oleh Sayaka Murata
Alih bahasa: Ninuk Sulistyawati
Editor: Karina Anjani
Editor Supervisi: Siska Yuanita
Ilustrasi cover: Orkha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
160 halaman; 20cm
ISBN 9786020644394
ISBN Digital 9786020644400
hari pertama setelah napasnya benar-benar lenyap dari raga, hal pertama yang saya lakukan adalah memeluknya seraya berkata,
"besok kan ulang tahunku pak, kenapa sekarang?"
semua berlalu dengan cepat, badan dingin bapak harus segera ditempatkan di pusara keabadian. para pelayat tak henti berdatangan, membawa wajah muram dan tepukan penyemangat di bahu saya. saya sempatkan berdiam diri di depan cermin, memastikan diri terlihat baik-baik saja supaya tak banyak mengundang iba. walau sejatinya, secerah apapun wajah orang berduka pasti takkan luput dari tatapan iba. di depan liang lahat itu saya menyaksikan lelaki itu akhirnya pulang, kembali pada Tuhan. hari yang entah harus ditangisi atau dirayakan. ia kembali pada pemilik sejatinya, namun ia berpisah dengan kami yang diberi kesempatan meminjam waktunya.
sampai hari pertama berlalu pun, saya masih berharap bangun dari mimpi. literally. saya berharap lelaki itu berlari kembali, tiba di depan pintu rumah kami, lalu semua bersorak merayakan keajaiban yang sungguh abstrak untuk sekadar dipikirkan.
hari-hari dengan keriuhan suasana tahlil dan yasin mengalihkan rasa kosong dan aneh dalam hati. bertemu tetangga, saudara dan wajah-wajah asing sungguh menghangatkan hati. saya mulai bicara lagi, saya bisa menceritakan urutan peristiwa pedih pagi itu.
hari pertama kembali ke sekolah, semua hiruk pikuk terasa bagai gambar blur abu-abu. cerita dan tawa hanya numpang lewat di kepala. sesaat setelah mengatakan sesuatu, saya akan melupakannya. pandangan saya lebih banyak kosong dan sayu. itu menurut kesaksian teman sekelas saya, bertahun-tahun setelah hari-hari kelam itu terjadi. katanya,
"aku takut, kamu kayak hampir gila. gak nyambung banget diajak ngobrol."
ibu saya datang ke kos, khawatir mendengar kabar anaknya nyaris tak dapat diajak bicara. walau lebih dari itu, seluruh nilai ulangan saya terjun bebas. saya dipanggil ke ruang guru dan ditanya,
"apa yang dirasa kurang dari cara saya mengajar? kalau ada kesulitan boleh diceritakan ya, Intan."
ibu memeluk saya dengan menahan tangis. satu hal yang kini baru saya sadari, saya bukan satu-satunya yang sakit dan berduka. ibu menahan beban berkali lipat tiap melihat saya menitikkan air mata. sejak saat itu, saya menahan sakit di telinga, supaya tak menangis di hadapannya.
hari-hari yang sulit dan sepi itu datang berkali-kali, seperti meniti lorong tak berujung. satu hari merasa baik dan pulih, di hari lain terpikir ingin berhenti berfungsi. sungguh, kesedihan menghadapi duka ini tak terbayangkan dan melelahkan. ketika jauh dari kata ikhlas, semua caci maki terhadap takdir mengalir deras. saat selangkah mendekati ikhlas, tangis tiada henti nyaris sesak napas. menangis malu karena merasa lebih tahu.
hari entah keberapa, saya menangis pagi-pagi, terbangun dengan basah keringat di sekujur tubuh. kali pertama menemui bapak membuka pintu dan tersenyum ke arah saya jelas sekali, dalam mimpi. hari itu, pertama kalinya sejak entah kapan, saya seperti kembali sadar. baterai kosong saya seolah kembali hijau dan penuh. waktu bapak memang sudah selesai, namun saya masih punya waktu tersisa yang tak bisa dibiarkan menguap sia-sia.
saya sedikit lega dengan kesempatan bertemu bapak dalam mimpi. sebab sampai hari ini, sepuluh tahun berlalu, ia tetap datang dengan senyum dan peluk yang sama. hari ketika bapak pulang memang tidak menyenangkan dikenang, tapi merawat ingatan tentang bapak serupa pelukan hangat di ujung hari yang padat dan penat, kebahagiaan tidak ternilai.
untuk itu saya akan terus menulis, sebab merawat ingatan tentang bapak adalah perkara melawan waktu. tulisan-tulisan ini semoga tak jadi salah-satu yang habis ditelan waktu.
salam,
a.