belakang sampul, kemudian halaman pertama adalah bobosiana dan menu. Dalam bobosiana ini Bobo menyapa pembaca melalui tulisan tentang budi pekerti. Menu adalah daftar isi majalah edisi tersebut.
    Ada lima kategori utama dalam menu:
Yang Istimewa, berisi berita dan liputan terkini dalam rubrik sbb:
    Profil: menyajikan liputan tentang tokoh publik maupun tokoh berpengaruh. Dalam rubrik ini akan dibahas latar belakang si tokoh lengkap dengan foto kegiatan, tak jarang juga dicantumkan alamat surat bagi para pembaca yang ingin berkomunikasi langsung.

Rubrik Profil majalah Bobo no. 19, Agustus 2007

    Potret Negeriku: Seperti namanya, dalam rubrik inilah dipaparkan hal menarik dari daerah-daerah Indonesia. Mulai dari budaya, tempat wisata, kerajinan, komoditas, hingga santapan khas. Beragam cerita unik Indonesia dipotret langsung dalam rubrik ini.

Potret Negeriku majalah Bobo no. 51, Maret 2007

    Pengetahuan: rubrik ini membahas tentang hal-hal baru atau yang sedang populer saat itu. Lengkap dengan gambar atau foto yang mendukung penjelasan tentang topik tertentu. Bahasannya cukup luas mulai dari alam sekitar sampai penemuan paling mutakhir
    Reportasia: pada bagian inilah disajikan liputan kunjungan tim redaksi ke event spesial dan tempat-tempat baru. Tentunya ada banyak foto pendukung, dan deskripsi tempat atau kegiatannya.

Dari Teman, berisi rubrik yang memuat kiriman pembaca.
    Apa Kabar, Bo?: disini adalah tempat surat dari pembaca dimuat, biasanya dari rubrik ini juga para pembaca bobo menemukan sahabat pena. Mereka yang suratnya dimuat otomatis akan dicantumkan pula alamatnya.

Rubrik Apa Kabar, Bo? saat belum edisi full color
Rubrik Apa Kabar, Bo? setelah edisi full color

   Arena Kecil dan Tak Disangka: rubrik ini memuat cerita pengalaman kiriman pembaca. Pengalaman unik dan mengandung plot twist biasanya ada di Tak Disangka.
    Halamanku: berisi karya puisi dan gambar kiriman pembaca.

Rubrik Halamanku majalah Bobo no. 51, Maret 2007

    Uji Imajinasi: dalam setiap edisi, redaksi ataupun pembaca kadang memberikan pertanyaan untuk memantik imajinasi. 
Selanjutnya, pembaca diharapkan mengirimkan hasil imajinasinya dalam bentuk tulisan singkat. Misalnya dalam suatu edisi ada pertanyaan seperti ini;"Seandainya di luar angkasa ada sekolah juga, maukah teman-teman bersekolah disana? Mengapa?". Pada edisi selanjutnya, jawaban paling menarik akan dimuat.

Rupa-rupa:
    Buku Pilihanku: rubrik ini khusus untuk memuat ulasan buku favorit dari pembaca.
   Our English Page: berisi cergam lengkap dengan soal latihan dalam bahasa inggris. Tokoh dalam rubrik ini adalah Sam, Yos, Didi dan Pipin. Saat itu rubrik ini diilustrasikan oleh Odenk.
   Sayembara Bobo: berisi teka-teki silang, atau juga kuis dalam bentuk cerita dari Bibi Titi Teliti. Pembaca yang berhasil mengirimkan jawaban yang benar akan mendapatkan hadiah.

Rubrik Sayembara Bobo sebelum edisi full color

    Boleh Tahu: merupakan rubrik berisi kejadian unik dan aneh dari seluruh dunia. Dalam rubrik boleh tahu, uji imajinasi, pengetahuan dan liputan ada ilustrasi bergaya khas yang digambar oleh Uzie.

Ilustrasi dengan goresan khas Uzie

    Kupon dan Bopan: disini pembaca bisa mendapat kupon untuk ditempelkan pada surat yang ditujukan pada rubrik kiriman pembaca, dan mengetahui apa saja isi Bobo edisi minggu depan.
    Membuat Sendiri: ini bukan rubrik yang selalu muncul setiap minggu, namun salah satu favorit saya. Sejak kecil saya suka crafting, dan rubrik ini menyediakan berbagai tutorial membuat hasta karya dengan bahan-bahan yang mudah didapatkan.

Rubrik Membuat Sendiri majalah Bobo no. 38, Desember 2005

Cergam (Cerita bergambar) dalam judul-judul berikut:
    Keluarga Bobo: tentu saja cergam ini menceritakan tentang kehidupan keluarga Bobo di negeri kelinci. Walau saya baru tahu silsilah lengkap keluarga Bobo dalam edisi khusus 50 tahun ini. Oh ya selain tokoh yang ada di dalam silsilah keluarga Bobo ini, Bobo punya teman karib bernama Doni yang juga sering muncul dalam cergam keluarga Bobo.

Silsilah Keluarga Bobo di Negeri Kelinci
(Bobo Edisi 50 tahun)

Dulu saya sempat mengira Upik adalah laki-laki karena penampilannya, ternyata Upik itu perempuan (seperti Coreng!). Karena sekarang terlihat memakai dress dan rambutnya lebih terlihat seperti poni daripada jambul hahaha.
Pada tahun 2007an cergam ini diilustrasikan oleh Rudi.

Penampilan Upik dulu dan kini. Wajar kan kalau dulu saya kira Upik itu laki-laki? haha
(Dokumentasi pribadi diolah dari: Majalah Bobo)

    Ceritera dari Negeri Dongeng (sekarang: Cerita dari Negeri Dongeng): Karakter utama dalam cergam ini adalah Nirmala (peri hutan bergaun pink dan memakai bandana bunga putih), Oki (kurcaci laki-laki berbaju serba hijau), Ratu Bidadari (peri penguasa berbaju biru muda mirip Cinderella), Pipiyot (penyihir usil bermuka buruk sebagai tokoh antagonis), Pak Tobi (tabib istana) dan Pak Dobleh (koki istana). Ilustrator Cerita dari Negeri Dongeng ini bernama Iwan Darmawan.

Header Ceritera dari Negeri Dongeng dari waktu ke waktu
Nirmala dan Oki pada Bobo edisi tahun 2007 dan 2018 (dari kiri ke kanan)

    Paman Kikuk, Husin dan Asta: Cergam ini mengisahkan keseharian Paman Kikuk (seorang lelaki tambun dengan kaus merah andalan) bersama keponakannya Husin (bocah SD) dan anjing bernama Asta. Ceritanya kocak karena ada saja kejadian tak disangka akibat kecerobohan Paman Kikuk.
    Bona Gajah kecil berbelalai panjang: Karakter dalam cergam ini adalah Bona (karakter utama sesuai judul) dulu warnanya pink, sekarang lebih keunguan. Rong-rong (kucing putih coklat berslayer leher biru) yang entah kenapa tak muncul di jajaran karakter utama edisi 50tahun, Ola (karakter kucing belang "pengganti" Rong-rong) bertopi dan sepatu merah coklat, dan Kaka (burung kakak tua kuning) tokoh baru yang belum ada di masa saya rutin membaca Bobo dulu. 
Saya tidak tahu mengapa Bona kini berganti warna, penampilan dan bentuk telinganya berubah juga mengapa Rong-rong tidak muncul lagi. Yang jelas cergam ini tetap menarik dan sarat makna.
Ceritanya beragam, namun intinya adalah belalai panjang Bona yang selalu mampu menyelesaikan berbagai masalah wkwkwk. Pernah dalam suatu episode mereka diceritakan memiliki teman gajah perempuan berwarna biru bernama Boni. Pada saat itu, ilustrator cergam Bona dan Rong-rong ini adalah Iwan Darmawan.

Bona, Rong-rong dan Boni dalam episode Kebun Mawar Merah Muda
Bona dan Rong-rong ilustrasi Iwan Darmawan, Bobo 2005
Bona, Ola dan Kaka ilustrasi Adit, Bobo 2018

Cerita Pilihan adalah rubrik khusus untuk cerita pendek dan dongeng terjemahan dari berbagai negara.

Ilustrasi cerita pilihan dengan ciri khas ilustratornya masing-masing

    Cerita pendek: biasanya terdiri dari satu sampai dua halaman dengan ilustrasi yang menarik. Ilustrator cerpen Bobo yang saya ingat diantaranya adalah Mono, Yoyok, Piet, Iwan Darmawan, Jali, Benny, Melani, dkk. Ilustrasinya sangat khas jadi antara satu ilustrator dengan yang lain dapat mudah dikenali. Rubrik ini merupakan bagian favorit saya dalam majalah Bobo.
    Dongeng: formatnya sama dengan cerpen hanya saja biasanya cerita berasal dari terjemahan dongeng mancanegara atau pengembangan kisah turun-menurun yang telah ada.
    Cerita bersambung: ini adalah salah satu yang menarik pembaca untuk membeli edisi selanjutnya jika ada cerbung yang sedang berlangsung. Biasanya sekitar dua hingga delapan episode atau bahkan lebih.
Judul cerbung yang saya ingat diantaranya ialah Ia bukan Nenekku, Pelukis yang Tak Bisa Melukis, Tamu Istimewa, dan Liburan Menegangkan.
Sayangnya dalam edisi 50 tahun kali ini tak ada satupun cerita pendek yang dimuat, edisi ini lebih fokus pada cerita bergambar yang memang tokoh-tokoh utamanya sama dan selalu muncul setiap episode. Selain itu pula, mungkin karena kumpulan cerita pendek Bobo telah terlebih dahulu dibukukan dalam banyak judul.

Salah satu judul Kumpulan Cerpen Bobo: Sang Dirigen.

Bagaimana Rasanya membaca majalah anak di usia dewasa?
    Tentu berbeda sekali sensasi membaca Bobo saat ini dan belasan tahun lalu saat saya masih anak-anak. Sekarang saya langsung menuju halaman tertentu dimana rubrik favorit saya berada. Dulu saya akan menyusuri lembar demi lembarnya dengan sabar. 
Namun, ketika membaca cergam dan cerita pilihan masih ada suara-suara yang sama dalam pikiran saya. Dalam cerpen yang ilustrasinya lebih terbatas dibanding cergam, saya masih bisa membayangkan latar belakang tempat dan suasana ceritanya. 
    Sekarang saya mengamati ilustrasi-ilustrasi cerita dengan interpretasi, bagaimana setiap ilustrator dan goresan garisnya masing-masing, apa makna dari detail gambar tersebut, dsb. Hal-hal yang mungkin tidak seharusnya dipikir alias lho ini kan ilustrasi majalah anak, it's not that deep. Walau begitu saya tetap punya keyakinan, para ilustrator itu pasti mencurahkan segenap pikirannya untuk menangkap momen dalam cerita jadi sebuah ilustrasi. Jadi ya, that's deep wkwkwkw. 
Dulu, saya hanya menikmatinya saja, melihat tanpa penilaian. Bagi saya semua menarik. Memang ada ciri khas yang bisa dikenali dari setiap ilustrasi. Namun bagi saya saat itu berwarna atau tidak, semuanya bagus dan saya suka.
    Alur cerita yang sederhana, sarat budi pekerti dan kebaikan adalah inti setiap cerita yang ada dalam majalah Bobo. Sekarang saat jadi orang dewasa, membaca cerita seperti itu kadang seperti terlampau naif. Tak lama setelah masa sulit kemudian datang kebahagiaan dan kemudahan. Semua terlihat nyaman dan mudah saja. Yaa.. walau dunia nyata di usia dewasa tidak selalu seperti itu. Tapi, dengan membacanya saja saya seolah mendapatkan optimisme anak-anak yang membuncah, kebahagiaan yang melimpah ruah dan keceriaan sepanjang hari. Sepertinya, melihat dunia nyata usia dewasa dengan kacamata anak-anak itu bisa jadi aspirin juga. Supaya tidak terus-terusan bitter menjalani hidup, dipikir dengan sederhana saja, karena bumi berputar, demikian pula nasib seseorang (yang mengusahakannya).
    Membaca jadi salah satu cara saya meningkatkan kembali attention span. Saya rasa karena banyaknya gadget dan sumber informasi yang bisa diakses saat ini, saya jadi kurang bisa berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Mudah tergoda distraksi. Membaca Bobo sekarang membantu saya fokus pada bacaan yang ada di hadapan saya, hanya menyerap informasi yang disuguhkan saja. Tidak perlu buru-buru buka tab baru mencari info lanjutan seperti saat mengakses informasi di internet.
Dulu saat jadi anak-anak, saya bisa berkonsentrasi lebih lama karena terbiasa membaca. Selain itu gadget juga belum punya, televisi tidak selalu menyediakan tayangan favorit setiap waktu. Dulu lebih mudah mencurahkan perhatian ke satu poin tertentu.
    Sekarang saya tidak kesal dengan lembaran iklan dalam majalah hahaha. Karena saya tahu itu salah satu sumber dana penopang produksi atau bisa jadi laba juga. Dulu saya merasa itu tidak penting karena tidak tahu apa gunanya. 

Mohon kebijaksanaan pembaca. Bagian selanjutnya mengandung unsur personal, kurang penting (tapi tetap ditulis, ya ini kan jurnal saya juga wkwkw) dan TMI.

Kenapa Bobo sangat berarti untuk saya?
    Pertama, Bobo mungkin bukan majalah pertama yang saya baca, tetapi saya ingat betul Bobo adalah satu-satunya majalah yang hampir selalu rutin dibelikan Bapak Ibuk setiap minggu. Di daerah saya tinggal, tidak banyak toko buku. Sepanjang ingatan saya, hanya satu toko yang selalu menyediakan majalah Bobo di hari Jum'at. Meskipun jadwal terbit Bobo pada hari Kamis, namun baru sampai ke daerah saya pada keesokan harinya haha. Saya tidak berlangganan, karena membeli eceran lebih masuk akal untuk aliran kas keluarga. Dalam hati ingin sekali berlangganan, selain karena ada paket souvenir menarik juga supaya tidak harus khawatir kehabisan. Apalagi dalam edisi-edisi khusus dengan bonus yang beragam. 
    Ya! Hal lain yang membuat saya selalu semangat menanti hari Jum'at setiap minggu selain majalah Bobo, tak lain adalah bonusnya. Selama tahun-tahun saya membaca Bobo, sekitar 2004-2008, Bobo memberikan banyak bonus dan sisipan menarik dalam edisi tertentu. 
Saya ingat pernah mendapat bonus sbb; biji wortel (yang tentu tak pernah tumbuh walau selalu saya cek setiap hari sejak ditanam. Entah salah di bagian mana, tapi saya cukup kecewa saat itu hahaha), poster, map, gantungan kunci, buku agenda, jam tangan (jadi bonus favorit saya), pin, penggaris, tempat pensil dan lain-lain yang mungkin saya lupa. Juga sisipan dongeng, pengetahuan, resep, dan tutorial membuat pernak-pernik.

Sisipan buku lipat dongeng, Maret 2007

    Kedua, saya tumbuh dikelilingi hal-hal yang sifatnya primer dan penting. Barang-barang yang ada bersama saya umumnya adalah yang berguna dan berarti. Tidak hanya sekadar menjadi pajangan. Satu-satunya yang saya anggap sebagai koleksi dan begitu berharga adalah tumpukan majalah Bobo ini. 
Nahas bagi saya, dalam suatu waktu yang gelap dalam hidup saya harus kehilangan majalah-majalah yang telah dibelikan Bapak Ibuk. Majalah yang menemani usia sekolah dasar, yang saya harap terus bersama saya sampai kini. Semuanya dijual ke tukang loak kiloan. Tak bersisa. Bukan kakak, dia tidak berminat pada barang saya. Bukan saya juga pastinya, apalagi Bapak yang telah pulang. Bukan pula Ibuk, yang tahu betapa saya sangat mencintai seluruh isi meja belajar saya. Sejak saat itu seperti ada puzzle ingatan yang hilang bersama lenyapnya tumpukan majalah, buku-buku, lemari, meja belajar dan seisinya di rumah kami.
    Dua sisi koin yang berkebalikan, ingatan baik dan menyakitkan. Sekaligus terangkum dalam hubungan saya dengan majalah anak-anak. Pernah membuat saya tidak ingin membacanya lagi karena akan mengingat fase kehilangannya.
Momen itu juga mungkin yang jadi titik balik kegiatan membaca saya, saya tidak lagi membaca hanya yang baru dan bersegel. Buku bekas, baru, berbagai genre, majalah, koran, apapun yang masih bisa dibaca. Beruntungnya "one man's trash is another man's treasure". Kini saya bisa mendapatkan Bobo edisi jadul kembali di toko buku bekas, walau belum semua tapi sudah cukup menghibur.
Ada pula suatu kemunduran, saya menghindar dari kegiatan meminjamkan bacaan. Ada rasa takut bacaan itu tidak kembali pada saya, dan ya di satu titik saya lebih baik dilabel pelit daripada itu terjadi dan harus menyimpan dendam.
Walau tetap saja masih ada beberapa orang beruntung yang pernah mendapat pinjaman bacaan saya. Karena apa? Mereka sudah saya kenal baik dan lama, juga bertanggung jawab dengan apa yang dipinjam, hahaha.

Sekian #BagaimanaRasanya kali ini. Terima kasih sudah membaca sampai disini. 

Salam semanis permen kapas!
A.