January 28, 2023

Mengapa Sosok Keiko dalam Novel Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) Karya Sayaka Murata Terasa Familiar?


Gadis Minimarket
oleh Sayaka Murata
Alih bahasa: Ninuk Sulistyawati
Editor: Karina Anjani
Editor Supervisi: Siska Yuanita
Ilustrasi cover: Orkha
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
160 halaman; 20cm
ISBN 9786020644394
ISBN Digital 9786020644400

    Saya mengetahui novel ini pertama kali dari litbase di twitter, berkali-kali muncul dan akhirnya baru terbeli akhir tahun kemarin. Bukan novel tebal yang untuk membuka plastiknya saja butuh niat ekstra sebelum benar-benar membacanya. Novel ini memiliki sampul dengan background kuning cerah dan ilustrasi apik -seorang perempuan memegang miniatur supermarket dan tempelan label barcode- yang membuat saya semakin yakin untuk membeli novel ini. Tulisan ini murni berisi pandangan/opini pribadi tentang makna yang saya dapat/mengerti dari novel Gadis Minimarket. Apa yang saya uraikan dibawah bisa jadi tidak sama dengan yang dialami/dimengerti oleh pembaca lain. 

    Untuk membantu saya merapikan struktur tulisan ini saya akan membaginya dalam beberapa poin sebagai berikut;
    1. Keiko Furukara dan kepribadiannya.
    Keiko Furukara adalah perempuan yang sejak kecil selalu kesulitan berperilaku selayaknya manusia lain. Perbuatannya di sekolah membuat Ibunya sering dipanggil dan harus meminta maaf karenanya. Keiko tidak mengerti mengapa Ibunya meminta maaf, Keiko bahkan tidak mengerti mengapa orang lain menganggap perbuatannya salah. Semakin dewasa, Keiko ingin menyesuaikan diri saja supaya diterima lingkungan sekitarnya, walau sebenarnya Ia tetap tidak mengerti kenapa. Keiko yang bekerja di minimarket merasa terbantu dengan adanya buku panduan yang berisi penjelasan tentang bagaimana pegawai harus bersikap setiap harinya. Buku panduan yang selama ini tidak Keiko dapatkan selama menjadi manusia.
Awalnya saya merasa Keiko sama sekali tidak memiliki empati, sebab digambarkan dalam beberapa kejadian, Ia memang sangat dingin. Tapi setelah Keiko mencoba menyesuaikan diri dengan sekitarnya melalui apa yang Ia pelajari dari buku panduan, saya rasa Keiko tidak benar-benar nirempati. 

    2. Bagaimana dunia luar memperlakukan Keiko?
    Teman-teman Keiko mengasihani kondisinya yang telah berusia 30an, lajang dan masih bekerja sambilan. Menurut standar masyarakat pada umumnya, Keiko adalah anomali. Keiko yang tidak mampu merasakan beban emosional dari penilaian orang-orang, terus menanyakan banyak hal untuk mendapat penjelasan. Ia tidak merasa kondisinya adalah beban yang membuatnya gelisah dan khawatir, namun pandangan dan komentar teman-temannya yang membuatnya merasa perlu mencari alternatif jawaban. Keiko sering bertanya kepada adik perempuannya, alasan apa yang harus dibawa saat bertemu teman-temannya. 
Keiko mengamati setiap perilaku, reaksi emosi dan mimik wajah seseorang, lalu mencoba mengaplikasikan pada peristiwa serupa yang terjadi padanya. Hal itu berhasil, Keiko terlihat memiliki kemampuan menunjukan emosi dengan baik. Namun, pada akhirnya itu tetap tidak cukup untuk memenuhi ekspektasi kenormalan teman dan keluarganya. Mereka terus merasa Keiko harus disembuhkan supaya dapat diterima sepenuhnya di masyarakat.

"Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu
mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang."

Di minimarket, Keiko merasa seperti orang normal, Ia hanya perlu bekerja dan bertindak sesuai buku panduan. Namun hal tersebut pun nyatanya berubah, teman-teman kerjanya yang semula tidak pernah berbicara diluar konteks pekerjaan kini mulai membicarakannya. Teman-teman kerjanya mulai lebih antusias mengulik kehidupan pribadinya sejak mereka menemukan fakta tentang Keiko dan Shiraha.

    3. Kita hidup dalam dunia Keiko.
    Seringkali orang-orang yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan kita, jauh lebih "aman". Kita bisa terhindar dari segala penilaian terhadap urusan pribadi karena hubungannya hanya transaksional (dalam hubungan profesional/pekerjaan). Dalam dunia Keiko, pelanggan minimarket adalah orang-orang di zona amannya.
Orang-orang yang mengenal kita secara pribadi, seringkali merasa berhak untuk mengomentari dan memberi penilaian terhadap fase hidup yang kita jalani. Mereka tak jarang membuat cerita dalam imajinasinya, mengasihani orang lain lebih dari kenyataan sebenarnya, melakukan penghakiman sepihak dan menyarankan sesuatu tanpa diminta. Hubungan sosial yang seperti inilah, yang membuat beberapa orang lebih memilih diam atau bahkan menghindari kontak dengan sekitar.
Hal yang dipermasalahkan orang sekitar Keiko ketika Ia lajang dan masih berstatus pegawai paruh waktu di usia 36 tahun. Ketika Keiko sendiri tidak merasa hal tersebut adalah masalah yang mengganggunya, justru orang lain terus menekan dan membuat Keiko merasa abnormal di dalam kelompok pertemanan itu.

"Bagiku diam adalah cara terbaik,
seni hidup yang paling rasional untuk menjalani hidup."

    Apa yang dialami Keiko berkaitan dengan tindakan orang terdekatnya, bukankah lazim kita temui di dunia saat ini?
Banyak yang sering mengasihani seseorang karena terlihat lajang dan belum menikah di usia dewasa. Menganggap remeh seseorang yang tidak memiliki pekerjaan sesuai standar kemapanan ala utas financial advisor. Bahkan tidak segan melempar pertanyaan yang sama berulang kali untuk dua topik tersebut, walau yang dituju telah memberikan jawaban. Seolah mereka hanya ingin menegaskan posisi dan status orang yang dituju, dibanding ingin membuka percakapan dua arah. 
Secara tidak sadar, kita terus menerus memelihara kebiasaan buruk ini tetap berlangsung. Penilaian dan tekanan sosial itulah yang seringkali lebih besar daripada masalah sebenarnya yang dihadapi.

"Mungkin orang yang merasa hidupnya dilanggar oleh orang lain
akan merasa sedikit lebih baik dengan menyerang orang lain
menggunakan cara yang sama."

    Walau berdasarkan penelitian, empati pernah dikategorikan sebagai sifat bawaan, namun dewasa ini banyak jurnal menunjukkan bahwa empati adalah sesuatu yang dapat diasah dan dipelajari.
Sesederhana mempertimbangkan kembali -bila perlu berulang kali- apakah suatu pertanyaan yang sifatnya pribadi layak kita ajukan. Jika diri kita sendiri merasa tidak nyaman, maka jangan lakukan/tanyakan pada orang lain. Sekalipun jika diri kita merasa nyaman, cek lagi apakah kiranya pantas atau seberapa besar kepentingannya.
Sebab, interaksi sosial adalah wadah dimana asumsi kita bergesekan dengan asumsi orang lain. Maka, ada baiknya kita belajar untuk seobyektif mungkin. Memang mustahil membuat semua orang merasa nyaman. Namun, saya yakin jauh di dalam diri kita tahu hal-hal mana yang layak dan tidak ditanyakan/dibicarakan secara terus menerus.

    Akhir kata, bagi saya novel ini cukup detail mendeskripsikan isi pikiran orang-orang yang secara mental memiliki kondisi khusus. Membagikan perspektif baru. Tatanan masyarakat yang tidak ideal memang tantangan terbesar yang harus dihadapi. Semoga kita -yang mungkin dianggap normal- bisa menjadi bagian dari tatanan masyarakat yang lebih ramah terhadap mereka.

Salam,
A.

January 21, 2023

hari ketika bapak pulang.

hari pertama setelah napasnya benar-benar lenyap dari raga, hal pertama yang saya lakukan adalah memeluknya seraya berkata,

"besok kan ulang tahunku pak, kenapa sekarang?"

semua berlalu dengan cepat, badan dingin bapak harus segera ditempatkan di pusara keabadian. para pelayat tak henti berdatangan, membawa wajah muram dan tepukan penyemangat di bahu saya. saya sempatkan berdiam diri di depan cermin, memastikan diri terlihat baik-baik saja supaya tak banyak mengundang iba. walau sejatinya, secerah apapun wajah orang berduka pasti takkan luput dari tatapan iba. di depan liang lahat itu saya menyaksikan lelaki itu akhirnya pulang, kembali pada Tuhan. hari yang entah harus ditangisi atau dirayakan. ia kembali pada pemilik sejatinya, namun ia berpisah dengan kami yang diberi kesempatan meminjam waktunya.

sampai hari pertama berlalu pun, saya masih berharap bangun dari mimpi. literally. saya berharap lelaki itu berlari kembali, tiba di depan pintu rumah kami, lalu semua bersorak merayakan keajaiban yang sungguh abstrak untuk sekadar dipikirkan.

hari-hari dengan keriuhan suasana tahlil dan yasin mengalihkan rasa kosong dan aneh dalam hati. bertemu tetangga, saudara dan wajah-wajah asing sungguh menghangatkan hati. saya mulai bicara lagi, saya bisa menceritakan urutan peristiwa pedih pagi itu.

hari pertama kembali ke sekolah, semua hiruk pikuk terasa bagai gambar blur abu-abu. cerita dan tawa hanya numpang lewat di kepala. sesaat setelah mengatakan sesuatu, saya akan melupakannya. pandangan saya lebih banyak kosong dan sayu. itu menurut kesaksian teman sekelas saya, bertahun-tahun setelah hari-hari kelam itu terjadi. katanya,

"aku takut, kamu kayak hampir gila. gak nyambung banget diajak ngobrol."

ibu saya datang ke kos, khawatir mendengar kabar anaknya nyaris tak dapat diajak bicara. walau lebih dari itu, seluruh nilai ulangan saya terjun bebas. saya dipanggil ke ruang guru dan ditanya,

"apa yang dirasa kurang dari cara saya mengajar? kalau ada kesulitan boleh diceritakan ya, Intan."

ibu memeluk saya dengan menahan tangis. satu hal yang kini baru saya sadari, saya bukan satu-satunya yang sakit dan berduka. ibu menahan beban berkali lipat tiap melihat saya menitikkan air mata. sejak saat itu, saya menahan sakit di telinga, supaya tak menangis di hadapannya.

hari-hari yang sulit dan sepi itu datang berkali-kali, seperti meniti lorong tak berujung. satu hari merasa baik dan pulih, di hari lain terpikir ingin berhenti berfungsi. sungguh, kesedihan menghadapi duka ini tak terbayangkan dan melelahkan. ketika jauh dari kata ikhlas, semua caci maki terhadap takdir mengalir deras. saat selangkah mendekati ikhlas, tangis tiada henti nyaris sesak napas. menangis malu karena merasa lebih tahu. 

hari entah keberapa, saya menangis pagi-pagi, terbangun dengan basah keringat di sekujur tubuh. kali pertama menemui bapak membuka pintu dan tersenyum ke arah saya jelas sekali, dalam mimpi. hari itu, pertama kalinya sejak entah kapan, saya seperti kembali sadar. baterai kosong saya seolah kembali hijau dan penuh. waktu bapak memang sudah selesai, namun saya masih punya waktu tersisa yang tak bisa dibiarkan menguap sia-sia.

saya sedikit lega dengan kesempatan bertemu bapak dalam mimpi. sebab sampai hari ini, sepuluh tahun berlalu, ia tetap datang dengan senyum dan peluk yang sama. hari ketika bapak pulang memang tidak menyenangkan dikenang, tapi merawat ingatan tentang bapak serupa pelukan hangat di ujung hari yang padat dan penat, kebahagiaan tidak ternilai.

untuk itu saya akan terus menulis, sebab merawat ingatan tentang bapak adalah perkara melawan waktu. tulisan-tulisan ini semoga tak jadi salah-satu yang habis ditelan waktu. 


salam,

a.