December 15, 2018

Bisakah Kita?

2018 dan masih saja ada pihak yang tanpa lelah menjadikan agama sebagai sarana menciptakan narasi yang salah arah.
Salah arah seperti apa?
Ambil contoh akun media sosial gerakan yang menolak pacaran, tujuannya jelas, manfaatnya baik tapi caranya?
Menuliskan caption2 yang sama sekali tidak ada korelasinya dengan gerakan yang dimaksud.
Menyajikan paragraf bahwa dengan menikah wanita sudah tidak perlu khawatir karena semuanya akan dipenuhi oleh suami, sebaiknya akun semacam ini terlebih dahulu memaparkan secara rinci do and don't sebagai suami istri (kewajiban dan hak masing-masing).
Tolonglah, tanpa narasi demikian pun sudah banyak perempuan yang jatuh pada pemikiran bahwa dengan menikah segalanya akan lebih mudah, ada yang menemani setiap hari, hidup tercukupi dan tidak lupa lamaran serta resepsi instagrammable yang catchy.
Pemikiran yang tidak seharusnya dimiliki.
Seharusnya kita mampu menjadi utuh sebagai manusia, jangan merasa sebagai kepingan yang perlu digenapi, menggantungkan kebahagiaan dengan kehadiran manusia lain.
Berdirilah diatas kaki sendiri, pun suamimu kelak tak hidup selamanya.
Selesailah dengan diri sendiri sebelum yakin akan menjadi bagian dari hidup orang lain.
Lalu di lain sisi, akun semacam ini juga membagikan narasi poligami dan ya... seperti yang bisa diduga, banyak sekali akun2 lelaki yang terbuai dan makin semangat membawa poligami seakan jadi misi utama hidupnya.
Tolonglah, baca ayat secara keseluruhan, jangan mengambil yang disuka dan mengabaikan selebihnya.
Terlebih lagi, jangan sampai ketidakmampuanmu mengendalikan nafsu kemudian berakhir menyakiti manusia lain dan mengatasnamakan agama sebagai pembenaran.
Akun semacam ini harus segera berhenti, atau jika berkenan mendengar kritik haruslah berbenah diri. Sebab pengikutnya tidak hanya satu dua orang, ribuan.
Jangan hanya khawatir akan tayangan yang menyajikan visual tak sesuai norma, khawatirkan pula paragraf-paragraf yang mencederai akal budi.
Toh jika pada akhirnya semua itu digunakan sebagai media berdagang dan mengumpulkan keuntungan pribadi, maka sudilah kiranya si empunya mengkoreksi tujuannya agar mampu selaras dengan implementasinya.

Bisakah kita, tidak lagi menggunakan agama sebagai sarana memperkaya diri sendiri?
Bisakah kita, kembali baik-baik saja?
Mengingatkan dengan santun melalui cara paling rahasia, tidak menganggap diri setingkat lebih dari yang lain serta berhenti memberi label pada tiap pribadi.
Dengan segala yang kita yakini, jangan jadikan itu media untuk menghakimi yang lain.

//ps:
bisakah kita sebagai wanita, untuk tidak terus menganggap diri sendiri sebagai objek. yang harus di- tanpa mau me-.
bisakah kita sebagai wanita, terus bermimpi besar sebelum atau sesudah menikah sebab kita dimuliakan bukan dihentikan.

Salam,
Anggi

December 01, 2018

hari pertama bulan desember.

sama seperti hari-hari kemarin di semester ini.
banyak diisi ketakutan dan berakhir dengan menangis sendirian.
kecewa itu sebenarnya bukan hal baru,
hanya saja aku tak punya hati untuk membiarkan orang-orang baik di sekitar,
harus ikut kecewa karena kesalahanku.
kali pertama sejak saat itu, aku berdoa supaya Bapak tidak tahu kabar terbaruku
setidaknya Bapak tak perlu tahu bagaimana aku jatuh dan berusaha kembali mengumpulkan semangat.
ketika yang lain sudah berjalan semakin jauh,
aku ingat seorang teman bilang "hidup ini bukan pertandingan."
yang kuartikan seperti ini kala itu;
kamu tidak lebih lambat ataupun lebih cepat,
kamu tidak harus mendahului ataupun dilewati siapapun.
setiap manusia berjalan di roda waktunya masing-masing.
.
.
.
semoga semangat hari ini selalu ada dan tumbuh dengan baik bersamaku.
selamat memperbaiki dan menyelesaikan semuanya satu-persatu.
.
.
.
salam,
anggi.