May 22, 2019

menangis.

dari berbagai hal yang bisa dilakukan untuk menghibur diri sendiri, mengapa kamu memilih menangis?

"aku tidak cukup kuat untuk bercerita pada telinga yang lain, menulis juga tidak mengurangi apapun selain pikiran yang bertumpuk sesak di kepala."

lalu kenapa kamu menangisi hampir setiap hal?

"aku tidak menangisi setiap hal, itulah caraku merayakan sesuatu. dengan menangis."

lantas, bagaimana caranya membedakan kamu menangis bahagia atau menangis terluka?

"tidak bisa, aku menciptakan bias diantaranya. agar semua mata berhenti menduga-duga."

tapi, bias itu tercipta dengan penuh prasangka. dan itu berseberangan dengan harapanmu.

"sebab aku yakin, tidak ada yang terlalu peduli sampai meluangkan waktunya untuk terus mengurai prasangka. mereka akan pergi ketika tak menemukan jawaban pada ketukan pertama"

bagaimana jika sebaliknya?

"aku akan berhenti menangis dan memalingkan muka, saat ada mata yang terus berusaha menduga-duga."

tapi...

"..............................."






May 20, 2019

cheering myself up.

because at the end of the day, that will be my forever job.
:)

May 12, 2019

Percakapan di Telepon

Fancy Shoes mengalun dari perangkat berlayar 5 inchi di depanku.

"ya halo"

"kok tadi ndak diangkat?"

"iya maaf, lagi beli makan"

"nduk, lulus kuliah langsung cari kerja aja ya, sekolahnya nanti dulu"

"iya"
"tapi..."
"jangan suruh cepet-cepet nikah ya"

"ya enggaklah, ya nanti aja itu umur sekian atau sekian"

percakapan selanjutnya tidak dituliskan sebab terasa terlalu visioner dan menggelikan jika pada akhirnya tidak terjadi selaras dengan pernyataan.
Ibuk saya selalu memberi pengertian bahwa sebagai perempuan, saya harus mampu sesegera mungkin mandiri berkaitan tentang segala hal berbau finansial.
Sebab bukan hanya orang tua yang tak hidup selamanya, kelak pasangan pun begitu.
Perempuan harus siap dengan segala sesuatu, serba bisa tidak selamanya hanya perlu dimiliki lelaki saja.
Itu mengapa ibuk selalu khawatir dengan keinginan saya untuk lanjut sekolah lagi, sebab saya belum menjelaskan rencananya dengan rinci.
Sebenarnya ibuk tidak perlu khawatir karena jika pada akhirnya sekolah saya lanjut atau tidak.
Saya akan tetap mengusahakan diri untuk mandiri.
Ibuk juga tidak perlu khawatir nantinya anak perempuannya yang satu-satunya ini akan menikah tepat di angka ke berapa.
Sebab ibuk pasti tahu, betapa keras kepala saya.
Untuk itu saya butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan urusan dengan diri saya, dengan mimpi-mimpi yang belum usai dicapai.
Ibuk sungguh tidak perlu khawatir, sebab ia telah benar-benar memberikan insight yang luar biasa bagi perempuan yang biasa saja seperti saya.
Saya sebenarnya tahu ibuk khawatir ketika saya memutuskan sekolah lagi, saya akan lupa pulang dan merencanakan keluarga baru, hahaha.
Sungguh ibuk, jangan khawatir tentang itu.
Deep down inside, saya juga bercita-cita mampu menjadi ibu dengan insight yang sama hebatnya denganmu.
Menjadi perempuan berarti menjadikan sisi rasional dan emosionalnya seimbang sehingga tidak melulu hanyut pada stereotype bahwa sisi emosional kita adalah kelemahan yang utama dan pantas dijadikan pembenaran akan segala hal.
Menjadi perempuan tidak sama dengan selalu menadahkan tangan meminta perhatian dan materi.
Menjadi perempuan bukan sama dengan bergantung pada manusia lain.
Menjadi perempuan sama dengan menjadi pribadi yang utuh sebagai manusia, bukan kepingan yang harus dilengkapi.
Agar ketika kita memutuskan untuk ikut ambil bagian pada hidup orang lain, kita tidak menambah bebannya dan atau mengurangi kebahagiannya.

Salam,
Anggi*

*dalam rangka menerbitkan tulisan yang menumpuk di draft.