2021 sudah genap melewati seminggu pertama di bulan kedua. Januari saya lewatkan dengan banyak mencatat dan mengingat ulang apa saja yang belum sempat ditunaikan di tahun 2020. Tahun terberat setelah 2012. Jatuh bertubi-tubi dan berusaha mengangkat dagu sendiri, Juggling dua muka setiap hari; muka profesional saat dibawa ke tempat kerja dan muka manusia biasa penuh letupan emosi. Sebagai leo dengan gengsi teramat tinggi, tampil dengan kondisi psikis yang luluh lantak tentu bukan pilihan. Saya di 2020 mati-matian terlihat biasa saja di tempat kerja, padahal setiap jam makan siang, selalu menyempatkan diri tuk menangis sebentar di toilet. Mencoba berbagai usaha untuk mengalihkan perhatian supaya tidak terus fokus pada kepahitan, dengan olahraga, masak, membaca buku, jalan-jalan sendirian, pulang. Sampai pada titik dimana seluruh air mata tumpah selama beberapa hari setiap malam, waktu itu rasanya saya sudah bertekad bulat untuk rerouting; menulis ulang semua rencana, mewujudkannya sedikit demi sedikit dan fokus terhadap apa yang ada dalam kendali saya sendiri.
Februari: Selektif.
Menurut KBBI selektif bermakna dengan melalui seleksi atau penyaringan; secara dipilih dan atau mempunyai daya pilih. Saya cukup rapi membingkai kenangan, membukukan ingatan, setiap hal secara rapi saya tumpahkan dalam tulisan, hingga di satu waktu ketika kenangan dan ingatan itu telah tidak relevan lagi, saya kewalahan mengelolanya. Saya menyobek banyak lembar buku catatan, melipatnya supaya tidak terbaca lagi, menertawakan catatan lama nan impulsif di blog ini. Saya hanya pandai mengabadikan kenangan tapi tidak cukup selektif dalam menakar mana yang akan berumur panjang dan mana yang kiranya akan berakhir di tempat sampah. Tapi kecerobohan saya itu tidak membuat saya menghapus tulisan yang sudah terbit, karena dari awal dibuat blog ini memang ditujukan sebagai media yang paling akurat mengarsipkan perjalanan dan perasaan saya. Saya melihat bagaimana saya berkembang menjadi pribadi baru yang berbeda dari beberapa tahun silam. Kelak saya akan banyak belajar dari saya yang sekarang.
Perempuan dalam sepanjang hidupnya mungkin tak memilih sebebas dan sebanyak lelaki. Namun selama kesempatan itu ada, dan ketika mungkin dilakukan maka ada baiknya untuk memilih dengan selektif setiap yang menghampiri kita (konteks tulisan ini tidak sebatas tentang relasi perempuan & laki-laki). Setiap emosi yang disebabkan oleh kejadian diluar kendali kita pun harus secara selektif kita pilah, mana yang perlu diperhatikan dan dibreakdown sampai tuntas, mana yang hanya perlu sekedar diacknowledge kehadirannya untuk kemudian dilepaskan.
Di 2020 saya yakin betul saya tidak pernah memilih untuk jadi satu-satunya yang ditinggalkan dan menangis sendirian. Tapi itu terjadi dan saya harus menghadapi serta menangani itu sendiri. Saya membereskan damage yang disebabkan orang lain, mungkin karena dulu saya tidak selektif terhadap siapa yang boleh masuk inner circle saya. Lesson learned: saya harus selektif untuk memercayai kepala-kepala baru yang nantinya akan saya temui.
Di 2020 saya juga mengalami guncangan finansial luar biasa, saya membereskan semua carut-marut dompet saya sendiri, karena di awal tahun saya tidak selektif menimbang mana yang penting mendesak untuk dibeli dan mana yang tidak, akibatnya saya harus berada di kondisi sulit ketika pandemi dan penyesuaian kantor mulai dilakukan. Setelah semua kondisi berbalik normal, lesson learned: saya harus selektif pada pengeluaran dengan uang yang dihasilkan secara susah payah hahaha
Hari ini sepulang kerja, hujan deras sekali memaksa saya pulang dengan kondisi kaki dan sepatu basah kuyup, beruntung pesanan ayam taliwang sudah menunggu di gerbang kosan. Rencananya setelah bebersih saya akan langsung rebahan dan bermalas-malasan scrolling for nothing, nyatanya hei! saya disini membuka laptop dan menulis di blog lagi, mencuci baju dan menyikat lantai kamar mandi, serta akan menyalin catatan di kantor tadi siang. Kadang upaya melawan kemalasan ini adalah momen kemenangan kecil yang patut dirayakan, sebab apa? tentu sebab ini adalah salah satu tanda kemajuan, karena Anggi hari ini sudah lebih selektif memilah kegiatan apa saja yang bermanfaat dilakukan di waktu luang. Karena waktu luang itu melenakan, membuat kita selalu merasa cukup dan menunda-nunda. Jadi hari ini one nil to myself ya!!! hehehe Anggi 1 - kemalasan 0 :P
Cheers to a better year ahead, hehe it may not be easy but keep doing whatever floats your boat :) kan tiap-tiap dari kita akan sampai pada tujuan selama kita terus berjalan pada jalanNya~ YEAYYYY
Salam,
A.